100 Days

100 Days
Part 90



Hening mendominasi keadaan. Eric kembali dengan membawa kain dan satu bungkus batu es di tangannya. Dia meletakkan kain dan batu es di mini bar yang ada di dapur. Lalu dia duduk di kursi bar bersebelahan dengan Isabel.


Eric menghela nafas berat, lantas meraih tangan Isabel. Buku-buku tangan gadis itu memar akibat meninju cukup keras. Lalu dengan telaten Eric mengompres memar di tangan Isabel dengan batu es yang dilapisi kain.


"Ini baru akan terasa nyeri besok. Dengan di kompres seperti ini, paling tidak tanganmu tidak akan bengkak." Ujar Eric.


Isabel tidak menanggapi. Belum ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir gadis itu sejak mereka memasuki mobil untuk kembali ke rumah. Tidak perlu di jelaskan pun Eric paham jika saat ini Isabel sedang marah padanya.


Bukan niat Eric untuk menyembunyikan kebenaran dari Isabel. Eric hanya butuh waktu untuk mencari bukti baru yang bisa mengaitkan Elena dengan kasus ini. Dan jika dia sudah mendapatkannya, dia akan memberi tahu Isabel semuanya. Karena dia juga tidak ingin wanita itu bebas bernafas setelah apa yang dia lakukan pada Isabel.


"Aku sedang mencari bukti baru keterlibatan wanita itu dengan kasusmu. Dan setelah aku mendapatkannya, aku baru akan membe...."


"Diam !" Bentak Isabel yang berhasil membuat Eric menutup mulut seketika.


Isabel merampas kain bersisi batu es dari tangan Eric dan mengompres sendiri tangannya.


"Aku minta maaf, Bells. Aku tidak...."


"Aku tidak butuh permintaan maafmu !" Potong Isabel. "Apa kalian sengaja menyembunyikan ini dariku ? Atau kau memang tidak rela jika j*lang itu membusuk di penjara ?" Isabel mendengkus, membuang pandangan ke arah lain.


"Tidak, Bells. Bukan seperti itu." Eric mencoba meraih tangan Isabel tapi di tepis dengan kasar.


"Lalu apa ? Kau ingin aku terlihat bodoh di depan j*lang itu ?" Isabel mendengus sinis.


Eric memijit pelipisnya untuk meredam rasa pening di kepalanya. Dia tidak tahu harus menjelaskan seperti apa lagi. Saat ini Isabel sedang dikuasai amarah, menjelaskan seperti apapun rasanya percuma saja.


"Aku tahu aku salah tidak mengatakan semuanya sejak awal. Aku minta maaf. Tapi yang harus kau tahu, aku melakukannya demi kebaikanmu." Eric menghela nafas saat lagi-lagi Isabel menepis tangannya yang hendak menyentuh tangan gadis itu.


"Kau butuh waktu untuk tenang. Kita bicarakan ini lagi besok, okay. Aku pamit dulu." Tangan Eric menggantung di udara. Dia ingin meraih kepala Isabel dan mencium keningnya. Tapi melihat kondisi Isabel saat ini, sepertinya itu tidak mungkin.


Eric memejamkan mata sambil merapatkan bibirnya hingga membentuk garis lurus untuk menahan perasaannya. Dia membuang nafas kasar. "Aku mencintaimu, Bells." Katanya sebelum membalik badan dan meninggalkan Isabel.


Begitu Eric pergi, Isabel berlari masuk ke kamarnya. Ada rasa tidak terima dalam hati Isabel saat mengetahui fakta bahwa Jordan dan Eric menyembunyikan kebenaran ini. Jelas-jelas Elena adalah biang masalah dan ikut terlibat. Kenapa mereka tidak ikut melaporkannya pada polisi ? Apa karena mereka teman lama ? Dengan dalih persahabatan yang sudah dijalin sejak kecil ? Omong kosong !


Isabel membanting pintu kamar lalu berlari ke ranjang. Menjatuhkan diri diatas ranjang dan menangis. Isabel merasakan sesak dan sakit dalam hatinya. Bukan karena apa yang sudah dilakukan Elena padanya, melainkan karena rasa takut.


Dia takut jika Eric masih menaruh simpati pada wanita itu. 7 tahun bersama bukanlah waktu yang singkat. Bisa saja sebenarnya dalam lubuk hati Eric masih menyimpan asa untuk kembali pada wanita itu. Dengan banyaknya kenangan yang mereka miliki, itu bukanlah hal yang tidak mungkin terjadi.


Isabel takut jika cinta Eric padanya tidak sekuat yang dia kira. Pengalaman mengajarkan padanya bahwa tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Dia sendiri mengalaminya. Cintanya pada Aiden yang dia kira begitu kuat, ternyata bisa digantikan dengan cintanya pada Eric yang lebih besar. Bahkan hanya dalam waktu 100 hari, Eric berhasil menjungkir balikkan hatinya. Cinta, kecewa, sedih, sakit, benci, sesal semua itu berhasil Eric obrak abrik hingga hanya menyisakan satu kata dalam hatinya, yaitu CINTA.


Lalu bagaimana dengan hubungan Eric dan Elena yang berlangsung selama 7 tahun ? Bisa saja Eric bersembunyi dibalik kata benci. Tapi dia tidak akan bisa menyingkirkan kenangan yang terlanjur membekas dalam hati. Dan lagi......Isabel memejamkan mata karena apa yang terlintas dalam pikirannya. Apa yang tidak bisa dia berikan pada Eric saat menjadi kekasihnya.


*****


Jordan menahan nafas saat menyaksikan Isabel yang tiba-tiba memeluk dan mencium Eric dengan panas di sampingnya. Buru-buru dia mengalihkan pandangan. Menggaruk hidungnya yang bahkan tidak terasa gatal sambil memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana.


Dan setelah mereka selesai, Isabel menggandeng tangan Eric, membawanya pergi dari sana tanpa sepatah katapun. Hanya satu lirikan tajam yang dia dapatkan sesaat sebelum Isabel melangkahkan kakinya dari tempat itu.


Okay, Jordan tahu maksud tatapan itu. Isabel kecewa, Isabel marah. Tapi apa yang bisa dia lakukan saat ini ? Saat gadis itu memilih pergi dengan kekasihnya. Dia tidak mungkin mengejar lantas memberi penjelasan. Hal itu hanya akan membuatnya terlihat konyol.


Jordan menghela nafas berat saat kedua orang itu sudah menyeberang jalan. Lalu pandangannya beralih pada wanita yang masih terduduk di tanah dengan kondisi sangat menyedihkan. Wajah babak belur, dan dress mahal yang sudah berubah warna karena bergesekan dengan tanah.


Dengan langkah berat Jordan mendekat. Dia berdiri di depan Elena masih dengan kedua tangan yang bersembunyi dibalik saku celana.


Sangat memprihatinkan. Riasan cantik Elena sudah berganti dengan luka lebam, lipstik merah mahalnya berganti dengan darah akibat luka robek di sudut bibir. Serta maskara yang berubah menjadi bedak cair hitam akibat air mata yang berderai.


Dengan penampilan seperti ini, Elena terlihat sangat buruk. Wajah bengal dengan sikap arogan namun selalu tampil anggun yang selalu menjadi image nya kini seolah lenyap. Yang ada di hadapan Jordan saat ini hanyalah seorang wanita yang terluka. Bukan hanya fisik, tapi juga batin.


Wanita yang biasanya menunjukkan sikap congkak, angkuh dan penuh ambisi kini hanya bisa terduduk memegangi perutnya yang terasa nyeri dengan kelopak mata yang terus meneteskan air meski tanpa suara.


Elena yang selalu menunjukkan sisi kuatnya kini terlihat sangat terluka dan...rapuh.


Beberapa saat Jordan hanya berdiam diri menatap prihatin pada Elena. Dia menghela nafas berat lantas mengulurkan tangan kanannya. "Bangunlah !" Katanya dengan lembut.


Elena menengadah, dia menatap nanar pada Jordan yang berdiri menjulang dengan tangan terulur padanya.


Perlahan Elena mengangkat tangan kirinya, menyambut uluran tangan Jordan. Lalu Jordan menarik tangan Elena, membantu wanita itu berdiri dan menjaga keseimbangannya.


Jordan menatap prihatin pada Elena yang tampak begitu terluka. Pelan dia mengusap air mata Elena dengan ibu jarinya. Dan saat itulah Elena tidak bisa menahan tangisnya lagi. Elena memeluk Jordan dengan begitu erat. Menangis sesenggukan dalam dekapan Jordan. Menumpahkan segala beban dan sakit yang mengakar dalam hatinya.


Jordan memejamkan mata rapat-rapat. Mengusap lembut kepala wanita itu. Dia merasakan Elena-nya telah kembali. Elena yang selama 14 tahun bersembunyi di sudut hati terdalam wanita yang dia peluk saat ini. Elena berhati seputih salju yang sangat dia rindukan. Elena kecilnya yang selalu ceria. Elena yang seakan mati suri sejak kehormatannya direnggut paksa oleh ayah tirinya.


"Dia benar-benar meninggalkanku." Gumam Elena disela isak tangis yang terdengar begitu menyayat hati.


Jordan mencium puncak kepala Elena dengan sayang. "Ada aku disini, Little E." Bisiknya.


Elena semakin tergugu saat mendengar bisikan Jordan. Jordan yang pernah mencintainya dengan sangat tulus meskipun tahu hatinya telah terpatri untuk orang lain. Jordan yang selalu berkorban untuknya dengan tulus tanpa mengharap balasan apapun.


Jordan tahu suatu saat Elena-nya akan kembali. Hanya butuh kesabaran untuk menariknya kembali dari palung tak berujung dalam hatinya. Memang tidak mudah karena Elena sudah jatuh terlalu dalam hingga hampir kehilangan jati dirinya. Tapi Jordan yakin, Elena masih memiliki ketulusan dan kebaikan dalam hatinya meskipun hanya sedikit. Dan Jordan yakin suatu saat nanti Elena akan berubah menjadi Elena-nya yang dulu.


*****


Sepasang mata terus mengawasi seseorang yang dengan berani telah menghadang kekasihnya. Dia adalah Jim Calderon. Dia baru saja menemui kekasihnya untuk melepas rindu. Beberapa hari berada dalam pelarian membuatnya tidak bisa bertemu dengan kekasihnya secara bebas. Karena dia harus tetap menghilang untuk sementara waktu guna menghindari kejaran polisi.


Amarahnya membuncah saat gadis yang menjadi targetnya beberapa waktu lalu tiba-tiba datang dan menyerang kekasihnya dengan brutal. Memukuli bahkan menginjaknya tanpa ampun.


Jim mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Melihat dua pria disana yang hanya menonton seperti orang bodoh dan terkesan menikmati kebrutalan itu membuatnya semakin meradang. Jika tidak mengingat situasi, dia ingin berlari kesana dan membunuh gadis ingusan itu langsung dengan tangannya karena sudah berani melukai kekasihnya. Namun tidak banyak yang bisa dia lakukan. Dia hanya bisa menggeram tertahan melihat kekasihnya tersungkur tidak berdaya.


Harusnya Elena tidak semudah itu di kalahkan. Harusnya Elena bisa dengan mudah menghajar gadis itu. Apalagi gadis itu terlihat tidak terlatih sama sekali. Gadis itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Elena. Namun kenapa Elena terlihat sangat lemah disana ? Bahkan dia tidak mampu hanya untuk sekedar menangkis pukulan itu.


Jim menahan segala umpatan dan sumpah serapahnya. Dia ingin Elena bangkit dan membanting tubuh gadis itu hingga tulang belulangnya remuk. Namun yang dia lihat saat ini hanya Elena yang lemah dan tidak berdaya.


Puncaknya adalah saat gadis itu berhenti melangkah dan kembali menoleh pada Elena sambil mengucapkan sebuah kalimat. Kalimat yang cukup jelas terdengar oleh Jim yang bersembunyi hanya beberapa meter dari sana.


Hal yang tidak pernah Jim duga sebelumnya. Elena terlihat semakin tidak berdaya setelah kalimat gadis itu terucap. Dan hal yang tidak pernah dia lihat dari sosok Elena sebelumnya. Jim melihat dengan jelas bahwa Elena terluka. Bukan fisiknya, tapi hatinya.


Dan pada saat gadis itu mencium pria yang dari tadi hanya menonton kegilaan gadis itu tanpa melakukan apapun, Jim kembali mengarahkan pandangannya pada Elena. Saat itu, Jim melihat sorot luka yang semakin dalam di mata Elena. Jim tidak bodoh. Dia tahu arti luka di mata Elena saat mendengar kalimat dan melihat apa yang dilakukan gadis itu. Luka karena hati yang tercabik-cabik. Luka karena hati yang patah.


Jim menggeram marah. Dia sangat kecewa. Wanita yang selama ini dia cintai, bahkan dia rela melakukan apapun untuknya, ternyata mencintai pria lain dengan begitu dalam. Dan bodohnya, dia termakan bujuk rayu Elena untuk ikut terlibat dalam rencana licik yang kini mengakibatkan dirinya harus terus bersembunyi.


"Dasar j*lang !" Umpat Jim tertahan.


Dengan deru nafas yang memburu. Dada yang naik turun menahan gejolak amarah yang luar biasa. Dan tangan yang mengepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Jim bersumpah dalam hatinya akan membalas mereka semua.


Jim menyeringai jahat. "Kalian akan merasakan sakit bersama-sama." Desisnya sambil menggertakkan gigi. "Aku akan memberi kalian satu hadiah istimewa. Hadiah yang akan menghancurkan kebahagiaan kalian."


Wajah Jim yang tadinya mengeras perlahan berubah dingin. Kepalan tangannya mengendur. Lalu dia memantik sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Menikmati gerakan halus asap beracun itu memasuki rongga dada lantas menghembuskannya perlahan seolah mengeluarkan semua ketegangan yang sempat menguasainya beberapa saat lalu.


Dengan tatapan datar dia menyaksikan kekasihnya menangis terisak dalam dekapan pria lain. Tangis pilu yang menyiratkan banyak luka. Kekasihnya yang liar kini lemah tak berdaya. Kekasihnya yang penuh ambisi dan obsesi kini terlihat begitu rapuh bagaikan gelembung yang akan pecah hanya dengan sentuhan kecil. Kekasih yang tidak lagi menjadi bagian dari dirinya.


"Bersiaplah membusuk di penjara, Mi Amor...."


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


huh.....kelar !


gimana dengan part ini ? aku ampe nangis loh pas nulis bagian Elena. rasanya tuh kayak sakiiiit banget gitu kalo jadi dia. jadi nih ya dulu Elena itu cewek baik-baik yang berhati lembut. makanya si eric ama jordan kepincut sama dia. cuman gegara kelakuan bejat bapak tirinya, Elena jadi dendam. trus dia jadi nakal gitu dan akhirnya jadi jahat kayak sekarang. moga2 aja setelah ini dia insyaf trus jadi cewek baik-baik lagi.


eh, aduh itu si Jim mau ngasih hadiah apaan ya ? jadi dag dig dug. ngeri juga yak kalo Jim lagi kecewa gitu.


kita lihat besok deh hadiah apa yang Jim sediain buat mereka.


see you next part, Love.