100 Days

100 Days
Part 105



Eric mengikuti langkah Isabel menuju taman belakang. Isabel tidak ingin berbasa basi. Lebih cepat Eric menyampaikan maksud kedatangannya, maka lebih baik.


Saat pertama melihat wajah lebam Eric, jujur hati Isabel berdesir nyeri. Air matanya hampir jatuh karena ikut merasakan sakit. Isabel ingin menyentuh wajah Eric, memastikan bahwa tidak ada luka yang serius. Tapi dia masih ingat rasa sakit yang ditorehkan Eric dihatinya. Dia tidak akan merendahkan harga dirinya dengan berlari pada pria itu.


Dalam hati Isabel, dia merasakan rindu yang teramat sangat pada Eric. Tapi luka di hatinya membuat dia sebisa mungkin menahan diri untuk tidak menubruk dan memeluk erat tubuh Eric.


Tidak mudah memang. Disaat seseorang yang sangat dicintai dan dirindukan ada di depan mata, Isabel harus menutup mata. Berpura-pura tidak melihat supaya pertahanan hatinya tidak runtuh.


"Cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan." Ujar Isabel dingin. Dia duduk di kursi rotan di bawah pohon pinus.


Eric mendaratkan pantatnya di kursi yang sama dengan Isabel. Dia mencoba meraih tangan Isabel, tapi gadis itu menghindar dengan melipat tangan di dada. Eric hanya bisa menghela nafas, karena dia tidak mungkin berbuat lebih. Kecuali kalau dia ingin diusir Isabel tanpa sempat meminta maaf.


"Aku tahu aku salah." Eric menatap wajah Isabel, berusaha menarik perhatian gadis itu agar menoleh padanya. Tapi bagi Isabel, beberapa capung yang terbang dan hinggap di rerumputan terlihat lebih menarik daripada wajah Eric.


"Aku minta maaf." Eric bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia sangat menyesal telah mengambil keputusan yang salah. "Beri aku kesempatan untuk menyembuhkan luka di hatimu. Aku ingin kau kembali padaku, merajut kembali mimpi-mimpi kita." Eric menghirup nafas dalam. "Aku mencintaimu, Bells. Kembalilah bersamaku !" Pinta Eric.


Isabel diam saja. Setengah mati dia menahan perasaannya agar tidak luluh dengan ucapan Eric. Dia ingin marah, dia ingin berteriak, tapi bibirnya terkunci rapat.


"Maafkan aku, Bells ! Aku sangat menyesal. Aku ingin kita bersama lagi. Beri aku satu kesempatan. Aku akan memperbaiki semuanya." Pinta Eric lagi dengan penuh pengharapan. Satu kesempatan saja, dan Eric akan membuktikan kalau dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


Perlahan Isabel menoleh. Dia menggigit bibir dalamnya saat memperhatikan wajah Eric dari dekat. Pasti rasanya sangat sakit. Andai saja hubungan mereka masih seperti dulu, pasti saat ini Isabel sudah menangis tersedu-sedu melihat wajah babak belur Eric.


Isabel mengumpulkan kekuatannya untuk membuka bibir. Otaknya bekerja keras mengumpulkan kosa kata apa yang harus dia sampaikan pada Eric.


"Hanya itu yang ingin kau sampaikan ?" Setelah melalui proses perdebatan batin yang pelik, akhirnya kalimat tanya itu yang terlontar dari bibir Isabel.


Tidak mampu lagi menatap setiap goresan luka di wajah Eric, Isabel memilih untuk memalingkan wajah pada bunga tulip di sebelah kanan tempat duduknya. Lagi, air matanya hampir jatuh menahan sesak yang menghimpit dadanya.


Mau bagaimana lagi ? Bukankah tujuan Eric datang kesini adalah untuk meminta maaf ?


"Kau mau memaafkanku ?" Tanya Eric.


"Akan kupertimbangkan." Jawab Isabel singkat.


Setelah itu mereka sama-sama terdiam. Keduanya terjebak dalam suasana canggung.


"10 menitmu sudah habis." Ujar Isabel. Dia berdiri, hendak meninggalkan Eric. Tapi langkahnya berhenti saat Eric menarik tangannya. Isabel mengerutkan kening, menatap tidak suka pada sikap Eric.


Eric sadar Isabel tidak menyukai apa yang dia lakukan, makanya dia segera melepaskan pegangannya sambil meminta maaf dengan suara lirih. Tapi dia harus menahan gadis itu sebentar lagi karena masih ada satu hal yang ingin dia sampaikan.


"Apa kau masih menyimpan movie player dari Jordan ?" Tanya Eric.


"Hm." Jawab Isabel sambil mengalihkan pandangan.


"Boleh aku memintanya ?" Kali ini Isabel menatap curiga pada Eric. Untuk apa Eric meminta barang pemberian dari Jordan ? Apa dia cemburu dan tidak ingin Isabel menyimpan pemberian dari jordan ? Eric terlalu berlebihan !


"Aku ingin menunjukkan sesatu padamu." Seperti bisa menebak pertanyaan tidak terucap dari Isabel, Eric segera memberi penjelasan.


Terdengar helaan nafas dari Isabel. Tanpa berkata apapun dia berjalan meninggalkan Eric.


Eric memejamkan mata rapat-rapat. Sabar, Eric ! Kau harus berjuang lebih keras lagi ! Jangan memaksa, jangan membantah, ikuti saja apa yang diinginkan Isabel !


Eric beranjak dari duduknya setelah Isabel berjalan beberapa langkah. Dia pun menyusul sambil memegangi rahangnya yang nyeri. Tahan, Eric ! Ini tidak lebih sakit dari luka yang dirasakan Isabel.


Eric mengikuti Isabel hingga ke ruang keluarga. Dia menatap Isabel yang mulai menapaki anak tangga menuju lantai dua dimana kamarnya berada.


Rasa ragu dirasakan oleh Eric. Apa dia harus ikut naik ? Atau dia menunggu disini saja ? Eric menyugar rambutnya dengan kasar. Dia bingung. Kenapa juga dia menjadi seperti anak anjing yang sedang mengejar tulang ?


"Naik sajalah." Putus Eric. Siapa tahu keberuntungan berpihak padanya. Isabel akan mempersilahkannya masuk ke dalam kamar lalu mereka berciuman dan mereka akan kembali seperti dulu lagi. Ah, sayangnya itu hanya akan menjadi mimpi bagi Eric. Karena baru saja Eric hendak mengangkat kakinya menapaki anak tangga, Isabel tiba-tiba berbalik.


"Berhenti disana !" Seru Isabel dengan tegas. Mana mungkin dia akan membiarkan seorang pria mengikutinya hingga ke kamar. Yang ada Mike akan membunuhnya. Belum lagi kalau ayahnya yang sedang berada di luar kota mendengar berita itu. Bisa-bisa namanya dihapus dari daftar penerima warisan.


Eric yang mendengar seruan Isabel punĀ  seketika membeku pada posisinya. Perlahan dia menurunkan kakinya lantas balik kanan. Mungkin sebaiknya dia menunggu di ruang keluarga saja.


Sekitar lima menit kemudian, Isabel sudah kembali dengan membawa movie player itu. Dia menyodorkannya pada Eric tanpa bersuara sedikitpun.


Eric menerima movie player itu dari Isabel. "Duduklah !" Pintanya pada Isabel. Gadis itu menghela nafas lantas duduk di sofa yang berseberangan dengan Eric.


"See ?" Eric memegang sebuah benda bulat pipih berdiameter sekitar satu centimeter dengan telunjuk dan ibu jarinya.


Isabel mengernyit. Sebenarnya dia sangat penasaran, tapi dia gengsi untuk bertanya. Dia berusaha menutupi rasa penasarannya dengan mengalihkan pandangan ke sembarang arah.


"Ini adalah kamera." Terang Eric. Isabel berpura-pura tidak peduli, padahal dia sangat penasaran dan menunggu penjelasan Eric. "Selama ini Jordan selalu mengawasimu. Well, tidak selalu dalam artian setiap saat, hanya saat kau menyalakan benda ini." Tambah Eric.


Rahang Isabel membuka. Apa itu benar ? Selama ini Jordan memata-matainya ? Kenapa Jordan melakukan ini padanya ?


"Karena dia mencintaimu, Bells. Dia mencintaimu dalam diam. Selama ini dia menutupi perasaan itu karena dia tahu kita saling mencintai." Eric menatap sendu pada Isabel.


Isabel masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Jordan ?


"Sesaat sebelum insiden yang menewaskan Elena, aku menerima sebuah rekaman video dari Jim. Dalam video itu Jordan sedang mabuk." Eric tersenyum miris. "Aku belum pernah melihatnya semabuk itu." Eric menghela nafas. "Dia mengakui semuanya, Bells. Tentang perasaannya padamu. Tentang luka yang selama ini dia tanggung sendirian. Dan luka itu karena diriku. Selama ini aku tidak sadar, aku tidak tahu kalau dia memendam luka yang teramat besar karena diriku. Aku adalah adik paling bodoh yang pernah ada. Selama ini aku buta, aku tuli. Dia jauh lebih menderita daripada diriku." Eric menunduk, memainkan obeng kecilnya.


Entahlah. Isabel tidak tahu perasaan apa yang dia rasakan saat ini. Rasanya terlalu ambigu.


"Mengenai janji itu....." Eric menelan ludah. Apa Isabel bisa menerima alasan dia membuat janji itu pada Jordan di masa lalu ?


Sekali lagi Eric menatap Isabel, dia harus menyingkirkan keraguannya. Meski pahit, kejujuran adalah yang terbaik.


"Aku pernah berjanji pada Jordan untuk mengabulkan satu permintaannya. Aku dan Elena...." Eric menjeda ucapannya. Dia menatap ragu-ragu pada Isabel. "Aku memberinya janji itu karena dia tidak ingin aku melepaskan Elena. Dia rela mengorbankan perasaannya untuk kami. Dan aku memberinya satu janji sebagai balasan pengorbanannya padaku. Janji untuk mengabulkan apapun yang dia minta."


Eric menghirup udara banyak-banyak dari hidung saat tiba-tiba rongga dadanya terasa sesak. "Dalam video itu Jordan ingin menagih janjiku padanya. Dia meminta dirimu dariku."


Isabel tertegun. Dia tahu, dia paham seberapa besar pengorbanan yang dilakukan Jordan selama ini untuk Eric. Tapi dia tidak menyangka kalau ternyata Jordan juga mencintainya sedalam itu.


Tidak munafik, Isabel memang merasa senang dan nyaman berada di dekat Jordan. Tapi perasaannya tidak lebih dari rasa sayang seorang adik pada kakaknya.


"Aku menyesal, Bells. Waktu itu aku sangat bingung. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Video itu dan kematian Elena, aku tidak sanggup menanggungnya dalam waktu bersamaan. Aku sangat mencintaimu, Bells. Aku merasa hampa tanpamu. Semakin aku berusaha menjauhimu, bayanganmu semakin menyiksaku. Aku hampir gila memikirkan semua ini."


Isabel menatap kedua mata Eric yang basah. Tidak, isabel ! Jangan menyerah ! Harusnya Eric jujur sejak awal. Tapi nyatanya, Eric lebih memilih untuk menyakitimu. Dia lebih memilih untuk meninggalkanmu. Bukankah dia sangat egois ?


"Aku minta maaf. Aku mohon, beri aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya. Aku ingin menyembuhkan luka di hatimu dengan cintaku." Kata Eric. Dia sangat berharap Isabel mau membuka hati lagi untuknya.


Isabel masih menatap lekat pada Eric. Dia juga sangat mencintainya. Dia ingin memberinya satu kesempatan lagi. Tapi......


Isabel memjamkan matanya. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka matanya kembali. "Aku butuh waktu." Ucapnya seraya bangkit dari duduknya dan berlari naik ke lantai atas, masuk ke kamarnya.


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Maaf kalau belakangan ini feel dari cerita ini kurang dapet. Otakku tuh lagi berkecamuk, wkwkwk.....


Jadi gini, tiba-tiba aja aku pengen bikin novel yang setting nya di Indonesia. Ide ceritanya tuh udah di ubun-ubun minta dikeluarin. Nah padahal 100 Days sama Creepy Blindsopt ku itu masih butuh update cerita. Ini kalo yang di ubun-ubun gag segera dikeluarin, bisa-bisa aku nggak bisa fokus ngelanjutin dua cerita itu.


Tenang aja, biarpun settingnya di Indonesia, tapi masih ada hubungannya dengan keluarga Bennings kok. Kan mereka hidup di dunia paralel ciptaanku. Meski tidak secara langsung, tapi bakal ada benang merah yang menghubungkan mereka.


Jujur aku lagi galau nih. Bikin 3 novel sekaligus tu pasti berat, huhuhu.


Udah dulu lah curhatnya. Jangan lupa dukungannya ya genkz !


See you next part, Love.