
Tarik nafas dalam-dalam sebelum membaca ! Ini adalah part terpanjang yang pernah kubuat, 3910 kata.
\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-
Debuman keras terdengar saat Elena masuk ke dalam mobil Jordan.
"Apa maksudmu aku harus menyerahkan diri pada polisi, hah ?! Apa kau sudah gila ?! Aku tidak mau melakukannya !" Hardik Elena begitu Jordan masuk ke dalam mobil yang sama dengan dirinya.
"Kau ingin mendapatkan maaf dari Eric, bukan ?! Ikuti saja apa kataku." Jawab Jordan tenang. Walau bagaimanapun, Elena tetap bersalah. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Apa kau lupa ?! Aku masih bisa membuat Eric membenci dirinya sendiri karena dirimu !" Ancam Elena.
Jordan memiringkan tubuhnya. Satu tangannya bertumpu pada kemudi. Dia menghela nafas panjang lalu menggeleng kepalanya. "Kau baru saja mendapatkan maaf dari Eric. Apa kau mau dia membencimu lagi seumur hidup ?"
Elena seperti kehilangan kata-kata. Eric sudah memaafkannya. Bahkan Eric mau memeluk dirinya sebagai tanda dimulainya persahabatan seperti dulu sebelum terjadi masalah diantara mereka. Dia tidak ingin Eric membencinya lagi, karena rasanya sangat menyakitkan. Tapi dia juga tidak ingin masuk penjara.
"Aargh...!!" Elena menggeram frustasi. Dia memukul dashboard untuk menyalurkan kemarahannya. "Kau tidak tahu rasanya membusuk di penjara ! Itu...sangat buruk ! Mereka merisak, melecehkan ! Itu neraka, Jordan !" Elena menjerit dengan mata berkaca-kaca. Pengalamanya di penjara membuat dia tidak ingin menginjakkan kaki di tempat laknat itu lagi.
"Bukankah penjara memang dibuat untuk itu ? Menjadi neraka bagi mereka yang melakukan kejahatan ?" Ucapan Jordan terdengar santai tapi sangat menusuk hati Elena. "Well, mungkin kecuali bagian perisakan dan pelecehan." Jordan menarik bibir kebawah.
Deru nafas Elena semakin memburu. Dia bingung. Dia tidak mau masuk penjara. Dia....takut. Dan air matanya pun jatuh tanpa bisa dia cegah. Dia terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Bukannya Jordan tidak kasihan pada Elena. Tapi memang itu yang terbaik untuk wanita itu.
"Elena, dengarkan aku !" Jordan menyentuh pundak wanita itu. "Ini adalah jalan terbaik yang bisa kau ambil. Kau mendapatkan maaf dari Eric dan Isabel. Dan aku yakin kau akan mendapat hukuman yang lebih ringan dengan menyerahkan diri." Jordan sedikit menarik pundak Elena agar wanita itu menghadapnya. "Dengar ! Jika Jim lebih dulu tertangkap, aku yakin hukumanmu akan semakin berat." Kata Jordan serius.
Jim. Elena hampir saja melupakan pria itu. Sejak pertemuan mereka yang terakhir, Jim menghilang begitu saja. Dia tidak pernah menghubungi Elena lagi. Elena pun tidak bisa menghubunginya. Apa yang terjadi dengan pria itu sebenarnya ? Apa mungkin dia sudah tertangkap polisi, lalu dia berusaha kabur dan akhirnya polisi menembak mati dirinya ? Elena benar-benar kehilangan jejak pria yang berstatus sebagai kekasihnya itu.
"Aku sudah memikirkannya matang-matang." Jordan kembali menasehati. "Kau tidak perlu takut. Aku akan selalu ada untukmu. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian." Katanya tulus.
Elena menatap dalam pada Jordan. Semakin dia perhatikan, semakin dia melihat sisi lain dari Jordan yang dia rindukan. Jordan begitu baik padanya. Selama ini, ketika semua orang yang dikenalnya menjauhi dirinya, Jordan tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Ketika semua orang membenci apa yang dia lakukan, Jordan tidak pernah lelah mengingatkannya. Karena Jordan memang tidak pernah membiarkannya sendirian. Selama ini Jordan selalu ada untuk dirinya, meskipun sikapnya terhadap Jordan sangatlah buruk.
Kenapa baru sekarang Elena menyadarinya ? Kenapa baru sekarang Elena bisa melihat ketulusan Jordan ? Kepingan-kepingan memori masa lalu menghujani ingatan Elena seperti jutaan meteor yang jatuh ke bumi. Telah begitu banyak hal yang dilakukan Jordan untuknya, untuk melindunginya.
Air mata Elena mengalir dalam diam. Iris coklatnya masih menatap lekat pada Jordan. Dia memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa seperti ada yang menjatuhkan gunung di dalam sana. Sesak, sakit, dan sesal. Elena merasakan jantungnya seperti di remas-remas.
Bagaimana bisa dia menjadi sangat bodoh selama ini ? Bagaimana bisa hatinya buta dengan semua kebaikan Jordan ?
Apakah penyesalan itu masih berguna disaat seperti ini ? Apakah dengan penyesalan semua bisa kembali seperti dulu lagi ? Jika memang iya, Elena rela melakukan apapun untuk menebus semua kelakuan buruknya terhadap Jordan.
Meskipun dia tahu, dia tidak akan bisa membalas semua yang dilakukan Jordan untuknya. Tidak ada salahnya untuk mencoba memperbaiki, bukan ?!
Elena bergeser, lalu dia memeluk tubuh Jordan dan menangis tersedu. Dia menyesal. Dia merasa bersalah. Dia merasa malu.
Untuk pertama kalinya, Elena benar-benar merasakan penyesalan yang teramat dalam di hatinya. Dia seperti di hadapkan pada semua kesalahan yang pernah dia lakukan. Seolah semua perbuatan buruk itu dilempar ke wajahnya seperti kotoran.
"Apa aku pantas mendapatkan maafmu ?" Bisik Elena parau sambil mengeratkan pelukannya pada Jordan.
Jordan membalas pelukan Elena dengan lembut. Dia tersenyum, meski dia merasakan kedua matanya basah. "Kau pantas. Dan kau selalu mendapat maafku untuk apapun yang pernah kau lakukan." Jawabnya tulus.
Mereka tetap berpelukan diiringi isak tangis Elena yang terdengar begitu sedih, membiarkan beban dalam hati luruh hingga hanya menyisakan ruang kosong dalam hati untuk semua kesalahan yang pernah dilakukan.
Elena menghapus air matanya saat melepas pelukan pada Jordan. Dia merasakan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Dia merasa bisa bernafas dengan ringan. Sesuatu yang sangat berat dan gelap dalam hatinya seolah baru saja tercabut. Rasanya sungguh melegakan.
"Kenapa kau terlahir dengan hati sebaik ini ?" Tanyanya pada Jordan sambil membersit ingus dengan tissue.
Jordan tertawa mendengar pertanyaan konyol Elena. "Aku tidak sebaik yang kau pikir. Tapi aku merasa bahagia saat melihat orang-orang yang aku sayangi bahagia." Jawabnya kemudian.
Elena tersenyum kecut. "Apa orang sepertiku pantas bahagia ?"
Jordan menggenggam tangan Elena. "Semua orang pantas dan berhak untuk bahagia. Termasuk dirimu."
"Tapi aku sudah banyak melakukan hal buruk. Aku membuat Peter gila. Aku menghianati Eric. Aku mencelakai gadis kecil itu--Isabel. Aku menyakiti banyak orang, Jordan. Apa aku masih pantas bahagia ?"
"Tentu saja. Asalkan kau sungguh-sungguh menyesali perbuatanmu dan mau berusaha memperbaikinya." Jordan menatap dalam pada Elena. "Aku yakin Elena kecilku yang seperti malaikat masih hidup di dalam hatimu."
Air mata Elena mengalir lagi. Ucapan Jordan terasa seperti pisau yang mengiris hatinya. Malaikat ? Seperti itukah anggapan Jordan untuk dirinya di masa lalu ? Jangankan malaikat, disebut sahabat saja Elena merasa tidak pantas.
"Aku akan melakukannya." Ucap Elena saat dirinya sudah merasa tenang. Jordan menoleh pada Elena. "Aku akan menyerahkan diri pada polisi."
Jordan menghela nafas lega. Syukurlah Elena mau menyerahkan diri atas keinginannya sendiri. Jordan memeluk Elena lantas mencium kening wanita itu dalam. "Aku akan selalu bersamamu." Bisiknya.
"Terima kasih, J." Elena menjauhkan tubuhnya lalu mengusap pipi Jordan sambil tersenyum. "Terima kasih untuk semua yang kau lakukan untukku. Terima kasih karena kau selalu ada untukku."
"Aku hanya berusaha menepati janjiku padamu. Kau dan Eric. Aku akan selalu ada untuk kalian."
Elena tertawa dengan suara bindeng. "Aku bahkan sudah melupakannya."
"Aku tidak. Selamanya aku akan memegang janjiku pada kalian."
"Come on, J ! Kita hanya anak-anak. Kau tidak harus menganggapnya serius."
Gantian Jordan yang tertawa. "Anak-anak atau bukan, aku akan tetap melakukannya."
Elena menggerakkan kepalanya sambil menarik bibir kebawah. "Tapi kau tidak harus bertindak bodoh untuk itu. Aku sudah banyak mengecewakanmu."
"Bodoh ?" Jordan mengangkat sebelah alisnya. "Aku tidak merasa yang kulakukan adalah kebodohan. Karena pada akhirnya aku bisa membuat sahabat kecilku kembali lagi." Jordan tersenyum lebar.
Elena tertawa renyah. Kesedihan yang membelenggunya tadi rasanya sudah lenyap. Kini dia bisa tertawa lepas tanpa merasa terbebani dengan masa lalu buruknya.
"Aku kasihan padamu." Elena mencebikkan bibirnya sambil menyipitkan mata pada Jordan. "Kau sibuk melihat orang lain bahagia, tapi kau lupa dengan kebahagiaanmu sendiri." Cibirnya.
Jordan tertawa kecil, lalu menatap Elena dalam. Elena tahu arti tatapan itu.
"Sesekali bersikaplah egois. Bukan hanya orang lain yang harus bahagia. Kau pun harus bahagia." Ucap Elena.
Jordan tidak menjawab. Dia lebih memilih memutar tubuhnya menghadap kemudi dan mulai menyalakan mesin mobilnya.
*****
Pukul 9 lewat 30 pagi Eric sudah bertandang ke rumah Isabel. Hari ini mereka akan menagih janji Elena untuk menyerahkan diri pada polisi.
Sebenarnya masih ada sedikit keraguan pada hati Eric tentang penyesalan Elena. Dia masih belum bisa percaya pada mantan kekasihnya itu. Tapi.....tak apalah. Toh kalau Elena benar-benar menyerahkan diri, tidak akan membuatnya merugi. Justru itu sangat bagus. Kasus Isabel bisa segera selesai.
"Aku tidak akan menuntut Elena." Ucap Isabel saat mereka dalam perjalanan ke kantor polisi.
Eric menoleh cepat. "Kenapa ? Bukankah dia pantas mendapatkannya ?"
Isabel mendesah, dia menyandarkan kepalanya lalu menoleh pada Eric. "Dia sudah minta maaf. Dan itu sudah cukup buatku. Aku ingin kasus ini segera selesai. Masalah Dale dan hacker itu....terserah kalian."
"Kau yakin ?"
"Hm." Gumam Isabel. "Sebenarnya....aku kasihan padanya." Isabel memainkan cincin berlian yang melingkar di jarinya. "Dia melakukan semua ini karena dia mencintaimu." Ucapan Isabel terdengar getir. "Aku seperti melihat diriku sendiri saat berhadapan dengannya. Seperti bercermin." Isabel menatap pedih pada Eric. "Kau tidak lupa, kan dengan apa yang pernah kulakukan pada Chloe ?" Isabel tersenyum masam.
Masih segar dalam ingatan Isabel, bagaimana dia mengancam Chloe hingga calon adik iparnya itu merasa sangat ketakutan. Dan yang dilakukan Elena, sebenarnya tidak jauh beda dengan yang dia lakukan. Sama-sama mengancam seseorang yang dirasa merebut orang yang mereka cintai.
"Kalau Chloe bisa memaafkanku, kenapa aku tidak bisa memaafkan Elena ?"
"Jangan membandingkan dirimu dengan dirinya, Bells. Kau jauh lebih baik darinya."
Isabel mendengus sambil tersenyum getir. "No, I'm not. Aku tidak lebih baik darinya." Isabel menghela nafas. "Aku tahu apa yang dia rasakan, Eric. Dia hanya seorang wanita yang....mempunyai cinta yang besar." Tukas Isabel.
"Tapi...."
"Keputusanku sudah bulat." Potong Isabel. Gadis itu melipat tangan di dada lalu membuang pandangan keluar jendela, tanda bahwa dia tidak ingin dibantah lagi.
Eric mencengkeram erat kemudinya. Dia ingin Elena mendapat pelajaran. Tapi dia juga tidak bisa menolak keinginan Isabel. Karena disini yang paling dirugikan adalah Isabel. Jika dia tidak ingin memperkarakan Elena, apa yang bisa Eric lakukan ?
Setelah berpikir sejenak, Eric akhirnya menerima keputusan Isabel. "As you wish, Sweetheart." Ucapnya sambil mengusap puncak kepala Isabel, membuat gadis itu tersenyum tipis.
Meskipun tidak jadi menuntut Elena, tapi Isabel tetap akan datang ke kantor polisi. Dia ingin memastikan kalau Elena benar-benar menyesali perbuatannya. Terpaksa atau tidak, jika Elena mau hadir di kantor polisi, itu sudah cukup bagi Isabel. Dia tidak berharap lebih. Dia tahu bagaimana perasaan Elena yang harus mengakui kesalahannya di depan calon istri orang yang dia cintai. Bahkan dia sendiri butuh waktu cukup lama untuk bisa bersikap biasa pada Chloe.
Pukul 9 lewat 50 menit mereka sudah sampai di kantor polisi.
"Kita tunggu disini saja." Kata Isabel saat Eric hendak membuka pintu mobilnya.
"Okay." Eric kembali duduk dengan nyaman.
Hanya selang lima menit, mobil Jordan terlihat memasuki area parkir yang sama dengan mereka. Mobil itu melaju melewati mobil Eric dan berhenti sekitar 10 meter kemudian.
"Kau siap ?" Tanya Jordan pada Elena.
Elena tampak gugup. Setelah semalam dia menumpahkan segala beban dalam hatinya pada Jordan, mata hatinya seolah terbuka. Meskipun nantinya dia akan menderita di dalam penjara, dia rela. Dia menganggap ini adalah cara termudah untuk menebus dosa-dosanya.
Beberapa kali Elena membasahi bibirnya. Dia berdehem lantas mengangkat dagu sambil menghirup udara banyak-banyak lalu menghembuskannya perlahan. Ini harus segera diselesaikan.
"Aku siap." Jawabnya. "Tapi aku punya satu permintaan." Elena menatap Jordan. "Setelah membuat laporan, aku ingin menemui Peter. Aku ingin meminta maaf padanya." Pinta Elena. Walau bagaimanapun Peter menjadi gila karena dirinya. Meski nanti Peter tidak dapat mengenalinya, dia tetap ingin meminta maaf pada ayah tirinya itu.
Butuh beberapa detik bagi Jordan untuk mencerna kalimat Elena. Lalu dia tersenyum, "Tentu. Nanti aku akan menjaminmu."
Elena mengangguk, lalu mereka turun dari mobil. Mereka melangkah beriringan menghampiri Eric dan Isabel yang juga sudah turun dari mobil.
Degup jantung Elena semakin kencang seiring langkah kakinya yang semakin dekat dengan dua orang itu. Jordan menguatkannya dengan menggenggam tangan Elena. "Jangan takut. Aku akan selalu bersamamu." Ucap Jordan lirih.
"Apa kalian sudah lama ?" Tanya Jordan saat sudah dekat dengan Eric dan Isabel.
"Belum." Jawab Eric singkat. "Kita bisa langsung masuk." Ucap Eric seolah mereka jadi memperkarakan Elena.
"Ba...."
"Eh, tunggu !" Potong Elena saat Jordan mau menjawab Eric. "Aku ingin bicara denganmu. Berdua." Elena menahan tangan Eric. Dia ingin semuanya selesai dengan baik. Dia sadar semalam dirinya belum meminta maaf dengan tulus. Dia ingin memperbaikinya sekarang, sebelum dia tidak lagi memiliki kesempatan untuk menyampaikannya. Di dalam penjara nanti, dia yakin Eric tidak akan pernah mau mengunjunginya.
Eric mengangkat alisnya heran. Untuk apa lagi mereka bicara ?
"Aku harus bicara dengannya." Tukas Elena saat Jordan mau bersuara. Akhirnya Jordan mengangguk.
"Bisa kita bicara sebentar ?" Tanya Elena pada Eric.
"Terima kasih sudah memberi kami kesempatan, Princess." Bisik Jordan yang tidak ingin Eric mendengar panggilannya untuk Isabel.
Isabel tersenyum geli mendengar itu. "Bukankah kau yang bilang, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua ?"
Jordan mengangkat bahu lalu menyandarkan tubuhnya pada mobil Eric. Pandangannya tak lepas dari dua orang yang sedang bicara serius beberapa meter dari mereka. "Dia telah kembali." Ucap Jordan. Isabel menoleh, lantas ikut bersandar pada mobil karena penasaran dengan maksud ucapan Jordan.
"Elena telah kembali menjadi Elena sahabat kami yang dulu. Hatinya sudah terbuka untuk menerima semuanya. Dia dengan rela akan menyerahkan diri pada polisi. Dan dia juga ingin meminta maaf pada ayah tirinya yang sudah dia buat menderita. Dia sungguh-sungguh menyesali setiap perbuatan buruknya."
Isabel tersenyum, ternyata keputusannya untuk memaafkan Elena sudah tepat. Dia percaya pada Jordan. Isabel bisa melihat binar kebahagiaan dari mata Jordan saat mengucapkan kata-katanya untuk Elena. "Sebenarnya aku kesini hanya ingin memastikan kalau Elena bersungguh-sungguh dengan permintaan maafnya. Aku sudah memutuskan untuk tidak menuntut Elena." Ucap Isabel.
Jordan menegakkan tubuhnya, dia menatap Isabel dengan sorot tidak percaya, tapi juga lega. "Apa kau serius ?" Tanya Jordan. Isabel mengangguk sambil tersenyum tulus.
Spontan Jordan memeluk Isabel. "Terima kasih, Princess. Aku tahu hatimu sangat baik." Ucap Jordan bersemangat. Dia sangat bahagia. Ketulusan Elena akhirnya berbuah manis.
Isabel menepuk punggung Jordan, dia tidak menyangka Jordan akan sebahagia ini. Lalu tiba-tiba Jordan melepaskan pelukannya. "Jangan beritahu calon suamimu kalau aku memelukmu. Atau dia akan membunuhku." Jordan berbisik sambil menyipitkan mata. Bicara seolah takut ada orang lain yang melihat ataupun mendengar.
"Dia tidak akan melakukannya." Isabel tertawa, menepuk lengan Jordan. "Semalam Eric hanya terbawa suasana tegang saat berhadapan dengan Elena."
"Aku tahu." Timpal Jordan. Keduanya tertawa pelan saat mengingat tingkah posesif Eric yang berlebihan.
Sementara itu beberapa meter dari mereka, Elena berdiri berhadapan dengan Eric. Raut tegang Elena pun harus berhadapan dengan raut datar Eric.
"Apa yang ingin kau bicarakan ?" Tanya Eric dingin sambil memasukkan tangannya ke saku celana. Meski sudah memaafkan Elena, tidak lantas membuat sikap Eric langsung berubah hangat.
Elena tersenyum untuk meredakan ketegangan diantara mereka. Setelah bisa menguasai hatinya, Elena memberanikan diri menatap kedua mata Eric yang masih menyorotnya tajam.
"Aku ingin meminta maaf dengan benar padamu." Ucap Elena lembut.
Dengan wajah datarnya, Eric mencoba menyembunyikan rasa terkejut saat mendengar suara lembut Elena. Rasanya sudah lama sekali Eric tidak mendengar nada bicara selembut itu dari bibir Elena.
"Kau boleh membenciku. Kau boleh memakiku. Karena aku memang pantas mendapatkannya. Tapi kumohon, maafkan aku. Aku ingin menjalani sisa hidupku dengan tenang tanpa dihantui rasa bersalah." Elena terlihat menelan ludah, pasti hal ini tidak mudah baginya. Kedua mata wanita itu berkaca-kaca. "Aku tahu aku tidak pantas. Tapi....aku ingin menjadi sahabatmu lagi. Aku ingin kita bertiga, aku, kau dan Jordan menjadi sahabat seperti waktu kita kecil dulu. Aku merindukan masa-masa itu, Eric." Tetesan pertama air mata Elena jatuh. "Aku rindu saat kalian selalu tertawa bersamaku. Menenangkanku saat aku menangis. Membantuku berdiri saat aku terjatuh dari sepeda. Melindungiku dari anak-anak nakal yang menggangguku. Aku merindukan itu semua. Aku merindukan perhatian kalian. Aku merindukan kasih sayang kalian. Aku rindu menjadi si bungsu yang akan selalu menunggu kalian di tepi danau untuk menangkap kupu-kupu. Aku rindu mengobati luka kalian saat terjatuh dari pohon karena aku meminta kalian memetik apel untukku." Elena semakin terisak. "Ijinkan aku merasakan itu semua sekali lagi. Aku ingin sekali lagi merasakan pelukan hangat kalian yang selalu berhasil membuat semua kesedihanku menghilang."
Baru kali ini Eric merasa kehilangan kata-kata saat berhadapan dengan Elena. Lidahnya kelu, tidak mampu menimpali apapun saat Elena berbicara panjang lebar dengan derai air mata di pipinya.
Ketika dia menatap kedua bola mata Elena yang basah, dia merasakan hatinya tertusuk. Dia melihat ketulusan, kesedihan dan penyesalan dalam setiap kata yang terucap dari bibir wanita itu.
Yang berdiri di hadapannya saat ini bukan Elena mantan kekasihnya. Tapi Elena sahabat kecilnya. Elena yang membuat dirinya dan Jordan selalu berlomba untuk melindungi gadis kecil itu. Ya....dia adalah Elena kecilnya, malaikat kecilnya. Eric yakin tidak sedang salah melihat. Dia memang Elenanya.
Eric tersenyum tulus, lantas dia memeluk Elena dengan erat. Dia membiarkan kemejanya basah karena air mata Elena. Tidak ada kata yang mampu dia ucapkan lagi. Usapan lembut dan kecupan hangat di kepala Elena sudah cukup untuk mengungkapkan rasa sayangnya pada sahabat kecilnya itu.
"Ada yang ingin Isabel sampaikan padamu." Ucap Eric lembut sambil mengurai pelukannya. Dia memegang bahu Elena sambil tersenyum hangat. Tidak ada lagi kebencian yang dia rasakan untuk Elena. Dia menyayangi wanita di hadapannya ini.
Elena mengusap pipinya yang basah. Dia mendesah lega, akhirnya dia bisa memperbaiki hubungannya dengan kedua sahabatnya itu.
Setelah lebih tenang, Eric merangkul bahu Elena dan membawanya kembali pada Jordan dan Isabel.
Lalu tiba-tiba Elena berhenti melangkah saat mendengar ponselnya berdering. Dia merogoh clutchnya untuk mengambil ponsel.
Nomor tidak dikenal ? Batin Elena. Dia menekan ikon berwarna hijau lantas mendekatkan ponsel ke telinganya, namun sambungan itu terputus. Dan saat Elena hendak memasukkan ponsel ke dalam clutchnya lagi, dia mendapat notif pesan masuk.
Urung memasukkan ponsel dalam clutch, Elena membuka pesan itu.
"Siapa ?" Tanya Eric yang juga ikut berhenti melangkah.
"Entahlah. Nomor tidak dikenal." Jawab Elena tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel untuk membuka pesan.
*Hallo, Mi Amor.....
Merindukanku ?
Aku punya hadiah untukmu. Hadiah istimewa yang akan membuatmu menyesal telah menghianatiku.
Aku tahu kau hanya memanfaatkanku untuk mencapai tujuanmu.
Aku akan membuat dua pria itu membenci dirimu hingga tidak sudi lagi melihat wajah cantikmu itu*.
Kedua mata Elena membulat setelah membaca pesan itu. Wajahnya yang sembab kini menjadi pucat pasi. Tubuhnya terjajar ke belakang hingga Eric harus menahannya agar tidak limbung.
"Apa kau baik-baik saja ?" Tanya Eric cemas.
Meski ragu, Elena mengangguk. Pesan ancaman Jim membuatnya was-was. Dia baru saja mendapatkan kembali dua sahabatnya. Dia tidak ingin kehilangan mereka lagi.
Elena menyimpan kembali ponselnya dan berusaha mengabaikan pesan Jim. Dia tidak boleh terintimidasi hanya karena sebuah pesan. Jika Jim ingin membongkar semua keburukannya di hadapan Jordan dan Eric, maka Elena akan lebih dulu menceritakan semuanya pada mereka. Ya....lebih baik mereka tahu langsung dari bibirnya daripada di dahului oleh Jim.
"Ada apa ? Kau pucat sekali." Jordan berjalan dua langkah lalu menyentuh bahu Elena karena melihat wanita itu terlihat pucat.
"Aku baik-baik saja." Elena memaksakan senyum untuk menutupi kecemasannya.
Eric berdiri disamping Isabel lantas membisikkan sesuatu padanya. Isabel mengangguk, setelah itu dia tersenyum pada Elena. "Aku tidak akan menuntutmu, Elena." Ucapan Isabel membuat Elena setengah membuka mulut tidak percaya. "Permintaan maafmu sudah cukup buatku. Aku tidak ingin memperpanjang masalah ini lagi." Lanjut Isabel.
Elena tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia menatap bingung pada Isabel, Eric dan Jordan secara bergantian.
"Kesungguhanmu untuk memperbaiki semuanya sudah cukup membuktikan kalau kau memang pantas mendapatkan kesempatan kedua." Tambah Isabel seraya meraih tangan Elena dan menggenggamnya.
Tak pelak hal itu membuat air mata Elena berderai lagi. Hanya dalam sehari semalam dia menumpahkan begitu banyak air mata. Entah setelah ini air matanya masih tersisa atau tidak, dia sama sekali tidak peduli.
Pandangan Elena sudah buram pada ketiga orang di depannya. Ini sungguh diluar dugaannya. Dia sangat bahagia.
"Terima kasih." Ucap Elena nyaris tanpa suara karena kalah dengan isakan tangisnya.
"Kau lihat, banyak orang yang menyayangimu, Elena." Ujar Jordan.
"Ya. Kita bisa memulai semua dari awal. Kita bisa....." Ucapan Eric terpotong saat dering ponselnya terdengar. "Kita bisa menjadi keluarga lagi seperti dulu." Lanjutnya sambil mundur selangkah untuk mengangkat telepon.
Elena menggeleng terharu. Ini adalah mimpinya. Bisa bersama dua sahabatnya lagi dan menjalani hidup dengan tenang. "Boleh aku memelukmu ?" Tanya Elena pada Isabel.
"Tentu." Isabel maju selangkah lalu memeluk Elena. Dan Elena memeluk erat-erat tubuh kecil Isabel sambil memejamkan mata. Dia bersyukur masih diberi kesempatan merasakan semua kebahagiaan ini. "Maafkan semua hal buruk yang pernah kulakukan padamu, Isabel."
"Aku sudah memaafkanmu, Elena." Isabel mengusap punggung Elena.
Hari ini adalah hari yang luar biasa. Tangis haru dan bahagia seolah tidak ingin berhenti. Hari ini semua mendapatkan kebahagiaanya. Hari ini semua saling menerima.
"Jordan....." Suara Eric lirih terdengar.
Elena melepas pelukannya pada Isabel. Dia menoleh pada Eric yang terlihat syok dengan wajah pucat, mengabaikan silau matahari yang mengenai matanya.
Jordan mengernyit. Ada apa dengan Eric ? Kenapa wajahnya sepucat itu ? Apa dia sakit ?
Eric menatap Jordan dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia menggenggam erat ponsel di tangannya.
"Ada apa ?" Tanya Elena pada Eric dengan satu tangan menghalau pantulan sinar matahari yang mengenai matanya.
Bibir Eric terkatup rapat. Hanya deru nafasnya yang semakin cepat. Jordan mendekat pada Eric dengan bingung. Dan saat Elena ingin mendekat juga, lagi-lagi matanya silau terkena cahaya mataha......
Oh sial ! Elena baru menyadarinya. Ini bukan sinar matahari. Sejak kapan matahari terbit dari barat ? Elena menatap ke atas dimana cahaya menyilaukan itu berasal. Benar, itu bukan cahaya matahari, itu adalah....
"GET DOWN !!!" Teriak Elena sambil membalik posisi tubuhnya dengan Isabel.
Eric dan Jordan belum sempat mencerna perintah Elena saat tiba-tiba tubuh Elena tersentak kuat, oleh angin lokal tak bersuara yang sangat kencang hingga membuat tubuh Isabel yang berada dibalik tubuhnya rubuh.
"Elena !" Pekik Jordan saat melihat darah segar mengucur deras dibalik dress putih Elena.
Isabel sebisa mungkin menahan tubuh Elena agar tidak terjatuh ke tanah. "Elena !" Isabel panik saat merasa tangannya basah oleh cairan hangat merah pekat.
Jordan bersimpuh, membalik tubuh Elena lalu memangku kepalanya. Tubuh Isabel gemetar hebat, air matanya jatuh begitu saja saat dia mengangkat kedua tangannya yang sudah berlumur darah.
"Elena ! Bertahanlah !" Jordan menepuk-nepuk pipi Elena sambil berusaha menekan luka di punggung Elena dengan tangan kiri agar darahnya berhenti mengalir. Tapi percuma ! Tangan Jordan malah terasa seperti cawan yang menampung darah segar Elena.
Kehilangan banyak darah membuat wajah Elena jadi seputih kapas, sangat kontras dengan cairan merah yang keluar dari sudut bibirnya.
Terlihat wanita itu kesulitan meraup oksigen. Kedua matanya mengerjap berat seolah ingin mempertahankan kesadaran yang semakin menipis.
Jordan menjatuhkan air matanya di pipi Elena. Tidak ! Ini tidak boleh terjadi ! Elenanya baru saja kembali. Dia tidak ingin kehilangannya lagi. Tidak !
"Eric ! Bantu aku, b*rengsek ! Jangan diam saja ?! Kita harus membawa Elena ke Rumah Sakit ! Cepat bantu aku, Keparat ! Aarghh....!!!" Jordan berteriak frustasi. Dia berusaha mengangkat tubuh Elena, tapi tenaganya seolah terkuras habis oleh ketakutan yang dia rasakan.
Eric masih berdiri di tempatnya. Pesan yang dia dapatkan. Elena yang terlihat sangat kesakitan. Dia tidak bisa ! Eric tidak bisa menerima semua itu secara bersamaan. Sendi-sendi di tubuh Eric terasa lemas. Eric tidak bisa menopang tubuhnya lagi. Tubuhnya ambruk, bertumpu pada kedua lututnya. Dia menatap nanar pada wajah Elena yang semakin pucat di pangkuan Jordan.
"Bantu aku, B*rengsek !!!" Teriakan Jordan semakin terdengar putus asa. Dia terus memaki, mengumpat dan berteriak meminta bantuan siapa saja untuk meyelamatkan Elenanya.
Beberapa polisi yang berjaga terlihat berlari mendekat saat mendengar teriakan Jordan yang semakin tidak terkendali.
Dengan tubuh gemetar, Isabel merangkak, mendekati Eric yang terlihat sangat terluka. Dia mendekap kepala Eric. Dia bisa merasakan tubuh Eric bergetar saat pria itu tidak bisa lagi menahan kesakitan dalam hatinya.
Perlahan kedua mata Elena terpejam. Tubuhnya yang sedingin es tidak lagi bergerak. Jordan menggoyang-goyang tubuhnya, tapi Elena tidak lagi merespon.
"Elena ! Buka matamu ! Elena, aku disini, aku akan melindungimu." Jordan semakin meracau tidak jelas. "Tidak ! Jangan lakukan ini padaku ! Buka matamu, Elena ! B*rengsek, buka matamu ! ELENA...!!!!" Raungan Jordan terdengar semakin menyayat hati. Dia putus asa. Dia terluka. Dan jiwanya....sekarat.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
maaf, tidak bisa berkata apa-apa lagi.
See you next part, Love.