100 Days

100 Days
Part 12



Sejak dua hari lalu Isabel sudah kembali ke rumahnya. Dia juga sudah aktif melanjutkan kuliahnya yang sempat terbengkalai beberapa waktu ini.


Setelah aksi bar-barnya kemarin, Isabel seharian tidak keluar dari kamar. Bukan karena dia menyesal atas apa yang dia lakukan pada Chloe, dia hanya sedang malas untuk melakukan apapun. Ditambah, Aiden yang menghilang entah kemana.


"Eric. Apa yang telah dilakukan pria brengsek itu pada Aiden?"


Isabel yakin menghilangnya Aiden pasti ada hubungannya dengan Eric. Dilihat dari luar saja sudah bisa ditebak kalau pria itu sangat angkuh dan pemaksa. Bahkan Aiden tidak bisa berkutik dihadapannya.


Sore harinya Isabel keluar dari kamar dengan pakaian rapi. Dia mengenakan dress selutut berwarna nude dengan hiasan bunga-bunga kecil di bagian dada. Rambutnya dikuncir kuda. Riasan naturalnya membuat Isabel terlihat seperti anak 15 tahun yang akan pergi ke taman hiburan. Kalau bukan karena stiletto berwarna gading dan sling bag Gucci yang menggantung di bahunya, pasti tidak ada yang mengira kalau gadis bertubuh mungil itu sudah berumur 21 tahun.


"Kau mau kemana, Sayang?" tanya Emma yang sedang duduk di sofa kulit dengan sebuah majalah fashion di tangannya.


"Ada janji dengan Alice." Isabel menghampiri Emma dan mengecup pipi ibunya itu lalu pergi begitu saja.


"Jangan pulang terlalu malam." Emma setengah berteriak sambil menggeleng pelan.


"I got it," sahut Isabel yang sudah semakin jauh.


Sebuah taksi sudah menunggu di halaman. Isabel segera masuk dan taksi itu pun perlahan-lahan melaju meninggalkan halaman rumah.


Taksi itu melaju membelah jalanan kota yang cukup padat, membawa Isabel ke pusat kota dan berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit yang megah.


Setelah turun dari taksi, Isabel berjalan ke arah gedung itu. Gedung tinggi dengan simbol huruf M besar yang memancarkan cahaya putih sangat terang saat malam.


Tidak salah lagi, Isabel mendatangi perusahaan Aiden. Lebih tepatnya perusahaan milik kakek Aiden yang baru-baru ini diserahkan kepada Aiden.


Well, sebenarnya Isabel tidak ada janji dengan Alice. Nama Alice hanyalah kunci pembuka jalan Isabel untuk keluar rumah. Dia sengaja datang kesini untuk mencari kekasihnya. Dia sangat merindukan laki-laki itu.


Dengan langkah pasti Isabel menuju ke bagian resepsionis. Sebentar lagi jam kerja akan berakhir, dan Isabel berharap bisa bertemu dengan Aiden setelahnya.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis cantik dengan name tag 'Susan'. Senyumnya ramah khas resepsionis.


"Aku ingin bertemu dengan--"


"Dia ada janji denganku," sahut seorang laki-laki dari arah belakang Isabel. Suara beratnya terdengar cukup familiar.


Resepsionis itu tersenyum dan mengangguk hormat pada laki-laki itu berbarengan dengan Isabel yang membalikkan badannya. Mata Isabel membelalak saat mengetahui siapa yang memotong ucapannya tadi. Itu Eric!


"Dia keponakanku." Eric tersenyum ramah pada Susan sambil merangkul bahu Isabel dan mencengkeramnya kuat. "Ayo, kita pulang," kata Eric dengan nada ringan. Eric segera menggiring paksa Isabel keluar gedung tanpa memberi kesempatan pada gadis itu untuk terkejut.


"Lepaskan aku!" Isabel berusaha melepaskan cengkeraman Eric, namun sia-sia. Cengkeraman tangan Eric terlalu kuat untuk di lepaskan.


Eric terus berjalan dengan cepat sambil menelepon seseorang tanpa memedulikan Isabel yang meronta dan terseok-seok mengikuti langkah lebarnya.


Begitu keluar dari gedung, sebuah mobil Audi hitam berhenti tepat di hadapan mereka. Pria berjas hitam keluar dari dalam mobil lalu berjalan memutar dan membuka pintu sebelah kanan.


Eric menggiring Isabel ke mobil dan melempar tubuh Isabel ke dalam. Ya, benar-benar melempar. Tanpa berkata apapun, Eric membungkuk lalu memasang safety belt ke tubuh Isabel. Pria berjas hitam itu segera menutup pintu mobil setelah Eric menegakkan tubuhnya dan dengan cepat memutari mobil. Hanya dalam sekejap mata, Eric sudah duduk dibalik kemudi. Pria itu sungguh gesit.


"What the hell you doing? Are you out of your mind?!" cecar Isabel saat mobil itu mulai melaju.


"Nope! But you are!" balas Eric dengan suara mendesis seperti seekor viper yang siap menyerang.


Untuk beberapa saat hanya keheningan yang ada. Isabel menebak-nebak apa yang akan dilakukan pria disampingnya itu. Sementara Eric, dia juga menebak-nebak rencana apa yang akan dimainkan gadis itu.


Eric memicingkan mata pada gadis disampingnya. Dari sorot matanya terpancar kecurigaan. "Apa yang kau rencanakan, hah?" tanya Eric penuh curiga. Kedatangan Isabel ke kantor Aiden pasti bukan tanpa alasan.


"Aku hanya ingin bertemu kekasihku. Apa masalahmu?!" jawab Isabel dengan emosi yang meledak-ledak.


Eric melirik Isabel sebelum berkata dengan suara rendah tapi tajam yang membuat Isabel semakin membencinya, "Masalahnya, orang yang ingin kau temui adalah calon suami perempuan lain." Eric tidak akan membiarkan gadis itu mengacaukan pernikahan Chloe.


Isabel tersenyum sinis. Eric benar-benar membuatnya meradang.


"Mantan calon suami," tukas Isabel dengan penuh keyakinan. "Dasar keluarga gila!" lanjutnya dengan suara rendah tapi masih bisa di dengar Eric.


Eric mendadak menginjak pedal rem lalu menepikan mobilnya yang kebetulan sedang melintas di sebuah jembatan.


Tubuh Isabel terantuk ke depan karena mobil yang berhenti tiba-tiba.


"Kau mau membunuhku?!" jerit Isabel sambil memegang dadanya yang terasa nyeri akibat tahanan safety belt di tubuhnya.


Eric melepas safety belt-nya lalu memutar tubuh menghadap Isabel. Rahangnya mengetat dengan gigi yang saling beradu. Mata kelabunya menggelap menandakan amarah yang kian memuncak.


"Hentikan apapun yang sedang kau rencanakan atau kau akan menyesal telah berurusan denganku." Eric kembali mendesiskan ancaman pada Isabel.


Isabel tidak mau kalah. Dia juga melepas safety belt yang mengekangnya dan posisinya sekarang berhadapan dengan Eric.


Seringai tipis tercetak di bibir Isabel. Mendapat ancaman dari Eric sama sekali tidak menciutkan nyalinya.


"Kalau aku tidak mau?" tantangnya.


Isabel tersenyum miring melihat Eric yang seperti kehabisan kata-kata ancaman.


"What did you call me?" tanya Eric dengan nada ringan sambil menautkan alis. Wajahnya tidak sekeras tadi. Nada bicaranya santai seolah dia lupa dengan ucapan Isabel.


Isabel mengerjapkan matanya beberapa kali. Gadis itu belum memahami maksud Eric. Dia juga tidak tahu ucapan yang mana yang Eric maksud.


"Biarkan aku membantumu mengingatnya." Keadaan seperti berbalik. Isabel mulai terlihat gusar saat melihat bibir Eric perlahan membentuk sebuah seringai.


"Kau tadi mengatakan keluargaku adalah 'keluarga gila'." Eric menyeringai semakin lebar. "Jadi aku akan menunjukkan padamu seberapa 'gila'nya diriku."


Ucapan Eric berhasil membuat Isabel sedikit takut. Apalagi posisinya saat ini sedang berada di dalam mobil hanya berdua dengan Eric. Entah kenapa Isabel merasa kesulitan hanya untuk menelan saliva. Namun dia berusaha untuk tidak menunjukkan kelemahannya di hadapan pria 'gila' itu.


Pertahanannya hampir runtuh saat Eric mulai mencondongkan tubuhnya ke arah Isabel. Wajahnya masih menyeringai, yang membuat Isabel secara refleks beringsut mundur hingga tubuhnya membentur pintu mobil.


"Apa yang kau lakukan?" Suara Isabel mulai terdengar bergetar. Oke, sekarang Isabel benar-benar ketakutan.


Rasa takut Isabel memunculkan seringai kemenangan di wajah Eric. Pria 'gila' itu semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Isabel.


Merasa keadaan semakin tidak menguntungkan, Isabel memejamkan matanya. Takut. Kedua tangannya refleks menyilang di depan dada sebagai bentuk pertahanan diri. Dia bergidik saat merasakan embusan hangat napas Eric mulai menerpa wajahnya. Mint. Isabel bisa mencium aroma napas Eric. Segar. Meskipun sedang ketakutan, indera penciuman Isabel masih berfungsi normal.


Tubuh Isabel mulai gemetar saat jari Eric menyentuh pipinya. Isabel merasa tubuhnya kaku seperti manekin. Untuk menepis tangan Eric pun rasanya dia tidak bisa menggerakkan tangannya.


Napas Eric beralih ke telinga Isabel. Membuat gadis itu merinding. "Get out of my car," bisik Eric di telinga Isabel.


Menyadari apa yang dikatakan Eric, Isabel segera membuka mata. Hal pertama yang dia lihat Eric sudah menjauhkan wajah tapi masih menatap tajam padanya.


"I SAID GET OUT OF MY CAR!" teriak Eric dengan mata berkilat marah.


Isabel mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum bisa mencerna kalimat Eric dengan baik. Saat fokusnya kembali, Isabel melotot pada Eric.


"Hey, kau tidak serius menurunkanku disini, kan?"


Isabel melihat keluar lalu kembali melihat Eric yang sedang tersenyum menyebalkan.


"Kenapa? Kau takut?" tanya Eric sarkas.


"A-aku--" Isabel terbata-bata.


"Orang 'gila' bebas melakukan apa saja, bukan?" Eric merasa diatas angin. Dia yakin nyali gadis itu pasti menciut.


Isabel mulai gelisah. Jujur dia takut kalau harus turun di jalanan seperti ini. Apalagi dengan pakaian yang dipakainya saat ini. Hari semakin gelap. Disini pasti juga sulit mendapatkan taksi. Isabel bingung harus bagaimana. Alhasil dia tidak bisa membalas ucapan Eric.


"Get out now!" perintah Eric dengan suara mendesis dan penuh penekanan.


Isabel masih membeku di tempatnya. Dadanya naik turun dengan cepat. Rasa kesal dan benci kembali menguasai hatinya saat mendengar Eric lagi-lagi menyuruhnya turun dari mobil.


"Now!"


"Aku sangat membencimu!"


Isabel membuka pintu mobil lalu keluar dengan rasa benci dan kesal yang luar biasa.


"**** you!" Isabel mengacungkan jari tengahnya sebelum akhirnya membanting pintu mobil Eric dengan keras hingga mobil itu bergoyang sebagai bentuk protes atas perlakuan Eric.


Sementara itu, Eric memasang senyum puas di wajahnya melihat kekalahan Isabel. Tanpa menunggu lama Eric segera melajukan mobilnya dengan cepat. Tidak lupa dia memberikan salam perpisahan dengan membuat suara decitan ban yang beradu dengan aspal dibarengi raungan mesin mobil yang menambah aksinya terlihat semakin dramatis.


***


tbc.


*


*


*


*


*


Duh, Bang Eric tega bener yak. Cewek diturunin di jalan gitu aja. Nggak tanggung jawab banget tuh si Abang.


Gimana nasib Isabel setelah ditinggal Eric ?


Semoga nggak diculik orang jahat.


See you next part !