100 Days

100 Days
Part 55



"Isabel?"


Mike beranjak dari duduknya. Dia segera memeluk adiknya dengan erat. Mike merindukan adiknya. Sangat.


Isabel membeku mendapat pelukan Mike. Dia tidak membalas pelukannya. Tidak mengira saja kalau Mike akan memeluknya seperti itu. Ini....diluar dugaannya.


Susah payah Isabel menelan ludah. Dalam sekali kedip, air matanya jatuh. Tak bisa dipungkiri, dia merindukan pelukan ini. Pelukan yang selalu bisa membuatnya tenang dan merasa aman.


Isabel memejamkan mata sebelum akhirnya Mike melepaskan pelukannya.


"Kau baik-baik saja?" Mike menangkup wajah Isabel. Matanya meneliti setiap inchi bagian wajah dan tubuh Isabel. Memastikan jika adiknya baik-baik saja.


Isabel mengangguk. Mulutnya masih terkunci rapat. Sekelebat adegan terakhirnya dengan Mike muncul dalam pikiran Isabel. Bagaimana dia membangkang, bagaimana dia menatap marah, dan bagaimana lancang mulutnya yang sudah berbicara tidak pantas terhadap keluarganya.


Karena pada kenyataannya memang kasih sayang yang diberikan keluarganya sangat besar untuknya.


Mike memeluk Isabel sekali lagi sebelum menggeser kursi dan menyuruh adiknya duduk disana.


Alice menyeka air matanya. Dia melihat kakak beradik itu dengan penuh haru.


"Syukurlah kau baik-baik saja. Kami sangat mengkhawatirkanmu." Kata Mike.


Isabel menunduk. Dia bingung harus berkata apa. Dia teringat bagaimana sikap ayahnya saat di pernikahan Aiden. Ayahnya terlihat enggan untuk sekedar bertegur sapa dengannya. Benarkah mereka khawatir ? Dia ragu, apakah ayahnya akan memaafkan dirinya jika dia pulang ke rumah ? Dengan semua sikap buruk yang pernah dia tunjukkan pada mereka ?


"Mom sakit. Dia memintaku untuk menjemputmu." Ucapan Mike membuat Isabel mengangkat wajahnya dengan cepat. Ibunya sakit. Hati Isabel terasa sesak mendengarnya.


"Mom sakit ?" Isabel memastikan dengan suara lirih.


Mike mengangguk, dia mengusap bahu Isabel, "Pulanglah. Mom sangat merindukanmu."


Air mata Isabel semakin deras. Sudut hatinya berdenyut nyeri mendengar berita itu. Ibunya sakit, dia ingin sekali pulang dan melihat keadaannya secara langsung. Tapi....


"Dad..." Isabel tidak melanjutkan kalimatnya. Dia tidak sanggup menerima kenyataan jika ternyata ayahnya masih marah padanya.


Helaan nafas pelan terdengar dari mulut Mike. "Dad juga sangat merindukanmu. Dia tahu selama ini kau tidak tinggal di apartemen Alice."


Deg !


Apa ayahnya juga tahu jika selama ini dia tinggal disini ?


Isabel menelan ludah. Wajahnya berubah pias. "Apa Dad tahu aku disini ?" Tanyanya ragu.


Mike menggeleng. "Kau benar-benar menghilang tanpa jejak. Orang-orangku tidak ada yang bisa menemukanmu." Mike menghela nafas lagi. Dia melirik Alice yang masih duduk di tempatnya dengan mata berkaca-kaca. "Jika aku tidak memaksa temanmu ini untuk bicara, aku juga tidak akan tahu kalau selama ini kau bekerja disini."


Ya, Alice mengatakan pada Mike jika selama ini Isabel bekerja disini untuk bertahan hidup.


Entah karena apa, tapi Isabel merasa beban di dadanya sedikit berkurang.


"Aku minta maaf karena aku tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Harusnya aku mengerti perasaanmu." Mike tersenyum masam, "Tapi aku lebih memilih untuk menghakimimu." Mike menatap penuh penyesalan pada Isabel.


Mata Isabel masih basah, tapi dia berusaha tersenyum. "Aku yang salah. Tidak seharusnya aku bersikap kurang ajar pada kalian." Dan air mata Isabel kembali menderas.


"Shh...!!" Mike menarik kepala Isabel ke dadanya untuk menenangkan. "Sudah. Tidak perlu dibahas lagi. Sekarang kita pulang. Mom dan Dad menunggumu di rumah." Kata Mike sambil mengelus kepala Isabel sayang.


Gadis itu masih terisak dalam pelukan Mike. Ya, Isabel memang harus pulang. Urusannya dengan Aiden sudah selesai. Tidak ada lagi yang harus dia perjuangkan dengan Aiden. Jalan mereka sudah berbeda. Dan Isabel juga merasa wajib meminta maaf pada kedua orang tuanya. Sudah saatnya dia kembali.


"I love you, Bells." Bisik Mike. Dia melepaskan pelukannya dan menghapus air mata di wajah adiknya. "Simpan air matamu untuk hari bahagiamu kelak." Kata Mike.


Isabel menurut. Dia membersit ingus lalu mengehela nafas lewat mulutnya. Senyum penuh kelegaan mengembang di wajahnya.


"Terima kasih sudah memaafkanku. Aku....aku sangat merindukan kalian." Isabel kembali berkaca-kaca. Dia mengatakan yang sesungguhnya. Dia sangat menyesal telah mengabaikan perhatian dari keluarganya.


Mike tersenyum hangat. Lalu dia mengusap puncak kepala Isabel dengan sayang.


"Kalian berhasil membuat hujan lokal di wajahku." Celetuk Alice yang sudah berderai air mata.


Mike dan Isabel menoleh bersamaan, mereka tertawa kecil. Isabel berdiri. Dia menghampiri Alice yang duduk di seberang meja lalu memeluknya.


"Thank you, Alice." Bisik Isabel di telinga sahabatnya itu.


"Isabel," Mendengar panggilan Mike, Isabel melepas pelukannya dari Alice lalu menoleh pada kakaknya.


"Aku ingin bertemu dengan pemilik cafe ini untuk mengucapkan terima kasih padanya. Alice bilang, kau tinggal disini dengannya."


Deg !


Isabel dan Alice saling pandang. Keduanya menelan ludah dengan kasar mendengar ucapan Mike. Wajah mereka memucat seketika.


Gawat!


Tiba-tiba Isabel kehabisan kosakata. Otaknya tidak bisa berpikir. Dia mencengkeraman kuat lengan Alice untuk meminta bantuan. Namun Alice sendiri juga kebingungan. Dia bahkan lupa kalau dulu dia pernah bilang pada Mike bahwa Isabel tinggal bersama temannya. Dan kata 'bersama temannya' itu hari ini menjadi bumerang.


"Apa kalian tidak ingin mengenalkannya padaku ? Ayolah, dia sudah sangat berjasa dengan mau menampung anak manja ini." Ucap Mike tidak sabar saat kedua gadis dihadapannya itu tidak kunjung bersuara.


Isabel menelan ludah sebelum menjawab, "Dia...sebenarnya dia....." Isabel menggigit bibir, tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.


"Dia sedang...sangat sibuk." Tambah Alice sekenanya. Bisa gawat kalau Mike tahu pemilik cafe ini adalah seorang pria yang Alice sendiri tidak mengenalnya.


"I-iya...dia sangat sibuk sekarang." Timpal Isabel dengan gugup.


Jangan sampai Mike bertemu Eric. Haduh....! Ini benar-benar gawat !


Mike menatap curiga pada kedua gadis di hadapannya itu. Dia menyandarkan punggungnya di kursi lalu melipat tangan di dada dengan mata memicing.


Bagaimana ini ? Mike selalu bisa melihat gelagat kebohongan Isabel. Atau mungkin memang Isabel yang tidak pandai berbohong.


Entah sejak kapan ludah Isabel terasa sangat keras hingga sulit sekali di telan. Begitu pula Alice. Keringat dingin sudah berselancar indah di punggungnya.


"Ti-tidak. Ka-kami tidak menyembunyikan a-apapun." Jawab Isabel terbata.


Keduanya hanya bisa memilin ujung baju yang mereka pakai, berharap Mike mempercayai ucapan mereka.


Mike menurunkan tangannya diatas meja. Dia menghela nafas sebelum berkata, "Baiklah." Mike menegakkan tubuhnya, menatap Isabel dengan tatapan yang sulit diartikan. "Katakan pada managermu kalau kau berhenti bekerja. Kita harus segera pulang." Ucap Mike.


Diam-diam Alice dan Isabel menghela nafas lega. Setidaknya mereka aman saat ini.


Isabel mengangguk dengan ucapan Mike. Bilang pada Jose kalau dia harus berhenti bekerja terdengar lebih bagus daripada Mike harus bertemu dengan Eric.


Dengan langkah cepat Isabel menuju tempat Jose berada yang kebetulan tidak jauh dari meja mereka.


"Jose, aku perlu bicara denganmu." Kata Isabel setelah sampai di tempat Jose duduk sambil mengawasi kinerja pegawai disana.


Jose menoleh, kerutan di dahinya menunjukkan kalau dia penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan Isabel.


"Tolong sampaikan pada Eric kalau aku harus pulang. Ibuku sakit. Nanti kalau ada kesempatan aku akan kesini lagi." Ucap Isabel sedikit berbisik. Dia tidak ingin Mike mendengar percakapan mereka.


Jose mengernyit, "Kenapa tidak mengatakannya sendiri ? Bos ada di ruangannya."


"Tidak bisa. Tolong sampaikan saja pesanku padanya. Aku harus segera pergi." Isabel memasang wajah memohon.


"Baiklah, nanti akan kusampaikan." Ucap Jose lalu pandangannya jatuh di belakang Isabel. "Atau ... kau bisa mengatakannya sendiri sekarang." Jose menunjuk Eric yang sudah berdiri di belakang Isabel dengan dagunya.


Isabel membalikkan badan secara perlahan sambil menelan ludah. Benar saja, Eric berdiri membawa sebuah map di belakangnya.


"Mengatakan apa ?" Eric mengerutkan dahinya. "Jose, cek persediaan bahan." Kata Eric sambil menyerahkan map pada Jose sebelum kembali melihat pada Isabel yang tampak gelisah.


"Siap, Bos !" Jose meninggalkan Isabel bersama Eric.


"Ada apa denganmu ? Kenapa kau seperti cacing kehabisan oksigen ?" Tanya Eric lagi.


Isabel semakin bergerak gelisah. Kenapa Eric harus keluar dari ruangannya ? Takut-takut Isabel melirik ke arah Mike. Gadis itu memejamkan mata lekat-lekat saat melihat Mike masih memperhatikannya.


"Kenapa kau keluar ?" Desis Isabel. Sumpah, rasanya dia ingin buang air kecil. Dia tidak tahan merasakan jantungnya yang memompa darah secara berlebihan.


Eric semakin heran, dia melipat tangan di dada. Menatap Isabel penuh selidik. "Aku melakukan pekerjaanku. Memangnya apa masalahmu ?"


"Masalahnya...."


"Permisi." Suara itu menginterupsi ucapan Isabel. gadis itu memejamkan mata lagi. Kakinya bergerak-gerak kecil dengan cepat. Kenapa Mike menghampiri mereka ?


Eric mengalihkan pandangan pada sosok pria yang sedang berdiri di samping Isabel. Dia melihat sebentar pada Isabel, sebelum kembali memusatkan perhatian pada Mike.


"Ya ?" Eric menautkan alisnya. Siapa pria ini ?


"Saya Mike. Kakak Isabel." Mike mengulurkan tangan yang langsung dibalas oleh Eric.


Wajah Eric menunjukkan raut terkejut, tapi hanya sebentar. Setelahnya dia memasang senyum ramah lagi. "Ada yang bisa saya bantu ?"


"Anda bekerja disini ?" Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Mike sedang bermain kata.


Eric tersenyum. "Saya pemilik cafe ini."


Duarr !!!


Seolah petir baru saja menyambar kepala Isabel. Rasanya dia ingin sekali menenggelamkan diri di sungai Nil. Dia tidak bisa lari lagi sekarang. Mike akan mengetahui semuanya. Tulang belulang Isabel terasa melunak. Tubuhnya hampir saja merosot ke lantai.


Habislah aku !


Isabel pasrah.



Mike Bennings.


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Apa yang akan kalian lakukan jika kalian berada di posisi Isabel ?


Lalu, apa yang akan dilakukan Mike setelah tahu jika pemilik cafe adalah seorang pria ?


See you next part, Love.