100 Days

100 Days
Part 60



Kucing abu-abu berbulu lebat itu menggeliat pelan. Hewan gendut itu enggan membuka matanya meskipun tubuhnya sudah berpindah ke dalam pet cargo.


"Dasar hewan pemalas !" Gumam Eric. Dia akan membawa Grey untuk grooming di pet spa langganannya.


Eric meletakkan pet cargo berisi Grey di  ruang tamu. Sementara dia berjalan ke walk in closet untuk mengambil mantel.


Dia memilih mantel berwarna hitam lalu memakainya. Begitu akan berbalik, dia melihat deretan baju Isabel yang masih menggantung rapi disana.


Dia tersenyum kecil. Sudah cukup lama  Isabel meninggalkan safe house, tapi Eric masih bisa merasakan kehadirannya saat melihat barang-barang pribadi gadis itu.


Dia membuka laci nakas, disana dia menemukan ponsel yang dia beli untuk Isabel. Ponsel itu mati karena habis daya. Eric mengambil charger dan mengisi daya ponsel itu.


Beberapa saat menunggu, ponsel itu sudah bisa dinyalakan.


Eric mengangkat alis saat melihat wallpaper ponsel itu. Dan sedetik kemudian, sudut bibirnya tertarik keatas. Isabel memakai foto dirinya, Eric dan Jordan saat di air terjun sebagai wallpaper.


Hanya kenangan singkat, tapi Eric tidak akan bisa melupakannya. Dimana mereka bertiga bisa tertawa lepas tanpa beban.


Eric tidak bisa berhenti tersenyum saat mengingat bagaimana dirinya mengerjai Isabel habis-habisan. Dia sendiri tidak menyangka bisa bertingkah konyol seperti itu. Rasanya sudah sangat lama dia tidak melakukannya.


Eric membuka galeri ponsel itu. Isinya dipenuhi foto-foto selama di Amytville. Sangat banyak.


Lalu dia menemukan sebuah foto yang menyita perhatiannya. Foto candid. Sepertinya Jordan yang mengambilnya. Karena dia tidak merasa pernah mengambil foto dari angle itu. Secara disana mereka hanya bertiga.


Isabel duduk merangkai sebuah bucket bunga dari bunga-bunga liar yang sedang bermekaran. Dia duduk diantara bunga-bunga liar itu. Ada beberapa kupu-kupu yang mengelilinginya. Gadis itu tersenyum, sebuah senyuman yang sangat indah.


Dalam foto itu Isabel terlihat sangat bahagia. Padahal hatinya masih menyimpan luka untuk mantan kekasihnya. Beberapa kali Eric melihat Isabel meneteskan air mata saat sedang sendirian.


Tapi dalam foto itu, di wajahnya tidak menunjukkan beban atau kesedihan sama sekali. Hanya senyum bahagia yang sesungguhnya. Dan itu membuat Isabel terlihat sangat....cantik.


"Apa yang telah kau lakukan padaku ?" Gumam Eric.


Meski bibirnya sering mengucapkan kalau Isabel hanyalah pembawa masalah untuknya, tapi hatinya tidak bisa dibohongi. Eric merasa ada sesuatu dalam dirinya yang menginginkan kehadiran Isabel di dekatnya. Menginginkan Isabel memprotes ucapannya yang kata gadis itu 'menyebalkan'.


Bagaimana bisa seorang gadis ingusan  keras kepala dan manja seperti itu, membuat Eric kehilangan banyak waktunya hanya untuk mengingat kembali tingkah konyol dan menyebalkan yang dilakukan oleh gadis itu ?


Dia sering membuat Jose harus mengulang ucapannya saat sedang berdiskusi masalah cafe.


Hingga Jose pernah berkata, "Kau harus menemuinya, Bos. Hidupmu terlihat kacau setelah dia pergi."


Dan ucapan Jose membuatnya berpikir. Apa hidupnya memang sekacau itu setelah Isabel pergi ? Lalu dia mulai mengingat-ingat beberapa kejadian yang terjadi setelah kepergian isabel.


Dimulai dari moodnya yang sering naik turun. Sengaja meninggalkan semua pekerjan selama tiga hari hanya untuk bermalas-malasan di safe house dan tidur di ranjang yang masih meninggalakan aroma parfum Isabel. Membandingkan setiap gadis yang dia lihat bermata biru dan berambut pirang dengan Isabel--termasuk adiknya sendiri. Sering gagal fokus saat melihat gadis yang mirip Isabel.


Eric mengusap wajahnya. Mungkin benar otaknya sudah bergeser. Bisa jadi karena gigitan srigala beberapa waktu lalu atau mungkin karena bogem mentah dari Mike. Semoga saja setelah ini dia tidak akan berubah menjadi werewolf yang hanya akan menambah masalahnya.


"Lama-lama aku bisa gila." Gumamnya lagi seraya meletakkan kembali ponsel itu dalam laci.


Dia berjalan keluar menuju ruang tamu dimana Grey sudah menunggunya dengan malas.


Eric mengangkat pet cargo berwarna biru tua itu lalu mengintip peliharaannya yang ternyata sedang tertidur pulas.


"Tukang tidur !" Ucapnya. Dan lagi-lagi dia teringat dengan gadis yang selalu saja susah untuk dibangunkan.


Eric menggeleng kepalanya cepat. Mengusir bayangan iris biru dan surai pirang. Dan diapun mulai melangkah meninggalkan safe house.


Hanya butuh waktu 15 menit dari Willow Spring ke tempat spa hewan langganan Eric. Disana Eric menyerahkan Grey pada Carla--pemilik pet spa tersebut yang juga teman Eric.


"Kau mau menunggunya atau kau ambil nanti ?" Tanya Carla saat menerima pet cargo Grey.


"Kau bisa menghubungiku kalau sudah selesai. Aku ingin mencari udara segar." Jawab Eric.


Carla mengernyit heran, tapi hanya sebentar. "Sepertinya kau butuh suasana baru. Wajahmu kusut." Tunjuk Carla pada wajah Eric. "Kau bisa mencoba arena tembak dua blok dari sini. FOCUS, baru buka satu bulan lalu." Tambah Carla.


"Aku memang kurang tidur beberapa hari ini." Jawab Eric. "Akan kupertimbangkan saranmu."


Eric berbalik keluar dari pet spa. Dia meninggalkan mobilnya disana. Lalu dia berjalan tanpa tujuan ke arah kanan. Benar-benar tanpa tujuan. Dia hanya mengikuti kemana langkah kaki membawanya.


Ini adalah kali pertama dia seperti ini. Saat dia sedang dirundung masalah atau banyak pikiran, biasanya dia akan lebih senang menghabiskan waktu di gym atau berkendara ke Amytville melalui jalur offroad.


Lalu dia teringat dengan saran Carla tentang arena tembak. Sepertinya menyenangkan. Boleh juga untuk dicoba.


Eric mengayun langkahnya terus ke depan. Hingga dua blok dari pet spa. Dia menoleh ke kiri, disana ada papan nama besar dengan tulisan 'FOCUS'. Sepertinya itu adalah tempat yang dimaksud Carla.


Eric maju beberapa langkah lagi menuju zebra cross. Dia berdiri menghadap jalan raya bersama beberapa pejalan kaki lainnya untuk menunggu lampu hijau--bergambar orang melangkah--menyala.


Begitu lampu hijau itu menyala, Eric dan beberapa orang lainnya segera menyeberang.


Berhasil sampai di sisi jalan yang lain, Eric segera melangkah menuju tempat yang dia maksud.


Dia memasuki slide door kaca berwarna hitam dengan logo dua senjata api yang menyilang dengan tulisan 'Focus' diatasnya.


Begitu masuk dia langsung menuju ke meja resepsionis. Melakukan pendaftaran lalu menerima kartu anggota berwarna hitam mirip seperti kartu kredit tanpa batas.


Berdasarkan arahan dari resepsionis tadi, Eric segera masuk lebih dalam lagi kesana. Ruangan yang bernuansa gelap membuat siapa saja yang masuk merasakan sensasi berada dalam bunker.


Lalu dia menuju ke sebuah pintu yang dijaga oleh seorang pria bertato yang berdiri di tepi pintu. Pria itu meminta Eric menunjukkan kartu anggotanya. Setelah lolos pemindaian, pria bertato itu segera membukakan pintu berwarna coklat gelap untuk Eric.


Begitu pintu di buka, indra pendengaran Eric menangkap beberapa suara letusan senjata api yang saling bersahutan. Ruangan itu kedap udara. Jadi wajar orang diluar tidak bisa mendengarnya.


Seorang pria dengan kaos ketat dan celana jins hitam membimbing Eric menuju ruang perlengkapan. Dia adalah Jim, si instruktur. Eric dipersilahkan memilih salah satu dari tiga jenis senjata api yang bisa dia gunakan untuk anggota baru seperti dirinya.


Revolver, Glock Meyer 22, dan G2 Combat. Pilihannya jatuh pada G2 Combat kaliber 9 mm.


Jim memberikan sebuah earmuff dan kacamata khusus untuk Eric. Ini memang bukan kali pertamanya memegang senjata, tapi dia tetap mendengarkan arahan dari Jim.


Begitu Jim selesai memberikan arahan, Eric segera menempati posisinya di bagian paling ujung. Dari sepuluh bilik, hanya tersisa dua bilik yang kosong. Ternyata bukan hanya pria yang menyukai hal semacam ini. Di beberapa bilik, Eric melihat wanita juga sama jagonya dalam membidik sasaran.


Kegiatan ini ternyata sangat menyenangkan bagi Eric. Untuk sesaat dia bisa mengalihkan pikirannya dari gadis keras kepala yang selalu menyebutnya pria menyebalkan.


"Wow ! Bidikanmu bagus sekali, sir." Kata Jim saat Eric selesai dengan kegiatannya.


Eric berbalik dan tersenyum senang dengan hasil bidikannya. Dia melepas earmuff dan kacamatanya.


"Panggil saja Eric." Katanya sambil menyerahkan earmuff dan kacamata pada Jim. Dia meletakkan G2 Combatnya diatas meja lalu mengambil sebotol air mineral yang diberikan Jim lalu meminumnya hingga tinggal setengah botol. "Aku suka berburu." Lanjut Eric setelah menutup botol minumnya.


"Hobi ?" Tanya Jim.


Eric mengedikkan bahu. "Hanya terbiasa melakukannya dari kecil."


Jim duduk di tepi meja. "Darimana asalmu ?"


"Amytville."


Jim tersenyum, "Tempat yang sangat indah. Aku kenal seseorang dari sana."


Eric mengangkat sebelah alisnya, menunggu kelanjutan kalimat Jim.


Jim menunjuk seseorang di bilik 3 yang juga baru saja selesai menembak. Seorang wanita.


"Elle !" Panggil Jim pada wanita itu.


Jim memberi kode pada wanita itu untuk mendekat padanya.


Pandangan Eric tidak lepas dari arah yang ditunjuk Jim tadi. Dan saat wanita itu menoleh, seketika hati Eric bergemuruh. Rahangnya mengeras. Wajahnya berubah merah padam dengan tatapan tajam. Eric meletakkan tangannya di atas pistol yang dia gunakan tadi.


Wanita itu tersenyum pada Jim. Lalu pandangannya beralih pada seorang pria yang duduk di bangku berhadapan dengan Jim sedang menatapnya tajam.


Senyum wanita itu semakin mengembang di wajah cantiknya. Dia berjalan dengan anggun ke arah Jim dan Eric tanpa menghilangkan senyum indah di bibirnya.


"Hallo, Love. Long time no see. I miss you so bad." Ucap wanita itu dengan tatapan penuh arti pada Eric.


Eric mengacungkan pistolnya pada wanita itu. Jim langsung melompat turun dari meja. "What the hell you doing ?!" Katanya.


"Menyingkirkan ular berbisa dari tempat ini." Desis Eric bersiap menarik trigger. "Good bye, Elena !"


Dor !


Eric menarik triggernya. Peluru itu meluncur lima cm di sebelah kiri telinga Elena dan mendarat pada dinding di belakang Elena. Bukan meleset, tapi Eric sengaja untuk menggertak wanita itu.


Semua yang berada disana terkejut dan berteriak. Berbagai macam umpatan memenuhi ruangan itu.


Eelena masih berdiri mematung di tempatnya. Dia tidak mengira Eric benar-benar menembaknya.


Eric menghentakkan pistolnya diatas meja. Lalu berjalan ke pintu keluar, meninggalakn orang-orang yang mengumpatinya dengan segala macam umpatan. Termasuk Jim.


Persetan dengan mereka semua. Eric tidak akan pernah datang kesana lagi. Dia berjalan melewati Elena tanpa menoleh sedikitpun.


Elena mencekal tangan Eric setelah sadar dari keterkejutannya. "Aku akan datang padamu, Love." Ucapnya dengan nada menggoda tidak tahu malu. Bahkan setelah mendapat perlakuan sadis dari Eric.


"Go to hell !" Eric menghempaskan tangannya hingga terlepas dari cekalan Elena.


Dia pergi dari tempat itu dengan perasaan yang semakin buruk. Suasana hatinya yang tadi sudah membaik, kini malah semakin buruk karena wanita ular yang sangat dia benci.


Lain kali Eric tidak akan membidik lima cm dari kepala Elena, tapi tepat diantara alis wanita itu. Eric sudah benar-benar muak melihat wajah Elena. Dan sialnya, dia harus bertemu lagi dengan wanita itu disaat hatinya sedang bergejolak.


It's a damn thing !



ELENA DIANNE ALEJANDRO


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Awas di dor sama mbak Elena !


Cast Elena ini asli bininya Ryan Guzman ya. Cuantik kan ?! Cocok banget dah. Yang cowok ganteng, yang cewek cuantik. Sungguh pasangan yang serasi. Bikin iri deh, xixixi


Tapi disini aku pengen nyiksa mereka. Sudah cukup di dunia nyata saja mbak Elena memiliki bang Eric. Di cerita ini aku tidak terima mereka bersama,,😭😭😭


Oya, mau kasih info nih. Ini part terakhir sebelum lebaran ya. Habis ini aku mau libur dulu sampai nanti setelah lebaran.


Selamat hari raya idul fitri bagi yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin ya.


Jangan lupa klik tanda ♡ supaya nanti saat aku mulai up part selanjutnya kalian tidak ketinggalan.


Like dan vomment nya selalu ditunggu.


See you next part, Love.