100 Days

100 Days
Part 20



Suara gedoran pintu membuat Eric memaksa matanya untuk terbuka. Pria itu mengerjap pelan lalu bangkit dari tidurnya dengan malas.


"Eric, buka pintunya! Eric! Cepat buka pintunya!"


Suara itu terdengar berbarengan dengan suara pintu yang di gedor dengan kencang. Dari suaranya, sepertinya orang di luar sana sedang bergelut dengan amarah yang meledak-ledak.


Eric menyeret kakinya menuju pintu. Siapa juga pagi-pagi seperti ini yang sudah mengganggu tidurnya?


Tunggu!


Eric sedang ada di Willow Spring. Mata kelabunya melirik arloji. Masih jam 7 pagi. Willow Spring buka pada jam 8. Dan yang memegang kunci pintu hanya Eric dan Jose yang tak lain adalah manager Willow Spring.


Atau ....


Eric mengintip pada hole door. Benar saja, Chloe dan Aiden berdiri di depan pintunya dengan ekspresi yang berbeda. Chloe tampak khawatir dan takut, sedangkan Aiden hanya mengeluarkan satu ekspresi, marah.


Pintu itu terbuka. Aiden menerjang pintu dan segera mencengkeram kerah kaos Eric dengan wajah kesetanan. Tanpa persiapan, Eric refleks terdorong ke belakang.


"Bajingan!"


Bug!!!


Congratulation!


Satu pukulan menyambut pagi Eric yang cerah ini. Wajah bantalnya yang tetap terlihat tampan dihujani bogem mentah oleh Aiden.


Chloe menjerit histeris melihat adegan itu.


Eric menyeka ujung bibirnya yang meneteskan darah segar dengan ibu jari. Dia menunduk dengan senyum masam tercetak di wajahnya.


Belum sempat Eric menegakkan tubuh, Aiden kembali mencengkeram kaos Eric. Rahangnya mengetat, mata birunya dipenuhi amarah.


"Seujung kuku saja kau menyakitinya, aku akan membalasnya seribu kali!" desis Aiden tepat di depan wajah Eric. Dia tidak peduli kalau orang di hadapannya ini adalah calon kakak iparnya. Dia tidak akan membiarkan Isabel terluka sedikit pun.


Eric menanggapi ancaman Aiden dengan wajah tenang. Dia bahkan tidak menunjukkan rasa sakit sedikit pun akibat bogem mentah Aiden. Selesai Aiden berbicara, dia berkata dengan nada datar tapi tajam.


"Berkacalah sebelum mengatakan aku menyakitinya."


Seketika itu, hati Aiden mencelos. Cengkeramannya mengendur. Tubuhnya bergetar, wajahnya kini hanya menunjukkan rasa bersalah penuh penyesalan yang begitu dalam. Mata birunya menatap ke bawah diiringi napas berat yang memburu. Langkahnya gontai mundur perlahan.


Bukan Eric yang menyakiti Isabel, tapi dia sendiri.


"Dia di dalam," kata Eric datar sambil sedikit menelengkan kepala ke arah kamar.


Setelah bisa mengendalikan diri, Aiden melangkah menuju kamar di mana kekasih hatinya sedang tidur meringkuk di balik selimut.


Eric dan Chloe sengaja membiarkan mereka berdua. Walau bagaimanapun Aiden dan Isabel perlu menyelesaikan masalah mereka.


Langkah kaki Aiden terhenti di tepi ranjang. Wajah Isabel yang tidur meringkuk tertutupi oleh sebagian rambutnya.


Aiden duduk di tepi ranjang dengan gerakan sepelan mungkin. Perlahan dia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah kekasihnya, hingga wajah itu kini terlihat jelas. Sangat jelas hingga memperlihatkan bekas kesedihannya semalam.


"Luka yang aku goreskan pasti sangat dalam. Ini salahku. Aku menyesal, Sayang. Semoga masih ada kata maaf untukku," ucap Aiden lirih. Tangannya tak henti membelai wajah kekasih yang sangat dirindukannya itu, hingga membuat gadis itu menggeliat pelan.


Aiden terus memperhatikan wajah itu, wajah yang menyimpan luka begitu dalam. Membayangkan betapa sakitnya perasaan Isabel saat ini, membuat hati Aiden berdenyut nyeri. Dia ikut merasakan sakit, karena kenyataannya dia juga merasakan sakit yang teramat dalam saat mengetahui sebuah fakta bahwa dia harus meninggalkan Isabel. Ya, janin yang kelak akan memanggilnya 'ayah' tidak mungkin dia tinggalkan. Manusia bisa melakukan banyak kesalahan, tapi jika ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan itu, maka tidak ada alasan lagi untuk menolak. Dan cara Aiden memperbaiki kesalahannya adalah dengan meninggalkan orang yang sangat dia cintai lalu menikahi ibu dari janin yang terbentuk oleh spermanya.


Mata Aiden memerah, pandangannya buram hingga satu tetes air yang keluar dari sana membuat pandangannya kembali jelas.


Saat itulah gadis yang sedang meringkuk itu mengerjapkan mata bengkaknya. Merasakan belaian lembut di wajahnya, gadis itu terlihat memicing memperjelas penglihatan.


Gadis itu bangkit dan langsung meluapkan kerinduannya dengan memeluk erat tubuh pria yang sangat dicintainya itu.


"Kau disini? Ini bukan mimpi? Aiden, ini benar dirimu?" Isabel menangkup dan meraba wajah Aiden tidak percaya. Dia tidak sedang bermimpi. Orang yang duduk di hadapannya ini benar-benar Aiden-nya.


Sekali lagi Isabel memeluk tubuh Aiden setelah yakin bahwa ini semua nyata. Mata biru itu basah lagi. Tak sedikit kesedihan dan kerinduan yang ikut mengalir bersama buliran bening yang jatuh itu.


"Aku disini. Ini bukan mimpi." Aiden merenggangkan pelukannya, menangkup wajah Isabel lalu menghapus air mata dan memperhatikan baik-baik wajah itu. Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya, hanya rindu.


"Apa aku menyakitimu terlalu dalam?" batin Aiden.


"Aku sangat merindukanmu, Aiden. Ke mana saja kau selama ini? Tidakkah kau tahu aku hampir gila karena merindukanmu?" Isabel memeluknya lagi. "Jangan pergi! Jangan pernah tinggalkan aku lagi!"


Aiden memejamkan mata, mengusap lembut kepala dan punggung Isabel bergantian. "Aku juga sangat merindukanmu, Bells."


"Setelah semua ini berakhir, aku harap kau bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri, Sayang. Hiduplah dengan baik, hiduplah dengan bahagia. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku," batin Aiden lagi.


"Aiden," panggil Isabel. Dia membuat jarak dengan Aiden seraya menggenggam tangan Aiden. Kedua matanya menatap dalam pada mata pria itu. Ingatannya tentang ucapan Eric semalam kembali membayangi pikirannya.


Aiden tersenyum, tangannya berada di pipi gadis itu, membuat gerakan konstan dengan ibu jarinya.


"Katakan kalau yang aku dengar itu bohong. Katakan kalau anak itu bukan anakmu. Itu anak orang lain, bukan? Kau tidak akan pernah mengkhianatiku. Aku yakin kau sangat mencintaiku seperti aku sangat mencintaimu. Katakan kalau ini hanya kebohongan pria gila itu untuk memisahkanmu dariku." Kedua mata Isabel menunjukkan pengharapan sekaligus penyangkalan.


Aiden terkejut ternyata Isabel sudah mengetahui kebenarannya. Melihat kedua mata Isabel yang penuh pengharapan seperti itu hanya menjadi satu cambukan lagi di hati Aiden.


Meskipun pada akhirnya dia harus mengatakan yang sejujurnya, namun saat ini rasanya sangat berat.


Merasa tidak sanggup lagi mendapatkan tatapan penuh pengharapan dari Isabel, Aiden menarik tubuh gadis itu dan memeluknya erat. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Aiden. Lidahnya kelu, tidak mampu merangkai kata-kata yang tepat tanpa harus menyakiti hati kekasihnya. Karena apapun kalimat yang akan dia utarakan, sudah pasti akan menyayat hati gadis itu semakin dalam.


Isabel tidak bodoh. Aiden yang memeluknya dengan erat tanpa menjawab pertanyaan yang dia lontarkan, itu sudah cukup mewakili apa jawaban Aiden.


Saat itu juga Isabel meraung. Raungan pilu yang membuat siapa saja yang mendengarnya akan tahu kalau sakit yang dirasakannya sangatlah dalam.


"Tidak, Aiden! Kenapa kau juga membohongiku? Katakan semua itu tidak benar! Katakan, Aiden!" raung Isabel.


"Maafkan aku! Aku salah. Ini semua salahku. Aku akan mengatakan semuanya. Aku mohon maafkan aku!" Aiden semakin mengeratkan pelukannya.


Tidak ada lagi yang terdengar selain raungan kesedihan Isabel. Chloe yang hanya mendengarkan tangisan itu dari luar pun ikut meneteskan air mata, ikut merasakan sakit yang dirasakan Isabel.


"Ini yang terbaik untuknya." Eric mengusap bahu Chloe saat melihat mata biru adiknya meneteskan air mata. Meskipun sakit, tapi ini memang yang terbaik. Bahagia dalam kebohongan justru akan membawa kepahitan yang semakin dalam.


"Aku menyakitinya, Eric. Aku mengambil kebahagiaannya. Aku jahat, Eric." Itulah alasan Chloe tidak pernah membenci Isabel. Alasan yang sama yang membuat Chloe menolak pernikahan ini.


Eric menghela napas, menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan Chloe. Tangannya meraih kepala Chloe dan merengkuhnya dengan penuh kehangatan.


"Ssh ...! Jangan menyalahkan dirimu. Anak dalam rahimmu lebih membutuhkan ayahnya." Eric menarik napas dalam. "Percayalah, gadis itu akan mendapatkan pria lain yang mencintainya dengan tulus."


Ya, pasti suatu saat akan datang pangeran berkuda putih yang dapat membahagiakan Isabel, entah kapan.


Hanya saja, proses yang harus di jalani Isabel saat ini sangatlah berat untuknya. Memulihkan hati yang sudah terlanjur tercabik-cabik tidaklah mudah. Membutuhkan cinta dan kasih sayang yang lebih besar dari rasa sakit itu sendiri, untuk bisa mengembalikan hati itu seperti semula.


***


tbc.


see you next part, love !