100 Days

100 Days
Kejutan Dari Tuhan



Jantungku berdetak tak beraturan, aku takut, aku bingung, aku tak tau harus bagaimana.


"Ayunda. Ayunda Tresno Ningrum!?" panggil seorang suster menyebut namaku.


"Iya." jawabku langsung berdiri dan menuju ruang dokter ahli dalam yang menanganiku.


Sebelum aku memulai kisahku. Hai, Namaku Ayunda Tersno Ningrum. Umurku saat ini menginjak usia 25 Tahun.


"Apa kabar Mbak Ayunda. Ayunda Tresno Ningrum. Namanya indah sekali." puji Dokter tersebut.


Aku bekerja di salah satu pabrik gula yang ada di Daerah Jogjakarta. Aku sebenarnya adalah anak semata wayang dari kedua orang tuaku sebelum mereka memilih berpisah dan memiliki keluarga baru.


Ayahku bernama Panji Pamungkas, dia adalah pengusaha ekspor-impor tersukses di Asia. Sedangkan Ibuku bernama Larasati dia hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Aku tidak mengerti kenapa kedua orang tua ku harus bercerai. Kata nenek, itu adalah jalan terbaik bagi mereka.


"Ini untuk hasil Tes Lap kemaren ya, Mbak Ayunda." ucap Dokter tersebut.


"Ya Dok," sahutku.


Aku memperhatian Dokter itu dengan hati yang gunda.


......................


^^^(Flashback)^^^


Setelah perceraian kedua orang tuanya. Tresno tinggal bersama Ibunya, sebelum Beliau akhirnya menikah dengan seorang pengusaha anak 1 dari Bandung bernama Herman. Ayah tirinya memiliki seorang anak perempuan bernama Lina. Dia terpaut 3 Tahun lebih tua dari Tresno. Sejak kehadiran Lina dan Ayah tirinya. Ibunya lebih memperhatikan mereka berdua di bandingkan dengan Tresno.


"Coba lihat. Wah cantik banget anak Mama." puji Larasati kepada Lina.


"Ma, baju Ayu sobek." ucap Tresno dengan sedih.


"Udah sih. Pakai itu aja cantik kok. Kalau kamu mau baju baru. Minta sama Papamu." hardik Larasati.


Tresno mendengar kabar bahwa Ayahnya juga sudah menikah dengan seorang Pramugari asal Negri jiran Malaysia. Hanya saja, sebelum beliau di karuniai keturunan. Mereka memilih untuk bercerai.


Sejak ayahnya meninggalkannya bersama ibunya. Dia tak pernah menjenguk Tresno. Hanya sekali dua kali dia menelponnya, itu pun tak lama.


"Pa, Ayu kangen. Papa kapan jemput Ayu?!" ungkap Tresno.


"Ayu, Papa lagi sibuk. Lagian Ayukan sama Mama." sahut Panji.


Waktu umur Tresno menginjak 9 Tahun. Ibunya melahirkan adiknya yang di beri Nama Bima. Sejak kelahiran adik Tresno, Bima. Larasati semakin tak perhatian kepada Tresno. Bahkan, sering Tresno mengadu soal perlakuan kakak tirinya Lina. Yang memperlakukannya seperti Pembantu. Tapi Larasati hanya diam. Malah balik memarahi Tresno dengan alasan, Tresno terlalu crewet dan tak mau menerima sodara tiri dan ayah tirinya.


"Kamu itu ya! Cuman di mintai tolong kakakmu aja, protessss teruss!! Pusing Mama dengernya!" hardik Larasati.


"Tau tu Ma. Padahalkan Lina cuman minta ambilin minum aja. Kaki Lina sakit Ma." timpal Lina.


"Tu denger! Kaki kakak kamu sakit. Sekarang kamu masuk kamar sana!!" titah Larasati.


Saat Tresno liburan akhir Semester ke rumah Neneknya yang ada di Desa. Tresno berontak tak mau ikut kembali pulang bersama Larasati. Sempat beberapa kali Tresno di jemput oleh Supir suruhan Larasati. Tapi Tresno terus menangis menolak untuk pulang. Sejak saat itu Tresno tinggal dan sekolah di rumah Neneknya.


"Gak mau! Gak mau!! Aku mau sama Nenek aja!" seru Tresno.


"Ya Allah Nduk! Uwes Pak uwes, biar di sini aja. Kamu bilang sama Laras. Kalau Tresno tinggal sama saya aja di kampung. Nanti biar aku yang jaga." ucap Nenek.


Waktu masuk ke sekolah SMP, umur Tresno baru 13 Tahun. Dia di jemput oleh Ayahnya yang berada di Jepang untuk tinggal dan sekolah di sana. Waktu itu Panji sudah menikah lagi dengan seorang model keturunan Korea-Jepang yang sukses berkarir di sana.


"Iya Pa." sahut Tresno. "Nek, Ayu pamit ya Nek."


"Iyo Nduk iyo. Ati-ati yo Nduk. Nurut ro Papa ku. Ojo nakal." pesan Nenek.


"Jeh, Nek."


Ibu tiri Tresno itu bernama Haruka Lee. Mereka sudah di karuniai seorang putri cantik berumur 2 Tahun, yang di beri nama Lee Sarang. Selama Tresno tinggal bersama Panji dan Haruka. Tak ada perlakuan kasar dari mereka. Hanya saja, mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


"Moshimoshi. Ya, ya, saya akan segera ke sana. Baik, baik." seru Panji dengan seseorang di ujung teleponnya.


Jarang sekali mereka berada di rumah untuk mengurus anak-anak mereka. Sarang pun, harus di asuh oleh seorang Beby Sister.


Tak ada 1 Tahun mereka tinggal di Jepang. Mereka terpaksa harus pindah ke Korea karna tuntutan pekerjaan Panji. Suasana di Korea tak jauh berbeda dengan di Jepang. Sama-sama sulit untuk Tresno mengerti dan paham dengan bahasa yang mereka gunakan. Tresno bingung dan takut, bagaimana dia mau bersekolah dan bersosialisasi di sana. Jika dia sendiri tak paham dan mengerti bahasa yang mereka gunakan.


"Pa, aku mau tinggal sama Nenek aja di Desa. Aku pengen sekolah di sana Pa." ucap Tresno seraya mendekat ke arah Panji, yang sedang sibuk di meja kerjanya.


"Aduh Ayu, kamu jangan aneh-aneh. Kalau kamu tinggal sama Nenek. Siapa yang bakalan jaga kamu?!" sahut Panji yang sedang duduk di meja kerjanya.


"Ayu bisa jaga diri kok Pa. Lagian emang selama ini Papa jaga Ayu?! Ayu selalu jaga diri Ayu sendiri." tukas Tresno menunduk di samping Panji.


"YA SUDAH! KALAU KAMU MAU PULANG, PULANG SANA! BESOK KAMU BALIK KE INDONESIA!!" hardik Panji.


Panji melempar beberapa berkas yang ada di hadapannya. Dia langsung pergi meninggalkan Tresno di ruang kerjanya itu.


Tresno tertegun terdiam sedih di ruangan itu. Berlahan dia keluar dari ruangan itu untuk pergi ke kamarnya. Saat Tresno melewati kamar Ayah dan Ibu tirinya. Dia tak sengaja melihat Panji dan Haruka sedang bertengkar kecil di kamar mereka. Ntah apa yang mereka katakan. Tresno tak bisa mengerti bahasa yang mereka gunakan.


"YHA!! DIA ITU ANAKKU!!" sergah Panji.


Dua Hari setelah itu Tresno di antar Panji pulang ke Indonesia. Dia berniat melanjutkan sekolah di Desa Neneknya. Sebelum Panji pergi kembali ke Korea, dan meninggalkan Tresno di rumah Neneknya. Tresno di berikan sebuah buku tabungan. Katanya itu adalah tabungan untuk Tresno. Uang jajan, biaya hidup, dan uang sekolah Tresno, akan di transfer ke rekening itu setiap bulannya.


"Ayu, ini uang untukmu. Untuk sekolah, untuk jajan, untuk beli buku, baju, sepatu dan lainnya. Kamu simpan baik-baik. Papa akan mengirimu uang setiap bulannya." tutur Panji.


Sebenarnya Tresno tak perduli dengan tabungan itu. Dia tak perduli dengan apa yang Panji berikan padanya. Karna bagi Tresno, bukan itu yang dia butuhkan dari mereka dalam hidupnya.


Beberapa kali Tresno melihat Neneknya sedang bersedih seperti kesusahan dalam hal ekonomi. Dia beberapa kali juga berusaha memberikan tabungannya itu kepada Neneknya, untuk biaya hidup kita sehari-hari. Tapi Neneknya selalu menolak.


"Nduk, iki simpenen ae. Ghor gho mangan ro sekolahmu. Simbah iseh iso gragati." (Nak, ini simpan saja. Cuman sekedar buat makan dan sekolahmu. Simbah masih bisa membiayai.) tutur Nenek Tresno dengan suara lembut khas orang Jawa.


Tresno memutuskan menyimpan buku tabungan itu di dalam kotak kayu tua milik Alm.Kakeknya. Kotak itu dulu di gunakan Kakeknya untuk menyimpan buku-buku penting miliknya. Hanya saja karna kakek sudah berpulang. Tresno meminta kotak itu untuk dia pakai sebagai tempat penyimpanan barang-barang berharganya.


"Nyimpen opow Nduk?!" tanya Nenek terlihat penasaran.


"Harta Yut." sahut Tresno.


Waktu berjalan begitu sangat cepat. Saat itu Tresno duduk di bangku SMA Kelas 2, Neneknya pun berpulang ke Rahmatullah. Semua orang hadir di pemakaman Neneknya. Kecuali Panji dan keluarga barunya. Sempat Tresno di ajak kembali tinggal bersama Larasati. Tapi dia menolaknya dengan alasan nanggung karna sebentar lagi juga sudah lulus sekolah.


"Kamu yakin mau tinggal sendiri di rumah nenek ini??" tanya Larasati.


"Iya Ma. Lagian, aku tinggal sama Mama pun, Mama gak akan perduli sama Ayukan?!" sahut Tresno dengan sinis.


"Jaga omongan kamu. Mama selalu perduli sama kamu. Kamu aja yang selalu manja dan terus buat pusing Mama." sanggah Larasati.


...****************...