
Beruntung mereka memulai perjalanan di pagi buta, sehingga jalanan masih sepi. Sepanjang perjalanan Isabel tidak berhenti berdoa agar bisa menemukan Eric disana. Dia ingin marah, memaki, menampar, memukul, menendang atau apapun untuk meluapkan kekecewaannya pada Eric.
Cemburu pada orang yang telah meninggal, ternyata rasanya sangat menyakitkan. Isabel berusaha menekan rasa cemburunya, tapi selalu gagal. Dia tidak ingin membenci Elena, tapi jika apa yang dipikirkannya benar, apakah dia sanggup untuk tidak membenci orang yang sudah meninggal ?
Setelah empat jam berkendara, akhirnya mereka memasuki perbatasan Amytville. Jantung Isabel berdegup semakin kencang. Dia sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah penuh kenangan itu.
"Berhenti di rumah itu, T !" Isabel menunjuk rumah kayu bercat putih di kiri jalan. Taylor pun segera berbelok dan memarkirkan mobilnya di halaman yang cukup luas. Begitu pula mobil yang satunya.
Jeep Eric tidak ada disana. Sedikit kecewa, karena kemungkinan Eric juga tidak ada disana. Tapi Isabel tidak ingin terlalu cepat menyimpulkan. Dia harus mengeceknya secara langsung.
Isabel bergegas turun. Dia setengah berlari menuju ke beranda rumah.
"Gloria !" Isabel mengetuk pintu yang tertutup itu. "Gloria ! Kau di dalam ? Gloria, ini aku Isabel. Gloria...buka pintunya." Ketukan Isabel semakin terdengar seperti gedoran.
"Biar Saya saja, Nona." Taylor maju hendak mengetuk pintu, karena merasa Nona-nya 'terlalu bersemangat' mengetuk. Dia takut pemilik rumah akan tersinggung. Tapi gerakannya terhenti saat mendengar derit pintu terbuka. Gloria muncul dari balik pintu, dia tersenyum pada Isabel lalu menatap ngeri pada Taylor dan tiga pria bertubuh kekar yang lain di halaman rumah.
"Gloria, apa Eric ada disini ?" Tanya Isabel tidak sabar. Dia memegang dengan kuat tangan Gloria yang masih memegang handle pintu.
Gloria menggeleng. Wanita paruh baya itu masih memperhatikan keempat pria dengan tampilan gahar disana dengan wajah tegang.
"Jangan takut, Gloria. Mereka bersamaku." Isabel menenangkan. Setelah itu baru raut tegang Gloria mulai mengendur.
Gloria membuka pintu lebih lebar sambil menggerakkan kepalanya, mempersilahkan Isabel untuk masuk.
Begitu masuk, Isabel langsung menuju kamar Eric. Dia berharap mendapat petunjuk disana. Tapi lagi-lagi dia harus menelan kekecewaan.
"Aku sangat yakin dia disana." Gumam Isabel. Dia berjalan cepat keluar kamar dan hampir saja bertabrakan dengan Gloria yang membawa nampan berisi minuman dingin untuk tamu-tamunya.
"Maaf, Gloria." Ucap Isabel. "Aku harus pergi ke suatu tempat. Nanti aku akan kembali." Lanjut Isabel.
Gadis itu segera meninggalkan Gloria yang masih kebingungan dengan tingkahnya.
"Kau ikut aku, T ! Hanya kau !" Isabel menunjuk tegas pada Taylor. Dia tidak ingin ketiga bodyguard yang lain ikut dengan mereka.
Taylor memberi perintah pada teman-temannya untuk tetap tinggal di rumah. Sementara dirinya akan mengantar Nona-nya.
"Kita akan kemana, Nona ?" Tanya Taylor saat mereka masuk dalam mobil.
"Ikuti saja arahanku." Jawab Isabel.
Taylor pun hanya bisa menurut. Dia mulai melajukan mobilnya perlahan meninggalkan pekarangan rumah.
Awalnya Taylor mengira Nona-nya akan mendatangi rumah lain, tapi dugaannya keliru. Keningnya mulai berkerut saat Isabel memberi arahan untuk melajukan mobilnya ke arah hutan.
"Maaf Nona, apa kita tidak salah jalan ?" Tanya Taylor yang merasa jalurnya tidak sesuai.
"Diamlah, T ! Ikuti saja apa kataku." Jawab Isabel ketus.
Taylor pun tidak jadi protes. Dia terus melajukan mobilnya menyusuri jalan setapak di bibir hutan. Dan dia menghentikan mobilnya saat Isabel menyuruhnya berhenti.
"Berhenti ! Kau tunggu saja disini." Titah Isabel. Dia bersiap membuka pintu mobil saat Taylor bertanya.
"Apa disini tidak berbahaya, Nona ?" Tanya Taylor khawatir.
"Tidak, T. Disini aman. Aku akan pergi sendiri. Kau tunggu disini, jangan kemana-mana !" Isabel membuka pintu lantas turun dari mobil.
Isabel menghembuskan nafas berat. Semoga saja Eric ada di tempat yang dia tuju. Gadis itu menggosok kedua tangannya lalu mulai melangkah.
"Jangan menyusulku !" Isabel membalik badan sambil mengacungkan telunjuknya pada Taylor yang baru saja turun dari mobil hendak mengikuti dirinya.
Sebenarnya Taylor khawatir, karena tempat ini sangat sepi. Sesuatu yang buruk bisa saja terjadi pada Nona-nya jika dia tidak siaga. Tapi, sepertinya Isabel sangat yakin jika tempat ini aman. Jadi....Taylor mengurungkan niat untuk mengikuti Nona-nya dan lebih memilih untuk menuruti permintaan Nona-nya.
Isabel mengeratkan cardigan yang menutupi kaos putih turtleneck-nya. Dia berjalan diatas jalan setapak berbatu yang akan membawanya ke atas bukit.
Ya, Isabel sedang berada di Lighthill. Dia yakin Eric ada disana. Di tempat yang hanya tiga orang yang tahu keberadaannya. Dirinya, Eric dan Jordan.
Sedikit rasa kecewa menyeruak dalam hati Isabel saat tidak menemukan mobil Eric disana. Namun dia tetap melanjutkan tujuannya datang ke tempat ini.
Kini Isabel sudah sampai di puncak bukit. Dia menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Dengan degup jantung yang bertalu-talu, Isabel menapakkan kakinya menuruni ujung bukit. Perlahan dan hati-hati dia menjangkau mulut gua yang ada dibawah bukit.
Isabel menghembuskan nafas lega saat melihat seseorang sedang berbaring telentang dengan wajah tertutup lengan diatas papan kayu di dalam gua. Itu....Eric. Dugaannya benar, Eric menyendiri disini. Dan air mata Isabel pun tidak bisa dibendung lagi. Rasa bahagia, haru dan cemas memenuhi relung hati Isabel.
Perlahan dia mendekati Eric sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Gua itu tidak luas, tapi cukup nyaman untuk ditinggali. Beberapa perabot terbuat dari kayu. Tidak banyak, hanya dua kursi, satu meja satu papan berukuran sekitar 2x3 meter untuk tidur dan meja panjang dengan beberapa peralatan sehari-hari yang berada di sisi kiri gua. Di dekat papan tidur ada kotak berwarna silver yang mengeluarkan hawa panas. Mungkin itu mesin penghangat ciptaan mereka sendiri sebagai pengganti api unggun untuk menghangatkan badan di malam hari.
Tapi....dari semua yang dia lihat disana, ada satu yang membuat dada Isabel sesak. Diatas meja, ada enam botol minuman keras. Empat diantaranya sudah kosong. Bahkan ada juga beberapa botol kosong di kolong meja. Siapa lagi yang meminumnya jika bukan Eric.
Isabel berlutut di sisi papan. Saking senangnya, dia sampai lupa cara bicara. Dia hanya bisa menangis sambil terus memandangi Eric yang masih terlelap dalam tidurnya.
Cukup lama Isabel memandangi Eric, lalu dia menggerakkan tangannya untuk menyentuh lengan Eric yang menutupi wajahnya.
"Eric....." Panggilnya lirih disertai sentuhan lembut.
Eric yang tadinya terlelap pun refleks terbangun dan mendudukkan tubuhnya. Kedua matanya menyipit, menyesuaikan dengan silau cahaya yang menusuk matanya.
"Isabel ?" Suara Eric lebih terdengar seperti gumaman lirih. Eric memperhatikan gadis di depannya dengan seksama. Dia berpikir jika dia sedang berhalusinsi seperti sebelum-sebelumnya.
Isabel menatap lekat pada Eric. Dia sedih melihat Eric seperti itu. Eric terlihat lebih kurus. Sama seperti Jordan, penampilan Eric tak kalah mengerikan dari kakak angkatnya. Bahkan lebih parah. Jambang tipisnya sudah berubah jadi lebat. Matanya merah sayu. Bibirnya pucat dan kering. Tubuhnya juga berbau alkohol.
Sesaat kemudian Isabel berdiri. Satu tamparan keras dia daratkan di pipi kiri Eric. Dan itu cukup menyadarkan Eric jika dia tidak sedang berhalusinasi seperti biasanya.
"Kenapa kau pergi ?! Kenapa kau meninggalkanku ?!" Isabel menjerit marah dengan air mata yang semakin deras.
Eric memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan Isabel. Wajahnya berubah muram. Untuk sekedar menelan ludah saja rasanya begitu sulit. Dia tidak mengira Isabel bisa sampai disini. Dan mendapatinya dalam kondisi yang mengenaskan seperti ini.
Tenggorokan Eric rasanya tercekat. Dia bungkam, dia diam saja saat Isabel mulai histeris dengan mencengkeram kaosnya, lalu memukul dadanya berkali-kali sambil meraung meminta jawaban.
Tenaga Isabel seolah terkuras habis untuk meluapkan isi hatinya pada Eric. Tubuhnya luruh ke lantai, tapi Eric tidak menahannya. Dia membiarkan Isabel menangis tersedu sambil bersimpuh, menutup wajah dengan kedua telapak tangan kecilnya.
"Katakan ! Katakan sesuatu !" Jerit Isabel. Dia menatap nanar pada Eric yang beringsut mundur sambil meremas rambutnya. Eric terlihat sangat frustasi. Nafas Eric terengah-engah dan kedua matanya berair.
"Aku tidak bisa. Aku tidak bisa." Gumam Eric yang terduduk lemas sambil terus menjambaki rambutnya.
"Apa yang kau tidak bisa ?! Katakan, Eric ! Jangan membuatku gila seperti ini !" Tuntut Isabel.
Dengan sisa tenaganya Isabel bangkit. Wajahnya merah padam menahan gejolak amarah yang membuncah dalam dadanya. Apa maksud Eric ? Tidak bisa apa ? Isabel semakin tidak mengerti.
"Apa semua ini karena Elena ?" Lirih Isabel. Dia menelan ludah, melihat Eric mengangkat wajah dengan tatapan tidak percaya. "Apa kau masih mencintainya ?" Ucap Isabel getir. Tersimpan banyak luka saat dia mengucapkan kata-kata itu.
"Jangan membawa Elena dalam masalah ini." Ucap Eric dengan rahang mengeras. Ini bukan salah Elena. Eric menyalahkan dirinya sendiri. Dia tidak ingin Elena di sangkut pautkan dengan masalah ini, meski secara tidak langsung Elena ikut berperan. Rasa kehilangan yang masih terasa berat dalam hati Eric, membuatnya lemah saat mengingat sahabatnya itu.
"Kenapa ?!" Isabel menuntut jawaban, namun Eric masih bungkam. Dan itu semakin membuat Isabel yakin dengan prasangkanya. "Jadi benar ? Kau masih mencintainya ?" Tanyanya pedih. Air mata Isabel semakin deras. "Dan kau menyalahkanku karena seharusnya aku yang mati ? Elena mati karena diriku....itu yang kau pikirkan hingga kau meninggalkanku seperti ini ?!" Suara Isabel meninggi. Dadanya begitu sesak. Hatinya terlalu sakit untuk menerima kenyataan seperti ini.
Ternyata menerima kebenaran ini tidak semudah yang dia pikirkan. Ternyata mengetahui alasan Eric yang sebenarnya terasa sangat menyakitkan.
Eric turun dari papan. Dia menatap tajam pada Isabel yang terlihat sangat marah dan kecewa. "Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini !" Balas Eric tidak terima.
"Lalu apa ?!" Isabel menengadah, menantang Eric dengan tatapannya. "Beri aku alasan masuk akal kenapa kau meninggalkanku !"
Eric memejamkan matanya rapat-rapat sambil mengetatkan rahang. Kedua tangannya mengepal kuat menahan rasa yang ingin meledak dalam dadanya. "Aku tidak bisa." Ucapnya lirih dengan nafas terengah.
"Tidak bisa apa ?! Katakan padaku !" Tuntut Isabel.
"Aku bilang aku tidak bisa !" Bentak Eric yang langsung dia sesali. Dia tidak berniat membentak. Dia tidak berniat menyakiti. Tapi...ini terlalu sulit baginya.
Isabel terdiam saat Eric membentak. Tubuhnya bergetar, jantungnya seperti dipukul godam saat mendengar suara keras Eric.
Eric terduduk lemas diatas papan dengan rasa sesal yang memenuhi dada. Dia mengusap kasar wajahnya. Lalu dia mengusap pangkal matanya untuk mencegah air matanya turun.
"Maafkan aku, Bells. Ini terlalu berat untukku." Ucap Eric dengan suara bergetar. Dia tidak sanggup untuk sekedar menatap kekasihnya.
"Baiklah." Isabel menelan ludah. Membiarkan pipinya yang basah dialiri air mata lagi. Dia mencoba tegar. Dia harus kuat. Dia pernah merasakan sakitnya ditinggalkan. Kali ini pasti dia juga bisa melewatinya.
"Kalau kau tidak bisa mengataknnya padaku....mungkin ini bisa mengatakannya." Isabel melepas cincin lamaran dari Eric dan meletakkannya di telapak tangan pria itu.
Eric tercengang. Dia menatap cincin ditangannya dan Isabel secara bergantian. Hatinya sakit, sangat sakit. Dia tidak ingin kehilangan Isabel. Tapi dia juga tidak bisa terus bersamanya dengan perasaan seperti ini.
Isabel menyeka kasar air matanya. Dia menahan perih di hatinya untuk berkata, "Aku juga tidak bisa terus kau gantung seperti ini." Air mata Isabel jatuh saat dia memejamkan mata.
Ini berat. Tapi Isabel harus tegas. Eric tidak mau mengatakan alasannya, dan Isabel tidak bisa terus begini. Keputusan harus diambil. Jika memang harus berpisah, untuk apa dipertahankan ?
Bukan hanya Isabel, Eric pun merasa semua ini sangat sulit. Dia tidak mengira Isabel akan mengambil keputusan ini. Tapi mungkin inilah yang terbaik untuk mereka.
"Good bye, Eric." Bibir Isabel bergetar saat mengucapkan kalimat perpisahan itu. Dia membalikkan badan lantas berjalan perlahan meninggalkan tempat ini. Meninggalkan semua asa dan mimpinya bersama Eric. Meninggalkan semua yang pernah mereka rencanakan untuk masa depan. Mungkin takdir mereka untuk bersama hanya sampai disini. Mungkin jodoh mereka tidak sampai pada pernikahan yang mereka mimpikan.
"I made a promise to him." Ucap Eric saat Isabel sampai di mulut gua.
Gadis itu berhenti melangkah, tapi dia enggan untuk menoleh. Karena dia takut jika hatinya akan goyah saat melihat Eric lagi.
Eric mengatur nafas. Jika memang Isabel memilih untuk pergi darinya, paling tidak Isabel tahu alasannya menjauh. Bukan karena dia tidak mencintai Isabel. Bukan pula karena dia mencintai wanita lain. Melainkan karena janji yang pernah dia buat. Karena dia harus berhenti membuat seseorang terluka.
Tidak mudah bagi Eric untuk mengatakan kebenarannya pada Isabel, karena ini akan menyakiti hati mereka berdua. Rekaman video yang dia terima sesaat sebelum Elena meninggal, memaksanya untuk tidak lagi bersikap egois. Ada hati yang terluka dibalik kebahagiaannya. Ada hati yang tersakiti sementara dia merajut mimpi indahnya.
Karena Isabel tidak kunjung mendengar suara Eric lagi, dia memutuskan untuk pergi. Percuma menuruti rasa penasarannya dengan ucapan Eric barusan. Toh pada akhirnya mereka akan berpisah. Dengan air mata yang terus berderai, Isabel mengayunkan kaki.
"Jordan mencintaimu !"
Deg !
Seketika langkah kaki Isabel terhenti.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Duh ada petir di siang bolong nih !
Surprise ! Jadi bukan Elena ya yang jadi penyebab Eric pergi.
Hayo yang kemarin udah pada marah-marah sama Eric, minta maaf dulu gih. Kasian dianya, tahu ! Dilema dia.
Mari berdoa, semoga penderitaan mereka segera berakhir.
See you next part, Love.