100 Days

100 Days
Part 53



Dua hari sudah Eric dan Isabel tidak bertegur sapa. Semacam perang dingin. Bedanya mereka tidak menunjukkan sikap permusuhan. Hanya menghindari satu sama lain.


Sangat kebetulan, dua hari ini Jordan juga ada pekerjaan di luar kota. Dia baru akan kembali lusa. Sehingga dirumah hanya ada Eric dan Isabel.


Saat siang hari Isabel akan menghabiskan waktu bersama Gloria. Malam harinya dia habiskan di dalam kamar.


Sedangkan Eric, siang hari dia akan berada di dalam kamar berkutat dengan pekerjaannya yang memang tidak bisa dia tinggalkan. Sedang malam hari, dia biasanya menikmati malamnya di teras rumah hingga larut.


Tidak ada makan bersama di meja makan. Keduanya lebih memilih makan di dalam kamar masing-masing.


Tapi hari ini keberuntungan tidak berpihak pada mereka berdua.


Saat tengah malam, Isabel merasakan tenggorokannya kering, dia pergi ke dapur untuk mengambil minum. Dan ternyata Eric juga tengah berada di dapur. Dia sedang memasak sesuatu.


Isabel sejenak menghentikan langkahnya. Ragu-ragu dia melangkah ke lemari pendingin mengambil minuman lalu meneguknya.


Eric sama sekali tidak terusik. Entah dia tidak menyadari kehadiran Isabel atau pura-pura tidak menyadarinya. Yang jelas pria itu tetap terlihat lincah memainkan peralatan masak meskipun tangan kanannya tidak bisa bergerak leluasa.


Isabel memutar tubuhnya, hendak kembali ke kamar. Tapi dia urungkan niat itu. Dia tidak bisa seperti ini terus. Mau sampai kapan dia dan Eric saling menghindar ?


"Kau memasak ? Bagaimana lukamu ?" Tanya Isabel. Dia bersandar pada pintu lemari pendingin. Isabel meringis membayangkan luka Eric. Apa tidak sakit ?


Eric terlihat menghentikan gerakannya sebentar. "Semakin membaik." Jawabnya tanpa menoleh.


Isabel tidak menjawab. Dia berjalan ke meja makan yang letaknya persis di belakang Eric. Dia menggeser kursi lalu duduk disana.


"Apa yang kau masak ?" Tanya Isabel.


"Ravioli."


"Sepertinya enak."


"Hmm."


Keduanya diam sampai masakan Eric siap. Eric membuat dua piring ravioli. Satu untuknya dan satu untuk Isabel.


Sudah saatnya Eric menurunkan egonya. Dua hari ini Eric benar-benar seprti ayam yang kehilangan induknya. Dia tidak menyangka menghindari Isabel akan terasa semenyiksa ini. Dia merasa kebingungan tidak jelas. Hingga dia merasa ada yang salah dengan dirinya.


"Makanlah." Kata Eric.


Isabel menggeser piring lebih dekat dengannya dan mulai menyuap ravioli ke mulutnya.


"Enak." Pujinya tulus.


Hening. Keduanya sibuk menikmati ravioli buatan Eric.


"Jadi, apa kita perlu membahas sesuatu ?"


Pertanyaan Isabel membuat Eric menghentikan gerakannya sekejap.


"Ini sudah larut malam. Kembalilah tidur." Jawab Eric tanpa melihat Isabel. Dia ingin menghindari pembicaraan dengan gadis itu.


"Aku kesulitan tidur dua hari ini." Sahut Isabel. Memang kenyataannya seperti itu. Isabel merasa kalau Eric juga menghindarinya. Dan itu cukup mengganggu. Hatinya diliputi bermacam-macam perasaan yang membuatnya tidak bisa menutup mata. Karena setiap kali menutup mata, wajah marah Aiden dan wajah dingin Eric selalu membayanginya. Tapi IsabelĀ  tahu, rasa yang paling dominan dalam hatinya adalah rasa bersalah. Karenanya, Isabel harus bicara dengan Eric. Dia tidak ingin hubungannya dengan Eric yang sudah menghangat kembali dingin hanya karena ciuman bodoh itu.


Eric menatap datar pada Isabel. Cara untuk menyembunyikan keterkejutannya. Karena diapun sama. Bukan hanya Isabel yang kesulitan untuk tidur. Hanya saja Eric lebih senang menghabiskan malamnya untuk begadang.


"Apa yang kulakukan waktu itu...aku minta maaf." Ucap Isabel menurunkan pandangan dan memainkan garpu di tangannya.


Beberapa saat Eric tidak menjawab. Tanpa di jelaskan pun Eric tahu apa maksud ucapan Isabel.


"Aku tidak bermaksud memanfaatkanmu." Lanjut Isabel. Gadis itu memberanikan diri menatap mata Eric.


Eric tersenyum kecil. "Aku juga." Katanya. Dahi Isabel sedikit berkerut mendengar itu. Nada bicara Eric terdengar lembut di telinga Isabel.


"Aku hanya....terbawa suasana." Lanjut Eric kembali dengan wajah datar yang sebenarnya hanya dia gunakan untuk menutupi perasaan yang dia sendiri juga tidak paham jenis perasaan apa itu.


"Aku mengerti." Isabel tersenyum. "Jadi...kita baikan ?" Mata Isabel berbinar. Dia memamerkan puppy eyes pada Eric.


Melihat itu, membuat Eric tidak bisa menahan senyumnya. "Kapan kita bertengkar ?" Goda Eric.


"Oh, you're suck !" Umpat Isabel.


Isabel mencebikkan bibirnya lalu dia tergelak.


Kalau dipikir lagi, ucapan Eric ada benarnya. Kapan mereka bertengkar ? Mereka hanya saling menghindari, bukan ?!


"Jangan mendiamkanku lagi." Ucap Isabel setelah tawanya hilang.


"Aku tidak mendiamkanmu." Tukas Eric.


"Yes, you did."


"No, I didn't. But you did." Sangkal sekaligus tuduh Eric.


Isabel melotot tidak terima dengan ucapan Eric. "No, I didn't !" Sangkal Isabel dengan nada tinggi.


"Yes, you did !" Eric ikut meninggikan nada bicaranya.


Isabel bersiap menjerit lagi, tapi dia tahan hingga pipinya menggembung. Eric menaikkan alisnya sambil menahan senyum.


"Yes, we did !" Kata Isabel kemudian, membuat Eric tertawa kecil.


"Kita memang seperti itu kemarin. Kita saling diam dan menghindar." Ucap Isabel dengan nada rendah. "Dan itu rasanya tidak enak. Aku...kesepian." Suara Isabel semakin rendah.


Eric menatap lekat Isabel yang memasang wajah sedih. "Ya, sungguh tidak enak."


Mereka sama-sama diam dengan pandangan yang terpaut.


Salah. Eric merasa ada yang salah dengan dirinya. Apa-apaan ini ? Apa karena kurang tidur selama dua hari ini ? Buru-buru Eric mengalihkan pandangannya. Dia menelan ludah lalu berkata, "Istirahatlah. Sudah malam."


Isabel tersenyum simpul. Senang rasanya bisa melihat senyum dan tawa Eric yang sangat mahal itu.


"Kau juga harus istirahat." Balas Isabel.


Isabel beranjak meninggalkan meja makan. Sepertinya malam ini dia bisa tidur dengan nyenyak.


Mata Eric tak lepas dari punggung Isabel yang semakin menjauh. Setelah terdengar suara pintu tertutup dari kamar Isabel, Eric kembali pada pikirannya yang sejak tadi sangat mengganggu. Eric memegang dadanya, merasakan jantungnya yang memompa darah lebih cepat dari biasanya. Apa ini ?


*****


Eric membuka kasar pintu kamar Isabel. Dia berjalan cepat mendekat ke sisi ranjang gadis itu.


"Hei, bangunlah ! Kita harus pulang sekarang. Ayo, bangunlah !" Eric menepuk-nepuk pipi Isabel dengan sedikit keras.


Isabel menggeliat, kedua matanya sangat berat untuk dibuka. Tidurnya benar-benar nyenyak setelah berdamai dengan Eric.


"Ayo bangun, putri tidur ! Atau aku akan menyeretmu." Eric menepuk-nepuk pipi Isabel lagi.


Perlahan Isabel membuka matanya. Tepukan Eric di pipinya cukup keras hingga dia merasakan sedikit panas di pipinya.


"Eric ? Aku masih mengantuk. Nanti saja." Gumam Isabel tidak jelas.


Eric terlihat sangat gusar. Dia tidak punya waktu lagi untuk meladeni kemalasan Isabel.


Eric menyingkap selimut Isabel lalu menarik tubuh gadis itu hingga posisi duduk.


"Eric ! Apa-apaan kau ini ?" Gerutu Isabel dengan malas. Mau tidak mau Isabel membuka matanya.


"Kita harus pulang sekarang." Kata Eric.


Isabel menatap malas pada Eric yang berdiri di sampingnya. "Kenapa mendadak ? Lagipula Jordan belum pulang, bukan ?!"


"Jordan dalam perjalanan pulang. Sebaiknya kau cepat bangun dan bersihkan dirimu." Perintah Eric.


"Kenapa mendadak sekali ?" Protes Isabel.


Eric berdecak kesal. Dia mulai tidak sabar menghadapi Isabel.


"Kau mau ke kamar mandi sendiri atau aku akan menyeretmu kesana ?" Eric menarik tangan Isabel agar berdiri.


"Kau menyebalkan !" Isabel menghentakkan kakinya melangkah ke kamar mandi.


"Jangan terlalu lama. Kita kehabisan waktu." Teriak Eric sebelum meninggalkan kamar Isabel.


Tiga puluh menit kemudian Isabel keluar dari kamar dengan menenteng ransel. Wajahnya kusut seperti kain keset.


Tapi saat melihat Jordan di ruang tamu bersama Eric, wajahnya kembali bersinar. Dia berlari kecil ke arah Jordan.


"Kau sudah pulang ? Aku merindukanmu." Isabel bergelayut manja di lengan Jordan.


Jordan terkekeh melihat tingkah Isabel. "Aku juga merindukanmu, Princess." Balasnya sambil mengusap puncak kepala Isabel.


"Bisa kita berangkat sekarang ?" Eric menatap kesal pada dua orang dihadapannya itu.


Isabel memicingkan mata. Lalu dia melihat pada Jordan dengan penuh harap. "Tolong bujuk pria menyebalkan ini untuk menunda kepulangannya. Aku masih betah disini." Pinta Isabel. Dia berharap Jordan akan membantunya.


"Kau membuang-buang waktuku !" Tukas Eric tajam. Pria itu bergegas keluar lebih dulu karena tidak sabar dengan Isabel yang terus merengek pada Jordan.


Jordan melepaskan tangan Isabel dari lengannya untuk dia genggam. Sekilas dia melihat Eric yang tampak terburu-buru keluar dari rumah.


"Kau harus pulang sekarang, Princess." Kata Jordan dengan lembut tanpa melepaskan genggaman tangannya.


"Tanganmu terluka ?" Isabel yang merasakan tangan Jordan terbalut kain kasa segera mengangkat tangan itu untuk dilihat.


"Luka kecil." Jawabnya sambil menurunkan tangan dan kembali menggenggam tangan Isabel. "Eric sudah menunggumu. Kalian harus segera berangkat."


Isabel cemberut, Jordan tidak membantunya. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa harus semendadak ini. Tidak ada yang mau memberi tahu alasannya.


Jordan mengusap pipi Isabel, "Aku akan mengunjungimu. Dan kalau kau mau ikut kesini lagi, aku akan dengan senang hati mengajakmu." Bujuk Jordan.


Mendengar bujukan Jordan, Isabel pun menurut. "Kau baik sekali, Jordan. Aku pasti akan sangat merindukanmu." Isabel memeluk Jordan.


Jordan membalas pelukannya dengan erat. Pelukan Jordan terasa sangat nyaman untuk Isabel. Dia seperti menemukan sosok Mike dalam diri Jordan. "Aku juga akan sangat merindukanmu, Princess."


"Teruslah tersenyum, aku suka melihatmu tersenyum." Kata Isabel setelah melepas pelukannya.


"Apa kau sedang merayuku ?" Jordan menaikkan sebelah alisnya.


Refleks Isabel memukul dada Jordan sambil tergelak. "Aku belajar darimu."


Jordan tertawa. Sekali lagi dia memeluk Isabel. "Berbahagialah, Princess. Karena saat kau bahagia, kau akan membawa kebahagiaan untuk orang lain." Jordan mencium puncak kepala Isabel lalu melepaskan pelukannya.


Tanpa sadar sudut mata Isabel meneteskan air mata. Jordan sangat baik padanya. Dia sangat perhatian. Semua yang dilakukan Jordan untuknya terasa sangat tulus. Isabel menyukai semua perhatian Jordan untuknya.


"I will be happy for you, Jordan."


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Suka dengan part ini ?


Baru juga semalam berbaikan, paginya udah berantem lagi. Dan apa tadi ? Apa Eric mengalami gejala sakit jantung ?


Kenapa Eric mendadak mengajak Isabel pulang ?


Apa terjadi sesuatu lagi dengan kandungan Chloe seperti waktu itu ?


Jangan-jangan Aiden melampiaskan kemarahannya pada Chloe. OMG !


Temukan jawabannya di part berikutnya ya. Jangan lupa like dan vomment.


See you next part, Love !