
~Isabel~
Air mata yang sejak pagi kutahan, akhirnya tumpah juga. Apa yang dilakukan Eric, membuatku tidak bisa berkata-kata. Tapi ini semua membuatku semakin sulit untuk melepaskannya. Aku tidak yakin aku sanggup berpisah darinya.
Dia mengurai pelukanku. Sudah cukup lama aku menangis dalam pelukannya. Dengan sabar dia menungguku hingga isakanku mulai reda.
"Ayo, aku akan menunjukkan padamu bagian dalam dari rumah ini." Eric meraih jemariku, menautkan dengan jemarinya lalu membawaku melangkah menuju teras. Dia merogoh saku celana, mengambil satu bendel kunci dari sana lalu memilih satu untuk membuka pintu utama.
Pintu kayu dengan motif ukiran unik itu terbuka. Kadua mataku langsung di suguhkan dengan pemandangan yang membuat mulutku menganga. Dari luar, rumah ini tidak terlalu besar. Tapi begitu masuk, ruang tamunya saja bisa untuk bermain sepak bola. Apalagi rumah ini masih dalam keadaan kosong. Belum ada perabot apapun disini.
Kami melangkah masuk. "Kuharap ini sesuai dengan keinginanmu. Aku sengaja mendesign ruang tamu dan ruang keluarga menjadi satu karena aku tahu memiliki banyak anak harus memiliki tempat yang luas pula untuk bermain." Kami masuk semakin dalam. Disini berbeda dengan ruang tamu tadi. Aku bisa melihat ada lima pintu disini yang sepertinya adalah kamar tidur. Aku sempat bertanya-tanya, kenapa ada banyak sekali kamar disini?
"Disini ada lima kamar tidur untuk anak-anak. Sisanya menyusul, karena kau meminta rumah yang tidak terlalu besar, jadi aku hanya bisa membuat lima kamar untuk mereka."
Dia menjelaskan padaku seolah kami akan memiliki banyak anak. Ironis memang. Semua yang kami inginkan berlawanan dengan takdir yang akan kami hadapi.
Lalu dia membawaku ke bagian belakang lagi. Disini ada dapur super luas yang menyatu dengan ruang makan. Aku menutup mulutku menahan tangis. Eric benar-benar mempersiapkan semua ini dengan baik.
"Jangan menangis, Bells. Aku membuat rumah ini untukmu. Meski kita tidak bisa menempati rumah ini bersama, suatu saat nanti kau bisa mengajak anak-anakmu berlibur kemari." Dia mengusap air mataku dengan jarinya.
"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini?"
"Karena aku mencintaimu, Isabel. Sebisa mungkin aku ingin mewujudkan mimpimu."
"Bagaimana dengan mimpiku untuk menjadi istrimu dan bersama denganmu hingga kita tua dan maut memisahkan kita? Apa kau juga akan mewujudkannya untukku?"
Dia menarikku ke dalam pelukannya. Aku bisa merasakan dia mengambil nafas dalam. "Kau tahu apa yang menanti kita esok hari, Bells. Tidak semua yang kita inginkan harus kita dapatkan. Aku tidak ingin merajut harapan yang aku tahu itu tidak mungkin terwujud. Aku hanya bisa memberimu hatiku," katanya.
Himpitan di dadaku semakin kencang. Aku merasa semakin sesak. Sepahit inikah takdir yang harus kami jalani?
"Masih ada satu lagi yang ingin kutunjukkan padamu." Eric merangkul bahuku lantas membawaku kembali ke ruang tengah dimana dia mendesign banyak kamar untuk anak-anak. Di sebelah kanan ruangan itu ada sebuah lorong yang tidak panjang. Lorong itu langsung terhubung dengan sebuah pintu yang lebih besar dibandingkan dengan pintu kamar yang sudah ada. Dia membawaku masuk kesana.
"Ini adalah kamar utama," jelas Eric. Pandanganku mengedar ke seluruh isi kamar. Kamar ini sudah terisi perabot meski hanya kasur king size dan sebuah lemari yang super besar. Lalu pandanganku berhenti pada bingkai foto yang menempel di dinding. Aku berjalan mendekat pada bingkai foto itu.
"Aku sengaja menyimpannya disini. Karena aku ingin selalu ingat bahwa aku pernah menjadi pria paling beruntung yang menikah denganmu." Dia menjelaskan tanpa kuminta. Tanganku bergerak menyusuri tiap sisi yang bisa kugapai dari bingkai itu. Lalu tanganku berhenti pada sebuah tulisan dimana namaku tertulis disana dengan nama belakang yang sama dengan Eric.
Aku berbalik, melangkah ke arahnya dan aku menciumnya. Aku ingin dia tahu bahwa aku juga merasa sangat beruntung pernah menjadi bagian dari hidupnya. Jika kami memang harus menyerah pada takdir, maka biarkan kami mengakhiri kebersamaan ini dengan kenangan indah. Aku ingin melakukan ini untuk terakhir kalinya. Aku ingin mengingatnya secara detail di dalam otakku hingga aku tidak akan pernah melupakannya. Aku ingin aku yang memimpin.
Aku menciumnya semakin dalam. Dia membalasku. Mungkin sedikit mengalah karena dia tidak menunjukkan dominasinya terhadapku. Dia membiarkanku memimpin. Dia membiarkanku mengeksplorasi dirinya. Dia menyerahkan dirinya padaku.
Dan malam itu menjadi saksi pengabdian cinta kami yang terakhir. Aku meringkuk dalam dekapannya. Kudengar deru nafasnya yang teratur. Dia sudah terlelap dalam damai. Sementara aku, meski seluruh tubuhku terasa remuk, tapi kedua mataku enggan menutup. Aku takut. Aku belum bisa merelakannya. Kutautkan jari kami yang memakai cincin serupa. Bahkan sekarang kami masih tampak seperti sepasang suami istri. Sudut hatiku berbisik bahwa namanya tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Selamanya aku akan tetap mencintainya.
Esok harinya, aku terbangun saat bias sinar matahari menyengat permukaan kulitku. Kukerjapkan mataku dan kulihat Eric masih tertidur dengan posisi melingkarkan tangnnya di perutku. Ini memang posisi tidur yang sangat kami sukai. Aku akan tidur membelakanginya dan dia akan memelukku dari belakang. Bukan karena kami ingin dibilang romantis, tapi memang posisi ini adalah yang paling nyaman untuk kami.
Cahaya matahari yang menembus melalui jendela kaca besar yang ada di kamar ini begitu hangat. Membuatku tidak ingin beranjak dan tergoda untuk memejamkan mata lagi.
"Aa!" Aku memekik tertahan dan langsung menutup tubuhku dengan selimut hingga leher saat melihat seseorang berjalan melewati jendela itu.
"Ada apa, Bells?" Eric terbangun karena jeritanku. Dia menatapku cemas.
"Di sana ada seseorang," kataku sambil menunjuk jendela. Aku takut. Siapa orang yang berani masuk ke dalam properti milik Eric?
"Aku akan memeriksanya." Eric bergeser ke sisi ranjang, memungut celana panjang yang tergeletak di lantai lantas memakainya. Dengan bertelanjang dada dia berjalan ke arah jendela untuk melihat keadaan di luar.
Setelah itu dia menutup tirai jendela dan kembali padaku. Dia tersenyum tipis. "Kau tidak perlu takut. Itu Ryan. Dia yang mengurus rumah ini selama aku tidak ada."
Aku sedikit merasa lega saat mengetahui bahwa itu bukan orang jahat. Tapi ....
"Apa dia tinggal disini?" tanyaku.
Eric terkekeh. "Kau takut dia mendengar desahanmu semalam?" tanyanya sambil tersenyum jahil.
Kupukul dia dengan bantal. "Aku serius. Bagaimana kalau dia melihat kita? Tirai itu semalam tidak tertutup, Eric." Aku kesal.
Dia tertawa kecil lalu menggeser duduknya semakin dekat denganku. Jarinya membelai pipiku. "Dia hanya datang saat pagi dan sore hari. Kau tidak perlu khawatir."
Aku mendesah lega saat dia mengatakan itu. Setidaknya tidak ada orang lain yang melihat tingkah liarku semalam.
Hari itu kami habiskan untuk bersenang-senang. Kami bermain pasir di pantai. Membeli seafood bakar dan bermain ATV. Aku tidak akan mau lagi bermain jetski. Kenangan buruk tentang jetski dan Eric membuatku membenci benda itu.
Waktu yang kami habiskan terasa sangat singkat. Seolah kopi di cangkirku masih panas, tapi aku sudah harus meninggalkannya karena coffee shop akan segera ditutup.
"Aku akan selalu mengingat saat ini sebagai kenangan terindah bersama wanita yang paling aku cintai." Eric menarikku supaya bersandar pada bahunya saat dia mengantarku ke tempat Finn.
"Aku juga, aku akan sangat merindukanmu. Mungkin aku akan membelai wajahmu di dalam layar sebelum aku tidur supaya aku bisa tidur dengan nyenyak."
"Kau mengejekku?" Eric protes.
"Aku hanya ingin mencobanya," sanggahku.
"Rasanya sangat menyiksa waktu itu," kata Eric.
"Mungkin sekarang akan berbeda," balasku.
Ya, pasti akan berbeda. Kami sudah belajar untuk saling mengikhlaskan. Meski berat, kami sama-sama akan mencobanya.
"Berjanjilah padaku kalau kau akan hidup dengan bahagia meski tanpa diriku." Eric membelai wajahku saat aku berpamitan padanya.
"Jaga dirimu baik-baik, Sweetheart," bisiknya sambil menciumi kepalaku.
"I will, Baby. Kau juga harus menjaga dirimu dengan baik."
Dia menungguku hingga aku masuk ke dalam mobil Finn. Kulihat sekali lagi dia yang berdiri bersandar pada badan mobil sambil menatap ke arah kami.
"Tunggu!" sergahku saat Finn menyalakan mesin mobilnya. Aku turun dari mobil dan berlari pada Eric. Kupeluk dia erat-erat.
"Aku sangat mencintaimu, Eric. Aku sangat mencintaimu," ucapku parau. Air mataku tidak terbendung lagi.
"Aku juga sangat mencintaimu, Bells. Selalu. Aku tidak akan pernah melupakanmu." Dia balas memelukku dengan erat.
Setelah beberapa saat, aku melepas pelukan kami. Kucium dia sekali lagi sebelum aku berbalik dan masuk ke dalam mobil Finn. Aku pergi meninggalkannya dengan perasaan tidak karuan. Sekuat apapun aku menahan, ini tetap terasa sakit. Finn mengusap lenganku. Dia membiarkanku menangis menumpahkan semua yang kurasakan. Perjalanan selama hampir satu jam itu kuhabiskan dengan menangis hingga mataku bengkak.
Kuhapus air mataku lalu kuambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar lewat mulut sebelum aku turun dari mobil Finn. Kulihat kedua orang tuaku dan juga kakakku sudah menungguku di teras rumah. Aku berjalan ke arah mereka dengan langkah berat. Mereka juga berjalan ke arahku, menyambutku dengan penuh haru. Mom menangis, Dad juga berkaca-kaca. Bahkan mata kakakku juga basah. Mereka merindukanku. Mereka menyayangiku. Dan mereka hanya melakukan apa yang menurut mereka benar, seperti yang pernah dikatakan Eric.
Aku memeluk mereka bergantian. Saling mengucapkan kata rindu dan menumpahkan air mata. Aku menyayangi mereka. Aku akan melakukan pengorbanan ini demi mereka.
Namun saat kami baru saja berniat masuk ke dalam rumah, suara deru mobil terdengar meraung semakin keras mendekat kearah kami. Lalu terdengar suara decit ban yang beradu dengan paving block. Kami semua berbalik dan melihat siapa pengemudi ugal-ugalan itu.
Jantungku seperti di remas-remas saat aku melihat pengemudinya turun dari mobil dengan cepat. "Eric?" gumamku lirih. Apa yang dia lakukan disini?
Kulihat dia berjalan ke arah kami dan berhenti beberapa meter dari kami. Dia menatapku lalu beralih pada satu persatu orang yang ada disekitarku. Dari air mukanya, aku tahu dia sedang mencoba peruntungan. Dia nekat datang kesini menyusulku. Dimana semua orang memusuhinya.
Aku ingin berlari memeluknya, tapi aku tahan. Tak pelak air mataku jatuh. Lalu kulihat ekspresi keluargaku saat melihatnya. Mereka juga tampak terkejut. Mom menarik tanganku mendekat padanya, seolah ingin melindungiku. Dad menatapnya tenang seperti biasa, tapi entah apa yang Dad pikirkan saat ini. Sementara kakakku, dia menatap Eric dengan alis sedikit berkerut. Aku sulit membaca ekspresinya. Satu-satunya yang terlihat santai dengan kedatangan Eric adalah Finn. Dia seolah mengerti kenapa Eric nekat datang kemari.
Eric bergerak gusar. Berkali-kali dia membasahi bibir dan menelan ludah. Aku tahu dia kesulitan menyampaikan maksudnya. Dia takut mendapat penolakan dari keluargaku.
"Mr. Bennings," sapa Eric. Setelah itu dia diam lagi. Dia mengerjapkan matanya dengan gerakan lebih cepat dari biasanya.
"Tolong beri saya waktu sebentar untuk bicara," lanjut Eric setelah beberapa saat.
Dad masih menatapnya dengan tenang. Lalu Dad menghela nafas pelan. "Katakan," balasnya tanpa repot mempersilakan Eric masuk ke dalam rumah.
Sekali lagi Eric melarikan pandangannya padaku. Jujur aku takut saat ini. Bagaimana kalau kakakku melakukan hal buruk padanya?
Lalu Eric menarik nafas dalam. "Sebelumnya, saya tidak pernah punya kesempatan untuk mengatakan ini. Saya terlalu pengecut untuk datang kemari." Eric menjeda ucapannya untuk menarik nafas dalam lagi. "Saya minta maaf, Mr. Bennings. Atas apa yang pernah saya lakukan di masa lalu pada putri Anda dan keluarga Anda. Saya sangat menyesal. Saya tidak akan meminta apapun lagi selain kata maaf." Eric mengatakannya dengan tegas.
Tidak ada satupun dari keluargaku yang menanggapi permintaan maaf Eric. Aku menatap mereka bergantian, aku kecewa dengan mereka. Apa waktu dua tahun tidak cukup untuk memberi maaf pada Eric?
Aku baru saja mau membuka suara saat Dad bergerak. Dad berjalan mendekat pada Eric dengan wajah serius.
"Dad ...," kataku lirih. Aku ingin mengikuti langkah Dad. Aku ingin berdiri di depan Eric jika Dad ingin menghakiminya. Tapi Mom menahanku. Mom menahan lenganku supaya aku tetap berada di tempatku.
"Dad, dia hanya ingin meminta maaf. Kumohon, jangan sakiti dia," pintaku. Aku tahu Dad tidak akan melakukan kekerasan fisik pada Eric. Tapi jika Dad menolak permintaan maafnya, itu sama saja akan menyakiti Eric. Erc akan merasa semakin terpukul karena menanggung rasa bersalah itu lagi. Dia hanya meminta maaf, apa susahnya memberi maaf lantas membiarkannya pergi? Toh kami sudah menerima jika harus berpisah.
Mom memelukku. Aku tidak ingin dipeluk. Aku ingin berdiri disamping Eric. Aku meronta, tapi Mike ikut menahanku.
Pandanganku semakin kabur karena air mata yang menggenang di pelupuk mataku. Tapi aku masih bisa melihat Eric menunduk sambil memejamkan mata saat Dad sampai di depannya.
"Kau sungguh-sungguh menyesali perbuatanmu?" tanya Dad.
"Saya sangat menyesal, Mr. Bennings." Eric mengangkat wajahnya dan berkata dengan sungguh-sungguh.
"Maka kau tahu apa yang terbaik untuk putriku saat ini," kata Dad.
Kulihat wajah Eric menunjukkan kekecewaan yang begitu besar. Lalu dia menarik nafas dalam lagi. "Saya tahu, Mr. Bennings. Saya berjanji tidak akan muncul lagi dalam kehidupan Isabel. Saya hanya ingin memohon kata maaf dari Anda dan keluarga Anda." Eric melihat padaku sekilas. Aku bisa melihat kepedihan dalam hatinya saat mengucapkan kalimat itu.
Dad mengangguk. "Baiklah. Kami akan memaafkanmu. Tapi dengan satu syarat." Dad menggantung ucapannya. Dad berbalik menatapku yang terisak dalam pelukan Mom lalu kembali menghadap Eric.
Di depan sana, Eric menunggu syarat yang akan diucapkan Dad. Kulihat dia menelan ludah. Dia pasti sedang menyiapkan diri untuk mendengar kemungkinan terburuk yang akan di hadapi.
"Kembalilah pada putriku."
Eh? Apa aku baru saja salah mendengar? Tangisku langsung berhenti. Aku berpaling pada Mom dan Mom langsung memelukku. Aku masih belum mengerti. Bahkan Mike tersenyum sambil menatapku.
"Finn sudah mengatakan semuanya. Segala upaya yang kami lakukan tidak akan berhasil membawa putriku kembali jika bukan karena dirimu. Kembalilah pada putriku, Nak. Karena kau adalah morphin terbaik untuknya. Dia menemukan senyumnya kembali saat bersamamu," kata Dad sambil menepuk pundak Eric.
Aku tidak bisa menahan haru lagi. Aku menangis semakin keras. Kulihat Eric pun sama. Dia tidak dapat menutupi rasa harunya. Dia mengusap pangkal matanya yang basah lantas berlari ke arahku. Mom melepaskanku dari pelukannya. Dan aku segera menyambut Eric.
"We made it, Sweetheart," bisiknya parau sambil memelukku. Aku tidak mampu lagi berkata-kata. Aku hanya ingin memeluknya dan meluapkan kebahagiaanku.
Dari sini aku bisa belajar bahwa buah dari keikhlasan itu sangat manis. Disaat kami sudah berusaha mengikhlaskan semuanya, menerima takdir pahit yang harus kami jalani, Tuhan memberi kami hadiah yang sangat indah. Tuhan membuka hati keluargaku untuk menerima hubunganku dan Eric kembali. This is the best gift I've ever get. This is a miracle.
~ THE END ~
Fiuh! Akhirnya selesai juga season 2 ini.
Terima kasih bagi kalian yang sudah support dan mau membaca karya receh ini.
Semoga kalian selalu bahagia.
Jangan lupa tunggu kelanjutan novelku yang lain.
Terima Kasih.