100 Days

100 Days
S2. Honeymoon 1



~Isabel~


Aku menjejalkan banyak pakaian ke dalam koper. Aku juga mengisi koper Eric dengan pakaian dan perlengkapannya yang lain.


Besok kami akan berangkat dengan penerbangan paling pagi untuk berbulan madu ke Malibu. Aku sudah tidak sabar menunggu hari esok.


"Kenapa waktu berjalan sangat lambat ?" Keluhku sambil mengeratkan pelukan pada suamiku.


Eric terkekeh. Dia mendekapku semakin erat. "Tidurlah ! Kau butuh istirahat yang cukup untuk perjalanan panjang kita."


Kucoba memejamkan mata supaya aku terlelap. Namun selalu gagal. Beberapa saat kemudian, lirih aku mendengar dengkuran halus Eric. Aku menengadahkan wajah, menatap wajah damainya yang telah lelap dalam mimpi.


Aku tersenyum. Tiba-tiba aku merindukan bertengkar dengan Eric. Berkelahi dengannya seperti waktu di Green Falls, Amytville.


Aku masih ingat waktu dia membawaku terjun dari atas tebing. Hingga saat dia berpura-pura mati yang membuatku panik tidak karuan.


Aku membelai dada telanjangnya. Dulu, aku sempat tidak berkedip saat melihat dada bidang ini. Tidak kukira kalau sekarang aku bisa menyentuhnya sesuka hatiku.


Aksi heroiknya saat menyelamatkanku dari serangan srigala juga masih terekam jelas dalam ingatanku. Hal yang tidak pernah kusangka akan dilakukan seorang Eric. Mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku.


Kalau saja waktu itu dia tidak selamat, entah bagaimana aku harus menanggung perasaan bersalah seumur hidupku.


Pagi harinya saat aku membuka mata, Eric sudah rapi. Dia mengenakan kaos santai dan celana pendek. Dengan lembut dia membangunkanku.


"Bells, bangun ! Malibu menunggu kita." Kurasakan tangan Eric membelai wajahku.


Mungkin tidak hanya sekali dia membangunkanku. Mengingat diriku yang selalu susah untuk dibangunkan.


Mendengar kata Malibu, mataku langsung terbuka lebar. Aku menyingkap selimut yang membungkus tubuhku. Tidak lupa aku memberikan morning kiss pada Eric. Masa bodoh dengan Eric yang sudah rapi. Dia juga tidak menolak.


Ya, sejak menikah, aku berubah menjadi lebih nakal. Aku seperti bukan diriku. Aku melakukan apa yang ingin kulakukan dan aku mengatakan apa yang ingin kukatakan. Menurutku, ini lebih seperti spontanitas daripada impulsif seperti yang dikatakan oleh mama.


Sampai di bandara, kami harus menelan kekecewaan. Pesawat yang akan kami tumpangi delay selama 30 menit karena adanya masalah teknis.


Kamipun menunggu dengan sabar. Tidak apalah mundur 30 menit, yang penting hari ini kami jadi ke Malibu.


 


Hingga informasi selanjutnya di umumkan bahwa penerbangan pagi tidak bisa dilakukan. Kami harus bersabar lagi hingga penerbangan selanjutnya pada pukul 11 siang.


"Mungkin ini karma karena kau bolos bekerja." Kata Eric sambil tertawa.


Menyebalkan memang. Jika Mike tahu kami terlunta-lunta di bandara seperti sekarang ini pasti dia akan menertawakan kami.


"Aku tidak bolos ! Aku mengajukan cuti, hanya saja mereka berlaku tidak adil padaku." Kilahku sambil mengerucutkan bibir.


Eric tertawa melihatku seperti itu. Mungkin dia merasa aku lucu.


"Kalau bukan karena kau putri pemilik perusahaan, kurasa kau sudah dipecat." Eric mengacak rambutku. "Mana ada pegawai biasa yang melabrak CEO mereka dengan ganas seperti itu ?" Cibirnya.


"Aku hanya menuntut keadilan, Eric." Aku menatap lelah pada pria yang berstatus suamiku itu.


"Dengan cara bar-bar seperti itu ?"


"Whatever !"


Aku mengibaskan tanganku. Aku malas berdebat untuk hal sepele seperti itu. Tidak masalah jika mereka memecatku. Justru aku akan dengan senang hati menerimanya, karena aku jadi bisa melayani suamiku dengan baik. Seperti keinginanku selama ini. Mengabdi pada suami dan melayani semua kebutuhannya.


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan dengan pesawat, akhirnya kami sampai di Malibu. Kami menginap di salah satu hotel di dekat pantai.


Rasanya perjalanan ini sangat melelahkan. Mungkin karena perjalanan tidak lancar yang kami alami. Bukan hanya penerbangan kami yang mengalami kendala, perjalanan kami dari bandara ke hotel pun tidak kalah bermasalah. Taxi yang kami tumpangi, beberapa kali harus berhenti karena mesinnya yang rusak. Sebenarnya aku ingin memesan taxi yang lain, tapi Eric tidak mau karena dia kasihan melihat sopir taxi yang sudah tua.


"Kau lihat ? Diusianya yang sudah setua itu, harusnya dia menghabiskan waktu untuk beristirahat dirumah, tapi dia memilih untuk tetap bekerja. Coba kau pikir ! Jika bukan karena membutuhkan uang, dia tidak akan repot-repot bekerja seperti ini. Bisa jadi dia memiliki banyak anak yang harus dinafkahi atau mungkin dia butuh uang untuk istrinya yang sakit. Kita tidak tahu, Bells. Bersabarlah sebentar, kita sedang menolong seseorang dari kesusahan." Begitu kata Eric.


Kami memang menolong seseorang dari kesusahan, tapi akhirnya perjalanan kami jadi terhambat.


Hari sudah hampir gelap saat kami tiba di hotel. Sebenarnya aku ingin sekali bermain pasir sambil melihat sunset di pantai. Tapi tubuhku lelah sekali.


Alhasil, dengan tubuh lengket dan bau keringat, kami berdua duduk di balkon hotel sambil menyaksikan matahari tenggelam.


"Ini mengingatkanku pada kencan pertama kita." Kataku tanpa mengalihkan pandangan dari cahaya jingga di langit barat.


"Hm. Aku tidak akan pernah melupakannya." Kata Eric sambil menarikku ke dalam pelukannya.


Perhatianku beralih pada gelang mutiara hitam pemberian Eric yang selalu aku pakai.


"Waktu itu, kapan kau membeli gelang ini ?" Tanyaku. Jujur aku sangat penasaran, karena waktu itu aku tidak melihatnya membeli sesuatu.


Eric menoleh padaku. "Kau ingat waktu aku menerima telepon dari temanku ?"


Aku mengangguk. Memang waktu itu dia sempat meninggalkanku karena sebuah telepon yang membuatku sedikit kesal.


"Temanku adalah pemilik toko perhiasan di dekat sana. Aku membeli itu darinya." Eric tersenyum. "Aku harus berlari cukup jauh untuk mengambil gelang itu. Itulah sebabnya aku meninggalkanmu cukup lama."


Oh, begitu kah ? Tanpa sadar bibirku mengukir sebuah senyuman. Ternyata gelang ini adalah hasil perjuangannya.


"Kau baru tahu kalau aku berjuang untukmu ?" Eric terkekeh.


Aku menengadah, menatap Eric yang juga sedang menatapku. "I love you, Eric." Kataku.


Eric menyambut pernyataan cintaku dengan sebuah ciuman. Ciuman panjang yang membuat kami hampir kehabisan nafas.


"You're so beautiful, Bells." Eric mengusap bibirku yang basah akibat ciuman kami sambil menatap lekat padaku. "Aku tidak pernah mencintai seseorang sedalam aku mencintaimu. Jangan pernah berhenti mencintaiku ! Jangan pernah meninggalkanku ! Aku sangat mencintaimu."


Aku merinding mendengar ucapan Eric. It feels so deep. Aku bisa merasakan kalau itu adalah ungkapan hati Eric yang terdalam. Aku bisa melihat itu semua dari kedua matanya. His eyes tell everything.


"Seperti kau yang tidak akan pernah berhenti mencintaiku, aku akan melakukan hal yang sama. Aku akan tetap berada di sampingmu, seburuk apapun hidup yang kita jalani kelak. Aku mencintaimu tanpa syarat, Eric." Eric memelukku dan aku membalasnya.


Tak terasa hari sudah gelap. Semburat cahaya jingga di langit pun sudah tidak terlihat lagi. Kami memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan segera membersihkan diri, melepaskan rasa lelah yang menggelayuti tubuh kami.


Aku sangat senang, karena selama ini kami tidak pernah makan malam di pantai. Bagitu sampai di pantai, aku bisa melihat sebuah tenda putih dengan empat tiang penyangga. Dibawahnya ada satu meja dan dua kursi yang saling berhadapan. Tidak lupa, sebotol wine lengkap dengan dua gelasnya dan lilin yang sudah menyala tertata apik diatas meja.


"Please, take a sit, Mrs. Michaels !" Eric menarik kursi untukku.


"Thank you, Mr. Michaels." Aku melakukan gerakan courtsey dengan anggun sebelum duduk.


Setelah aku duduk dengan nyaman, Eric berjalan memutar dan duduk di kursinya sendiri.


Lalu dua orang datang dengan salah satu dari mereka membawa nampan berisi makanan pembuka.


Memang dasarnya kami sudah kelaparan, kami melahap makanan pembuka yang tidak seberapa itu dengan cepat.


Tidak membutuhkan waktu lama, menu utama sudah disajikan.


"Mereka akan mengira kita sudah satu minggu tidak makan." Kata Eric saat makanan kami sudah habis.


"Aku tidak peduli. Aku sangat lapar." Kataku.


Eric terkekeh mendengar ucapanku. Kami memang menghabiskan menu utama itu dengan cepat.


Perut kami sudah sangat lapar setelah menempuh perjalanan jauh. Tidak perlu menjaga image, yang penting perut kami segera terisi.


Hingga hidangan penutup disajikan, perutku rasanya masih lapar. Aku bukan tipe wanita yang menjaga porsi makan untuk mendapatkan tubuh yang indah. Aku lebih suka merasa perutku kenyang daripada kelaparan demi terlihat seperti penderita anoreksia.


Aku mengajak Eric untuk segera pergi dari tempat itu. Aku masih ingin memuaskan nafsu makanku di tempat lain.


"Kau yakin masih mau makan semua itu ?"


Eric meringis melihat piring yang di sajikan di hadapanku. Piring besar berisi olahan mix seafood.


"Sudah kubilang aku sangat lapar." Jawabku sambil mendekatkan piring itu padaku.


Aku makan dengan lahap. Sementara Eric hanya memakan satu porsi cumi bakar yang pasti tidak akan membuatku kenyang.


"Pelan-pelan !" Eric menyodorkan gelas berisi air mineral padaku saat aku tersedak. Aku meminumnya beberapa tegukan dan melanjutkan kembali makanku.


Aku bersendawa cukup keras saat berhasil menghabiskan seporsi besar mix seafood, yang membuat Eric tertawa.


"Apa kau malu mempunyai istri dengan nafsu makan seperti diriku ?"


"Aku mencintai dirimu apa adanya, Bells. Pertanyaan macam apa itu ?"


Aku menarik bibirku kebawah. Aku sudah membuka mulutku untuk bicara, tapi Eric lebih dulu mengangkat telunjuknya padaku.


"Jadilah dirimu apa adanya. Makanlah sebanyak yang kau mau. Karena kalau tubuhmu terlihat lebih kurus dari sebelum menikah, keluargamu akan mencincangku lalu mengumpankaku pada piranha."


Aku tertawa. "Kau takut ?" Tanyaku.


"Aku lebih takut kehilangan dirimu, Bells."


Hatiku meleleh mendengarnya. Eric benar-benar telah merenggut hatiku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika aku sampai kehilangan dirinya. Dia adalah nafasku, dia adalah nyawaku.


Setelah puas berkeliling menikmati suasana malam di tepi pantai, kami segera kembali ke hotel.


Aku sudah mengganti gaun yang kukenakan tadi dengan piyama hotel. Satu hal yang baru kuketahui setelah menikah. Eric lebih suka tidur dengan bertelanjang dada. Apa dia tidak tahu kalau itu sangat menggodaku ? Aku pernah melemparkan kaos padanya saat dia sudah bersiap untuk tidur. Tapi yang terjadi justru dia melempar kaos itu ke lantai beserta celana yang dia kenakan. Dia benar-benar menggodaku. Dan aku menyesal telah melakukannya, karena dia tidak melepaskanku hingga pagi.


"Kau harus terbiasa dengan ini, Bells. Aku siap melayanimu kapanpun kau mau." Begitu yang dia katakan setelah melempar semua kain penutup tubuhnya ke lantai.


Aku sampai menggeleng-gelengkan kepalaku. Mungkin ini karena kami baru saja menikah. Tapi harus kuakui, dia cukup tangguh untuk urusan yang satu itu. Dan aku selalu kehabisan tenaga untuk bisa mengimbanginya. Meski dia selalu bilang kalau aku cukup liar untuk ditakhlukkan. Tapi tetap saja dia selalu mengerjaiku habis-habisan. Mungkin itu juga yang menyebabkan nafsu makanku meningkat. Karena dia selalu menghabiskan tenagaku.


"Tidurlah !" Eric mencium keningku dalam sambil memelukku.


Bagaimana aku bisa tidur kalau hidungku menempel pada dada telanjangnya. Sekuat apapun aku mencoba memejamkan mata, aku malah semakin tergoda untuk menghirup aroma maskulin tubuh Eric. Apa dia tidak tahu kalau aroma tubuhnya sangat memabukkan ?


Bibirku dengan lancang bergerak sendiri menciumi dada Eric, membuat suamiku itu tertawa.


"Kau menginginkannya ?" Tanyanya sambil tertawa.


"Kau yang menggodaku." Jawabku tanpa berhenti menciumi dadanya.


Sebenarnya aku kesal dia menertawaiku seperti itu. Tapi aku tidak bisa berhenti begitu saja. Aku .... menginginkannya.


Aku bangkit dan duduk diatas perutnya. Kuciumi tubuhnya, sesekali aku menggigit kecil kulitnya hingga meninggalkan bekas kemerahan.


Kali ini aku ingin diriku yang memegang kendali. Aku tahu Eric menyukainya. Aku ingin memanjakannya, aku ingin melayaninya.


Dan akhirnya, kami tidak tidur semalaman di malam pertama bulan madu kami. Kami membiarkan monster dalam diri kami mengambil alih tubuh kami. Membiarkan mereka berpesta pora memuaskan hasrat satu sama lain.


*


*


*


*


*


tbc.


Maaf baru bisa up sekarang. Beberapa hari ini kondisi fisikku lagi kurang fit, jadi nggak bisa fokus nulis. Makasih bagi yang sudah setia menunggu.


Jangan heran ya dengan part-part awal season 2 ini. Namanya juga pengantin baru, pasti isinya yang manis-manis dong, hehehe.


Happy reading !


See you next part, Love.