
Flashback on
Elena memasuki sebuah club malam yang cukup terkenal di kota ini. Dia datang bersama Jim kekasihnya. Dengan kartu VIP yang dimiliki Elena, mereka langsung menuju ke lantai dua, dimana pemilik kartu akan mendapatkan pelayanan yang istimewa. Mereka bisa menikmati malam tanpa mendapat gangguan dari pengunjung lain. Semacam privasi. Bahkan disediakan juga privat room jika mereka menghendaki.
Kini Elena dan Jim duduk di sofa yang berada persis di dekat pembatas kaca setinggi satu meter, menikmati minuman yang baru saja diantar oleh pelayan. Dari atas sini, mereka bisa melihat orang-orang yang sudah mulai bergerak liar di lantai dansa. Orang-orang yang kewarasannya sudah dikuasai oleh alkohol.
"Aku ingin menari." Tutur Elena sambil terus memandang ke bawah dimana banyak pria dan wanita menari dengan liar di lantai dansa.
Jim tersenyum lantas berdiri. Dia mengulurkan tangannya pada Elena. "Menarilah bersamaku !"
Elena tersenyum ceria lantas menyambut uluran tangan Jim. Keduanya segera turun ke lantai dansa, bergabung dengan puluhan orang yang mungkin sudah hilang kesadaran karena alkohol.
Sesekali mereka bersenggolan dan saling mengumpat. Beberapa pria mulai menggerakkan tangan nakal mereka menyusuri tiap lekuk tubuh wanita yang menari di dekatnya.
Suara bising dan dentuman musik terus menghentak, membuat mereka yang tengah menari semakin bersemangat menggerakkan tubuhnya mengikuti ritme nada yang dimainkan oleh sang DJ.
Elena mulai meliukkan tubuhnya mengikuti irama dentuman musik yang mengalun. Semakin dia menggerakkan tubuh, aliran darahnya semakin panas. Membuatnya ingin terus meliuk bebas mengekspresikan imajinasinya.
Jim di belakangnya mulai menggerakkan tangannya, menempelkan tubuhnya pada punggung Elena dan bergerak menggoda dengan tangan menari mengikuti lekuk tubuh kekasihnya.
Beberapa saat menari, kedua mata Elena menangkap siluet seseorang yang dia kenal. Seseorang yang hanya akan berada di tempat seperti ini saat hatinya kacau.
Elena membalik badan lalu melingkarkan tangannya di leher Jim. Dia menyipitkan matanya ke arah orang tersebut tanpa berhenti bergerak. Setelah yakin jika itu adalah orang yang dia kenal, sebuah ide muncul di otaknya.
"I need your help, Baby." Elena berbicara dengan sedikit berteriak untuk mengalahkan suara musik dari DJ, satu tangannya memeluk pinggang Jim dan satu tangannya lagi mengelus rahang Jim sambil tersenyum licik.
"Anything, Mi Amor...." Jim memegang tangan Elena yang mengelus rahangnya lantas mencium punggung tangan wanita itu.
Elena berjalan ke arah meja bar. Dia duduk di kursi bar lantas memesan segelas martini pada bartender berkepala plontos di depannya.
"Boleh aku bergabung ?" Tanya Elena pada orang yang duduk di sebelahnya, setelah menerima segelas martini dari si bartender.
Pria yang sedang menggenggam botol vodka berkadar alkohol 50% itu menoleh. Kedua matanya yang merah sayu menatap tidak tertarik pada Elena. Pria itu memalingkan wajah sambil meminum vodka langsung dari botolnya.
"Sejak kapan mabuk menjadi hobimu ?" Tanya Elena.
"Pergi dari hadapanku !" Desis pria itu dengan suara yang hampir tidak jelas karena mabuk berat.
Elena tertawa kecil. Dia menyesap martininya satu tegukan. "Masalah perempuan ?" Tebak Elena. "Is this about your....Princess ?" Elena tersenyum miring, yang dibalas tatapan tajam dari pria itu.
"Bukan urusanmu !" Jawab Jordan dingin.
Elena menghela nafas, "Poor Jordan !" Cibir Elena yang lantas tergelak menertawakan keadaan Jordan yang terlihat sangat menyedihkan. Dia yakin Jordan seperti ini karena Isabel. Karena yang dia tahu, Jordan tidak akan datang ke tempat seperti ini dan minum hingga mabuk jika bukan karena masalah yang menyangkut hatinya.
Seingat Elena, Jordan pernah mabuk parah hanya dalam dua waktu. Pertama sewaktu orang tua Eric meninggal. Pria itu bahkan hampir depresi karena merasa sangat kehilangan. Dua kali kehilangan orang tua bukanlah hal yang mudah baginya. Dan yang kedua.....saat Elena dan Eric mulai berhubungan. Jordan adalah orang yang sangat pandai menyembunyikan perasaan. Dan dia tidak suka membiarkan orang lain melihat kelemahannya.
Ibarat pepatah 'sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga'. Begitu pula dengan Jordan. Serapat apapun dia menyimpan kelemahannya, Elena selalu saja mengetahuinya.
Jordan mengabaikan Elena yang terus mentertawakan dirinya. Dia meneguk minumannya yang tinggal sedikit hingga tandas. Lalu dia meminta satu botol lagi pada bartender.
"Berhenti, Jordan ! Kau bisa mati karena minuman itu." Elena menahan tangan Jordan yang menerima botol dari bartender. Tapi Jordan menepisnya kasar.
Elena berdecak lalu menghembuskan nafas kasar. "Aku bilang berhenti !" Elena merampas botol dari tangan Jordan. "Kau sudah mabuk berat. Jika kau teruskan kau akan mati."
"Kembalikan minumanku !" Jordan menggerakkan tangannya yang hampir tidak bertenaga untuk meraih botol dari tangan Elena.
"Tidak !" Tegas Elena. Dia tidak akan membiarkan Jordan nekat menghabiskan satu botol lagi.
Jordan mendengus sinis. "Kau senang, kan ?!"
"Apa maksudmu ?" Tanya Elena. Bibirnya menyunggingkan senyum samar. Inilah saat yang dia tunggu. Dia menyugar rambut sambil menengok ke belakang tubuhnya.
Jordan tertawa, tapi itu bukan tawa bahagia. Dia mentertawakan dirinya sendiri.
"Kau bisa menceritakan semua padaku. Aku masih sahabatmu, J." Elena menyentuh tangan Jordan dan mengusapnya lembut.
Jordan meraih gelas martini milik Elena. Dia menyesapnya lantas mengecap, merasakan lidah dan tenggorokannya hampir terbakar.
"Cerita lama ini sungguh memuakkan !" Kecam Jordan. Wajahnya mengeras, matanya sayu penuh amarah. Sekejap kemudian dia tertawa sumbang. "Pengecut ! Aku selalu jadi pecundang yang tidak mendapatkan apa-apa." Racaunya.
Elena tersenyum miring, membiarkan Jordan memuntahkan semua isi hatinya.
"Kau !" Jordan menunjuk Elena dengan tangannya yang menggenggam gelas berisi martini milik wanita itu. "Dia mengambilmu dariku." Jordan tertawa lagi lalu menyesap minuman ditangannya. "Dan sekarang....dia mengambil orang yang kucintai untuk kedua kalinya. Hari ini dia menjadikan gadis yang kucintai sebagai kekasihnya." Jordan menghabiskan minuman dalam gelas itu dalam satu tegukan kasar lalu menghentakkan gelasnya diatas meja bar.
Telinga Elena terasa panas mendengar ucapan Jordan. Itu artinya dia harus berupaya lebih keras untuk mendapatkan Eric kembali. Tapi dia berusaha menahannya karena dia masih ingin mendengarkan alasan Jordan menjadi se-frustasi ini.
Jordan merebut botol vodka dari tangan Elena lantas meminumnya. Hanya satu tegukan dan Elena kembali merampasnya.
"Apa sekarang aku boleh egois ?" Jordan menatap sayu pada Elena. "Aku menginginkan gadis itu untukku." Jordan mencoba meraih botol itu lagi, tapi Elena semakin menariknya menjauh, membuat Jordan berdecak kesal lalu kembali meracau. "Aku sudah membohonginya. Aku bohong padanya, Elena. Aku sangat mencintai gadis itu. Kupikir aku bisa merelakannya seperti aku merelakanmu, tapi aku salah. Aku semakin terjatuh dalam perasaanku sendiri. Aku tidak bisa berpaling darinya saat dia menatapku---" Jordan tersenyum getir, "--kurasa dia tidak sadar. Aku selalu memperhatikannya. Dia menyimpan pemberianku. Aku bisa menatapnya selama berjam-jam tanpa dia sadari. Tapi dia tidak pernah tahu. Dia tidak pernah sadar kalau aku selalu memperhatikannya." Jordan tertawa lagi. "B*jingan itu pasti akan membunuhku kalau tahu aku selalu memperhatikan kekasihnya."
Dalam movie player yang Jordan berikan untuk Isabel memang terpasang kamera. Dan dari situ Jordan bisa menguntit Isabel. Dia betah berjam-jam memperhatikan Isabel yang sedang menonton film. Dan dari situlah dia bisa mengobati rasa rindunya pada gadis itu selama mereka tidak bertemu.
Jordan menunduk, meletakkan kepalanya pada meja bar lalu mengetuk-ngetukkan kepalanya pada meja berkali-kali.
"Jangan menyakiti dirimu sendiri. Aku masih mendengarkanmu. Keluarkan semua isi hatimu, Jordan ! Jangan menyimpannya sendiri !" Kata Elena sambil menarik bahu Jordan agar pria itu mengangkat kepalanya.
"Aku ingin menagih janjinya padaku." Ucap Jordan saat dia mengangkat kepala.
Elena mengerutkan keningnya. Janji ? Eric punya janji pada Jordan ?
"Aku ingin dia memberikan kekasihnya padaku." Ucap Jordan. Itu adalah keinginannya yang terdalam. Dia ingin Isabel menjadi miliknya.
Elena membuka mulutnya tidak percaya bahwa Jordan akan meminta hal seperti itu.
Jordan tertawa melihat ekspresi Elena. "Dia pernah bilang aku boleh meminta apapun padanya saat aku merelakanmu untuknya. Dia berjanji padaku akan melakukan apapun yang kuminta."
Ucapan Jordan semakin membuat Elena tidak percaya. Astaga ! Pasti saat itu Eric sangat merasa bersalah karena telah menyakiti Jordan hingga membuat janji konyol seperti itu.
"Aku menukarmu dengan janjinya. Dan sekarang aku akan menukar janji itu dengan kekasihnya."
Semuanya terasa masuk akal bagi Jordan. Eric memang pernah menjanjikan hal seperti itu padanya. Eric merasa sangat bersalah. Eric tahu seperti apa pengorbanan Jordan untuk dirinya.
Selama ini Eric menganggap Jordan adalah orang yang sangat kuat. Tapi dia tidak pernah tahu sebesar apa lubang di hati Jordan yang sesungguhnya. Yang Eric tahu, Jordan adalah tipe orang yang akan segera bangkit saat terjatuh dan tidak akan pernah berlarut-larut saat bersedih. Tapi ternyata dia salah. Jordan selalu menyimpan lukanya sendirian. Jordan tidak sekuat yang dia kira.
"Sudah cukup !" Ucap Elena sambil menengok ke belakang dengan senyum lebar. Tepatnya melihat ke arah kamera ponsel yang sejak tadi menyorotnya. Lalu dia kembali menatap kasihan pada Jordan.
"Aku akan mengantarmu pulang." Ucap Elena.
Pagi harinya Jordan terbangun dengan kondisi kepala yang rasanya mau pecah. Perutnya sangat mual seperti di aduk-aduk. Hangover ! Sudah lama sekali dia tidak mengalaminya. Dia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
Jordan bersandar pada closet dengan keadaan yang sangat kacau. Dia berusaha mengingat apa yang terjadi padanya setelah dia memasuki sebuah club malam. Tapi nihil ! Sekeras apapun dia berusaha mengingat, dia tidak menapatkan apa-apa. Justru kepalanya semakin pening. Bagaimana dia bisa sampai di apartemennya saja dia tidak tahu. Akhirnya Jordan memilih untuk mengguyur tubuhnya dibawah shower. Membiarkan air dingin menjernihkan pikirannya yang sempat kacau karena pesan singkat dari Isabel yang mengatakan kalau dia dan Eric sudah resmi menjadi sepasang kekasih.
Setengah jam kemudian Jordan keluar dari kamar mandi. Dia mengganti bathrobe-nya dengan kaos santai dan celana pendek selutut.
Lalu perhatian Jordan teralihkan oleh layar ponselnya yang menyala, karena beberapa pesan baru saja masuk.
Jordan membuka layar ponselnya. Dan dia dibuat terkejut setengah mati saat melihat rekaman dirinya yang meracau saat mabuk di club semalam. Dan lebih parahnya lagi, Elena lah yang menjadi pendengarnya.
"B*rengsek !" Jordan membanting ponselnya ke lantai hingga remuk. Nafasnya terengah-engah menahan gejolak amarah karena rekaman video itu.
Eric tidak boleh tahu. Meski Jordan sangat mencintai Isabel, tapi dalam keadaan waras seperti ini, dia tidak menginginkan hubungan Eric dan Isabel hancur. Terlebih itu karena dirinya. Karena Eric pasti akan merasa bersalah lagi padanya seperti dulu.
Tidak, Jordan tidak menginginkan hal itu terjadi. Eric harus bahagia, meski dia harus berkorban lagi. Meski dia harus tersakiti untuk kedua kali.
Jordan memutar otak. Dia harus mencari cara untuk membungkam Elena.
Flashback off
*
*
*
*
*
*
tbc.
Siapa yang masih melek ?
Paham yak, ini adalah isi rekaman yang membuat Jordan mati-matian menutupi jejak Elena. Maksudnya buat barter, eh malah kejadiannya diluar kendali.
See you next part, Love.