100 Days

100 Days
Part 47



Malam sudah larut. Tapi Jordan dan Isabel masih asyik berbincang di ruang tengah dengan ditemani teh herbal dan biskuit coklat.


"Kau baik-baik saja, Princess ? Setelah kejadian tadi ?" Tanya Jordan tiba-tiba. Pria itu menatap lekat Isabel, mencari-cari apakah ada yang salah dengan gadis itu.


Isabel menoleh, dia tersenyum tipis. Tidak. Isabel tidak baik-baik saja. Kejadian di hutan tadi membuatnya syok. Lebih parah lagi Eric harus mengalami hal buruk karena dirinya. Tentu Isabel tidak baik-baik saja.


"Aku masih bisa mengatasinya." Jawab Isabel ambigu. Dia enggan jujur. Kondisi Eric masih lemah. Dia tidak ingin menambah beban pikiran Jordan.


Wajah Jordan menunjukkan penyesalan. Walau bagaimanapun ide berburu itu berasal darinya. "Aku minta maaf. Sebelumnya tidak pernah ada srigala disana. Aku mengajakmu karena kupikir disana aman. Aku sangat menyesal, Princess. Aku takut kau mengalami trauma atau semacamnya."


"Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir padaku. Kita hanya harus fokus pada kesembuhan Eric." Isabel tersenyum simpul, menutupi kelemahannya.


Jordan menghela nafas lega. "Begitu jalan dibuka, aku akan membawanya ke rumah sakit. Walau bagaimanapun, Eric harus tetap dibawa ke dokter yang sesungguhnya."


"Bukankah Nora juga seorang dokter ?"


Jordan tertawa kecil, "Dokter hewan, Princess. Dan kurasa Eric akan mengamuk jika disebut sebagai pasien Nora.


Jawaban Jordan membuat Isabel tergelak. "Kau melukai harga dirinya."


"Ngghh...."


Suara erangan terdengar dari dalam kamar Eric. Jordan dan Isabel saling pandang lalu bangkit secara bersamaan berlari ke kamar Eric.


"Eric..." Isabel duduk di tepi ranjang Eric. Dia melihat dahi Eric penuh keringat. Lalu gadis itu menempelkan punggung tangannya di dahi Eric.


"Dia demam." Ucap Isabel.


Eric tidur dengan gelisah. Dia terus saja mengerang. Sepertinya dia demam akibat luka itu.


"Aku akan mengambil air hangat untuk mengompresnya." Jordan berjalan cepat meninggalkan kamar itu.


Isabel menggenggam erat tangan Eric. Lalu dia menyeka keringat di dahi Eric, mengusap lembut kepalanya, mencoba memberi kenyamanan untuk mengurangi kegelisahannya.


Dan cara itu berhasil. Perlahan Eric mulai tenang. Nafasnya kembali teratur.


Jordan kembali dengan membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Dia meletakkannya di nakas. Dengan telaten Isabel mencelupkan handuk ke dalam air hangat dan memerasnya. Lalu dia meletakkan handuk itu di dahi Eric.


"Aku takut lukanya infeksi." Celetuk Jordan.


"Bukankah sudah diberi antibiotik ?"


"Iya, tapi tetap saja, yang menggigitnya srigala. Air liur srigala bisa saja membawa bakteri atau virus berbahaya." Terdengar nada cemas dalam ucapan Jordan. "Semoga saja srigala itu tidak rabies." Tambahnya.


Kalimat terakhir Jordan membuat Isabel ingin tertawa, tapi tertahan saat dia ingat bagaimana bahayanya penyakit itu.


Otak Isabel baru memikirkan kemungkinan buruk itu. Semoga Eric baik-baik saja.


*****


Eric merasakan ada benda yang menempel di dahinya. Diapun membuka matanya perlahan. Tangan kirinya bergerak mengambil benda di keningnya, yang ternyata sebuah handuk kecil yang hampir kering.


Lalu Eric melihat ke sisi tempat tidurnya. Dia melihat kepala seseorang yang sedang menunduk ditepi kasur.


Isabel.


Semalaman Isabel tidak beranjak dari sisi Eric. Jordan sudah menyuruhnya beristirahat, tapi gadis itu sangat keras kepala. Dia malah menyuruh Jordan mengambilkan sebuah kursi untuk dia pakai duduk di samping ranjang Eric agar dia bisa mengompres dahi Eric dengan nyaman.


Eric melihat Isabel tertidur dengan pulas. Dia menghela nafas. Ketika bangun nanti pasti gadis itu akan merasakan pegal di seluruh tubuhnya.


Tapi itu membuat Eric menyunggingkan sebuah senyuman. Ternyata gadis itu menepati ucapannya. Melihat dahinya yang dikompres, semalam pasti dirinya demam. Dan pasti gadis itu semalaman menjaganya.


Eric menggerakkan tangan kirinya untuk mengusap kepala Isabel. Namun urung ketika Isabel terlebih dulu menggeliat lalu mengangkat wajahnya.


"Kau sudah bangun ?" Isabel menutup mulutnya yang menguap dengan telapak tangan. "Aku pasti ketiduran." Gumamnya. Terlihat jelas raut penyesalan di wajah gadis itu karena tertidur tanpa sengaja.


Isabel memeriksa suhu tubuh Eric dengan menempelkan punggung tangannya di dahi Eric. "Sudah turun." Gumamnya seraya tersenyum lega.


"Aku akan membuatkan sarapan untukmu. Tunggu sebentar ya." Isabel tersenyum manis lalu beranjak meninggalkan kamar Eric.


Isabel keluar dan Jordan masuk. Pria itu mendudukkan tubuhnya di kursi yang ditempati Isabel tadi.


"Sudah lebih baik ?" Tanya Jordan. "Semalam kau demam tinggi. Aku akan membawamu ke rumah sakit saat jalan dibuka. Lukamu butuh penanganan serius." Ucap Jordan.


"Apa dia baik-baik saja ?" Mengabaikan ucapan Jordan yang akan membawanya ke rumah sakit, Eric lebih tertarik mengetahui kondisi Isabel. Kejadian kemarin pasti tidak mudah untuk gadis manja yang tidak pernah bersentuhan langsung dengan alam liar seperti dia.


Jordan menyandarkan punggungnya pada kursi. "Dia tidak pandai berbohong." Jawabnya ambigu.


Sudah Eric duga. Tiadak mungkin dia baik-baik saja. Permintaan untuk merawat dirinya hanya untuk menutupi rasa bersalah.


Eric menggerakkan tubuhnya untuk duduk bersandar pada headboard dengan bantuan Jordan. Eric meringis merasakan lengannya yang seperti terbakar.


Eric menarik nafas dalam-dalam. Ternyata tubuhnya tidak sekuat yang dia kira. Untuk duduk saja dia perlu bantuan. Belum lagi rasa sakit di kepalanya yang tiba-tiba menyerang saat berhasil duduk.


"Dia menjagaku semalaman ?" Tanya Eric setelah sakit di kepalanya reda.


Jordan menghela nafas pelan. "Dia sangat keras kepala. Aku sudah menyuruhnya istirahat, tapi dia tidak mau meninggalkanmu."


"Dia juga bersikeras memasak sendiri makanan untukmu. Dia membuat Gloria memakan gaji buta." Jordan terkekeh dengan kalimat terakhirnya. Gloria adalah asisten rumah tangga Jordan. Dia akan datang pagi hari dan pulang sore hari.


Eric tidak menanggapi. Pria itu justru mengarahkan pandangannya ke jendela. Rupanya matahari sudah naik. Cahaya yang masuk melalui jendela sudah terasa hangat.


Lalu tiba-tiba ponsel Eric berdering. Jordan meraih ponsel yang berada diatas nakas itu dan memberikannya pada Eric.


Panggilan dari Chloe.


"Kau memberitahunya ?" Tanya Eric. Dia tidak ingin Chloe tahu kecelakaan kecil yang menimpanya, karena itu pasti akan membuat Chloe khawatir.


"Aku bahkan lupa menghubunginya." Jawab Jordan jujur.


Eric bernafas lega. Chloe tidak boleh terlalu stres, apalagi kandungannya sedang ada masalah.


Eric menggeser ikon berwarna hijau lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.


"Ada apa ?" Tanya Eric datar. Jangan sampai Chloe curiga.


"Kenapa dari kemarin kau tidak menjawab telponku ?" Selidik Chloe.


"Aku sibuk."


"Dan kenapa Jordan juga tidak bisa dihubungi ?"


"Aku tidak tahu."


Terdengar suara helaan nafas di ujung telpon.


"Apa yang terjadi ?" Tanya Chloe dengan nada lembut. Sejauh ini firasat Chloe selalu benar. Jika terjadi sesuatu dengan kakaknya itu, dia pasti akan merasakannya.


"Tidak ada yang terjadi, sister." Jawab Eric yang mulai kesal karena tebakan Chloe selalu benar.


"Jangan membohongiku, Eric."


Eric diam. Rasanya percuma juga berbohong. Dan Eric lebih memilih diam sebagai jawaban.


"Aku akan kesana dan memastikannya sendiri."


"Ada kecelakaan kecil." Ucap Eric. Dia tidak ingin Chloe datang jauh-jauh ke Amytville dengan kondisinya sekarang.


"Sudah kuduga." Terdengar desahan nafas Chloe lagi. "Lain kali hati-hati. Aku hanya punya kau dan Jordan. Aku tidak ingin kehilangan lagi."


"Aku tahu." Balas Eric.


"Aku menyayangimu, Eric."


"Hmmm."


"Aku membuat bubur gandum dan kacang merah untukmu. Kuharap kau suka." Tiba-tiba Isabel masuk dengan suara lantang. Langkahnya terhenti saat mengetahui kalau Eric sedang menelpon seseorang. Dia melihat pada Eric dan Jordan secara bergantian. Isabel merasa tidak enak. Pasti lawan bicara Eric mendengar suaranya.


"Apa itu Gloria ?" Tanya Chloe.


"Aku tutup telponnya." Eric memutuskan sambungan telpon sepihak lalu melempar ponselnya ke kasur.


Lalu dia beralih pada Isabel yang berdiri mematung di belakang Jordan.


"Aku akan memakannya." Eric mengulurkan tangan.


Jordan menggeser kursi yang dia duduki. Memberi ruang untuk Isabel mendekat.


Dengan tersenyum kaku, Isabel pun mendekat. Lalu dia duduk di tepi ranjang Eric.


"Bisa membantuku ?" Tanya Eric sambil melirik tangan kanannya yang terbungkus perban.


"Oh, ya. Tentu saja." Isabel mulai menyuapi Eric dengan perlahan.


Jordan beranjak, dia menepuk bahu Isabel. "Pastikan dia menghabiskan makanannya dan minum obat. Aku akan memeriksa apakah jalannya sudah dibuka." Katanya sebelum meninggalkan Eric bersama Isabel.


*


*


*


*


*


*


*


tbc.