
Seperti janji Eric, besoknya pria itu kembali menyambangi sang kekasih. Masalah harus di selesaikan, bukan dihindari. Dan di jalan setapak inilah dia berakhir.
Jika biasanya Isabel mengajaknya menghabiskan waktu di taman belakang, kali ini Isabel membawanya berjalan menyusuri jalan setapak menuju gazebo di lahan keluarganya.
"Apa kau sudah memaafkanku ?" Tanya Eric. Dia berjalan di sisi Isabel yang masih menyimpan rapat suaranya.
Isabel tidak menjawab. Dia hanya melirik sekilas pada Eric tanpa mempedulikan pertanyaannya. Seakan suara gemerisik daun yang saling bergesekan tertiup angin terdengar lebih menarik untuk di dengar. Dia lebih suka menghirup udara pagi yang terasa begitu sejuk di bawah pohon-pohon rindang yang mengelilingi lahan luas milik keluarganya itu.
Eric menghela nafas pelan. Sabar ! Kemarahan Isabel bisa dia maklumi. Andai dia berada di posisi Isabel, dia pasti juga akan marah. Tapi sialnya, hal itu baru terpikirkan olehnya sekarang. Disaat kekasihnya sedang marah seperti saat ini.
Diam sepertinya lebih baik. Dia tidak ingin membuat Isabel semakin marah. Tidak diusir saja, itu sudah sangat bagus. Berarti memang Isabel ingin menyelesaikan pertengkaran kecil ini dengan berbicara. Hanya saja, Eric harus lebih bersabar menghadapi kekasihnya itu.
Langkah Isabel berhenti di sebuah gazebo berbentuk lingkaran yang di sekelilingnya terdapat berbagai macam bunga dalam pot yang tertata rapi. Baik itu yang di bawah ataupun yang digantung. Semuanya ditata dengan teratur sesuai warnanya, membuat gazebo itu terlihat sangat cantik.
Andai saja Chloe ada disini, dia pasti tidak akan bisa berhenti tersenyum memandangi keindahan alam seperti ini.
Ah, Chloe.....mengingat nama itu, Eric jadi merindukan adiknya. Sebentar lagi dia akan menjadi seorang paman. Menurut hasil USG, bayi dalam kandungan Chloe yang akan lahir sekitar satu bulan lagi itu adalah perempuan. Pasti sangat lucu. Membayangkan gadis kecil berlarian mengejar kupu-kupu, membuat Eric tersenyum sendiri.
Bagaimana nanti jika dia memiliki anak sendiri dengan Isabel ? Berapa anak yang akan dia miliki ? Pasti semuanya lucu-lucu. Dia membayangkan memiliki sebelas anak yang menggemaskan. Pasti rumahnya tidak akan sepi lagi.
Tanpa sadar suara kekehan Eric keluar begitu saja, membuat Isabel yang duduk di gazebo mengernyit bingung.
"Apa yang kau tertawakan ?" Tanyanya ketus.
Eric gelagapan. Dia menggaruk tengkuknya salah tingkah. Pasti dia terlihat sangat bodoh tadi. Ingin menjawab jujur, tapi gadis yang dia harapkan jadi ibu dari anak-anaknya sedang merajuk. Jadilah Eric hanya menjawabnya dengan cengiran tanpa dosa.
Eric mengambil posisi duduk di sebelah Isabel. Dia segera mengenyahkan pikiran konyol yang tadi menyita perhatiannya. Karena tujuannya kesini adalah untuk menjelaskan kepada Isabel tentang Elena.
"Apa kau masih marah padaku ?" Tanya Eric.
Isabel mendesah lelah. Dia sebenarnya tidak ingin marah. Tapi keputusan Eric yang merahasiakan keterlibatan Elena membuatnya kecewa.
"Apa kau masih peduli padanya ?" Isabel balik bertanya. Ada rasa takut saat dia bertanya seperti itu. Dia takut mendapat jawaban yang tidak ingin dia dengar.
Eric setengah memutar posisi duduknya hingga menghadap Isabel. Dia meraih tangan Isabel dan menggenggamnya. Kali ini Isabel tidak menepis tangan Eric. "Aku membencinya. Kalau kau tanya apa aku masih peduli padanya, jawabannya tidak. Apa yang dia lakukan kepadamu sudah sangat keterlaluan. Aku tidak bisa memaafkannya." Jawab Eric dengan yakin.
Isabel menoleh, menatap pedih pada Eric. "Lantas mengapa kalian tidak melaporkannya ? Mengapa justru kalian menutupinya ?" Tuntut Isabel. Hatinya masih terasa perih saat mengingat keterlibatan Elena yang sengaja mereka tutupi.
"Jordan menghapus bukti keterlibatan wanita itu." Aku Eric. Dia harus jujur untuk mendapatkan maaf dari Isabel.
"Jordan ?" Isabel terkejut, tidak habis pikir. Kenapa Jordan melakukannya ?
"Ya." Eric mengangguk.
"Untuk apa dia melakukannya ?"
Eric mengedikkan bahu. Jordan bilang dia punya alasan kenapa harus menghapus rekaman itu. Eric berharap alasannya bukan karena Jordan masih mencintai Elena. Karena Jordan terlalu baik untuk bersama dengan wanita licik seperti itu. "Apapun alasannya melakukan itu, aku akan tetap mencari bukti baru yang akan mengaitkannya dengan kasus ini." Jawab Eric serius.
"Apa Jordan mencintainya ?" Tanya Isabel yang membuat Eric terhenyak.
Eric menarik nafas dalam sambil memejamkan mata sejenak. "Dulu. Kuharap sekarang perasaan itu sudah tidak ada lagi. Karena wanita itu sama sekali tidak pantas untuk dicintai."
"Dulu ?" Isabel manatap Eric menuntut penjelasan. Dia merasa ada cerita menarik dalam persahabatan mereka bertiga. Mungkin bukan persahabatan saja hubungan yang terjalin diantara mereka, tapi cinta segitiga.
"Ya." Eric melepaskan pegangan tangannya pada Isabel. Dia beringsut mundur lalu bersandar pada tiang gazebo. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis dengan pandangan menerawang jauh ke depan.
Eric kembali mengarahkan pandangan pada Isabel. "Dia sangat mencintai Elena. Bahkan jauh sebelum diriku." Eric menghela nafas, kembali menatap ke antah berantah yang seolah memutar rekaman memori lama. "Dia tidak ingin membuat persahabatan kami hancur. Mungkin tepatnya, dia tidak ingin aku merasa diabaikan." Eric tersenyum miris. "Karena jika mereka bersama, aku pasti akan merasa sendirian. Lagi. Tapi dengan bodohnya aku malah jatuh cinta pada Elena dan ternyata perasaanku berbalas. Tanpa memikirkan Jordan, aku dan Elena mulai berhubungan. Hh...aku adalah adik terbodoh di seluruh dunia." Eric menatap lekat pada Isabel. "Aku benar-benar menghancurkan hatinya, Bells. Dan aku menyesal. Karena aku baru mengetahuinya setelah aku dan Elena berhubungan selama 5 tahun. Dan saat itu, aku sudah jatuh terlalu dalam pada perasaanku. Pilihanku sama-sama sulit. Jordan mengatakan padaku jika perasaannya pada Elena sudah pupus sejak lama. Tapi aku tidak percaya. Cinta Jordan pada Elena sangat tulus, tidak mungkin bisa hilang begitu saja. Hingga dia berhasil menekanku, jika aku masih ingin bersaudara dengannya, aku tidak boleh meninggalkan Elena. Aku sudah mengambil kebahagiaannya, Bells. Aku tidak bisa lagi kehilangan saudara seperti dia."
"Dan sekarang ?" Tanya Isabel.
Eric mendesah kasar. Dia mengerutkan alisnya sambil membuang pandangan ke samping. "Dengan yang dia lakukan untuk wanita itu.....mungkin masih." Jawab Eric. "Entahlah....aku harap dia tidak tertipu oleh kelicikan wanita itu." Eric menelan ludah, wajahnya menyiratkan kesedihan. Dia tidak ingin Jordan terpuruk dalam perasaan yang bisa menghancurkannya. Elena terlalu licik untuk dia percaya lagi.
Sedikit banyak Isabel bisa mengerti rasanya berada di posisi Jordan. Mungkin benar jika sampai detik ini Jordan masih mencintai Elena. Dan siapa yang bisa menyalahkan cinta ? Karena kita tidak pernah tahu pada siapa hati kita akan menurunkan jangkar.
Isabel menggeser duduknya, kini dia duduk di sebelah Eric, bersandar pada pembatas. Dia menoleh, menatap Eric. "Kalau begitu, bantu dia. Bantu saudaramu menemukan cinta yang pantas dia dapatkan." Kata Isabel.
Eric tertawa kecil. "Dengan mulut manisnya itu, dia tidak butuh bantuanku untuk mencari cinta yang lain. Tapi, semudah apapun, jika hatinya tidak menginginkan, dia tidak akan mendapatkan apa-apa."
Senyum Isabel mengembang, dia teringat rayuan-rayuan Jordan yang sering dilontarkan padanya. Memang benar, kata-kata yang keluar dari mulut Jordan itu sangat manis. Bukan hanya kata-katanya, sikap Jordan juga sangat manis dan perhatian. Jika Isabel belum mengenal Jordan dengan baik, dia pasti akan mengira jika Jordan tertarik padanya.
Senyum Isabel tidak luput dari pandangan Eric. Tentu saja hal itu tidak dia sia-siakan. Eric mengangkat tangan kanannya, merengkuh bahu Isabel hingga gadis itu bersandar di bahunya.
"Jadi....aku sudah dimaafkan ?" Bisik Eric sambil mencium puncak kepala Isabel.
Senyum Eric pun semakin lebar. Dia mengeratkan pelukannya pada Isabel. Gadisnya telah kembali. Memang kejujuran adalah yang terbaik meskipun terasa pahit.
"So.....kapan kita akan menyebar undangan pernikahan ?" Tanya Eric tiba-tiba.
Refleks Isabel menjauhkan kepalanya dari dada Eric. Saat dia menatap wajah pria itu, yang dia dapat adalah senyum menyeringai jahil yang sangat menyebalkan.
Melihat wajah seperti itu, Isabel melotot kesal lantas memukul dada Eric dengan kepalan tangannya.
"Apa ?" Eric menangkap tangan Isabel. "Kau sendiri yang mengatakannya, kan ?" Eric mengangkat sebelah alis dan tersenyum miring.
Wajah Isabel sudah semerah tomat sekarang. Dia malu. Entahlah, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Dia juga tidak tahu, diantara jutaan bahkan milyaran kalimat di dunia ini, kenapa justru kalimat itu yang terucap dari bibirnya.
"Wajahmu merah, Bells." Goda Eric. Dan itu membuat wajah Isabel semakin merah. Rasa panas menjalar dari wajah hingga sekujur tubuhnya.
Tawa Eric pun pecah. Lalu dia menarik tubuh Isabel dalam pelukannya. Dia menciumi kepala Isabel dengan sayang.
"Apa sebegitu inginnya kau untuk menikah ?" Tanya Isabel lirih sambil menyembunyikan wajah merahnya di dada Eric.
"Tentu aku ingin menikah." Eric menundukkan kepala, dia menarik dagu Isabel agar gadis itu menatapnya. "Tapi aku tidak akan memaksamu. Aku akan menunggu hingga kau bilang 'yes I do' seperti yang kau katakan beberapa waktu lalu." Ujar Eric.
Kedua iris biru Isabel menatap dalam pada mata Eric. Ya, dia melihat kesungguhan di dalam sana. Dia melihat ketulusan dan cinta yang begitu besar. Isabel semakin yakin jika Eric adalah pria yang tepat untuknya. Pria yang bisa membuatnya bahagia. Pria yang akan selalu setia menemaninya hingga hari tua.
"Where is my ring ?" Bibir Isabel berucap lirih. Kedua matanya tak lepas dari mata Eric.
Eric mengerjap pelan. Bibirnya sedikit membuka, mendengar pertanyaan Isabel. Telinganya terus mendengungkan kalimat yang sama berulang-ulang. Dia menatap mata teduh Isabel dengan begitu dalam. Jantungnya seolah berhianat ingin keluar dari rongga dada. Apa dia tidak salah dengar ? Apa itu artinya Isabel bersedia menikah dengannya ?
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Ciye...........ada yang lagi berbunga-bunga nih.
eh iya mau promo dulu nih. berhubung 100 days sebentar lagi bakalan ketemu ending, aku ada cerita baru lagi. masih tentang keluarga Bennings kok. seperti yang beberapa waktu lalu aku infoin. cerita baruku itu tentang si kecil Liam yang gemeshinnya minta ampun.
judulnya CREEPY BLIND SPOT
Belum ! belum aku publish kok. ntar kalo udah aku publish bakal aku kasih tahu. biar makin penasaran aku kasih blurb nya dulu aja kali ya.
#**CREEPY BLIND SPOT#
Mempunyai seorang ibu pengidap skizoafektif tidak lantas membuat Liam tumbuh menjadi anak yang minim prestasi. Usianya baru 15 tahun ketika dia diterima di salah satu universitas terbaik di negara ini. Otaknya yang jenius membuat dia memiliki banyak keahlian. Mulai dari programming, bela diri, olahraga, melukis, bermusik hingga memasak.
Di usianya yang baru menginjak 22 tahun, dia sudah menjadi wakil sang ayah untuk memimpin bisnis keluarga mereka.
Wajah tampan, harta melimpah, multi talenta, dan baik hati. Gadis mana yang tidak bertekuk lutut di hadapannya ?
Namun hidup tidak selalu soal cinta. Hidup adalah perjalanan panjang yang melewati begitu banyak perjuangan.
"Everybody has their own struggle."
Tidak ada satupun manusia yang sempurna. Begitu juga Liam. Dibalik sosok yang nyaris sempurna itu, ada satu titik buta yang tidak pernah terlihat oleh siapapun. Satu titik dimana dia merasa disanalah dia mendapatkan kesempurnaan hidupnya. Satu titik yang membuat siapapun yang bersinggungan dengannya bergidik dan lebih memilih untuk......MATI** !
gimana ? penasaran gag dengan kisah Liam di masa depan ?
jangan lupa dukungannya dears !
See you next part, Love.