
Seperti perintah Eric, Isabel menunggu kekasihnya itu di dapur. Sambil menunggu, dia menyiapkan beberapa bahan makanan yang akan mereka masak.
"Lama sekali." Isabel bergumam pelan. Sudah lima belas menit dia menunggu di dapur, tapi Eric belum juga keluar dari kamar.
Rasa penasaran menuntun langkah kaki Isabel ke dalam kamar. Sebenarnya apa yang dilakukan Eric ? Membekukan otak ? Maksudnya apa ?
"Kenapa kau--aaaaaa.....!!!" Jeritan Isabel melengking di dalam kamar. Dia menutup wajah dengan kedua telapak tangan saat mendapati Eric keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya bersamaan dengan dirinya yang masuk ke dalam kamar.
Eric mengusap wajahnya kasar dengan sebelah tangan. "Oh, God ! Cobaan apa lagi ini ? Kenapa Kau memberiku cobaan seberat ini ?!" Gumam Eric yang kesal pada Tuhan sambil melangkah gontai masuk ke dalam walk in closet. Dia tidak ingin upayanya mendinginkan kepala sejak tadi menjadi sia-sia. Kenapa juga Isabel harus masuk ke dalam kamar saat dirinya baru saja 'menenangkan diri' ?
Andai saja Eric tidak terikat prinsip yang harus dia pegang karena sudah terlanjur mengucap janji, dia pasti tidak akan semenderita ini.
Isabel menurunkan tangannya saat mendengar suara bergeser dari pintu walk in closet. Jantungnya berdegup kencang, tangannya sampai gemetar. Apa-apaan itu tadi ? Ini bukan pengalaman pertamanya melihat tubuh shirtless Eric, tapi kenapa rasanya sampai seperti ini ? Gawat ! Berada dekat dengan Eric sama sekali tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
Menghembuskan nafas kasar, Isabel memegangi dada dimana jantungnya berdentum cukup keras. Rasanya baru saja dia mendapat serangan jantung.
"Jaga matamu Isabel ! Jangan sampai tergoda atau kedua algojo di rumah akan mengeksekusi nyawamu tanpa perasaan." Isabel bergumam lirih.
Eric mengacak rambutnya gemas begitu masuk ke walk in closet. "Aku akan kesana sebentar lagi !" Teriak Eric. Dia bergegas mengambil pakaian secara asal dan langsung memakainya.
Isabel tergagap mendengar teriakan Eric. Untuk apa juga dia masih berdiri seperti monumen peringatan disana ? Tidak berguna !
Gadis itu menggeleng, hendak membalikkan badan ketika suara pintu walk in closet bergeser lagi dan memunculkan Eric yang sudah memakai celana jins hitam dan kaos vneck abu-abu. Dengan wajah segar dan rambut yang masih terlihat basah, membuat Isabel hampir tidak berkedip dibuatnya.
Eric berjalan mendekati Isabel yang masih menatapnya terpesona. Senyum miring tersungging di bibir Eric. "Aku tahu aku tampan." Eric merangkul bahu Isabel dan menyeretnya keluar dari kamar.
Isabel yang baru tersadar dengan apa yang dia lakukan, buru-buru mengerjap beberapa kali. Ini....memalukan ! Tertangkap basah sedang terpesona pada Eric untuk kesekian kalinya adalah aib. Betul-betul bencana, Eric akan semakin membully dirinya.
"Terlalu percaya diri bisa membunuhmu, Tuan Sok Tampan !" Tukas Isabel, melingkarkan tangannya di pinggang Eric.
Eeic tertawa, "Lantas siapa tadi yang hampir mengeluarkan bola matanya saat melihatku, hm ?"
Satu cubitan mendarat di pinggan Eric, membuat pria itu mengaduh kesakitan. "Aku bukan masokis." Ucap Eric sambil menahan jari kecil Isabel yang hendak memberinya serangan kedua.
"Tapi wajahmu mengatakan demikian." Tukas Isabel sedikit kesal.
Sebelah alis Eric terangkat, lalu dengan sekali hentak dia membalik tubuh Isabel dan menyudutkannya pada pintu lemari es di belakang gadis itu. Eric tersenyum setan lalu bertanya, "Katakan, di bagian mana dari wajahku yang mengatakan hal itu ?"
Isabel menahan nafas. Keadaan seperti ini selalu berhasil membuatnya gagal fokus. Nafas harum Eric yang bercampur dengan aroma sabun dan shampo dari tubuh Eric membuat Isabel menelan ludah. Ini terlalu menggoda.
Tuhan, maafkan Isabel yang mudah sekali tergoda.
Kembali lagi jantung Isabel berdentum-dentum hebat. Dia menggigit bibir hingga lupa caranya bernafas. Apalagi dengan posisi mereka yang hampir tidak berjarak. Isabel berdoa dalam hati semoga hatinya tidak goyah dan menyerang Eric dengan bringas.
Eric berkedip, jakunnya bergerak naik turun menelan ludah. Wajah menggemaskan Isabel saat tersudut seperti itu selalu menjadi setan yang selalu mengundangnya untuk mendekat.
Ah, harusnya Eric tidak menyudutkan gadis itu. Ini berakibat buruk untuk dirinya sendiri. Dalam keadaan intens seperti ini, dia tidak bisa mengendalikan hasratnya untuk mencium gadis itu lagi.
Katakanlah Eric itu pervert, tapi dia benar-benar merasakan candu saat menyentuh bibir tipis kekasihnya.
Dalam sekejap saja matanya sudah menggelap karena hasrat. "Kau lebih memabukkan daripada ekstasi." Ucap Eric parau. Detik berikutnya dia tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak mencecap bibir manis itu.
Isabel terbuai. Eric is a good kisser. Harus dia akui itu. Hanya dengan sedikit sentuhan saja bisa membuat kulitnya meremang dalam sekejap. Dan dia yakin Eric sangat 'berpengalaman'. Eric tahu bagaimana cara membuat Isabel lemah dan pasrah dalam permainannya. Membuat gadis itu menuruti semua keinginannya bukanlah hal sulit. Isabel hampir kehilangan kewarasan saat Eric terus membuainya dalam ciuman panas mereka. Terus membuat Isabel mabuk dengan ciuman itu, hingga....
"Aakh..!!" Eric mengaduh lalu melepaskan ciuman mereka saat tiba-tiba Isabel dengan sengaja menggigit bibir Eric cukup keras.
"Itu adalah sisi masokismu !" Isabel menunjuk Eric sambil tersenyum puas telah berhasil membuat pria itu kesakitan. Meskipun merasakan sakit karena sudah digigit, Isabel yakin Eric tidak akan marah. Mungkin dia malah akan merasa tertantang. Artinya sama saja bukan ?! Menikmati setiap rasa sakit yang diberikan.
Eric memegangi bibirnya yang terasa nyeri. "Kau merusak momen." Katanya sambil terkekeh. Dia bersyukur Isabel merusak momen itu, kalau tidak....mungkin dia akan segera melanggar janjinya pada kedua orang tua Isabel.
"Aku lapar." Kata Isabel, meninggalkan Eric yang harus menahan nafas saat melihat tingkah cuek gadis itu. Apa ciuman itu tidak berpengaruh apapun pada dirinya ?
Eric menggaruk tengkuknya, lalu dia tersenyum dan menggeleng pelan. Sepertinya Isabel memang belum cukup umur. Eric kembali teringat perbedaan usia mereka yang terpaut 8 tahun.
"Sepertinya aku harus bertindak cepat kali ini." Gumam Eric sebelum mengikuti langkah Isabel menuju pantry.
"Apa yang akan kita masak ?" Eric sudah berdiri di belakang Isabel, melingkarkan tangannya pada pinggang gadis itu.
Isabel berdehem, "Ayam panggang madu." Jawabnya dengan suara sedikit serak.
"Aku akan memasaknya, kau duduk saja disana." Eric menggerakkan kepalanya, menunjuk ke arah meja makan lalu mencium pipi Isabel dan melepaskan pelukannya.
"Aku ingin ikut memasak." Isabel menolak. Dia belum pernah memasak bersama dengan Eric. Mana mungkin dia melewatkan momen ini.
Eric tersenyum, mengusap puncak kepala Isabel lalu berkata, "Lakukan apapun yang kau inginkan."
Isabel tersenyum lebar. Dia sangat antusias dan mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat menu yang dia inginkan.
*****
Makan siang sudah siap. Eric dan Isabel menyantap makanan mereka di meja makan. Rasanya sangat menyenangkan bisa memasak bersama lalu memakannya bersama-sana seperti ini.
"Kenapa semua masakanmu selalu enak ?" Isabel menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh Eric. Sebagai seorang perempuan dia merasa kalah.
Eric mengangkat tangannya lebih merapatkan tubuh Isabel ke tubuhnya hingga kepala Isabel kini bersandar pada dada bidang pria itu. Rasanya sangat nyaman, sampai-sampai tanpa sadar Isabel melingkarkan tangannya di perut Eric.
"Aku hanya suka memasak." Jawab Eric setelah mendapatkan posisi paling nyaman.
Isabel mendongak menatap wajah tampan kekasihnya. "Aku iri padamu." Katanya.
Eric menunduk dan tersenyum. "Sungguh ?" Tanya Eric semakin merapatkan pelukannya. "Aku bisa mengajarimu memasak."
"Pasti akan sangat menyenangkan. Aku akan menagih itu." Isabel mengusek kepalanya pada dada Eric, kembali mencari posisi ternyaman. "Besok aku sudah mulai bekerja. Apa kita masih bisa sering bertemu nantinya ?"
Eric menghela nafas. Dalam hati dia bersyukur jika Isabel semakin disibukkan dengan pekerjaan barunya. Lagi-lagi dia mengutuk janjinya yang ternyata seribu kali lebih sulit untuk dijalani dari pada sekedar di ucapkan.
Bukan karena dia tidak suka bertemu dengan Isabel. Tapi jika mereka sering terlibat dalam suasana romantis seperti ini, Eric takut akan melanggar janjinya dalam waktu singkat.
"Sure. Aku akan selalu meluangkan waktuku untuk bertemu denganmu." Eric berbicara menenangkan.
"Terima kasih." Ucap Isabel lirih. "Kau tahu ?" Isabel menelan ludah. "Ada satu hal yang aku takutkan saat ini." Eric diam mendengarkan. "Aku takut suatu saat nanti kau akan mencampakkanku. Dan aku akan berakhir sendiri lagi." Isabel semakin mengeratkan pelukannya.
Eric mencium puncak kepala Isabel dengan sayang. Dia tahu kekhawatiran kekasihnya. Hal yang wajar. Eric pun memakluminya karena Isabel pernah merasakan kehilangan seseorang yang sangat dicintainya dengan cara menyakitkan.
"Kau percaya padaku ?" Tanya Eric yang dibalas anggukan oleh Isabel. "Aku sangat mencintaimu, Bells. Dan akan selalu begitu. Tidak akan ada yang mencampakkanmu. Begitupun aku. Aku tidak akan mencampakkan orang yang sangat aku cintai." Bisik Eric sambil menciumi puncak kepala Isabel. Dia tulus. Karena sekali dia jatuh cinta, dia akan memberikan seluruh hatinya. Dan karena itu pula dia tahu bagaimana sakitnya dihianati. Maka dia tidak akan pernah melakukan hal itu pada orang yang sangat dia cintai.
"I love you, Eric." Bisik Isabel. Keduanya diam dan saling merasakan kehangatan pelukan mereka untuk beberapa saat.
"Eric..." Panggil Isabel lirih dengan kedua mata terpejam menikmati aroma dan hangat tubuh Eric yang sangat menenangkan. "Siapa wanita yang pernah tinggal di safe house sebelum aku ?"
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Genkz......mau tanya dong. Part 76 bisa kebaca gag di apk kalian ? Soalnya notifikasi lolos review nya muncul terus di aku. Trus juga di daftar episode kadang ilang.
Semoga kalian tetep bisa menikmati cerita ini deh.
See you next part, Love.