
Aku sangat bersyukur operasi Eric akhirnya berhasil. Dia bahkan berhasil kembali dari kematian. Sekali lagi ini membuktikan bahwa suamiku adalah orang yang benar-benar tangguh. Kurasa malaikat maut akan menaruh dendam kesumat padanya karena dia berhasil lolos lagi dari kematian.
Aku sengaja meminta Eric untuk dipindahkan ke rumah sakit di Brownsville, meski harus dengan sedikit paksaan. Tiga hari setelah operasi, kondisi Eric sudah bisa dibilang stabil. Hanya saja hingga saat ini dia belum juga sadarkan diri.
Dengan meminjam properti milik keluarga Muller, aku bisa membawa Eric kembali ke Brownsville dalam waktu singkat.
Di dampingi Mike dan Jordan, aku mengiring brankar yang memuat tubuh Eric turun dari private jet milik keluarga Muller.
Aku bisa melihat Chloe dan Aiden sudah menunggu kami di sisi sebuah ambulance. Chloe berlari mendekat dengan wajah berderai air mata. Dia menghampiri Eric dan semakin terisak, lalu dia memelukku sangat erat.
Aku yang sudah bisa berdamai dengan semua kejadian ini hanya bisa mengusap punggung Chloe dan mencoba meyakinkannya bahwa Eric akan baik-baik saja. Ya, Eric akan baik-baik saja. Aku selalu merapalkan mantra itu setiap kali melihat wajah lelap Eric. Aku hanya berharap Eric akan segera membuka kelopak matanya dan melihatku lagi.
Aku merindukan mata kelabunya. Aku merindukan rayuannya. Aku merindukan senyum menyebalkannya.
Tiba di rumah sakit, Eric segera mendapatkan penanganan intensif. Berbagai pemeriksaan pun dilakukan untuk memastikan kondisi alat vitalnya baik-baik saja.
Begitu pemeriksaan selesai, Eric segera dipindahkan ke ruang perawatan. Ventilator masih menempel di hidung Eric. Beberapa kabel yang terhubung pada patient monitor juga kembali ditempel di dada Eric.
"Dia stabil," ucap Dr. Zeta. Di rumah sakit ini, Dr. Zeta lah yang akan menangani Eric.
"Terima kasih, Dokter," ucapku sambil memaksakan senyum yang sebenarnya hanya sebuah formalitas, karena jujur aku sama sekali tidak ingin tersenyum. Separuh jiwaku yang lumpuh membuatku kehilangan hasrat untuk tersenyum.
Kamar tempat Eric dirawat ini cukup luas. Di sisi kanan ruangan terdapat sofa bed luas yang bisa kugunakan untuk beristirahat dan satu set sofa letter L lengkap dengan meja kaca cantik. Di dinding ruangan juga dilengkapi televisi layar datar. Tidak lupa lemari es serta vending machine juga menjadi pelengkap fasilitas ruangan ini. Sekali lagi aku harus berterima kasih pada keluarga Muller. Sebagai pemegang saham tertinggi di rumah sakit ini, kakek Aiden memberikan banyak sekali kemudahan dan fasilitas pada Eric. Kurasa setelah Eric sembuh nanti, kami harus menemuinya secara langsung untuk berterima kasih.
Disini hanya ada aku, Chloe dan Aiden. Sementara Mike dan Jordan, mereka harus kembali. Aku tidak bisa menahan mereka, karena mereka sudah menemaniku selama di Malibu. Lagipula, mereka mempunyai pekerjaan yang tidak bisa mereka tinggalkan lama-lama.
"Kita pulang sekarang," ucap Aiden sambil mengusap bahu Chloe yang sejak tadi belum bisa berhenti menangis.
"Aku masih ingin disini, Aiden. Aku tidak ingin meninggalkan Eric," tolak Chloe dengan suara yang semakin serak. Dia duduk di kursi yang ada di samping brankar Eric.
Aku mengerti. Chloe sudah kehilangan kedua orang tuanya. Tentu dia sekarang merasa takut saat melihat kondisi Eric yang seperti ini. Aku tahu, dia juga takut kehilangan Eric.
"Annabeth membutuhkanmu," bujuk Aiden lembut.
"Tidak. Eric lebih membutuhkanku." Chloe menangis lagi. Dia menggerakkan tangannya untuk membelai wajah Eric yang tidak tertutup ventilator.
"Aku yakin Eric tidak akan suka kau mengabaikan Annabeth seperti ini. Besok kau bisa kembali lagi, Sayang."
Tanpa sadar sudut bibirku tertarik tipis mendengar ucapan Aiden. Aku bisa melihat cinta Aiden untuk Chloe semakin besar. Lalu aku memejamkan mataku rapat-rapat. Ini mengingatkanku pada Eric. Aku sangat merindukan tatapan memujanya padaku. Aku merindukan kata-kata manis yang selalu dia ucapkan padaku.
"Aiden benar. Annabeth membutuhkanmu. Aku akan menjaga Eric." Setelah berhasil menguasai perasaanku, aku ikut membujuk Chloe. Bukan aku mengusirnya, tapi Annabeth memang lebih membutuhkan ibunya.
Setelah beberapa saat terus membelai wajah Eric tanpa berhenti meneteskan air mata, Chloe akhirnya menurut. Dia dan Aiden pulang. Tinggal aku sendiri disini.
Aku duduk di kursi yang tadi dipakai Chloe. Aku membelai wajah Eric dengan sentuhan lembut, berharap dia merasakan cintaku dari sentuhan yang kuberikan padanya.
"Buka matamu, Baby. Apa kau tidak merindukanku?" Aku berbicara lirih tanpa berhenti menggerakkan tanganku.
Kenapa Eric tidak juga membuka matanya? Dokter bilang operasi Eric berhasil dengan baik. Kondisinya juga stabil. Tapi kenapa hingga sekarang dia tidak membuka matanya? Apa ada yang terlewatkan oleh dokter? Apa ada luka yang belum diobati?
Aku tidak mengerti. Jika kondisi Eric sudah baik, kenapa dia masih seperti ini? Kupejamkan lagi mataku sambil menghela nafas dalam untuk mnegusir sesak di dadaku.
Terlalu larut dalam perasaan membuatku tidak menyadari kedatangan kedua orang tuaku. Sentuhan di bahuku membuatku mengangkat wajah. Kulihat Mom berdiri disampingku dengan mata basah. Aku berdiri lalu memeluknya erat. Aku merindukan Mom. Aku ingin mencurahkan semua yang kurasakan pada Mom. Aku ingin mama mendengar semua yang kupendam selama beberapa hari ini.
Aku melepaskan pelukanku pada Mom untuk memeluk Dad yang juga terlihat sangat bersedih. Dad memberiku banyak sekali ciuman di kepala. Dad juga membisikkan kalimat-kalimat yang membuat hatiku menjadi lebih kuat.
Kami bertiga duduk di sofa. Aku menyandarkan tubuhku pada Mom. Mom memelukku dari samping, mendengarkan semua ceritaku. Mendengarkanku mengeluarkan semua beban yang menjejali hatiku selama beberapa hari ini.
Aku membuka mata dan menemukan diriku sedang tertidur di sofa dengan berbalut selimut hangat. Aku menoleh ke arah brankar, kulihat papa sedang duduk menemani Eric.
Aku turun dari sofa, berjalan perlahan mendekati papa. Namun langkahku terhenti saat aku mendengar Dad berbicara pada Eric. Awalnya kukira Eric sudah siuman, tapi kulihat mata Eric masih terpejam rapat seperti semula. Meski pelan, aku bisa mendengar dengan jelas apa yang papa bicarakan.
"Maafkan aku, Nak. Maafkan aku." Air mataku pun jatuh lagi saat aku melihat tubuh Dad bergetar sambil mengucapkan kata maaf pada Eric. Namun aku masih bertahan di posisiku berdiri.
"Bangunlah, buka matamu. Putriku sangat mencintaimu, jangan biarkan dia terluka seperti ini. Bukankah kau sudah berjanji akan selalu membahagiakan putriku? Maka bangunlah, buktikan ucapanmu padaku. Aku tidak sanggup melihat putriku seperti ini. Dan hanya kaulah yang bisa membawa senyum bahagia putriku kembali. Bangunlah agar putraku bisa menghajarmu lagi karena kau telah membuat putriku menangis." Kudengar Dad tertawa pedih sambil menggerakkan tangan untuk mengusap pangkal matanya.
Dad sedikit mendongak lalu menghela nafas dalam. Lalu pandangannya kembali mengarah pada Eric. Tangan besarnya membelai kepala Eric yang dibebat kain kasa berwarna putih.
"Jika kau kembali, aku akan membebaskanmu dari semua syarat yang pernah aku ajukan padamu. Bukankah itu tawaran yang sangat menarik, hm? Kumohon, kembalilah pada putriku, Nak."
Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjalan mendekat lantas memeluk Dad dari belakang.
"I love you, Dad."
Dad membalik tubuhnya lantas mendekapku erat. Kami bertahan dalam pelukan itu untuk beberapa saat sambil menangis hingga seseorang membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
Mom yang baru saja datang, entah dari mana, melihat kami dengan tatapan terkejut. Namun tidak butuh waktu lama Mom sudah mengerti apa yang terjadi.
"Kebetulan kau sudah bangun, Sayang. Kita makan bersama-sama, okay," kata Mom sambil membawa bungkusan makanan ke meja.
Sebenarnya aku tidak berselera makan. Tapi Dad memaksaku untuk makan meski hanya sedikit.
"Kau harus tetap menjaga kesehatanmu, Sayang. Jika kau sakit, siapa yang akan menjaga suamimu?" Mom membukakan bungkus makanan untukku.
"Kau tahu, di dalam rumah tangga, seorang istri, apalagi kalau sudah menjadi seorang ibu, kita dituntut untuk menjadi wanita yang tangguh. Kita masih bisa mengurus semuanya jika anak atau suami kita sakit. Namun jika kita yang sakit, kau akan tahu bagaimana kacaunya rumah tanpa kita. Jadi, kau harus terbiasa untuk tetap menjaga dirimu agar tetap sehat saat ada anggota keluargamu yang sakit. Jangan biarkan dirimu ikut sakit karena itu sama saja dengan bencana."
Aku tidak begitu mengerti dengan yang Mom ucapkan. Tapi aku tahu, Mom bicara seperti itu pasti karena Mom sudah lebih banyak pengalaman dalam rumah tangga.
"Aku yakin tidurmu beberapa waktu lalu adalah tidurmu yang paling berkualitas selama beberapa hari ini. Dan perlu kau tahu, tidur yang berkualitas tidak berarti kau harus tidur dalam waktu yang lama. Tidur selama satu jam dalam keadaan lelap dan nyaman itu lebih baik dari pada tidur selama 8 jam dengan begitu banyak hal yang dipikirkan hingga membuat tidurmu tidak nyenyak."
Dan aku merasakannya. Beberapa hari ini aku memang mencoba untuk tidur, tapi aku lebih sering tiba-tiba terbangun dengan keadaan cemas dan gelisah karena memikirkan Eric. Dan baru kali ini aku merasa tidurku sangat nyenyak. Kulihat jam di dinding, aku tidur selama hampir tiga jam. Dan efeknya, aku terbangun dengan tubuh yang lebih rileks. Kepalaku juga tidak seberat tadi. Mungkin karena aku merasa lega telah menceritakan semua yang kurasakan pada orang tuaku. Atau mungkin karena nyamannya pelukan Mom hingga aku bisa tertidur dengan sangat lelap.
Apakah Eric juga merasakan hal yang sama? Dia merasakan tidurnya sangat nyaman hingga dia enggan untuk terbangun? Apa dia sedang bermimpi bertemu dengan kedua orang tua yang sangat dia sayangi hingga dia tidak sadar bahwa itu semua hanya refleksi kerinduan yang membuncah dalam hatinya?
Apa kau tidak merindukanku, Eric? Aku disini selalu menunggumu membuka mata. Aku rindu mulut tajammu, Baby. Aku rindu semua dari dirimu. I miss the way you love me. I miss the way you treat me. I miss all the way you make me feel like I'm the happiest women in the world.
*
*
*
*
*
tbc.
Syukurlah operasi Eric berjalan lancar. Tapi kok nggak bangun-bangun ya?
Apakah di part selanjutnya Eric sudah bangun?
See you next part, Love.