
Alam seolah menjadi penonton keintiman Eric dan Isabel. Desau angin yang menggerakkan dedaunan seolah bertepuk tangan melihat kemesraan mereka. Kicauan burung yang hinggap di dahan pohon terdengar seperti sorakan riuh.
Eric memejamkan mata, menelan ludah untuk menetralkan getaran hebat yang baru saja dia rasakan. Keningnya masih menempel pada kening Isabel. Saling bertukar hembusan nafas yang terasa hangat menggelitik.
Tidak sia-sia Eric bolos kerja satu hari untuk menyelesaikan masalah kecilnya dengan Isabel.
Double strike !
Masalah mereka selesai dengan baik dan Eric mendapatkan jawaban yang sangat dia nantikan.
"You'll get your ring soon, Baby. I love you." Bisik Eric setelah selesai mencium Isabel untuk kedua kalinya setelah ciuman panjang mereka.
Isabel tersenyum tipis. Dia memegang tangan Eric yang sejak tadi membelai pipinya. "Aku tidak sabar menunggunya." Balas Isabel.
Sebuah keyakinan kuat sudah tertambat dalam benak Isabel. Dia amat yakin untuk memulai hidup baru bersama Eric. Keputusannya sudah bulat. Dia akan segera merubah nama belakangnya menjadi Michaels.
"I love you, Bells." Eric memeluk Isabel. Dia menghembuskan nafas lega. Harapan untuk menjadikan Isabel istrinya akan segera terwujud. Tidak ada lagi yang membuatnya sangat bahagia selain Isabel yang bersedia menikah dengannya. Bayangan untuk memiliki sebelas anak dengan Isabel terasa semakin nyata. Mimpinya untuk memiliki keluarga dengan banyak anak, hanya tinggal selangkah lagi untuk menjadi nyata.
"Kukira rambutku akan lebih dulu memutih sebelum kau bersedia menikah denganku." Celetuk Eric tiba-tiba yang membuat momen romantis mereka rusak.
Isabel mendorong tubuh Eric yang memeluknya lantas menatap galak pada pria itu sambil mengerucutkan bibir. "Memangnya kau mau menungguku selama itu ?! Yang ada kau akan mencari wanita lain untuk kau nikahi !" Hardik Isabel.
"Jangankan sampai rambutku memutih, sampai kulitku keriput dan kakiku tidak tidak lagi kuat untuk menopang tubuhku pun aku akan tetap menunggumu." Ucap Eric dengan senyum tanpa dosanya.
"Dan saat itu tiba, kita tidak akan bisa memiliki banyak anak seperti yang kau inginkan !" Balas Isabel spontan.
"Kau ingin memiliki banyak anak denganku ?" Eric menyeringai jahil.
Jawaban yang salah ! Tangan tak kasat mata Isabel memukul kepala gadis itu dengan keras. Isabel tidak bisa menyembunyikan wajah merahnya saat mendengar pertanyaan Eric. Memiliki anak dengan Eric ? Itu sama artinya dengan membuat anak bersama Eric, kan ?! Membuat anak ! Hahh.....otak kotor Isabel mulai terpancing hanya karena pertanyaan bodoh itu.
Melihat wajah Isabel yang sudah seperti kepiting rebus, membuat Eric ingin lebih menjahilinya lagi. Dia mencondongkan tubuhnya, memperpendek jarak dengan Isabel. "Bagaimana kalau kita berlatih lebih dulu ? Aku akan mengajarimu bagaimana cara memiliki anak denganku. Ah, maksudku....cara membuat anak denganku." Ucap Eric yang terdengar mendayu seperti bisikan gaib tepat di samping wajahnya.
Nafas hangat Eric saat berbisik membuat efek luar biasa pada tubuh Isabel. Aliran darahnya seolah berbalik. Sekujur tubuhnya merinding membayangkan realisasi ucapan Eric.
"Aku akan mengajarimu dengan perlahan." Eric membelai wajah Isabel. Dalam hati Eric tertawa terbahak-bahak. Gadisnya ini sangat menggemaskan. Hanya dengan bisikan saja Eric bisa merasakan tubuh Isabel gemetar. Eric yakin Isabel sedang membayangkan hal-hal tidak senonoh dengannya.
"Mau mencobanya sekarang ?" Bisik Eric lagi.
Isabel menggeleng keras saat sudah mendapatkan kesadarannya. Dia baru menyadari jika Eric sedang mengerjainya. Karena Eric tidak akan seberani itu, apalagi dia tahu mereka sedang berada dimana. Dan tentu Eric bisa melihat bebapa kamera yang terpasang di pohon saat berjalan menuju gazebo.
Ah ! Isabel punya ide. Bagaimana kalau dia membalas Eric ? Sepertinya itu ide yang bagus.
Isabel mengatur nafasnya yang tadi sempat memburu. Setelah Eric membisikkan kalimat menggodanya, Isabel mengangkat wajah. Dia menatap Eric dengan ekspresi yang sulit di tebak. Lalu dengan gerakan pelan dan sensual, dia melepas satu kancing kemeja longgarnya. Dengan dua kancing teratas yang memang tidak dia kancingkan sejak awal, ditambah satu kancing lagi yang terbuka, tentu saja isabel terlihat menantang. Lalu dia sedikit membuka kaki kanannya. Memperlihatkan paha mulusnya yang tidak tertutupi oleh hot pant yang dia kenakan.
Eric menelan ludah. Apa yang dilakukan Isabel diluar prediksinya. Ini terlalu.....sensual. Kedua mata Eric tidak bisa lepas dari kulit mulus Isabel. Dan gerakan sensual Isabel saat membuka kancing kemejanya, membuat sesuatu dalam diri Eric bangkit.
"Teach me now, Baby !" Isabel berbisik dengan tangan kecilnya yang menyibak kerah kemejanya ke kiri. Memperlihatkan bahu seputih susu milik gadis itu.
Sesuatu dalam diri Eric semakin bergejolak. Harusnya tidak seperti ini. Harusnya dia mengerjai Isabel, tapi kenapa justru dia yang merasa ingin meledak ?
Apalagi saat Isabel mengangkat tubuhnya. Dia mengalungkan tangannya pada leher Eric, lalu menepis jarak diantara mereka.
Eric sama sekali tidak bisa berkutik. Dia terlalu sibuk menahan sesuatu dalam dirinya yang ingin di bebaskan. Bahkan bagian dari dirinya sudah terasa sesak dibawah sana.
"Bells..." Ucap Eric parau sambil menahan pinggang gadis itu agar tidak lebih dekat lagi.
Isabel tidak menggubris. Tangan kanannya membelai Eric, mulai dari tengkuk, leher hingga dada pria itu.
"Bells...." Eric berusaha menghentikan gerakan tangan Isabel yang membelai dadanya. Ini bahaya ! Sangat berbahaya !
"Sshhht.....!" Isabel meletakkan telunjuknya di bibir Eric sebelum kembali membelai dada pria itu.
Eric menelan ludah berkali-kali. Dia hampir meledak. Apalagi saat Isabel menunduk, menciumi rahangnya dengan tangan yang terus membelai dada bidangnya. Mau tidak mau, wajah Eric tepat berada di depan dada Isabel. Eric tidak buta. Dengan kemeja selonggar itu yang tiga kancing teratasnya sudah terbuka, Eric bisa melihat dengan jelas bra hitam dibalik kemeja itu yang terus memanggil untuk di sentuh. Dada Isabel yang naik turun saat mengambil nafas, membuat Eric mengumpat dalam hati.
Isabel menciumi rahang Eric dan sesekali sedikit menjilatnya. Lalu dia menciumi daun telinga Eric dan sengaja sedikit bernafas disana untuk menggelitik pria itu.
Dalam satu gerakan lambat, Isabel menurunkan tangannya dari dada ke pinggang Eric sambil berbisik, "I got you !" Dibarengi cubitan kecil yang sangat menusuk di pinggang Eric yang membuat pria itu mengaduh kesakitan.
"Rasakan itu !" Ujar Isabel yang lalu turun dari pangkuan Eric dan merapikan kembali kemejanya. Tidak peduli dengan Eric yang menahan sakit di pinggang dan dalam dirinya. Isabel meninggalkannya begitu saja dalam keadaan yang sangat tidak baik. Catat ! Sangat tidak baik !
*****
"Arghh...!" Elena membanting ponselnya ke ranjang. Dia menjambak rambutnya frustasi karena dia tidak bisa menghubungi Jim kekasihnya.
"Hentikan, Elena !" Jordan menahan tangan Elena yang terus menjambaki rambutnya. Wanita itu duduk bersandar pada headboard sambil menangis.
"Jangan menyakiti dirimu seperti itu." Kata Jordan lembut.
"Mereka yang menyakitiku, Jordan ! Semua orang menyakitiku !" Teriak Elena.
Jordan memijit pangkal hidungnya yang terasa pening. Dari semalam dia tidak tidur sama sekali. Dia tidak tega meninggalkan Elena yang sedang labil seperti itu sendirian.
"Minumlah." Jordan mengambil green tea diatas nakas lalu memberikannya pada Elena agar wanita itu sedikit tenang.
Elena tidak menerimanya. Dia hanya menangis dan terus menangis. Mungkin dia pikir menangis bisa membuat luka batinnya ikut luruh bersama air mata. Semalam dia menangis hingga pukul 4 dini hari, itu membuatnya lelah hingga ketiduran. Dan setelah dia membuka mata, hal pertama yang dia lakukan adalah menangis.
Elena merasa dunianya benar-benar hancur. Dia tidak pernah membayangkan jika Eric akan menikah.
Sebelum-sebelumnya, dia selalu bisa menyingkirkan kekasih Eric dengan begitu mudah. Tapi kenapa, seorang gadis ingusan seperti itu bisa membuat Eric berpikir untuk menikahinya ? Apa istimewanya gadis itu ?
"Kau ingin Eric memaafkanmu ?"
Pertanyaan Jordan membuat tangisan Elena berhenti. Dia menatap sendu pada sahabat kecilnya itu.
"Minumlah." Jordan kembali menyodorkan segelas green tea pada Elena. Kali ini Elena menerimanya. Dia menyesap sedikit teh buatan Jordan lalu menggenggam gelas itu erat, membiarkan kehangatan dari teh itu merambat ke tangannya.
Jordan menarik nafas dalam-dalam. Dia yakin Elena masih memiliki hati. Dan dia ingin Elena menyadari kesalahannya.
"Kau tahu, Eric sangat membenci penghianatan. Dan kau tahu betul apa yang sudah kau lakukan padanya. Eric tidak pernah bermain-main saat mencintai seseorang. Tapi kau telah melukainya sangat dalam. Kau menghianatinya, Elena." Jordan menatap Elena, memastikan wanita itu mendengarkan ucapannya dengan baik.
"Minta maaflah dengan benar. Akui kesalahanmu...."
"Kalian tidak mengerti !" Potong Elena. Dia melempar gelas ditangannya ke lantai. Membuat percikan teh itu mengenai kaki Jordan. Beling gelas itu sudah berhambur ke segala arah. "B*jingan itu membunuh ibuku ! Dia membunuh satu-satunya keluargaku ! Maka aku harus memastikan dia kehilangan segalanya ! Aku ingin dia kehilangan semua yang dia miliki !" Elena menjerit-jerit menyuarakan isi hatinya.
"Dia tidak membunuh ibumu, Elena. Ibumu membunuh dirinya sendiri."
"Dia membunuhnya ! Aku sudah tutup mulut dengan semua yang dia lakukan padaku, tapi dia tetap membunuh ibuku ! Kalian tidak akan mengerti ! Kalian tidak akan pernah mengerti !" Elena menjambak rambutnya dengan frustasi.
Jordan maju, dia memeluk tubuh Elena yang bergetar hebat. Jordan memejamkan mata, dia tahu apa yang dialami Elena sangat berat. Mendapatkan pelecehan dari ayah tiri, lantas ibunya yang bunuh diri karena depresi setelah tahu apa yang dilakukan suaminya pada putri kesayangannya. Hingga Elena nekat menjalin hubungan dengan bermacam-macam pria untuk membalas dendam pada ayah tirinya.
Elena tidak sembarangan menjalin hubungan. Selain karena uang--yang memang sangat dia butuhkan untuk gaya hidupnya--dia juga memiliki tujuan tertentu. Dengan bantuan pria-pria yang dia kencani, Elena berhasil membuat ayah tirinya masuk Rumah Sakit Jiwa. Kehilangan seluruh harta benda, bahkan istri baru dan anak-anaknya juga mencampakkannya, membuat ayah tiri Elena depresi. Elena tidak akan membiarkan ayah tirinya mati dengan mudah. Dia ingin ayah tirinya merasakan apa yang ibunya rasakan. Hingga akhirnya dia lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Tangis Elena semakin menjadi dalam pelukan Jordan. Seolah semua beban yang mengganjal dalam hatinya ikut keluar bersama air matanya yang membanjir.
"Kau bisa memperbaiki semuanya, Elena. Aku yakin Eric akan memaafkanmu." Bisik Jordan setelah Elena sedikit tenang. "Biarkan dia bahagia. Biarkan dia bersama orang yang dia cintai."
"Aku mencintainya, J." Aku Elena lirih. Dia memang mencintai Eric. Dan dia tidak rela jika Eric mencintai orang lain.
"Kalau kau mencintainya, lepaskan dia. Karena sekarang dia sudah menemukan cintanya yang baru. Biarkan dia bahagia, Elena."
Elena diam saja. Dia bingung, dia tidak tahu harus bagaimana. Yang dia tahu, dia tidak rela jika Eric menikah dengan orang lain. Tapi disisi lain, dia ingin Eric memaafkannya. Dia memang salah telah menghianati Eric. Dia terlalu dibutakan oleh dendam. Tapi dia tidak ingin Eric membencinya.
Jordan melepas pelukannya. Dia memegang bahu Elena dengan sedikit mencengkeramnya. "Aku akan membantumu mendapatkan maaf dari Eric. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian."
Elena menatap Jordan lekat-lekat. Mata sembabnya terlihat menunggu ucapan Jordan selanjutnya. "Temui Eric dan Isabel. Akui semua kesalahanmu. Minta maaf dan serahkan dirimu pada polisi."
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
kira-kira Elena mau nggak ya nyerahin diri ke polisi ? kalo cuman ngakuin kesalahan dan minta maaf sih gampang, tapi kalo harus masuk bui ? apa dia sanggup ?
tunggu part selanjutnya !
see you next part, Love.