
~ERIC~
Sekarang aku merasa pasir jauh lebih menarik dibanding layar komputer. Hidup sederhana bersama wanita yang paling aku cintai adalah mimpiku yang menjadi nyata. Aku benar-benar tidak memikirkan materi lagi. Selama ini, sahamku di Skytech sudah cukup untuk menghidupi kami. Bahkan kami masih bisa menyisihkannya untuk memberi donasi tetap di Axella Foundation dan untuk masa depan anak-anak kami kelak.
Semenjak aku kembali bangkit dari tragedi itu, aku semakin dekat dengan kesederhanaan. Tidak ada lagi kemewahan yang berlimpah. Bahkan istriku yang sejak kecil sudah hidup bergelimang harta, mau meninggalkan semua itu demi hidup denganku di tepi pantai seperti ini. Apa lagi yang aku harapkan? Dengan begini saja aku sudah merasa seperti hidup di surga.
Sebagai pengisi waktu, kami membuka tempat makan kecil di tepi pantai. Kami sama-sama suka memasak, jadi kami sama sekali tidak merasa bahwa ini adalah sebuah pekerjaan. Kami lebih menganggapnya sebagai hobi untuk mengisi waktu luang. Karena kami akan membuka atau menutup tempat makan ini sesuka kami. Tidak ada yang akan mendikte kami. Kami benar-benar melakukan apapun yang kami inginkan.
Aku berjingkat saat merasakan pasir basah jatuh di wajahku. Aku menoleh ke kiri dan menemukan gadis kecil berlari mendekat lalu menghambur ke pelukanku. Tanpa persiapan, tubuhku terjengkang ke belakang.
"Hati-hati, Sayang." Aku bangkit dan tetap mempertahankan gadis kecil itu dalam gendonganku. Dia adalah Santana, putriku yang berusia lima tahun. Dia memiliki rambut keemasan sepertiku, tapi mewarisi iris biru cantik milik ibunya.
"I want to go home," pintanya sambil mengeratkan pelukannya di leherku. Sejak pagi aku menemaninya bermain karena putra sulungku, Jeremy, sedang merajuk karena mainannya dirusak oleh Santana. Jika sudah begini, mereka memang harus dipisahkan untuk sementara waktu. Jika tidak, jangan pernah membayangkan apa yang bisa dilakukan dua bocah ini terhadap rumahku. Usia mereka yang hanya terpaut satu tahun membuat mereka sering bertengkar hanya karena berebut mainan.
"Jika kita pulang, kau harus berjanji akan meminta maaf pada kakakmu," kataku. Aku membuatnya berjanji seperti itu karena putriku ini mempunyai bibit keras kepala yang cukup unggul. Dia tidak pernah mau meminta maaf dengan sukarela untuk kejahilannya pada Jeremy. Maka aku harus berusaha keras mendisiplinkannya sejak dini. Entah dari siapa dia mendapatkan sifat seperti itu. Kurasa dari ibunya.
"I promise." Dia mengacungkan kelingking kecilnya padaku. Aku menautkan jari kelingkingku yang sangat tidak sepadan dengan jari mungilnya.
"Baiklah, kita pulang sekarang dan memperbaiki kesalahan yang kau perbuat pada kakakmu. Kau harus ingat, Sayang. Merusak mainan milik orang lain itu bukan tindakan terpuji. Kalau kau sudah besar nanti, kau bisa masuk penjara karenanya," kataku sambil berjalan menjauhi bibir pantai dengan Santana dalam gendonganku.
Gadis kecilku mengerutkan alisnya. Kurasa dia takut mendengar kata 'penjara'. "Aku tidak mau masuk penjara," ucapnya polos. Aku tertawa. Aku selalu suka melihat wajah polosnya yang menggemaskan seperti ini.
"Kau tidak akan masuk penjara jika kau bersikap baik, Sayang," kataku sambil mencubit hidung kecilnya. "Jadi ... apa kau masih mau mengulangi perbuatanmu lagi? Merusak mainan kakakmu?"
"Tidak, Daddy." Gadis kecilku menggeleng.
"Bagus. Jadi mulai sekarang kau tidak boleh mengganggu kakakmu lagi, okay?" Dia mengangguk lucu lagi.
Santana kecilku terus mengoceh selama perjalanan kembali ke rumah. Dia membicarakan banyak hal dengan suara cadelnya. Berkebalikan dengan Jeremy, putraku yang menuruni fisik persis sepertiku. Putraku itu lebih irit untuk bicara. Dia hanya akan bicara seperlunya. Dia juga tidak suka jika barang-barang pribadinya disentuh orang lain. Maka dari itu dia akan sangat marah saat ada orang yang merusak mainannya. Kurasa aku tahu darimana dia mendapatkan genetik seperti itu.
"Mommy!" Santana merosot dari gendonganku dan berlari menghampiri istriku yang sedang membereskan mainan anak-anak kami. Salah satu pekerjaan rutin yang tidak mengenal waktu karena setiap saat anak-anakku membuat rumah berantakan dengan mainannya.
"Jangan lari, Sa--yang!"
Belum selesai istriku memperingatkan, tangis lantang Santana pecah. Dia tergelincir mobil mainan milik Jeremy. Aku dan istriku segera berlari membantunya bangun. Tangisan Santana benar-benar memekakkan telinga. Kalau bukan karena hampir setiap hari kami mendengarnya, kami pasti sudah mengalami gangguan telinga. Atau mungkin memang telinga kami sudah bermasalah karena jeritan Santana. Entahlah.
Belum reda tangis Santana, Jeremy muncul dari balik pintu. Pandangannya tertuju pada mobil mainan miliknya yang pecah karena terlempar dan membentur dinding cukup keras setelah menggelincir kaki Santana.
"Kau merusak mainanku lagi?" Jeremy memungut mobil mainannya dengan mata berair, hidung merah dan bibir tertarik ke bawah.
"Oh, tidak!" Istriku menepuk dahinya lantas beralih menghampiri Jeremy dan menyerahkan Santana yang belum berhenti menangis padaku. Namun Jeremy lebih dulu mengeluarkan jurus merajuknya.
"Kau adalah adik paling jahat di seluruh dunia! Aku tidak mau berteman denganmu lagi!"
Dan kalau sudah begini, rumah akan tetap berantakan karena kami harus menenangkan kedua bocah perusuh ini. Jangan mengira mereka adalah anak-anak yang dengan disogok lolipop bisa berhenti menangis. Mereka baru akan berhenti menangis kalau mereka sudah lelah dan tertidur.
Setelah satu jam bergulat dengan jerit tangis bocah-bocah itu, akhirnya mereka tertidur. Aku dan istriku duduk diatas karpet tebal di dekat perapian sambil memandangi keadaan rumah yang kacau balau dengan mainan yang tersebar hampir di seluruh ruangan.
Kami duduk sambil menggenggam mug berisi coklat panas untuk memperbaiki suasana hati kami.
"Kau yakin masih ingin menambah anak lagi?" tanyaku setelah menyesap coklat harum ditanganku.
"Sayangnya kita tidak punya pilihan lain."
Aku menoleh cepat pada istriku. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku dan memberikannya padaku. Benda pipih dengan garis merah membentuk pola 'plus'.
"Kau hamil?" tanyaku tidak percaya. "Kejutan sekali, Sweetheart." Aku senang istriku hamil lagi. Itu artinya akan ada satu lagi malaikat kecil menggemaskan di rumah ini. Kuletakkan mug di lantai lalu memeluk istriku sambil mengatakan betapa beruntungnya aku.
"Kuharap aku tidak akan dibuat gila oleh mereka," kata istriku.
"Kita bisa gila bersama-sama kalau begitu," balasku.
"Mungkin setelah ini aku akan mempertimbangkan untuk steril."
"Kita masih punya PR 8 bocah lagi, Sweetheart."
"Dua saja sudah membuat kepalaku mau pecah."
Aku tertawa. Memang tidak ada lagi yang namanya ketenangan dan kerapian di rumah ini sejak kehadiran dua bocah itu. Tapi semuanya digantikan oleh kebahagiaan yang tidak akan pernah kutemukan dimanapun.
"Aku akan mengurus sisanya," kataku.
"Kenapa bukan kau saja yang hamil?" tukasnya.
"Karena aku hanya bisa menghamili, Sweetheart."
***
Garing banget yak, extra partnya. Aku sebenernya ragu mau nulis ini. Tapi yowes lah. Bikin seneng yang nyepam di chat kemarin aja wkwkwk
Wes, abis ini nggak ada lagi extra. Intinya mereka udah bahagia, jangan pancing aku buat nyiksa mereka lagi😂
Terima kasih.
Sampai jumpa di judul yang lainnya.