
This is crazy !
Ucapan Eric benar-benar mengganggu pikiran Isabel. Cinta ? Isabel berulang kali meyakinkan dirinya jika ucapan Eric dan perlakuannya waktu itu hanyalah bentuk rasa jengahnya pada Mike.
Tapi sekeras apapun Isabel meyakinkan dirinya, kata-kata itu semakin menusuk jantungnya.
Oh, God ! Isabel lebih memilih Eric yang dulu membencinya daripada Eric yang seperti waktu itu. Akan lebih mudah bagi Isabel untuk menyikapi tindakan Eric.
Bahkan ini sudah 3 hari sejak kejadian yang memporak porandakan hati Isabel. Tapi hingga detik ini, gadis itu belum juga menemukan jawaban yang tepat tentang sikap Eric yang tiba-tiba saja begitu manis.
Dan selama tiga hari ini, dia juga sama sekali tidak mendengar kabar apapun dari Eric.
Hello ! Memangnya kabar seperti apa yang Isabel harapkan ?
Kabar bahwa ternyata Eric hanya bercanda dengan ucapannya ? Bahwa Eric hanya ingin memprovokasi kakaknya ?
Tapi, jika memang kabar seperti itu yang akan dia dapatkan, kenapa ada bagian kecil dari hati Isabel yang terasa sakit ?
Apa sebenarnya Isabel berharap ucapan Eric itu sungguh-sungguh ? Jika iya, lantas apa yang akan dia lakukan ?
"Aarrghhh...!!!" Isabel menjambak gemas rambutnya sendiri.
"Kenapa kau selalu saja menyebalkan !" Teriaknya sambil membenamkan wajah dalam bantal.
Ya, Isabel mengurung diri dalam kamar selama tiga hari ini. Dia hanya keluar untuk kuliah dan setelah itu dia akan mengunci diri dalam kamar.
Apalagi kalau bukan karena menghindari bertemu dengan kakaknya yang menjadi sangat menyebalkan akhir-akhir ini.
Well, kabar baiknya Taylor tidak jadi dipecat. Isabel tahu kakaknya bukan tipe orang yang tega melihat orang lain kesusahan. Kecuali adiknya, mungkin. Tapi setidaknya hal itu bisa mengurangi rasa bersalah Isabel terhadap Taylor.
Suara ketukan pintu membuat Isabel memaksa kakinya untuk melangkah ke arah sumber suara.
"Sayang," Suara merdu Emma terdengar dibarengi senyum hangat saat Isabel membuka pintu kamarnya.
Meski malas, Isabel membalas senyum wanita itu. Dan hasilnya, bukan senyuman yang terlihat, tapi hanya bibir yang tertarik ke samping membentuk sebuah garis lurus.
"Ada yang ingin bertemu denganmu dibawah." Kata Emma lembut. Tapi yang diajak bicara hanya menahan untuk tidak mendengus dan memutar mata dengan alasan sopan santun. Isabel sedang malas bertemu siapapun. Paling juga yang datang Alice.
"Bilang saja aku sedang tidur, Mom," Kata Isabel yang tidak bisa menyembunyikan nada malasnya.
Emma menaikkan sebelah alisnya. Yang dia tahu, Isabel mengunci diri di dalam kamar karena sedang bertengkar dengan Mike, tanpa tahu alasan yang sebenarnya.
Tapi, melihat siapa yang datang mencari Isabel, Emma yakin anak gadisnya itu akan berubah pikiran untuk mengunci diri dalam kamar lagi.
"Dia bilang, dia ingin minta maaf karena sudah membuat kau dan kakakmu salah paham." Terang Emma.
Isabel yang tadinya sama sekali tidak bersemangat, seketika membulatkan matanya penasaran. Minta maaf ? Salah paham ? Siapa ? Eric ? Tidak mungkin ! Eric tidak mungkin datang ke rumahnya. Lagipula Eric tidak tahu dimana letak rumah Isabel. Dan pria semacam Eric.....pokoknya tidak mungkin itu dirinya !
"Siapa, Mom ?" Tanya Isabel sambil menahan rasa penasaran sekaligus deg-degan. Dia tidak ingin Emma terang-terangan melihat kegelisahannya.
Emma tampak berpikir. "Sebenarnya dia mencari kakakmu. Tapi karena kakakmu belum pulang, dia menanyakanmu." Jawab Emma yang lebih mirip pemberitahuan.
"Name." Desak Isabel.
Sekali lagi Emma terlihat berpikir. Usia yang sudah menginjak kepala lima, biasanya tidak berpengaruh dalam daya ingatnya. Tapi untuk kali ini, sepertinya Emma ingin membuat anak gadisnya semakin penasaran.
Tidak sabar menunggu jawaban Emma, Isabel bergegas keluar dari kamar dan setengah berlari menuju puncak anak tangga.
Begitu sampai di ujung anak tangga, Isabel berjongkok. Dari tempatnya itu memang dia bisa melihat ke ruang tamu yang dipisahkan oleh ruang keluarga, meskipun hanya terbatas.
Namun sialnya, sosok orang yang mencarinya tidak terlihat dari tempatnya berjongkok saat ini.
"Rick ? Aldric ? Alaric ?" Emma bergumam sambil berjalan melewati Isabel yang masih berjongkok mengintip ke ruang tamu.
Rick ? Aldric ? Alaric ? Isabel tidak mengenal satupun dari nama-nama itu.
Emma senyum-senyum sendiri, gemas melihat tingkah anak gadisnya.
Setapak demi setapak Emma mulai menuruni anak tangga. Isabel di belakang mengikutinya perlahan.
"Aku tidak kenal nama-nama itu, Mom." Tutur Isabel yang masih penasaran.
"Mungkin teman kerja kakakmu. Dia terlihat seumuran dengan Mike." Tukas Emma tanpa menoleh. Dia tetap berjalan dengan anggun menuruni anak tangga. "He looks charming." Tambahnya setengah berbisik dan sedikit menoleh ke belakang dimana Isabel berjalan dengan perasaan was-was.
Langkah kaki Isabel terhenti sejenak. Jantungnya tiba-tiba berparade. Rick ? Aldric ? Alaric ? 80% otak Isabel mengatakan kalau nama yang ingin diucapkan Emma adalah Eric. Tapi 20% sisanya berusaha menyangkal dengan logika yang membuat nama Eric tercoret begitu saja dari segala kemungkinan yang ada.
Isabel menggeleng, lantas kembali mengikuti langkah Emma.
Setiap anak tangga yang Isabel tapaki, membuat jantung Isabel berdetak lebih cepat. Hingga akhirnya dia sampai di anak tangga terbawah. Menyusuri ruang keluarga yang cukup luas, sampai saat Isabel melihat sesosok pria dengan kaos casual abu-abu duduk di sofa suede berwarna putih gading dengan posisi membelakanginya.
Perfect ! Isabel baru saja mendapat serangan jantung. Aliran darahnya seakan berhenti saat itu juga. Sendi-sendinya terasa lunglai, mengetahui fakta bahwa pria yang duduk di ruang tamu rumahnya saat ini adalah Eric.
Apa yang dilakukan pria itu di rumahnya ? Apa dia sudah gila ? Apa jadinya kalau tiba-tiba Mike pulang dan melihat Eric duduk santai di ruang tamunya sambil menyesap teh hangat ? Kiamat untuk Isabel !
"Mom," Isabel menarik pelan tangan Emma saat sampai di tengah-tengah ruang keluarga.
Emma menoleh, lantas mengernyit. Tanpa perlu mengeluarkan suara, Isabel sudah tahu jika wanita paruh baya itu menunggu penjelasannya.
Eh ? Tidak ! Isabel ingin mengenal Eric, tapi tidak dengan keadaan rumit seperti sekarang ini dimana kehadiran Eric menjadi momok tersendiri untuknya.
Emma memiringkan badannya lalu menggenggam tangan kecil Isabel yang terasa sangat dingin di kulit lembutnya.
Senyum hangat yang menenangkan kembali terukir di wajah cantik wanita itu. "Is anything wrong ?"
Isabel menggeleng lemah, tapi sorot matanya menunjukkan kekhawatiran yang begitu besar.
"Maka kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun." Kata Emma menenangkan. Emma memiringkan kepalanya ke arah ruang tamu, mengajak Isabel melanjutkan langkah tanpa melepas tautan tangannya.
"Maaf membuatmu terlalu lama menunggu, Mr. Michaels." Kata Emma saat sudah sampai di ruang tamu.
Eric menoleh, lalu tersenyum cerah melihat kedatangan Emma bersama putrinya. Tapi tidak dengan Isabel, gadis itu justru terlihat sangat pucat dan gelisah.
Bukan karena tidak suka dengan kedatangan Eric di rumahnya. Meski sangat mengejutkan, tapi Isabel senang. Tapi, apa Emma sudah tahu permasalahan antara mereka dengan Mike ?
"Tidak apa, Mrs. Bennings. Tehnya sangat enak." Kata Eric sambil mengangkat cangkir tehnya untuk basa-basi.
Emma duduk di sofa terpisah di sebelah kanan Eric. Isabel duduk di sebelah Emma sambil menundukkan wajah. Dan dia tidak menyapa Eric !
"Kenapa tidak menyapa tamu kita, Sayang ?" Tanya Emma lembut.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Isabel seperti baru saja kembali dari dimensi lain. Dia mengangkat wajah, tersenyum kaku pada Eric lalu menyapa, "Hai."
Hai ? Ya, hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Isabel. Lidahnya sudah kaku sejak dia tahu Eric duduk manis di ruang tamunya.
Tapi tidak dengan Eric. Pria itu terlihat santai dan seperti tanpa beban sudah datang ke kandang macan.
Ya Tuhan ! Isabel tak henti merapalkan doa supaya Mike atau Jhon tidak muncul saat Eric masih berada disana.
"Hai, bagaimana kabarmu ?" Tanya Eric.
Bahkan disaat seperti ini dia masih bisa bertanya kabar. Andai saja Eric tahu, Isabel ketakutan setengah mati dengan kehadirannya di sana.
"B-baik." Jawab Isabel.
Eric menarik bibir kebawah dan sedikit menggerakkan kepalanya. Tanda kalau dia tidak akan bertanya lebih.
Emma menepuk pelan punggung tangan Isabel, tapi tatapannya mengarah pada Eric. "Aku bisa meninggalkan kalian berdua untuk mengobrol. Sepertinya banyak yang perlu kalian bicarakan." Kata Emma.
Secepat kilat Isabel menoleh pada Emma. Apa dia tidak salah dengar ? Emma memberinya ijin mengobrol berdua dengan Eric ?
Belum juga Isabel selesai dengan keterkejutannya, Eric sudah lebih dulu angkat bicara yang....percayalah, itu membuat Isabel ingin menyusut menjadi partikel kecil yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop.
"Sebenarnya, Mrs. Bennings. Saya ingin mengajak putri Anda makan malam diluar. Itu jika Anda mengijinkan." Katanya dengan senyum yang...oh...kenapa begitu manis ?
Dengan gerakan elegan Emma menoleh pada Isabel. Jangan lupakan bibirnya yang sedikit terbuka, melihat keberanian anak muda di depannya untuk mengajak putrinya keluar.
Bagaimana dengan Isabel ? Dia hampir mati karena gagal jantung ! Darahnya baru saja berhenti mengalir. Eric meminta ijin pada ibunya untuk mengajaknya makan malam ? Padahal ini masih pukul 4 sore. Lantas berapa banyak waktu yang akan mereka habiskan bersama sebelum makan malam ?
Apa Eric sedang meminta ijin untuk mengajaknya berkencan ? Oh, siapa saja tolong ambilkan seember air dan siramkan ke kepala Isabel. Agar kalau ini hanya mimpi dia segera terbangun.
"Makan malam ?" Gumam Emma yang terdengar cukup jelas di telinga Eric dan Isabel. Dia terlihat berpikir lagi. Menimbang-nimbang akan sesuatu. Mungkin dia sedang memikirkan apa reaksi suami dan anak laki-lakinya jika tiba-tiba ada pria yang mengajak putri kesayangannya berkencan.
Beberapa kali wanita itu mengusap lembut punggung tangan Isabel, seperti sedang bertanya 'apa kau sedang berkencan dengannya ?' tanpa bersuara.
Sulit membaca ekspresi Emma saat ini. Jujur Isabel takut Emma akan bereaksi keras seperti Mike. Bagaimana seorang pria yang baru sekali datang kerumahnya, tiba-tiba meminta ijin untuk membawa putrinya keluar. Pasti tidak mudah memberikan kepercayaan pada Eric.
Dilihat dari luar, Eric terlihat sangat percaya diri. Kata-katanya begitu tegas dan meyakinkan. Dia juga terlihat sangat sopan. Tapi siapa sangka kalau di dalam hatinya dia juga sedang berdoa semoga 'si macan' penjaga Isabel tidak muncul disaat yang tidak tepat.
Semoga saja !
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Kasih ijin nggak ya ? Ini bang Eric berani minta ijin sama ibu macan lho.....keren kan dia. Ngajak kencan tapi ijinnya sama ibunya.
Coba kalau kalimat bang Eric diganti jadi "Saya ingin menikahi putri Anda". Apa Isabel akan mati kaku ditempatnya ?
Hahhaha....tidak secepat itu juga kaleee...!
See you next part, Love.