
Akhirnya hari yang ditunggu Isabel datang. Hari dimana dirinya dinyatakan lulus, sukses menyelesaikan study nya dan menjadi seorang sarjana.
"Akhirnya ! Good bye Taylor." Isabel mendesah lega, mengucapkan salam perpisahan pada Taylor, bodyguardnya selama tiga bulan ini.
"Selamat, Nona. Saya turut berbahagia untuk Anda." Sahut Taylor yang duduk dikursi kemudi.
Isabel menyandarkan kepalanya, memandang keluar jendela dimana gedung-gedung berlarian melawan arah laju mobil yang ditumpanginya.
"Terima kasih sudah menjagaku tiga bulan ini, T." Ucap Isabel tulus.
"Sudah tugas saya, Nona."
"Maafkan aku jika sering membuatmu susah." Kata Isabel tanpa mengalihkan pandangan dari gedung-gedung yang berjajar rapi.
"Itu sudah tugas saya, Nona."
"Kau monoton sekali." Gerutu Isabel yang disambut senyuman oleh Taylor.
Lalu tiba-tiba Isabel menegakkan tubuhnya. Dia melihat sosok yang dia kenal sedang berbicara dengan seseorang di depan sebuah toko bunga.
"Berhenti, T !" Perintah Isabel. Pandangannya masih terpaku pada sosok yang sudah terlewat beberapa meter dari mobilnya.
"Anda mau kemana, Nona ?" Tanya Taylor saat Isabel bergerak membuka pintu.
"Menemui temanku." Jawabnya tanpa melihat pada Taylor.
"Tapi, Nona......"Ucapan Taylor menggantung karena Isabel sudah terlebih dulu keluar dari mobil. Mau tidak mau dia juga ikut turun. Walau bagaimanapun dia masih bertanggung jawab atas Nona-nya itu. Nyaris kehilangan pekerjaan tempo hari membuatnya semakin bersikap protektif terhadap Nona-nya.
Taylor mengikuti langkah Isabel dua meter dibelakangnya. Taylor mempunyai firasat jika Nonanya ingin menemui seorang pria. Semoga bukan pria yang waktu itu hampir membuatnya kehilangan pekerjaan.
Taylor berhenti melangkah saat Isabel berhenti melangkah. Tepat di samping dua orang yang sedang mengobrol--sepertinya serius, terlihat dari raut tegang di wajah mereka. Seorang pria dan wanita. Taylor masih menebak-nebak, siapa yang ingin di temui Nona-nya. Berharap si wanita adalah tujuannya.
"Jordan." Pupus sudah harapan Taylor seiring Nona-nya yang memanggil nama si pria. Semoga kali ini tidak mendatangkan bencana untuk bapak tiga anak itu.
Jordan menoleh, terkejut melihat Isabel menghampirinya. Lalu air mukanya berubah sedikit gelisah.
"Hai....Princess." Balas Jordan sedikit ragu.
Sedetik kemudian Isabel memeluknya. Gadis itu sangat merindukan Jordan.
"Aku hampir tidak mengenalimu. Kau memangkas rambutmu ?" Isabel melepas pelukannya, lalu meneliti penampilan Jordan yang menurutnya terlihat lebih segar dengan rambut yang lebih pendek. Jambang yang mulai tumbuh mengitari rahangnya, itu adalah sesuatu yang seksi. Jujur Isabel lebih suka penampilan Jordan yang seperti ini.
Jordan mengangkat bahu, "Bosan dengan yang lama." Katanya.
"Apa yang kau lakukan disini ? Kau bersama Eric ?" Tanya Isabel. Alisnya berkerut, sedikit menyipitkan mata untuk menghalau terik matahari yang mengenai matanya.
Lalu pandangannya jatuh pada wanita yang sedang menatap interaksi antara Jordan dan Isabel dengan tatapan penuh arti.
Wajah itu tidak asing. Isabel pernah melihatnya. Wajah cantik nan eksotis khas latin.
Wanita itu tersenyum ramah lalu maju selangkah. "Hai, aku Elena. Senang bertemu denganmu, Miss....." Elena mengulurkan tangan.
"Isabel." Isabel membalas jabat tangan Elena dengan mantap. "Senang bertemu denganmu."
Elena tersenyum sangat manis, dengan mata elang yang terus memindai Isabel. Dia ingat pernah melihat gadis itu di Amytville. Dia diam, menunggu interaksi antara Jordan dan Isabel selanjutnya. Diam memperhatikan untuk menyiapkan langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya. Karena sepertinya gadis ini sangat dekat dengan Jordan. Dan dekat dengan Jordan berarti dekat dengan Eric. Setidaknya itu yang dipikirkan Elena.
"Ee...Princess." Jordan menarik Isabel sedikit menjauh dari Elena.
Isabel mengikuti langkah Jordan dengan sedikit terkejut. Apa dia mengganggu Jordan ? Apa wanita ini kekasihnya ? Ah, harusnya Isabel tahu dan tidak sembarangan memeluk dan sok akrab pada Jordan.
"Maaf, bukan bermaksud mengusirmu. Tapi sebaiknya kau pulang dulu. Aku akan menghubungimu nanti." Jordan bicara lembut dengan senyum indah yang membuatnya terlihat semakin tampan.
Raut wajah Isabel berubah menyesal. "Maaf. Tidak seharusnya aku menggangumu." Isabel melirik pada Elena yang masih memperhatikan mereka sambil memilin rambut dengan satu tangan terlipat di perut. Senyum manisnya tak pudar sedikitpun. "Apa dia kekasihmu ?" Isabel menyipitkan mata, sedikit berbisik pada Jordan.
Jordan tersenyum, "Tidak, Princess. Dia bukan kekasihku. Aku yakin sudah pernah bercerita tentang dia padamu." Jawab Jordan.
Otak Isabel berputar tentang apa saja yang pernah di ceritakan Jordan. Banyak hal yang sudah pria itu ceritakan pada Isabel. Diantara banyaknya cerita, dia teringat tentang sahabat Jordan dan Eric yang merawat Chloe selama dua pria itu dalam masa pelarian dari sindikat narkoba. Tapi Jordan melewatkan bagian dimana Elena dan Eric yang pernah terikat hubungan selama 7 tahun.
Jordan menggaruk kepalanya, menghindari kontak mata dengan Isabel. Dia tidak ingin menjawab jujur kalau tujuan Elena ke kota ini adalah Eric. Apalagi sejak Eric dan Isabel mulai dekat. Elena adalah batu sandungan yang cukup besar. Dan lebih berbahaya dari Mike.
"Dia..."
"Nona, sebaiknya kita pulang sekarang. Tuan Mike akan mencari Anda jika Anda tidak pulang tepat waktu." Ucapan Jordan terpotong oleh suara Taylor yang meminta Isabel untuk kembali. Ini sudah terlalu lama, Taylor hanya tidak ingin mendapat masalah.
"Hanya sebentar, T." Isabel mendelik kesal. Sejak insiden nyaris kehilangan pekerjaan itu, Taylor lebih berani untuk bersikap protektif.
"Dia benar, Princess. Kau harus pulang sekarang." Kata Jordan yang merasa terselamatkan oleh Taylor. "Jangan sampai pria itu benar-benar kehilangan pekerjaan karena pertemuan kita." Lanjut Jordan setengah berbisik.
Isabel memutar mata malas. Dia mendengus lalu berkata, "Kau tahu, hari ini aku dinyatakan lulus. Ya, meskipun bukan lulusan terbaik sepertimu dan Eric. Tapi aku sangat bahagia. Akhirnya aku akan terbebas dari pria beranak tiga itu." Sindir Isabel pada Taylor.
"Oya ?" Jordan tersenyum lebar lalu memeluk Isabel. "Selamat, Princess." Katanya sebelum melepas pelukan.
"Tapi apa yang dikatakan Mr. T itu benar. Kau harus segera pulang jika tidak ingin mendapat amukan dari kakak galakmu itu." Kata Jordan lagi, mengedipkan sebelah mata dan tersenyum jenaka.
"Baiklah. Tapi kau harus menghubungiku begitu urusanmu selesai." Isabel menunjukkan ekspresi memaksa yang manja.
"Pasti. Aku akan menghubungimu setelah urusanku selesai." Sahut Jordan.
"Aku menunggu telponmu." Kata Isabel sambil memeluk Jordan sebentar, salam perpisahan. "Bye, Elena." Pandangan Isabel beralih pada wanita cantik dengan senyum indah yang mempesona.
"Sampai bertemu lagi, Isabel." Balas Elena ramah, melambaikan tangan kanannya yang sejak tadi dia gunakan untuk memilin rambut.
Isabel pergi, meninggalkan Jordan dan Elena.
Jordan kembali mendekat pada Elena yang memasang senyum miring, sangat berbeda dengan senyum ramah yang dia perlihatkan tadi.
"Princess ?" Elena mendengus sinis. "Mengulang cerita lama, hm ?" Sindir Elena.
"Aku sudah pernah memperingatkanmu, Elena. Berhenti mengejar Eric. Kau sudah menyakitinya terlalu dalam. Tidak ada lagi yang bisa kau harapkan darinya." Kata Jordan pelan berusaha bersikap baik.
"Tidak, Jordan. Aku akan memastikan Eric kembali padaku." Elena tersenyum miring melihat ke arah perginya mobil yang ditumpangi Isabel. "Anak kecil itu bukan kendala bagiku." Katanya mantap. Sorot matanya menunjukkan kelicikan yang sedang dia rencanakan untuk Isabel.
Jordan menghela nafas lelah. Dia tidak ingin menyakiti Elena. Tapi sepertinya wanita itu memang masokis. Berulang kali Eric bersikap kasar padanya, tapi dia tidak pernah mau menyerah.
"Singkirkan otak licikmu itu sebelum Eric mengetahuinya !" Jordan menggeram marah.
Kekehan kecil keluar dari bibir seksi Elena. Dia mengayun-ayunkan telunjuk, menunjuk Jordan. "Ternyata kau sangat menyedihkan. Berhenti berbicara untuk orang lain. Kau sangat mudah dibaca, Lovely J." Elena tersenyum licik.
"Berani menyentuhnya, maka bukan hanya Eric yang akan menghancurkanmu." Ancam Jordan. Elena memang selalu bisa membaca pikirannya. Hanya Elena. Jordan bisa menyembunyikan apapun dalam hatinya dengan sangat baik. Tapi dengan Elena, Jordan tidak bisa menyembunyikan apapun. Kebersamaan mereka sejak kecil adalah penyebabnya.
Kali ini Elena tertawa lebar. Apa yang dipikirkannya ternyata benar.
"Aku ingin memberimu penawaran." Elena meredakan tawanya, menatap tajam pada Jordan dengan seringai licik. "Kau paham maksudku. Kita akan sama-sama mendapat keuntungan. Bukankah itu menarik ?!" Elena memilin ujung rambutnya. Tersenyum miring lalu berkata, "Lagipula, aku tidak yakin kau sanggup menyakitiku." Katanya dengan sangat yakin.
*
*
*
*
*
tbc.
Aku kembali....!!! Hehe...gag penting banget ya 😁
Hm....Elena lagi. Tawaran apa yang dia kasih ke Jordan ? Apa Jordan bakal menerimanya ?
Eh, Jordan ganteng kalo pake jambang gitu ya. Lebih keren, aku suka. Dan senyumnya itu loh, bikin klepek-klepek. Lain kali deh aku kasih gif pas dia senyun gitu, kalo disini sekalian takut review nya lama. Tau ndiri lah....😞
See you next part, Love.