100 Days

100 Days
Part 38



Dua minggu berlalu begitu cepat. Hari-hari yang dijalani Isabel semakin menyenangkan. Hubungannya dengan Eric juga semakin membaik. Setiap hari dia masih membantu di Willow Spring. Semakin akrab dengan pegawai disana.


Pada akhirnya fakta bahwa Isabel bukan kekasih Eric terungkap. Leah, salah satu pegawai yang bertugas di bagian minuman akhirnya bertanya secara langsung pada Isabel, apakah gadis itu memang kekasih Eric.


Dan akhirnya Isabel tahu jika sebagian besar pegawai perempuan disana sangat mengidolakan Eric. Diam-diam mereka memuja bos mereka yang tampan tapi bermulut tajam itu.


"Astaga! Apa kalian tidak salah? Mengidolakan orang seperti dia?" Isabel tergelak kencang saat para pegawai perempuan di sana membicarakan Eric dengan mata berbinar dan begitu antusias.


"Kurasa matamu yang salah, Nona. Lihatlah betapa sempurnanya dia," tutur Leah, gadis itu menangkupkan telapak tangannya di wajah dengan ekspresi memuja. "Aku rela menyerahkan tubuhku untuknya," lanjutnya dengan suara yang dalam dan pandangan menerawang membayangkan wajah tampan Eric.


Apa yang diucapkan Leah sontak mendapat cibiran dari teman-temannya yang lain. "Kurasa kalian juga akan dengan senang hati membuka kaki lebar-lebar jika Bos meminta," balas Leah.


Isabel sungguh tidak habis pikir, bagaimana bisa mereka berpikir seperti itu. Dia hanya bisa ikut tertawa melihat tingkah konyol orang-orang disana.


"Aku bahkan sempat berniat mencampur obat pencahar dalam makanan Isabel waktu itu," ujar Grace sambil melirik Isabel.


Ujaran itu disambut tawa oleh yang lain. "Persis seperti yang aku pikirkan," timpal Claire.


Isabel mendelik. "Aku tidak menyangka kalian berpikir sekejam itu padaku." Isabel membuat ekspresi marah yang dibuat-buat.


"Karena kami mengira kau kekasih Bos, Isabel," tukas Leah. Gadis itu tertawa kencang.


"Ehem!"


Suara deheman membuat para gadis itu bungkam seketika. Mereka melihat ke arah yang sama. Pria latin yang sedang memasang wajah garang sedang berdiri di ujung meja bar sambil melipat tangan di dada dan menatap tajam penuh peringatan.


Keempat gadis itu segera kembali ke tempat masing-masing dan menyibukkan diri dengan pekerjaan apapun yang bisa mereka kerjakan.


Jose berjalan mendekat pada Isabel yang terlihat sedang menyibukkan diri dengan mengelap gelas.


"Bos memintamu datang ke ruangannya," kata Jose, menyambung lidah Eric.


Isabel menghentikan pekerjaannya, "Ada apa?"


"Bisa kau tanyakan sendiri padanya," jawab Jose. Pria latin itu membalik tubuh dan berlalu begitu saja.


Sepeninggal Jose, ketiga gadis lainnya mendekat pada Isabel. Penasaran kenapa Eric memanggilnya. Isabel mengangkat bahu saat Grace bertanya padanya.


Isabel segera meletakkan lap yang dia pegang lantas meninggalkan ketiga gadis disana. "Jangan menaruh apapun dalam makanan atau minumanku!" Sindirnya sambil memicingkan mata, memberi ancaman tidak serius pada ketiga gadis disana. Ketiga gadis itu hanya bisa tertawa hambar dan memperhatikan Isabel yang menjauh dari mereka.


Isabel mengetuk pintu ruangan Eric sebelum masuk.


"Kau memanggilku?" tanya Isabel.


Eric mengangkat wajah. "Duduklah," titahnya.


Gadis itu menggeser kursi lalu duduk di depan meja kerja Eric. "Ada apa?"


"Aku harap kau tidak menolaknya." Eric menyodorkan kotak berwarna putih dengan gambar gadget berwarna hitam. Sebuah ponsel.


Mulut Isabel sedikit terbuka. Dia terkejut. "Maaf, Eric. Tapi aku tidak bisa menerimanya," katanya kemudian.


Helaan napas dari mulut Eric terdengar cukup jelas. Dia sudah menduga Isabel akan menolaknya.


"Anggap saja ini sebagai ganti ponselmu yang kubuang ke danau," bujuk Eric.


Isabel menatap malas pada Eric. "Haruskah?"


Eric mengangkat alisnya. Dari tatapannya pria itu tidak ingin dibantah.


"Akhir pekan nanti aku akan ke Amytville. Jordan memintaku untuk mengajakmu. Dia bilang dia merindukanmu. Apa kau mau ikut?"


Jordan? Pria itu. Isabel juga merindukannya. Dia berpikir pasti akan sangat menyenangkan jika bisa datang kesana. Dia akan menagih janji Jordan untuk berkeliling Amytville. Ya, dia harus ikut.


"Aku mau," jawab Isabel antusias. "Aku juga merindukannya. Aku akan menagih janjinya padaku." Sebuah senyum lebar mengembang di wajah Isabel. Gadis itu betul-betul bersemangat untuk bertemu Jordan.


Eric ikut tersenyum. "Baiklah. Persiapkan dirimu untuk perjalanan panjang kita."


Kita? Hanya berdua? Perjalanan ke Amytville bisa memakan waktu 7 jam dengan menggunakan mobil jika arusnya lancar. Saat macet bisa sampai 8 hingga 9 jam perjalanan.


Amytville memang kota kecil di kaki gunung yang mempunyai pemandangan alam sangat menakjubkan. Letaknya di kaki gunung. Jalanan berkelok dan naik turun adalah yang membuat perjalanan jadi lama. Kota itu di kelilingi hutan cemara yang sangat luas. Sungai disana mengalirkan air yang sangat jernih, yang belum tercemar limbah pabrik.


Sungguh Isabel tidak sabar ingin segera kesana. Selama ini dia hanya mendengar keindahan Amytville dari teman-teman dan internet.


Alice pernah kesana dengan kekasihnya.


Isabel mendesah. Alice, Isabel merindukan sahabatnya itu.


Isabel membalikkan badan saat sudah berada di bibir pintu. "Eric," Panggilnya.


"Ada apa?"


"Boleh aku keluar sebentar?"


Eric tersenyum miring. "Kau minta ijin dariku?"


Isabel menurunkan bahunya. Jangan bilang Eric akan kembali bersikap menyebalkan!


"Aku akan meninggalkan pekerjaanku," kata Isabel.


"Kau mau aku mengantarmu?"


"Aku akan menemui temanku sebentar. Aku akan kembali sebelum gelap." Isabel terdengar seperti sedang meminta ijin pada kekasihnya. Gadis itu tidak menunggu jawaban Eric yang dia tahu pasti hanya akan membuatnya kesal.


"Tidak perlu minta ijin dariku. Kau bisa pergi kemanapun kau mau," kata Eric setelah Isabel keluar dari ruangannya.


*****


Sebuah taxi berhenti di depan sebuah gedung apartemen. Isabel berlari kecil memasuki lobi. Dia berjalan menuju lift yang akan mengantarkannya ke lantai 5.


Sesampainya di lantai 5, gadis itu melangkah menuju unit 5C tempat tinggal sahabatnya. Beruntung dia masih memegang kunci apartemen Alice. Sehingga dia bisa masuk dengan mudah.


Perlahan Isabel memutar knop pintu yang sudah tidak terkunci. Aroma parfum Alice memenuhi ruangan.


Isabel mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tidak ada Alice dimanapun. Lantas dia menuju ke kamar tidur Alice. Dia membuka pintu perlahan. Pandangan Isabel jatuh pada seorang gadis yang sedang meringkuk di ranjang dengan posisi membelakangi pintu.


Isabel jalan berjinjit hingga tidak menimbulkan bunyi sedikitpun. Dia mendekat ke tempat tidur. Lantas dia naik keatas ranjang sangat pelan agar Alice tidak terganggu.


Begitu sudah naik di ranjang, Isabel memeluk tubuh sahabatnya itu dari belakang. "I miss you, Alice." Ucap Isabel pelan.


Alice terkejut saat tiba-tiba merasakan sebuah tangan melingakar di perutnya. Dan saat dia mendengar suara yang sangat familiar, dengan cepat dia membuka mata dan membalikkan badan.


"Isabel!" Pekik Alice yang langsung bangun dari posisi tidurnya.


Isabel ikut duduk di hadapan Alice. "It's me."


Saat itu juga Alice memeluk sahabatnya. "Aku sangat merindukanmu, Bells. Kemana saja kau selama ini?"


Isabel tidak menjawab, dia diam dan hanya meluapkan rasa rindunya.


Alice melepas pelukannya lantas memicing pada Isabel. "Kau berhutang penjelasan padaku," katanya serius.


"Aku akan menceritakan semuanya. Tapi, bisakah kau buatkan aku minum dulu? Aku merindukan lemon squash buatanmu," kata Isabel.


Alice memutar mata malas. "Aku akan membuatnya. Tapi kau harus menjelaskan semuanya padaku." Alice turun dari ranjang sambil menunjuk Isabel.


Isabel mengangkat jarinya memberi isyarat 'ok' pada Alice.


"Jadi, apa yang kulewatkan selama ini?" selidik Alice saat sudah kembali ke kamar dengan nampan berisi kue coklat kesukaan Isabel dan dua gelas lemon squash.


Isabel berteriak antusias melihat kue coklat itu. Tanpa menunggu lagi dia melahap kue itu dengan rakus.


"Aku sudah lama tidak makan kue coklat. Eric bilang aku bisa terkena diabetes jika terlalu banyak makan kue coklat," ujar Isabel dengan mulut penuh kue.


Alice mengernyit. "Siapa Eric?" tanyanya penasaran. Sepertinya Isabel tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan tadi.


Pertanyaan Alice membuat Isabel menghentikan kunyahannya karena tersedak. Alice menepuk-nepuk punggung Isabel sambil memberikan minum untuk gadis itu.


Setelah Isabel berhasil menelan kue yang ada dimulutnya, Alice kembali bertanya. "Siapa Eric?"


Isabel kembali meneguk minumannya sebelum menjawab.


"Aku akan menceritakan semuanya," kata Isabel.


And here the story goes. Isabel menceritakan semuanya dari A-Z. Dari awal dia bertemu Eric hingga saat Eric mengajaknya ke Amytville.


"What the h*ll!" Mulut Alice tak berhenti menganga mendengar cerita Isabel dengan detail. Alice memeluk Isabel erat. Dia tahu hari-hari yang dilewati Isabel tidak mudah.


"Harusnya kau datang padaku. Apa kau sudah tidak menganggapku sahabatmu lagi?" protes Alice.


"Aku hanya tidak tahu harus bagaimana. Saat itu aku hanya ingin sendiri."


"Oh, Bells.....maafkan aku tidak ada disampingmu saat kau butuh teman."


"Bukan salahmu. Salahkan saja Eric yang sudah menyekapku." Isabel terkekeh.


Alice menatap Isabel penuh curiga. "Apa kau dan Eric....." Alice sengaja menggantung kalimatnya. Dia yakin Isabel tahu maksudnya.


Isabel melotot. "No! Sampai saat ini aku masih sangat mencintai Aiden." Wajah Isabel berubah sedih.


"Maafkan aku." Alice menggenggam tangan Isabel. "Aku tidak bermaksud mengingatkanmu tentang dia."


"It's okay, Alice. Aku tahu kau adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki." Isabel memeluk Alice.


"Best friend forever," ucap Alice.


*


*


*


*


*


tbc.


Persiapan ke Amytville dulu yuk. Jangan lupa membawa mantel yang tebal. Di gunung gitu pasti udaranya dingin-dingin syahdu.


See you next part, Love.