100 Days

100 Days
Dead Soul



~ ERIC~


Isabel. Gadis belia yang bekerja padaku sebagai asisten pribadi. Aku merasa ada sesuatu tentang dirinya yang sangat aku kenal, tapi aku tidak tahu apa itu. Awalnya aku merasa terganggu dengan keberadaannya. Hah! Aku tidak pernah membutuhkan asisten dalam hidupku. Tapi mereka bersikeras meyakinkanku bahwa aku membutuhkan jasa gadis itu.


Baiklah, aku memberinya kesempatan. Pekerjaannya lumayan. Tapi tidak cukup memuaskan. Gadis itu terlihat takut padaku, tapi aku juga sering melihat dia terlihat sangat mengkhawatirkanku. Aku tidak peduli!


Karena yang ada di otakku saat ini adalah Elena. Dimana dia sekarang? Bagaimana keadaan anakku? Keparat Jordan sama sekali tidak mau memberitahuku dimana Elena. Bahkan adikku sendiri bungkam. Aku tahu ada yang mereka sembunyikan dariku. Aku mencoba mencari informasi tentang Elena. Tapi nihil! Aku sama sekali tidak menemukan petunjuk apapun.


Lalu aku melihat sebuah benda yang menghantui tidurku. Sebuah gelang mutiara hitam. Dan aku melihatnya melingkar di pergelangan tangan Isabel.


Aku mencekal tangannya. Kuperhatikan gelang itu baik-baik. Ya, itu sama persis seperti yang ada dalam mimpiku.


Saat aku bertanya dari mana dia mendapatkan gelang itu, dia bilang dia mendapatkannya dari suaminya.


Hah! Aku tidak percaya, anak ingusan seperti dia sudah menikah. Masuk akal kah? Kurasa dia hanya anak ingusan yang membutuhkan uang untuk membeli shabu.


Lalu mimpi demi mimpi mengusik tidurku. Mimpi yang membuatku tiba-tiba terjaga. Aku tahu aku mengalami amnesia. Dan mungkin mimpi-mimpi yang aku alami adalah bagian dari masa lalu yang aku lupakan.


Semakin hari mimpi-mimpi itu semakin menyiksaku. Ini sangat menyakitkan. Seolah ribuan bola lampu masuk ke dalam kepalaku dengan kecepatan tinggi.


Lalu aku mulai menulis mimpi yang kuanggap sebagai potongan-potongan memori masa laluku itu pada kertas memo. Gelang mutiara hitam, pantai, sunset, rambut pirang seorang wanita, iris biru yang sangat indah, Greenfalls, Lighthill, Amytville, juga  seekor srigala yang melompat padaku dan mengoyak lenganku.


Aku tidak tahu apa makna mimpi-mimpi itu. Aku hanya menemukan jalan buntu dan rasa sakit luar biasa di kepala setiap aku mencoba mengingat masa laluku.


Ketika aku merasa tubuhku sudah cukup kuat, aku datang ke Skytech. Aku berniat untuk mulai bekerja hari itu. Tapi fokus pikiranku berpusat pada layar LED yang ada di ruanganku. Layar itu menampilkan tayangan iklan Skytech. Namun aku merasa ada sesuatu dalam layar itu. Aku merasa bukan iklan Skytech yang seharusnya ditampilkan dalam layar itu. Tapi aku tidak tahu. Aku tidak ingin mengingatnya karena aku tahu rasanya akan sangat menyakitkan. Otakku akan terasa seperti ditusuk-tusuk paku.


Sebelum jam kerja berakhir, aku memutuskan untuk meninggalkan Skytech. Ada satu tempat yang ingin aku datangi sejak aku keluar dari rumah sakit. Safe house. Aku merasa ada sesuatu dari safe house yang mengikatku dengan kepingan masa laluku yang hilang.


Aku mengelilingi setiap sudut safe house. Disini aku merasa sesuatu dalam diriku mencoba berontak. Aku merasa ada sesuatu dalam diriku yang berteriak. Kepalaku sakit. Sendi-sendi di kakiku terasa lumpuh hingga tubuhku luruh ke lantai. Kepalaku seperti mau meledak.


Kucoba menekan rasa sakit itu. Aku mengatur nafas beberapa kali. Setelah kondisiku membaik, aku bangkit. Aku masuk ke dalam kamar. Lagi-lagi rasa sakit itu menyerang.


Puncak rasa sakit yang kurasakan adalah saat aku memasuki walk in closet. Aku menemukan beberapa barang yang bukan milikku. Aku mendekati barang-barang itu. Setiap barang yang aku sentuh memberikan efek seperti sebuah tembakan paku ke dalam kepalaku. Hingga aku melihat deretan pakaian yang berjajar rapi dan aroma parfum wanita yang sangat familiar untukku. Ini bukan milik Elena. Semua barang-barang ini bukan milik Elena.


Lalu bayangan-bayangan itu muncul. Mereka memenuhi kepalaku hingga kepalaku hampir meledak. Aku mencoba meredamnya namun gagal. Aku kesakitan. Aku tidak sanggup lagi menahan sakit yang menusuk kepalaku. Aku menarik pakaian-pakaian itu dan melemparkannya ke segala arah. Aku semakin kesakitan. Hingga aku tak kuasa lagi menahan semuanya. Aku bersimpuh diantara pakaian-pakaian itu. Gejolak kuat dalam hatiku membuat tubuhku bergetar. Bukan hanya kepalaku yang sakit, entah kenapa hatiku jauh lebih sakit saat menyentuh barang-barang itu. Aku membiarkan diriku menangis. Aku mengeluarkan sesak yang menghimpit jiwaku.


Aku kembali ke rumah setelah merasa lebih baik. Sepanjang perjalanan di kepalaku tidak berhenti berpikir. Siapa pemilik semua barang itu? Kenapa aku merasa semua itu sangat berarti untukku?


Saat aku memasuki rumah. Aku melihat asistenku berjalan mendekat padaku. Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun saat ini. Aku ingin sendiri. Tapi asistenku bersikap seolah dia adalah istriku. Dia berlagak seolah dia adalah orang yang penting buatku. Aku muak. Aku ingin dia meninggalkanku sendiri.


"Berhenti bersikap seolah kau adalah istriku! Kau harus ingat bahwa kau hanya asistenku, bukan istriku!"


Aku tahu aku keterlaluan. Aku hanya ingin sendiri. Aku lelah menghadapi semua mimpi buruk ini. Aku ingin dia membiarkanku sendiri.


Aku masuk ke dalam kamar. Aku menyesal. Aku tidak bermaksud menyakiti Isabel. Aku hanya merasa sangat lelah.


Lalu aku berjalan ke arah balkon untuk menghirup udara segar. Berada di dalam kamar membuat otakku semakin penat.


Kulihat sebuah gitar tergeletak diatas meja. Kuambil gitar itu lalu kumainkan beberapa lagu. Aku memejamkan mata saat tiba-tiba sebuah lagu melintas dalam pikiranku. Sebuah lagu yang kurasa memiliki makna yang begitu dalam.


Jariku bergerak mulai memainkan dawai gitar itu untuk mengeluarkan perasaan yang kurasakan tentang lagu 3 Doors Down. Aku merasa lagu itu membiusku. Lalu kepingan masa lalu itu muncul lagi. Aku melihat sepasang mata biru memperhatikanku dari pintu Willow Spring. Aku merasa aku menyanyikan lagu itu untuknya. Lagu yang penuh luka dan kerinduan. Aku merindukan orang itu. Aku tahu. Aku sangat merindukannya. Tapi ... siapa dia? Semakin kugali ingatanku semakin sakit kepalaku. Hingga aku tidak sanggup lagi melanjutkan lagu itu.


Aku merenung di dalam kamar. Tapi tiba-tiba aku teringat wajah kaku Isabel saat aku membentaknya tadi. Aku tahu aku sudah keterlaluan. Aku tahu dia hanya berusha bersikap baik padaku.


Saat kubuka pintu kamar, aku melihat Isabel berjalan ke dapur. Aku ragu. Namun akhirnya kuputuskan untuk mengikutinya. Rupanya dia membuat minuman untukku.


Dalam hati aku mendengus. Lihat saja, aku sudah menyakitinya, tapi dia masih tetap bersikap baik padaku. Aku sama sekali tidak mengerti, harusnya dia membenciku. Lalu kuputuskan untuk meminta maaf. Kurasa aku sudah terlalu kejam padanya selama ini. Sikapku sangat buruk kepadanya.


Aku tidak pernah menduga bahwa aku akan melakukannya. Harusnya aku cukup meminta maaf dan semua selesai. Tapi keesokan harinya, aku melakukan sesuatu hal yang tidak kumengerti.


Isabel menemaniku bermain gitar. Tapi dia justru menangis entah karena apa. Ada perasaan menggelitik dalam hatiku saat melihatnya seperti itu. Aku menatap lekat kedua mata gadis itu. Aku melihat sesuatu disana. Aku merasa mengenal mata itu. "I know this eyes".


Aku tidak tahu, aku tidak pernah berniat melakukannya. Namun dorongan kuat dari dalam hatiku membuatku tak berdaya untuk menyentuh bibirnya.


Ya, aku menciumnya. Aku membuat istri seseorang menghianati suaminya. Aku tahu dia menangis saat aku menciumnya. Mungkin dia merasa bersalah telah menghianati suaminya. Tapi aku tidak bisa berhenti, terlebih saat dia membalas ciumanku. Sesuatu dalam hatiku merasa sangat merindukan ciuman itu. Aku seperti seorang musafir yang menemukan mata air di tengah gurun.


Aku tidak pernah merasa mencium seorang wanita dengan perasaan seperti ini sebelumnya. Perasaan aneh yang membuatku seolah telah sangat lama menginginkan ciuman ini.


"I know this feeling." Saat aku melepaskan ciuman kami, aku kembali menatap lekat kedua matanya dengan kening yang masih menyatu.


Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia membawa pengarus besar dalam perasaanku?


Hal itu membuatku banyak berpikir. Dan aku memutuskan untuk memperlakukannya dengan baik. Karena saat dekat dengannya, aku merasa tenang. Bicara dengannya membuat hatiku terasa lebih ringan. Mimpi-mimpi buruk itu tidak lagi menghantui tidurku.


Lalu aku melihat sebuah headline news di televisi yang membuat Kedua mataku terbelalak.


Elena telah meninggal di tangan Jim. Dan penyebab Elena meninggal adalah Isabel. Kedua tanganku mengepal kuat. Wajahku mengeras. Urat-urat di leherku menyembul dari permukaan kulit. Dan dadaku bergemuruh hebat.


Isabel telah membuat Elenaku meninggal. Isabel, aku tidak akan mengampuninya. Aku bangkit dari sofa. Di kepalaku hanya ada satu keinginan. Aku akan memberi perhitungan pada j*lang sialan itu. Aku tidak bisa membiarkannya hidup enak di rumahku semenatara Elena telah meregang nyawa untuknya.


Kubuka pintu dengan kasar. Surprise! Gadis sialan itu berdiri di depan pintu kamarku. Kebetulan sekali.


Aku bisa melihat dia ketakutan melihatku. Aku yakin dia telah mengetahui berita itu. Aku tidak bisa lagi mengendalikan amarah dalam diriku. Satu-satunya yang ingin kulakukan adalah membalas kematian Elena dengan nyawa gadis itu. Dia tidak pantas hidup. Dia berhutang nyawa pada Elena. Dan dia harus membayar semua itu dengan nyawanya.


Aku tidak peduli dia merintih dan meronta. Tanganku mencengkeram kuat lehernya. Lalu aku merasa sesuatu dalam hatiku menamparku, membuat cengkeraman tanganku mulai mengendur. Hingga aku melepaskan tanganku dari lehernya. Sesuatu dalam diriku menahanku untuk melanjutkan niat itu. Sesuatu dalam diriku mengatakan bahwa ini salah. Ini sebuah kesalahan besar.


Kulihat tubuh Isabel limbung lalu membentur pembatas tangga. Dia kesulitan menjaga keseimbangan hingga tubuhnya terjatuh dan berguling menuruni anak tangga.


Lagi-lagi sesuatu dalam diriku ingin berlari menolongnya. Tapi ego menahanku. Gadis itu yang telah membuat aku kehilangan Elena.


Tubuh Isabel berhenti berguling setelah menyentuh lantai. Aku berdiri diujung tangga menyaksikan dia merintih kesakitan.


Aku tidak tahu kenapa hatiku merasa sakit melihatnya seperti itu. Aku ingin berlari menghampiri dan memeluknya.


Kulihat kepalanya berdarah. Dia melihat ke arahku sambil mengangkat tangannya dengan lemah. Dia menatapku, seperti memohon padaku untuk menolongnya.


Hingga aku melihat sesuatu mengalir diantara kedua kakinya. Darah. Lalu kulihat Isabel mencoba mengatakan sesuatu.


"Ba-yi-ku." Itu yang sempat aku tangkap dari bahasa bibirnya.


"Bayi?" Aku menelan ludah. Apa selama ini Isabel sedang mengandung?


Rasa sesal tiba-tiba menyergap ke dalam hatiku. Apa yang telah kulakukan? Aku mengangkat kedua tanganku. Aku melihat tangan dan tubuh Isabel bergantian dengan perasaan yang tidak karuan.


Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku ingin menangis. Air mataku menetes. Aku merasa sangat terluka. Aku merasa sangat bersalah. Aku merasa sangat berdosa.


Lalu aku berlari menuruni anak tangga. Aku meraih tubuh Isabel dan memeluknya. Kuraba perut Isabel yang ternyata sudah membesar. Air mataku semakin deras. Aku memeluk tubuh lemah itu semakin erat.


"Bells?" Aku menepuk pipinya. Tapi kedua matanya telah terpejam rapat. Tubuhnya terasa semakin dingin.


Ada rasa aneh yang menyelinap dalam hatiku. Aku takut. Aku tidak ingin kehilangan Isabel. Aku berteriak kencang sambil terus mendekap tubuhnya. Aku menangis, aku menjerit dan menggumamkan hal-hal yang tidak kumengerti.


Aku menciumi wajahnya. Aku ingin dia membuka mata. Aku sangat ketakutan. Aku takut kehilangan Isabel.


Lalu kudengar seseorang menerobos masuk ke dalam rumahku. Itu Jordan.


"Isabel?" Dia berlari mendekat pada kami.


"Apa yang telah kau lakukan, B*jingan!" Jordan meraih tubuh Isabel lalu mendorongku dengan kuat.


"Isbael! Buka matamu, Isabel!" Kulihat Jordan pun meneteskan air mata.


Lalu Jordan berpaling padaku dengan tatapan tajam. Dia meletakkan tubuh Isabel di lantai lalu bangkit dan dengan gerakan sangat cepat dia menarik kerah bajuku.


"Apa yang kau lakukan padanya, Keparat!" Jordan memukul wajahku. Disusul dengan pukulan-pukulan lain yang tidak ingin kubalas. Kubiarkan rasa sakit itu menjalar di tubuhku. Aku merasa pantas mendapatkannya.


Puas menghajarku, Jordan mencengkeram kerah bajuku dan menyudutkanku ke tembok. Aku bisa melihat emosi yang luar biasa dari mata Jordan.


Aku membiarkan Jordan melakukan apapun yang dia inginkan terhadapku. Lalu Jordan mendesiskan kalimat yang menghancurkan jiwaku. Kalimat yang tidak akan pernah aku lupakan dalam hkdupku.


"Buka matamu, B*jingan! Dia istrimu! Dan bayi dalam kandungannya adalah anakmu! Jika sampai terjadi hal buruk padanya, aku bersumpah aku akan membunuhmu!"


Jordan pergi. Dia membawa Isabel bersamanya. Sementara aku masih terduduk disini dengan wajah babak belur. Kepergian Isabel bersama Jordan seolah turut membawa pergi jiwaku. Jiwaku yang telah mati.


*


*


*


*


*


tbc.


Kita lihat dari kacamata Eric, seberapa besar luka yang dia gali dalam hatinya sendiri.


See you next part, Love.