100 Days

100 Days
Disappear



~ERIC~


Saat aku sampai di rumah Chloe, adikku itu langsung menyambut di depan pintu. Sebenarnya aku kasihan padanya. Aiden benar-benar kurang ajar. Tidak cukupkah dia menghamili Chloe hingga lahir anak selucu Anna? Lihat saja sekarang! Adikku kepayahan berjalan ke arahku sambil memegangi perutnya yang sudah besar.


"Eric, aku sangat merindukanmu," katanya saat sudah bisa menjangkauku. Dia memelukku erat. Dua bulan tidak bertemu dan kurasakan perutnya semakin mengganjal saat memelukku.


"Aku juga merindukanmu, Sister," kataku. Aku memegang bahu Chloe lantas sedikit menjauhkannya dariku. Aku berdecak melihat hasil perbuatan Aiden. "Aku menyesal menikahkanmu dengan keparat Muller. Lihatlah apa yang dia lakukan padamu!"


Chloe terkekeh. "Dia suamiku, Eric. Ayah dari keponakanmu. Adik iparmu. Dan ini ...." Chloe menunjuk perut besarnya, "ini adalah calon keponakan lucumu yang lain," lanjutnya.


"Tetap saja aku tidak suka," kataku.


Chloe semakin terbahak-bahak. "Ayo kita masuk. Anna sudah menanyakanmu sejak pagi." Chloe berjalan lebih dulu dariku.


Aku tersenyum melihat Chloe yang terlihat kelelahan berjalan dengan perut sebesar itu. Kuhela nafasku saat tiba-tiba aku merasa sesak. Apakah dulu dia juga merasakan hal yang sama seperti Chloe? Andai dulu aku lebih peka. Rasa sesal menyergapku. Aku ingin mengulang hari-hari itu. Aku ingin bisa mengusap perutnya dan berbicara dengan yang ada di dalam sana. Aku ingin membisikkan banyak kata cinta untuk mereka.


"Eric!" Pikiranku teralih oleh seruan Chloe. Aku tersenyum dan segera melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah.


Saat aku masuk, kulihat keponakan kecilku sedang bermain puzzle dengan Muller si penebar benih.


"Look who's coming, Anna!" seru Chloe.


Anna menoleh ke arah kami. Begitu melihatku, senyum secerah mentari pagi langsung mengembang di wajah cantiknya. Anna-ku langsung berlari menyambutku dengan dua tangan merentang.


"Uncle ... uncle!" Aku berjongkok dan langsungĀ  mengangkat tubuh kecil Anna. Dia terbahak-bahak menampilkan gigi-gigi mungil putihnya saat aku memutar tubuhnya di udara. Setelah puas, aku mendekapnya dalam gendonganku dan memberinya banyak ciuman di wajah. Aku gemas sekali dengan pipi bulat itu.


"Barbie?" tanya Anna dengan suara cadelnya. Aku tertawa. Setiap aku datang dia selalu menanyakan itu.


"Tidak, Sayang. Koleksi barbie-mu sudah terlalu banyak," kata Chloe.


"Ambil di mobil uncle bersama nanny," kataku sambil menurunkan Anna. Gadis kecil itu langsung bersorak gembira dan menyeret nanny-nya keluar untuk mengambil barbie yang aku beli sebelum datang kesini.


"Apa kabar, Kakak Ipar?" Aiden berjalan mendekat padaku lalu memeluk dengan menepuk punggungku.


"Tidak seberengsek dirimu yang membuat adikku menderita dengan menghamilinya lagi," jawabku sekenanya.


"Adikmu adalah istriku. Apa ada yang salah dengan menghamilinya?"


"Salah, karena kau membuatnya menderita. Lihat saja dia. Untuk berjalan saja dia kepayahan seperti itu. Dan dia jadi sangat cerewet," kataku dengan memelankan suara di akhir kalimatku.


"Eric!" Chloe memukul lenganku.


Aiden tertawa. "Aku akan memberimu 11 keponakan lucu lagi, Kakak Ipar," kata Aiden. Dia melirik pada Chloe sebentar lalu berkata, "Tapi kau benar tentang dia yang jadi super cerewet," lanjut Aiden setengah berbisik.


"Aiden!" Lagi-lagi Chloe memekik. Kali ini lengan Aiden yang menjadi sasarannya.


"Aku tidak percaya kalian bisa sekompak ini untuk mengolok-olokku. Dan kau Aiden, kau pikir hamil itu perkara mudah? Aku harus berjuang melawan rasa lelah, sakit pinggang, mual, pusing, dan banyak lagi ketidaknyamanan yang kurasakan. Kalau kau mau sebelas anak lagi, kau hamil saja sendiri!"


Sudah kubilang Chloe sangat cerewet sejak hamil anak keduanya. Dia juga pemarah. Tapi aku senang mereka bisa hidup bahagia dengan keluarga kecil yang begitu harmonis. Dulu kukira masa depan Chloe telah hancur ditangan Aiden, tapi aku salah. Mereka berhasil melewati masa-masa sulit itu dan hidup bahagia sekarang. Aiden membawa kebahagiaan tersendiri untuk adikku.


Aku tersenyum melihat perdebatan mereka. Dulu aku juga pernah memiliki mimpi untuk punya 11 anak dengan orang yang kucintai. Namun sayangnya, calon anak pertama kami harus meregang nyawa ditanganku. Kini semua itu hanya menjadi mimpi masa lalu. Mimpi yang tidak akan pernah bisa kugapai.


"Eric," Aku berpaling saat merasakan sentuhan lembut di lenganku. Kulihat Chloe menatapku dengan tatapan bersalah. Aku tersenyum sambil mengusap tangan Chloe yang ada di lenganku.


"Aku butuh sedikit bantuanmu dengan sistem keamanan di rumah ini," kata Aiden. Aku tahu dia hanya ingin mencairkan suasana. Tapi aku tetap mengangguk dan mengikutinya ke ruang keamanan yang berada di lantai dua.


Setelah kuperiksa, sama sekali tidak ada masalah dengam sistem keamanan di rumah ini. Hanya kamera di bagian samping rumah yang mati. Itupun bukan masalah serius, hanya karena memang sengaja dimatikan. Kurasa aku tahu siapa pelakunya. Aku hanya pura-pura tidak tahu saja.


Seharian aku berada di rumah ini. Anna kecilku bahkan sampai kelelahan setelah bermain denganku. Dan sekarang, aku harus segera kembali. Melanjutkan membuat kolase di apartemen sederhanaku.


"Menginaplah disini. Bayiku masih merindukan pamannya." Chloe mencoba menahanku.


"Aku masih ada urusan lain. Aku akan kesini lagi lain waktu," kataku.


"Berjanjilah kau tidak akan menghilang lagi. Aku sangat mengkhawatirkanmu, Eric."


"Aku tidak menghilang. Ada urusan penting yang harus kuselesaikan," kilahku.


"Tapi kau sama sekali tidak bisa dihubungi, Eric. Apa kau senang membuat ibu hamil stres?"


Langkahku terhenti saat sebuah mobil mendekat. Seseorang keluar dari mobil itu. Jordan.


Dia menatap tajam padaku. Sampai hari ini hubungan kami belum membaik. Kehilangan orang yang kucintai telah mengajarkanku banyak hal. Terutama untuk menahan diri dari ledakan emosi yang dulu sering kurasakan. Sampai detik ini aku masih bisa bersabar menghadapi sikap dingin Jordan padaku. Tapi itu hanya sampai detik ini. Karena sekarang aku harus menanyakan sesuatu padanya. Sesuatu yang harusnya kutanyakan sejak dulu.


Aku berjalan ke arahnya. Aku tidak peduli pada sikapnya yang seolah tidak menganggapku ada.


"Katakan dimana dia!" Aku menghadangnya yang berjalan tanpa melihatku.


Jordan melirikku sekilas tapi tidak berniat menjawabku. Aku yakin dia paham siapa yang kumaksud.


Aku menarik kerahnya dan kudorong dia hingga punggungnya membentur badan mobilku.


"Eric, hentikan!" Chloe meneriakiku.


"Katakan, Jordan! Dimana dia?" desakku.


"Aku tidak tahu," jawab Jordan santai.


"Aku melihatnya, Jordan! Aku tahu kau yang membantu menyembunyikannya dariku. Katakan padaku dimana dia?"


"Jika kau melihatnya, kenapa kau masih bertanya padaku?"


Aku mengetatkan rahangku. Aku ingin sekali menghajar Jordan. Tapi aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang pernah kubuat.


"Aku melihatnya. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin meminta maaf padanya!"


"Katakan itu pada keluarganya," kata Jordan dengan suara datar.


"Aku tidak bisa!" Andai aku bisa menemui keluarganya. Aku bersedia mencium kaki mereka untuk bisa bertemu dengannya. Aku akan melakukan apapun yang mereka minta asal aku bisa meminta maaf padanya. Tapi aku tidak bisa. Mereka tidak memberiku kesempatan sama sekali.


"Kumohon katakan padaku dimana dia. I need to see her." Aku memelas pada Jordan.


"Terkadang, beberapa hal tidak bisa diselesaikan hanya dengan meminta maaf."


Aku melepaskan kuncianku pada Jordan. Dia benar. Apa yang telah kulakukan tidak bisa selesai hanya dengan kata maaf. Aku tahu itu.


"Satu kesempatan. Dan aku tidak akan pernah mengusiknya lagi. Aku akan menghilang. Aku akan merelakannya. Kumohon katakan padaku, dimana dia."


"Sama sepertimu. Aku juga tidak tahu dia dimana."


"Bohong! Aku tahu kau berbohong! Kau hanya tidak ingin aku bertemu dengannya! Aku yakin kau tahu dimana dia, keparat!" Tidak mungkin Jordan tidak tahu.


"Aku tidak bohong!"


"Kau pembohong! Katakan dimana dia!" Aku mengunci Jordan dengan sikuku. Aku mati-matian menahan diri untuk tidak memukulnya.


"She doesn't want to be found!"


Kuncianku melemah. Aku menelan ludah. Benarkah yang diucapkan Jordan? Dia yang tidak ingin ditemukan? Aku memejamkan mataku. Luka yang aku berikan padanya pasti sangat dalam hingga dia tidak ingin bertemu denganku lagi. Selama ini aku masih berharap cinta kami tidak pernah luntur. Dan aku mengira keluarganya sengaja menjauhkannya dariku. Tapi yang dikatakan Jordan ... apa itu berarti dia sudah tidak mencintaiku lagi?


Tuhan! Beri aku satu kesempatan lagi untuk bertemu dengannya. Aku hanya ingin meminta maaf padanya.


*


*


*


*


*


tbc.


See you next part, Love.