100 Days

100 Days
Part 27



"Sebentar lagi Aiden akan benar-benar meninggalkanku. Harapanku untuk bersamanya akan musnah bersamaan dengan janji suci pernikahannya," gumam Isabel.


Isabel tertawa miris. Dulu dia bermimpi, Aiden berdiri dengan gagah di altar dengan tuxedo putih menunggu dirinya. Senyum lebar Aiden akan menyambut langkahnya menuju altar. Dan mereka akan melafalkan janji suci untuk selalu bersama disaat susah maupun senang, disaat sehat maupun sakit.


Isabel menghela napas, dia tertawa kecil. Bukan tawa bahagia, dia menertawakan dirinya sendiri. Lalu dia menghela napas lagi, berharap sesak dalam dadanya ikut keluar bersama udara yang terbuang dari desahannya.


Dia duduk di sofa kamar yang menghadap ke dinding kaca. Mata birunya menangkap pemandangan anak-anak yang sedang berlarian dan bermain. Tanpa sadar kedua mata Isabel terus memerhatikan dua anak yang sedang bermain prosotan. Anak laki-laki yang kira-kira berumur 10 tahun dan seorang anak perempuan sekitar 3 tahunan. Sepertinya mereka saudara, dilihat dari warna rambutnya yang sama. Si anak perempuan meluncur dengan posisi terbalik--kepala dibawah--sehingga wajahnya yang terlebih dahulu menyentuh tanah. Alhasil anak itu menangis tanpa merubah posisinya saat terjatuh tadi. Lalu anak laki-laki itu datang mendekat. Bukannya membantu anak perempuan itu berdiri, si anak laki-laki terlihat mengatakan sesuatu dengan ekspresi yang serius. Ajaibnya, anak perempuan itu bangun sendiri dan berhenti menangis. Lalu tangan mungilnya mengusap air mata di pipi sambil menunduk. Anak laki-laki itu terlihat berbicara lagi dan anak perempuan itu mengangguk. Baru setelah itu si anak laki-laki memeluk dan menuntun anak perempuan itu ke sebuah bangku lalu memberinya sebuah botol minum berwarna hijau.


"Mike." Isabel memejamkan mata. "Aku merindukan kalian," ucapnya lirih.


Apa yang dia lihat tadi mengingatkannya pada Mike. Apa yang dilakukan anak laki-laki itu persis seperti apa yang dilakukan Mike padanya. Mike akan membuatnya menyadari kesalahannya dahulu baru dia akan memeluk dan menenangkannya.


Tak terasa air mata Isabel tumpah. Dia rindu keluarganya, dia rindu sahabatnya, dia rindu ... Aiden. Tapi dia terlalu malu untuk kembali. Malu untuk mengakui jika dirinya sudah kalah. Malu karena harus menjilat ludah sendiri.


Sudah hampir tiga minggu Isabel meninggalkan rumah. "Apa mereka merindukanku? mencariku? mengkhawatirkanku? Apa mereka bersedih aku pergi dari rumah?" tanya Isabel entah pada siapa.


Gadis itu mendesah pelan. "Apa aku pantas dirindukan? Apa aku pantas di khawatirkan?"


"Ya, mereka mencarimu." Suara Eric membuyarkan lamunan Isabel. Gadis itu segera mengusap air matanya dan berbalik. Dia melihat Eric berjalan masuk ke walk in closet.


"Kapan dia datang? Aku tidak mendengarnya. Apa maksud ucapannya tadi?" lirih Isabel.


Tak lama kemudian Eric keluar dari walk in closet. Dia mengganti pakaiannya dengan kaos putih lengan panjang dan celana pendek hitam. Dia keluar dari kamar tanpa menoleh pada Isabel yang sedari tadi menunggunya untuk meminta penjelasan.


Melihat Eric yang acuh padanya, Isabel segera menyusul keluar. Ternyata Eric di dapur. Dia terlihat menyingsingkan lengan kaosnya hingga dibawah siku. Dia membawa mangkok berisi beberapa buah dan sayuran hijau dari dalam lemari pendingin. Lalu dia mencuci buah dan sayur itu di wastafel.


Isabel berdiri di dekat meja makan seperti orang bodoh. Dari tadi dia hanya memerhatikan apa yang dilakukan Eric tanpa mengatakan apapun.


Eric tahu Isabel dari tadi memerhatikannya, tapi dia sama sekali tidak peduli dan hanya membiarkan gadis itu melakukan apapun yang dia mau.


Suara hentakan gelas diatas meja terdengar. "Terlalu sering mengawasi orang bisa membuatmu gila."


Itu suara Eric lagi. Seperti biasa, kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu membuat Isabel ingin menelannya hidup-hidup.


Isabel mendengkus kasar. Matanya melihat gelas berisi cairan pekat berwarna hijau yang di hentakkan Eric tadi.


"Smoothies? Apa ini untukku?" batin Isabel.


Isabel menoleh ke arah Eric yang hampir sampai di sofa ruang tamu. Dia terlihat membawa satu gelas yang sama dengan yang ada di hadapannya.


Isabel mengangkat gelas itu dan meminumnya sedikit. "Ini enak sekali. Rasanya segar," gumamnya.


Ingin rasanya Isabel bertanya apa saja campuran yang ada dalam minuman itu. Tapi dia harus menahan keingintahuannya. Dia menyusul Eric ke ruang tamu. Tak lupa membawa smoothies buatan Eric.


Isabel duduk tidak jauh dari Eric lalu meletakkan minumannya diatas meja.


Lagi-lagi Isabel terlihat seperti orang bodoh. Bibirnya bergerak-gerak tapi tidak kunjung mengeluarkan suara. Tanya, tidak, tanya, tidak? Kurang lebih seperti itu pikiran Isabel.


"Apa aku perlu membeli aquarium agar kau bisa berenang disana?" Eric berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya.


Yang Eric lihat, Isabel hanya membuka dan menutup mulutnya berkali-kali persis seperti ikan.


Isabel mengatupkan bibirnya dan menggeram. Dia juga memejamkan matanya untuk menahan segala umpatan yang ingin dia muntahkan ke wajah Eric.


"Jangan menggeram seperti itu. Grey bisa mengira kau kucing betina yang minta dikawini."


"****, Eric! Bisakah kau bicara selayaknya pria normal?" Akhirnya umpatan itu lolos juga.


Tahan Isabel! Tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan.


Setelah beberapa kali mengatur napas, Isabel mendapatkan kesabarannya kembali.


Gadis itu menelan ludah lalu menarik napas sebelum bertanya, "Tadi kau bilang mereka mencariku. 'Mereka' siapa?"


Isabel samar melihat salah satu sudut bibir Eric bergerak keatas. Abaikan saja! Isabel masih menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir Eric.


"Keluargamu," jawab Eric datar. Dia masih fokus dengan tabletnya.


Isabel tertegun. "Keluargaku? Mereka mencariku?" batinnya. Seperti ada yang menghantam tengkuknya, Isabel merasa kepalanya begitu berat.


"Rindu. Aku merindukan mereka," batinnya lagi.


Genangan air di pelupuk mata Isabel jatuh. Dia menghapus air mata itu cepat-cepat. Matanya mengerjap beberapa kali untuk menghalau air mata yang berusaha jatuh lagi.


"Darimana kau tahu?" tanya Isabel dengan suara tercekat karena menahan tangis.


Kali ini Eric mengangkat wajahnya dan menoleh pada Isabel. Tatapannya datar. Dari mata Isabel yang merah, Eric tahu jika gadis itu menangis.


"Aiden," jawabnya singkat.


Isabel bungkam. Dia menggigit bibir menahan sesak dalam dadanya. Eric masih memerhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Mereka tahu aku disini?"


Eric mengangkat bahu. Dia tidak tahu soal itu. "Tidak ada yang mencarimu kesini," katanya kemudian.


"Aiden tidak memberitahukannya pada mereka," batin Isabel.


Entah harus bersyukur atau sedih. Isabel butuh waktu untuk bertemu mereka semua. Tapi disisi lain dia sangat merindukan keluarganya, sahabatnya.


Apa yang akan dikatakan kakak dan ayahnya jika mereka tahu selama ini dirinya tinggal dengan seorang lelaki. Meskipun tidak terjadi apa-apa--dan tidak akan pernah terjadi apa-apa--tapi kedua orang itu memunyai aturan yang mutlak tentang laki-laki dan perempuan yang belum menikah.


Isabel menghela napas, menahan air mata yang mulai penuh di kelopak matanya. Dia memejamkan mata. Air mata itu menetes lagi. Saat dia membuka mata, sebuah tissue mengayun di depan wajahnya.


Tangan Isabel terangkat untuk menerima tissue itu. Benar kan, Eric tidak sepenuhnya jahat. Meskipun hanya sedikit, Eric masih memedulikan Isabel.


Mungkin dalam hati Eric berkata, 'hapus air matamu, aku tidak ingin ada yang mati tenggelam di tempatku.'


Ah, Eric memang seperti itu. Dia tetaplah pria gila bermulut tajam.


Eric beranjak dari duduknya, membawa gelas smoothies dan tabletnya ke meja makan. Kali ini mungkin dia sadar jika keberadaannya di dekat Isabel hanya akan menambah buruk suasana hati gadis itu.


"Dasar keras kepala! Kalau dia merindukan keluarganya kenapa tidak pulang saja?" gumam Eric sebelum meneguk smoothies di gelasnya hingga tandas. Eric sempat mendengar gumaman Isabel saat dia datang.


"Kalau begini aku jadi menyesal membawanya kesini. Harusnya dulu kubawa saja dia ke Amytville, biar Jordan yang mengurusnya," batin Eric. Amytville adalah kota kecil di kaki Gunung Ameris.


Penyesalan memang selalu datang di belakang. Kini Eric harus terjebak dengan gadis labil yang keras kepala. Dan sayangnya lagi, gadis itu tidak ingin pergi dari rumahnya. Padahal seharusnya gadis itu harus merasa tersiksa disana.


Eric menggeleng kepalanya. Niatnya untuk memberi pelajaran pada Isabel malah berakhir dengan pelajaran untuk dirinya sendiri karena harus menjadi babysitter gadis itu. Poor Eric!


***


tbc.