
"Happy birthday."
Sebuah suara berbisik tepat di depan telinga Isabel. Saat dia menoleh, sebuah kecupan singkat mendarat di bibirnya. Isabel sudah mengangkat tangan ingin memukul pria lancang itu, tapi dia urungkan saat pria disampingnya itu tersenyum lebar sambil menunjukkan kotak kado berwarna merah.
"Hampir saja aku memukulmu." Gerutu Isabel.
"Happy birthday, Sweetheart." Ulang Eric.
"Thank you." Isabel bangkit dan memeluk prianya sebentar. "Lain kali jangan melakukan itu lagi atau aku akan benar-benar memukulmu." Hardik Isabel. Dia mengira itu adalah pria jahil yang ingin mengganggunya.
"Galak sekali !" Eric mencubit gemas pipi Isabel lantas duduk di sebelah gadis itu. "I got something for you. Birthday gift !" Eric mengangkat kotak merahnya. Kado ulang tahun Isabel yang ke-22.
Wajah galak Isabel langsung berubah sumringah. Dia menerima kotak itu dari Eric lalu mengocoknya pelan. "Apa isinya ?" Tanya Isabel.
"Buka nanti dirumah. Okay !" Perintah Eric.
Isabel mengedikkan bahu, lantas memasukkan kotak kado itu ke dalam tas.
"Aku tidak mengira kakakku akan memberiku ijin bolos kerja untuk pergi denganmu." Isabel tersenyum kecil. Dia senang sedikit demi sedikit Mike mulai merestui hubungannya dengan Eric. "Ya, meski gajiku harus di potong karena absensi. Tapi aku sangat bahagia, bisa merayakan ulang tahunku bersamamu." Senyum Isabel semakin lebar.
"Kurasa itu adalah hadiah ulang tahunmu darinya." Eric menggeleng, tersenyum meremehkan. "Tidak bermodal !" Cibirnya.
"Jangan menghina kakakku ! Dia adalah kakak terbaik di seluruh dunia." Isabel tidak terima. Dia tahu Mike tidak semiskin itu. Bahkan kado ulang tahunnya kali ini sangat diluar dugaannya. Mike memberinya sebuah apartemen di RCT. Siapa saja juga tahu apartemen disana seperti apa. "Tapi, kalau yang kau ucapkan itu benar, itu adalah kado terbaik yang pernah aku terima." Isabel menatap jauh ke depan, menerawang sambil tersenyum senang.
Eric menaikkan sebelah alisnya, "Ucapanku yang mana ? Hadiah ulang tahun ? Tidak bermodal ?"
Isabel menatap galak pada Eric. Prianya itu sudah merusak suasana. "Apa perlu aku menenggelamkanmu di Greenfalls lagi, hm ?!"
Eric terbahak-bahak. Kepuasan tersendiri bisa membuat Isabel kesal seperti itu. Bahkan Isabel harus mencubit keras pinggang Eric agar pria itu berhenti tertawa.
"Aku menyerah." Eric mengangkat kedua tangannya saat Isabel terus mencubitnya. "Kita sudah cukup menarik perhatian banyak orang."
Isabel mencebik kesal. Lalu dia teringat sesuatu yang membuat wajahnya langsung ceria. "Boleh aku minta hadiah lagi darimu ?" Tanyanya antusias.
"Katakan saja." Eric tersenyum sambil mengacak rambut Isabel.
"Aku ingin ke rumahmu." Pinta Isabel. Menunjukkan puppy eyes sambil mengatupkan kedua tangannya. Isabel penasaran, seperti apa rumah Eric. Karena setiap mereka berencana kesana selalu saja gagal.
Eric menggigit bibir, berpikir sejenak. Bukannya dia tidak mau mengajak Isabel kesana. Tapi.....Ah sudahlah. Ini adalah permintaan gadis yang berulang tahun.
"Baiklah. Kita kesana sekarang." Putus Eric. Persetan dengan upayanya membatalkan rencana kesana berkali-kali. Hanya tidak perlu berlama-lama disana, bukan ?!
Dengan antusias Isabel menarik tangan Eric dan berjalan menuju tempat dimana mobil pria itu diparkir.
"Aku sangat penasaran seperti apa rumahmu." Tutur Isabel saat mereka sudah menempuh setengah perjalanan.
"Yang pasti tidak semewah rumah keluargamu yang lebih cocok disebut mansion itu." Eric merendah.
Isabel memutar mata malas. "That's not funny !"
Eric tertawa kecil. "Semoga saja kakak posesifmu itu tidak memasang pelacak pada salah satu barang yang kau pakai. Dia pasti akan sangat marah kalau tahu aku membawamu ke rumahku." Gurau Eric. Tapi Isabel menanggapinya serius. Wajah gadis itu berubah pias membayangkan Mike yang menguntit dirinya.
Buru-buru Isabel mengeluarkan isi tasnya, memeriksa kemungkinan adanya alat pelacak disana. Dia juga tidak tahu seperti apa bentuk alat itu. Tapi pasti sesuatu yang asing di dalam tasnya.
"Apa yang kau lakukan ?" Eric menoleh sekilas pada Isabel lalu kembali fokus ke depan.
"Mencari alat pelacak." Jawab Isabel tanpa melihat Eric.
Kedua tangannya sibuk mengacak-acak isi tas yang sudah berpindah ke pangkuannya itu.
Eric tersenyum. Isabel sangat mudah di provokasi. Lalu dia mengambil sebuah benda dari laci dashboard. "Mungkin ini bisa membantu." Eric mengulurkan benda berbentuk seperti alat cukur elektrik berwarna hitam.
"Apa ini ?" Isabel mengernyit, tangan kanannya menerima benda itu dari Eric, menelitinya sambil membolak-balikkan benda itu.
"Alat cukur." Jawab Eric asal.
"Kau ingin aku mencukur jambangmu ? Atau......bulu halus di dadamu ?" Isabel bertanya menggoda.
Eric menghela nafas. "Jangan memancingku, Bells." Eric meraih benda itu lagi lalu menekan tombol berwarna merah di samping kanan. "Ini pemindai. Jika ada alat pelacak disini, benda ini akan mengeluarkan suara." Terang Eric.
Isabel mengangguk-angguk pelan sambil membulatkan bibir. Dia lupa profesi kekasihnya. Lalu gadis itu mulai melakukan pemindaian. Alat itu tidak berbunyi sama sekali saat dia mendekatkan pada isi tasnya. Namun saat alat itu melewati ponsel Isabel, benda itu langsung mengeluarkan suara 'tit' berulang-ulang.
"Ponsel ? Kakakku menaruh pelacak diponselku ?" Isabel tercengang tidak percaya.
Isabel mendesah lega. Paling tidak kakaknya tidak seposesif yang dia pikirkan. Baguslah, itu tandanya Mike mulai mempercayainya.
Eric menggeleng kepalanya melihat tingkah sang kekasih. Sebenarnya dia sudah tahu kalau Mike tidak memasang alat pelacak apapun pada adiknya. Hanya pada awal hubungan mereka Mike menyelipkan alat pelacak. Sekarang tidak lagi. Dua bulan menjalin hubungan dengan Isabel, perlahan sikap Mike mulai lunak. Dia tahu sikap posesif itu hanya untuk melindungi adiknya. Dan Eric rasa kekhawatiran Mike itu masih dalam batas wajar. Seperti dirinya yang mengkhawatirkan Chloe.
Mobil yang mereka tumpangi berbelok ke sebuah komplek perumahan elit. Laju mobil itu melambat saat mendekati sebuah gerbang bercat hitam yang menjulang tinggi.
"Ini rumahmu ?" Isabel mengedarkan pandangan, mengagumi bagunan dua lantai mewah dengan gaya minimalis itu. Dia berjalan disamping Eric, memasuki teras rumah yang di dominasi warna putih gading dan hijau dari tanaman hias. Sangat indah.
Eric merogoh saku celananya, mengambil sebuah kunci lalu memasukkannya ke lubang kunci di pintu kayu dengan ukiran unik.
"Kau selalu mengunci rumahmu ? Bukankah ada para maid disini ?" Isabel ingin tahu.
"Lingkungan disini sedang tidak aman." Jawab Eric, menyembunyikan alasan sebenarnya kenapa dia selalu mengunci rumah.
"Selamat datang di rumah sederhanaku." Kata Eric begitu pintu terbuka. Dia memberi ruang pada Isabel untuk masuk lebih dulu.
Tidak seluas rumahnya, tapi rumah ini juga terlihat sangat mewah dengan gaya minimalisnya. Beberapa foto keluarga terpajang di dinding bercat putih gading dengan kombinasi warna coklat tua yang elegan.
Setelah Isabel melangkah masuk, Eric mengikutinya, membiarkan pintu terbuka.
"Kenapa sepi sekali ?" Isabel berbalik, menatap Eric yang berjalan mendekat padanya.
"Para maid tinggal di paviliun belakang." Jawab Eric, melingkarkan tangannya di bahu Isabel dan menggiringnya ke ruang keluarga.
Di ruang keluarga, langkah kaki Isabel terhenti, diikuti kaki Eric yang juga berhenti melangkah. Dia menelan ludah, kedua matanya menatap lekat sebuah pigura besar yang menggantung dengan apik di dinding, seolah menyambut siapa saja yang masuk ke ruang keluarga.
"Kau merindukannya ?" Tanya Eric. Iris kelabu pria itu juga menatap objek yang sama dengan Isabel.
Isabel menghela nafas lalu memeluk pinggang Eric dari samping dengan erat. "Aku tidak akan berbohong kalau aku masih sering teringat padanya. Karena dia adalah bagian dari masa laluku." Isabel mendongak, mempertemukan tatapannya pada iris kelabu Eric yang menatapnya dalam. Isabel tersenyum. "Tapi sekarang...." Isabel menjeda, tersenyum tulus. "hatiku, bahagiaku, dan cintaku adalah dirimu."
Eric balas tersenyum. Dia mengerti. Dan dia tidak akan cemburu pada adik iparnya, karena dia bisa melihat kejujuran dari iris biru yang sedang menatapnya dengan tulus.
"I trust you." Bisik Eric.
Isabel duduk di sebuah sofa letter L berwarna coklat muda. Sementara Eric pergi ke dapur untuk mengambil minuman dan beberapa makanan ringan.
Mata Isabel bergerak liar menyusuri setiap sudut ruangan. Rumah ini lebih mirip galeri dengan banyaknya pigura foto yang menempel di dinding.
Mungkin ini adalah cara Eric dan Chloe mengenang kedua orang tua mereka yang telah meninggal. Begitu banyak foto dalam berbagai macam ukuran yang menunjukkan betapa harmonisnya keluarga itu. Mengingatkannya pada keluarganya sendiri. Hanya saja, keluarga Bennings tidak begitu menunjukkannya dalam bingkai foto. Ya...tidak sebanyak keluarga ini.
Isabel tersenyum getir membayangkan bagaimana beratnya hidup yang dijalani Eric, Jordan dan Chloe saat ditinggal kedua orang tua mereka. Apalagi Jordan. Dua kali kehilangan orang tua pasti membuatnya sangat terpukul. Isabel tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika ada di posisi Jordan saat itu.
Di dapur, setelah menerima telepon dari Jose, Eric mengacak-acak isi lemari esnya. Dia mendesah frustasi saat melihat lemari esnya tidak ada apapun selain bir dan beberapa bungkus keripik kentang. Sejak Chloe pindah bersama Aiden, Eric jarang makan dirumah. Dia jarang membeli persediaan bahan makanan untuk mengisi lemari esnya. Dan hal itu sangat dia sesali sekarang.
"Harusnya aku selalu mengisi penuh lemari es sialan ini." Gerutu Eric. Dia mengeluarkan dua kaleng bir dan tiga bungkus keripik kentang lalu membanting pintu lemari es itu. Dia kembali ke ruang keluarga dengan perasaan tidak enak karena ini pertama kali Isabel berkunjung ke rumahnya, dan dia tidak menyediakan apa-apa.
"Maaf, Bells aku hanya punya..." Ucapan Eric menggantung. Dadanya bergemuruh, cengkeramannya pada kaleng bir menguat seiring rahangnya yang mengeras. Kedua matanya menatap tajam pada sofa dimana Isabel duduk bersebelahan dengan seorang wanita. Wanita yang tidak dia inginkan kehadirannya. Wanita yang sangat dia benci. Elena.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Kali ini apa yang akan dilakukan Elena di rumah Eric ? Apa dia akan membuat masalah lagi ? Atau dia akan bergerak cepat untuk kembali mendapatkan Eric dan menyingkirkan Isabel ? Tunggu kelanjutannya !
Jangan lupa share pada teman-teman kalian. Like, Vote dan Comment juga selalu ditunggu. Tekan juga tanda ♡ untuk cepat update episode terbaru.
See you next part, Love.