100 Days

100 Days
Part 28



Isabel sedang berada di dapur untuk membereskan sisa makan siang saat ia mendengar suara seorang pria masuk ke dalam safe house.


"Keparat itu pikir aku tidak bisa menembus sistem keamanannya? Merepotkan saja!" umpat seseorang yang baru saja masuk.


Itu bukan suara Eric. Siapa? Orang jahat? Isabel bersiaga dengan menggenggam pisau yang tadi dia gunakan untuk memotong sayuran.


Dia berbalik tepat saat pria yang baru masuk itu melihat ke arahnya.


"Siapa kau?" Pria itu tampak terkejut melihat Isabel berada dalam safe house. Dia menoleh ke kanan dan kiri seperti memastikan jika dirinya tidak salah tempat.


"Kau yang siapa?" Isabel menyembunyikan pisau di belakang tubuhnya sambil bersandar di meja pantry.


Pria itu berjalan pelan mendekat ke pantry sambil menyugar rambutnya yang agak panjang. Kedua alisnya bertaut, bertanya-tanya apakah gadis ini kekasih Eric?


Pria bermantel hitam itu berhenti tiga meter dari Isabel. Isabel menguatkan genggamannya pada pisau. Eric bilang hanya dia yang bisa membuka pintu safe house. Lantas siapa pria ini? Kenapa dia bisa masuk?


"Aku Jordan." Pria itu mengulurkan tangan sambil melangkah mendekat.


"Jangan mendekat!" sergah Isabel sambil mengacungkan pisau di tangannya ke arah pria bernama Jordan itu.


Sontak Jordan mundur selangkah dan mengangkat kedua tangannya. "Wow, easy kid! I'm not a bad guy."


Jordan tersenyum miring. Meskipun dia mengangkat tangan, tapi tidak terlihat kekhawatiran sedikit pun di wajahnya, apalagi ketakutan. Dia justru berpikir jika gadis yang mengacungkan pisau padanya ini sangat menggemaskan.


Isabel bergerak gelisah saat Jordan mulai mendekat masih dengan tangan terangkat.


"Berhenti disana!" Isabel mengerjap-ngerjap cepat, tanda dia mulai ketakutan.


Jordan tidak berhenti, senyumnya masih mengembang dengan indah.


Hap! Dalam sekejap pisau di tangan Isabel sudah berpindah ke tangan Jordan.


"Jangan bermain-main dengan benda ini--" Jordan mengangkat pisau di tanganya lalu mengikis jarak dengan Isabel. "--"--berbahaya," bisiknya di telinga Isabel sambil menyelipkan pisau itu ke tempatnya di belakang Isabel.


Isabel yang ketakutan hanya bisa berdiri kaku. Bisikan Jordan di telinganya membuatnya merinding.


"Di mana Eric?" tanya Jordan sambil meletakkan tas ranselnya di meja makan. Dia melepas mantel dan meletakkannya begitu saja disamping tas ransel. Lalu dia menarik kursi untuk duduk.


"A-aku tidak tahu." Isabel terbata. Dia belum tahu, orang ini baik atau jahat. Dilihat dari wajahnya, Jordan terlihat seperti pria dengan catatan kriminal yang menggunung tapi terlalu cerdik untuk ditangkap.


Jordan menatap Isabel dari atas sampai bawah, menilai gadis itu. "Siapa namamu, Nak?"


"I'm not a kid! I'm 21!" Isabel tidak suka selalu dianggap anak-anak hanya karena postur tubuh mungil dan wajah bayinya.


Jordan tertawa. "Okay. Siapa namamu, Miss?"


"Bukan urusanmu!" jawab Isabel acuh.


Jordan melipat bibir setelah itu tersenyum. "Well, Miss 'bukan urusanmu', jadi apa hubunganmu dengan keparat---maksudku Eric? Apa dia kekasihmu?"


Isabel melotot mendengar pertanyaan Jordan. Tapi, mengingat dimana dirinya saat ini, wajar jika orang yang tidak tahu akan berpikir seperti itu.


"Bukan!" tegas Isabel.


Jordan menaikkan sebelah alisnya, sedikit menunduk dan menatap lurus pada gadis itu. Matanya seolah berkata 'So?'


"A-aku bukan siapa-siapanya," tambah Isabel.


Jordan tertawa lagi. Isabel tahu tawa itu artinya Jordan tidak memercayai ucapannya.


"Okay, Miss 'bukan urusanmu'. Apa kau keberatan jika aku bekerja disini?" Jordan mengeluarkan laptop dari dalam ransel. "Dan, tuan rumah yang baik, biasanya akan memberi segelas minuman untuk menghormati tamunya." Setelah berkata begitu, Jordan terlihat serius dengan pekerjaannya.


Orang ini! Mulut Isabel sampai menganga. Tamu? Di mana-mana tamu yang baik akan menunggu izin dari tuan rumah untuk masuk. Tapi dia? Masuk saja sambil mengumpati yang punya rumah. Dan sekarang, dengan seenaknya dia minta diberi minum.


Sinting!


Brak!!


Terdengar pintu dibuka dengan kasar.


"What the ****! Kau membobol pintuku lagi?!" Suara Eric menggelegar. Isabel yang duduk di sofa sampai melonjak terkejut.


Eric melangkah dengan cepat ke arah Jordan. Rahangnya yang mengeras menandakan dia sedang marah.


"Aku tidak melakukan apapun," jawab Jordan santai.


Tangan Eric mencengkeram kerah kaos Jordan hingga tubuh pria itu terangkat dan menjatuhkan kursi yang dia duduki tadi.


"Aku tidak suka kau menerobos masuk ke dalam propertiku! Apa susahnya menungguku dibawah?!" geram Eric.


"Di sini lebih baik. Apalagi ditemani seorang gadis cantik." Jordan tersenyum jahil. Matanya melirik pada Isabel yang melihat kedua orang itu dengan raut kebingungan.


Jordan menarik kursi yang terjatuh dan kembali melanjutkan pekerjaannya seolah tadi tidak terjadi apa-apa.


Dan Isabel, gadis itu melongo melihat adegan dihadapannya tadi. Entah apa hubungan diantara mereka, tapi sepertinya bukan hubungan yang baik.


Eric terlihat beberapa kali mengumpat sambil terus melakukan sesuatu dengan tabletnya. Jordan yang mendengar sumpah serapah Eric untuknya hanya tersenyum santai tanpa mengalihkan fokus dari laptopnya


"Sekali lagi kau lakukan ini, kupastikan hanya namamu yang akan kembali ke Amytville!" kata Eric setelah selesai dengan tabletnya.


"Aw, kau menyakiti perasaanku, Dude!" Jordan memperlihatkan ekspresi sedih yang dibuat-buat.


"Aku serius, Keparat!" Eric berjalan ke lemari pendingin masih dengan wajah keras. Dia ambil satu kaleng bir dingin dan meminumnya, berharap otaknya akan ikut dingin.


Jordan terkekeh. Ancaman Eric hanya dia anggap angin lalu. "Aku tidak meragukannya."


Keduanya duduk di meja makan tanpa suara. Mereka terlihat sibuk dengan benda mati di tangan mereka. Entah apa menariknya benda itu, hingga satu jam berlalu dan mereka masih sama-sama hening.


Hanya suara televisi yang ditonton Isabel yang mendominasi ruangan. Sebenarnya apa yang mereka kerjakan? Betah sekali diam-diaman seperti itu.


"So, kau tidak ingin mengenalkan seseorang padaku?" Suara Jordan menjadi pemecah keheningan yang seperti sudah terjadi berabad-abad lalu ini. Pria itu mematikan dan melipat laptopnya. Kedua tangannya bertaut dan dia gunakan untuk menopang dagu.


"Apa?" tanya Eric yang masih sibuk dengan tabletnya.


Jordan melirik Isabel yang ternyata sudah tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala. "Sekian lama menyendiri, membuatmu menjadi pedofilia?"


Mendengar pertanyaan itu, Eric mengangkat wajah dan melotot pada Jordan. "Apa maksudmu?" tanyanya sinis.


Jordan menunjuk Isabel dengan matanya. "Lumayan. Sangat menggemaskan." Jordan tersenyum nakal.


Eric melihat sebentar ke arah sofa lalu menatap malas pada Jordan. "Ambil saja kalau kau mau."


Jordan terbahak-bahak. Setahu dia, Eric belum pernah membiarkan seorang gadis memasuki safe house-nya ini sejak kejadian Elena. Jadi dia yakin jika Isabel adalah orang yang spesial buat Eric. "Oh, kau mematahkan hatinya, Dude!"


Tidak menjawab, Eric hanya menggeleng kepala malas dan memilih untuk fokus pada tabletnya.


"Waktu aku datang, dia mengacungkan pisau padaku." Jordan menarik sudut bibir kebawah. "Antisipasi yang bagus. Tapi sangat amatir." Jordan tersenyum jahil. "Kau mengajarinya dengan buruk, Eric."


"Aku harap dia tadi menusukmu," ketus Eric.


Lagi-lagi Jordan tertawa. "Jadi, siapa dia?"


"Kenapa tidak kau tanyakan sendiri padanya?"


"Sudah. Tapi, aku tidak puas dengan jawaban Miss 'bukan urusanmu' itu." Jordan mencebik.


Kali ini Eric yang tertawa. "Miss 'bukan urusanmu'?"


Jordan mengangkat gelas berisi jus jeruk yang tinggal separuh dan meminumnya sedikit. Dia mengangkat alis dan menarik bibir kebawah. "Waktu aku tanya siapa namanya, dia jawab 'bukan urusanmu'." Jordan minum jus jeruknya lagi. "Siapa namanya?"


"Entahlah, aku lupa." Eric menggeleng masih dengan sisa tawanya tadi. "Tanyakan lagi saja padanya."


"Kau menyakitinya, Eric. Partner one night stand?" selidik Jordan.


"Aku bukan pria seperti itu lagi," jawabnya.


"Jadi, siapa dia?" tanya Jordan lagi. Dia betul-betul dibuat penasaran dengan Isabel.


"Bukan urusanmu!" Eric menjawab, menirukan Isabel, lalu dia terkekeh.


Jordan memutar mata malas mendengar jawaban itu. Gadis tanpa identitas itu sungguh membuatnya penasaran. Tapi sayang, dua orang yang dia temui disana sama-sama tidak mau menjawab dengan benar.


Jordan terus memandangi Isabel yang tertidur di sofa. Cantik. Gadis itu sangat menggemaskan. Tanpa sadar dia tersenyum sendiri. Siapa dia? Mereka kompak sekali tidak mau menjawab. Jordan mendesah pelan dengan mata yang tak lepas dari Isabel.


"Keparat ini tidak mungkin menyimpan seorang gadis disini tanpa alasan. Siapapun dia, aku ingin membawanya pulang ke Amytville," batin Jordan.


Jordan terkekeh dengan kalimat terakhir yang terlintas dalam pikirannya. Bagi yang belum mengenalnya, pasti akan mengira dia orang gila karena tersenyum dan tertawa sendiri. Tapi itulah dia. Bahkan dia bisa tertawa terpingkal-pingkal sendiri karena apa yang ada dalam pikirannya. Menurutnya, otak itu seperti teman tak kasat mata yang bisa diajak mengobrol. Otak sering mengucapkan hal-hal yang frontal, tidak masuk akal dan imajinatif. Mungkin itu juga yang menjadikannya jenius. Jenius dan gila mempunyai batas yang sangat tipis, bukan?!


***


tbc.



Siapa itu Jordan ? Sebenarnya apa hubungannya dengan Eric ?


Mungkin lebih baik Isabel ikut dia ke Amytville aja kali ya, biar bisa melupakan Aiden.


Mari kita doakan semoga Isabel bisa cepat move on dari Aiden.


See you next part, love !