
~Isabel~
Aku sudah mempersiapkan diri jika hari itu tiba. Hari dimana aku akan bertemu dengannya lagi. Tapi aku sungguh tidak menyangka jika hari itu adalah hari ini. Harusnya ini tidak terjadi sekarang.
Aku melihatnya bersama Sally dan Naomi. Seseorang yang kucoba lupakan selama dua tahun ini. Dia menatapku dan tidak bergerak. Wajahnya, matanya masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah dari dirinya. Dia masih sama seperti Eric yang kucintai dua tahun lalu. Dan mingkin masih.
Tidak! Aku belum siap bertemu dengannya. Tidak saat ini. Aku membalik tubuhku dan berlari. Ini tidak seharusnya terjadi. Aku masih punya banyak waktu untuk melupakannya. Aku tidak ingin bertemu dengannya.
Saat aku berlari, seseorang memanggil namaku dan menarik tanganku dengan keras hingga aku menubruk tubuhnya. Itu Eric.
"Ini benar dirimu? Aku tidak percaya aku benar-benar bertemu denganmu." Eric menyentuh wajahku. Dia meraba, menelusuri wajahku seolah memastikan bahwa aku nyata. Kulihat matanya berkaca-kaca.
Aku merasakan sesak dan sakit dalam dadaku saat menatapnya. Aku melihat kesakitan yang begitu dalam dari kedua matanya. Dia sakit, aku bisa merasakannya. Dia sama sepertiku. Air mataku pun menetes. Dia menarikku dalam pelukannya sambil mengucapkan kata maaf dan rindu. Aku ingin membalas pelukannya. Aku ingin mengatakan kalau aku juga merindukannya. Tapi ini tidak benar. Aku tahu ini tidak benar.
"Tidak! Ini tidak benar," kataku sambil mendorongnya menjauh. Aku menatapnya dengan menahan rasa perih dalam hati. "Ini tidak seharusnya terjadi." Aku mundur. Harusnya kejadiannya tidak seperti ini. Aku akan bertemu dengannya ketika aku siap. Ketika aku telah bisa merelakannya. Dan ini belum waktunya. Ini tidak seharusnya terjadi.
Aku bergerak mundur. "Jangan mendekat! Jangan mengejarku!" kataku saat dia berusaha menggapaiku lagi. Aku tidak ingin menyakitinya. Tapi aku benar-benar tidak bisa bertemu dengannya untuk saat ini. Aku belum bisa.
Kutarik nafas panjang lalu aku berbalik. Aku berlari meninggalknnya. Aku berlari sekuat tenaga hingga kakiku terasa sakit. Aku tidak tahu kemana aku berlari. Yang aku pikirkan hanya menjauh darinya. Aku hampir berhasil melupakannya. Dan aku tidak ingin membuat usahaku selama ini sia-sia.
Aku duduk bersimpuh di depan sebuah bangunan dua lantai. Tubuhku bergetar, aku menangis sejadinya, tidak peduli dengan orang-orang yang berjalan melewatiku sambil menatap aneh padaku.
"Josephine," panggil seseorang yang keluar dari pintu bangunan itu. Aku mengangkat wajah dan menemukan seseorang yang selama satu tahun ini membantuku bangkit dari kehancuran. Finn.
Finn menarik tubuhku untuk berdiri. Dia memelukku. "Apa yang terjadi padamu?"
"Aku bertemu denganya, Finn. Aku belum siap. Ini tidak seharusnya terjadi sekarang," aduku padanya.
Finn mengusap punggungku. Dia tahu semua tentang aku dan Eric. "Kita bicara di dalam."
Aku menurut. Finn membawaku masuk ke tempat praktiknya. Dia adalah psikolog yang selama ini membantuku untuk menemukan tujuan hidup lagi setelah badai besar yang kualami. Aku kehilangan bayiku dan aku juga kehilangan orang yang sangat kucintai.
Aku tidak pernah membenci Eric atas apa yang dia lakukan padaku. Aku tahu itu diluar kendali dirinya. Aku sangat mencintainya. Tapi keluargaku telah bertindak lebih jauh dariku. Disaat aku tidak berdaya, mereka mengambil sebuah keputusan besar tanpa meminta pendapatku.
Dengan alasan rasa cinta kepadaku, mereka membuatku berpisah dengan orang yang aku cintai. Aku ingin membenci mereka, tapi aku tidak bisa. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dua kali. Mereka adalah orang-orang yang menyayangiku. Dan aku tidak bisa kehilangan orang-orang yang peduli padaku lagi setelah aku kehilangan orang yang kucintai.
Rasa sakit membawaku pada titik terbawah dalam hidupku. Aku benar-benar hancur. Keluargaku tahu kalau Eric akan selalu mengawasiku meski kami telah berpisah. Mereka meminta bantuan Jordan untuk menyembunyikanku. Tapi mereka tidak tahu, mereka tidak pernah tahu kalau semua itu membuatku semakin hancur. Aku terjatuh semakin dalam hingga aku merasa tidak akan ada seorang pun yang mampu menarikku kembali. Kecuali dia.
Hampir satu tahun aku hidup dibalik dinding kastil virtual yang membentengiku dari Eric. Selama itu pula aku merasa seperti mayat hidup. Aku tidak mempunyai keinginan apapun lagi. Aku merasa hatiku telah mati. Jiwaku telah terkubur dibalik dinding virtual yang dibuat keluargaku.
Aku masih tinggal di rumah yang sama dengan mereka, tapi dengan campur tangan Jordan, keberadaanku seolah semu. Aku pernah mendengar Jordan berbicara dengan Mike tentang teknologi yang bisa menghambat jaringan internet di sekitar paviliun yang aku tempati selama aku di rumah.
"Aku memasang alat ini di empat sudut paviliun, Eric tidak akan bisa menembusnya. Begitu Eric mengakses kamera yang berada di sekitar paviliun, sistem akan mengirim virus secara otomatis ke perangkat Eric. Aku juga akan memasang alat ini di beberapa tempat untuk membuat kamuflase. Isabel akan aman. Kecuali jika dia keluar dari jangkauan alat ini." Itulah yang aku dengar dari Jordan saat dia bicara dengan Mike.
Finn memberiku banyak sekali motivasi. Dia mendengarkan semua yang kukatakan tanpa menyela, tanpa menggurui dan tanpa menyalahkan. Aku sangat nyaman bicara dengannya. Hingga suatu saat aku memutuskan untuk tinggal sendiri di suatu tempat untuk menenangkan diri. Dengan bantuan Finn, akhirnya keluargaku memberi izin untuk keluar dari rumah. Dan sejak saat itu aku meminta semua orang berhenti memanggilku Isabel. Aku meminta mereka memanggilku Josephine.
Aku tinggal tidak jauh dari tempat praktik Finn. Setiap hari aku datang ke tempat praktiknya. Dan di tempat itu aku bertemu dengan Sally, janitor yang bekerja di sana.
Di tempat itu, bukan hanya Finn yang selalu berperan menjadi psikolog-ku. Meski hanya seorang janitor, tapi Sally juga mempunyai andil cukup besar dalam proses kebangkitanku dari keterpurukan. Sally banyak bercerita tentang suaminya yang telah meninggal saat putrinya yang cacat sejak lahir baru berusia dua tahun. Dia harus banting tulang menghidupi putrinya ditengah hinaan dan cemoohan keluarganya sendiri. Bahkan dulu dia selalu membawa putrinya ke tempat kerja karena di rumah tidak ada orang yang menjaga putrinya. Kerasnya hidup Sally memberiku banyak motivasi untuk bangkit.
Finn menyarankanku untuk melakukan sesuatu yang membuatku sibuk untuk mengalihkan fokusku dari Eric. Dengan begitu perlahan-lahan aku akan bisa melupakan kenangan buruk yang pernah kualami. Finn juga mengatakan kalau suatu saat nanti, ketika aku siap aku harus menemui Eric untuk membuktikan bahwa aku telah berhasil mengalahkan rasa sakitku. Dan dengan menemui Eric, aku akan tahu apakah aku sudah bisa melupakan perasaanku terhadapnya atau belum.
Mengikuti saran dari Finn, aku mulai belajar membuat kue. Meski dulu aku selalu gagal dan mengira aku tidak berbakat dengan urusan baking, tapi aku berhasil melewati limitku. Perlahan-lahan aku belajar membuat aneka kue dan aku berhasil. Namun baru dua bulan ini aku memberanikan diri untuk membuka toko kue secara online.
Bazar tahunan Axella Foundation menjadi pilihanku untuk memulai promosi. Sally dan Finn adalah orang pertama yang menyemangatiku untuk berani mencoba. Tapi entah kenapa setelah aku mendaftarkan diri menjadi partisipan, aku menjadi ragu dan aku membatalkannya.
Sally adalah orang yang paling kecewa dengan keputusanku. Dia bilang, dia akan mengenalkanku dengan orang sombong yang selalu membanggakan dirinya sendiri yang serba bisa. Dia juga bilang kalau orang itu adalah sahabat Naomi, putrinya. Pria tua yang memiliki masa lalu suram. Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa orang itu adalah Eric.
Sally mengirim pesan padaku kalau Naomi dan sahabatnya telah selesai tampil. Sebenarnya aku ingin melihat penampilan Naomi, tapi karena aku harus mengantar pesanan kue pada seseorang, aku jadi terlambat.
Waktu aku sampai di tempat bazar, Sally kembali mengirim pesan bahwa dia menungguku di depan food truck es krim bersama Naomi dan sahabatnya.
Aku melihat sekeliling, mencari keberadaan Sally. Ponsel yang kugenggam bergetar, kulihat nama Sally di layar. Waktu aku mau menjawabnya, aku mendengar suara Sally memanggilku. Aku buru-buru memasukkan ponselku ke dalam tas lalu berjalan mendekat pada mereka. Namun hal yang tak kuinginkan terjadi. Bukan hanya Sally dan Naomi yang kutemukan disana, tapi juga Eric.
Luka yang perlahan mampu kukubur, seolah dicungkil kembali. Luka menganga yang membuat hidupku hampa. Luka yang membawaku kembali pada Finn.
Dalam waktu singkat aku merasa hidupku ditarik kembali pada waktu dua tahun lalu, kembali pada titik awal kehancuranku. Semua keyakinan yang kumiliki untuk bangkit seolah terhempas begitu saja.
"Aku sakit, Finn," aduku. Finn kembali memelukku. "Aku tahu. Keluarkan semua rasa sakit yang kau rasakan. Keluarkan semua yang ingin kau katakan. Aku disini bersamamu, jangan pernah merasa sendirian, Josephine," kata Finn menenangkan.
Tidak ada lagi kata yang mampu kuucapkan. Lidahku kelu oleh rasa sakit di dalam hatiku. Aku merasa ... hampa.
*
*
*
*
*
tbc.
See you next part, Love.