100 Days

100 Days
Part 62



Sejak keluar dari safe house, bermacam-macam keluhan terus keluar dari mulut Eric. Dia enggan ke RCT, mengingat pemiliknya mempunyai hubungan sangat dekat dengan Mike. Dia hanya malas jika nanti harus bertemu dengan kakak laki-laki Isabel itu lagi.


"Berhenti mengeluh, j*rk ! Kau pikir hanya aku yang bertanggung jawab dalam pekerjaan ini, hah ?" Lama-lama Jordan geram mendengar gerutuan Eric yang tak kunjung berhenti.


"Kau bisa ambil bagianku kalau kau mau." Sahut Eric. Kalau bukan karena Jordan yang mengancam akan menemui Isabel dan mengatakan jika Eric mencintai gadis itu, Eric tidak akan mau berangkat ke RCT.


"Apa baru saja kau bilang kalau jatuh cinta membuatmu malas bekerja ?" Jordan tertawa mengejek.


"Just shut your f*cking mouth, as*hole !" Sembur Eric.


Keduanya diam untuk beberapa waktu. Larut dalam pemikiran masing-masing. Hingga tiba-tiba Eric meminta Jordan berputar arah.


"Aku harus mengambil Grey dari tempat Carla." Jelas Eric. Dia sudah berjanji pada Carla untuk mengambil Grey hari ini. Dia hanya tidak ingin melupakan kucing kesayangannya itu lagi.


"Kita sudah hampir setengah jalan, as*hole ! Harusnya kau bilang dari tadi." Gerutu Jordan. Meski begitu, dia tetap memutar arah mobilnya. Kalau tidak, bisa dipastikan akan ada perdebatan lagi antara mereka. Dan Jordan malas meladeni Eric.


Eric hanya tersenyum miring. Dia cukup puas membuat Jordan menggerutu kesal. Sedikit balas dendam ternyata cukup menghibur.


Begitu sampai di tempat Carla, Eric segera turun dan masuk ke dalam pet spa itu. Hanya sebentar hingga saat dia keluar dengan membawa pet cargo berisi Grey yang sedang tidur seperti biasa.


"Kurasa jatuh cinta bisa membuatmu seperti Grey. Jadi pemalas !" Sindir Jordan.


Eric mengedikkan bahu tidak peduli. Dia meletakkan pet cargo Grey di kabin belakang lalu mencari posisi duduk yang nyaman dan memasang kembali sabuk pengamannya.


"Cepat jalan sebelum aku berubah pikiran lagi." Kata Eric dengan seenaknya.


Jordan menggeleng-geleng kepalanya dengan mulut masih menggerutu lalu mulai menekan pedal gas meninggalkan pet spa.


Sesampainya di RCT 40 menit kemudian, mereka segera turun di pelataran lobi. Jordan menyerahkan kunci mobilnya pada petugas valet lalu masuk ke dalam gedung bersama Eric.


Mereka mengangguk sambil tersenyum pada resepsionis yang sudah hafal dengan kedua orang itu. Lagipula kedatangan mereka sudah ditunggu oleh pemilik gedung 70 lantai itu. Sehingga mereka bisa melenggang dengan bebas dalam salah satu gedung pencakar langit itu.


Kali ini mereka akan langsung menuju ruang kendali di lantai 10. Joe sudah menunggu disana.


Begitu sampai disana, mereka berbasa basi sebentar lantas melakukan final checking. Mereka selalu melakukan tahap akhir ini sendiri, karena tidak ingin ada kesalahan sedikitpun dalam pekerjaan mereka. Dan sejauh ini mereka cukup jeli melihat kekurangan dalam sistem yang mereka bangun. Sehingga sebelum melepas pekerjaan itu mereka akan memastikan semuanya siap dalam keadaan sempurna.


"Aku suka dengan kinerja kalian." Ujar Joe saat mereka sudah berada di ruang kerja pria itu.


"Terima kasih. Jika ada kekurangan kau bisa menghubungi kami." Balas Jordan.


"Aku yakin kalian sudah melakukan yang terbaik." Kata Joe, perhatiannya kini teralih pada Eric yang tampak gusar. "Apa ada masalah ?" Tanya Joe pada Eric.


Mendengar pertanyaan itu, Eric menoleh. Meskipun dia tidak tahu jika pertanyaan itu memang ditujukan untuknya.


"Apa ada masalah ? Kulihat kau sangat gusar." Joe mengerutkan keningnya.


Sementara Eric menatap Joe dan Jordan secara bergantian dengan bingung. Apa maksudnya ?


Suara kekehan Jordan membuat Joe dan Eric menoleh. "Kurasa dia takut temanmu datang kesini." Kata Jordan.


"Shut up !" Desis Eric tidak suka dengan ucapan Jordan yang sayangnya sangat tepat.


Joe mengangkat sebelah alisnya. Masih mencerna ucapan Jordan. Dalam sekejap ekspresinya berubah. Dia tersenyum lebar lalu berkata, "Tidak usah khawatir. Dia tidak ada janji denganku." Katanya setelah paham bahwa teman yang dimaksud Jordan adalah Mike. "Hanya saja terkadang dia suka datang kesini seenaknya." Lanjut Joe.


Seketika raut wajah Eric menegang.


Tak pelak hal itu membuat tawa Jordan dan Joe pecah. Wajah pias Eric sungguh menjadi hiburan tersendiri untuk mereka.


Kalau saja Eric tidak menghormati Joe sebagai rekan bisnisnya, sudah pasti dia akan mengumpati Joe sepuasnya.


"Apa yang kalian tertawakan ?!" Hardik Eric yang berusaha menahan segala umpatan yang memaksa ingin keluar dari mulutnya. Tatapannya tajam pada Jordan.


"Easy man ! Tidak perlu tegang seperti itu. Mungkin kau bisa minta bantuan Joe untuk menjelaskan kesalahpahaman diantara kalian." Kata Jordan.


"Tunggu ! Apa ini ada hubungannya dengan Isabel ?" Tanya Joe sembari mengangkat alisnya.


Jordan mengangguk sambil menarik bibir kebawah, melipat bibir menahan senyum.


Joe tak bisa menahan tawanya lagi. Dia sudah mendengar cerita versi Mike dan versi Jordan. Dia cukup paham dengan situasi yang menimpa Eric. Dan menurutnya, ini hanyalah sebuah kesalahpahaman belaka. Mike yang selalu menjunjung tinggi prinsip keluarganya memang tidak bisa menerima perbuatan Isabel--tinggal bersama dengan seorang pria tanpa ikatan pernikahan--dengan mudah. Meskipun tidak terjadi apa-apa diantara mereka, tetap saja hal itu sangat salah dimata Mike.


"Aku bisa bantu bicara dengannya kalau kau mau." Kata Joe setelah tawanya reda.


"Kurasa kau memang harus membantunya." Timpal Jordan.


"Hei, ada apa dengan kalian ? Aku tidak butuh bantuan siapapun !" Geram Eric.


"Aku cukup dekat dengan keluarganya. Tapi...." Joe menyipitkan matanya. "Apa kau serius dengan Isabel ?"


"Apa maksudmu ? Apa yang kalian bicarakan ?" Eric mulai meninggalkan formalitasnya pada Joe. Bukan karena tidak menghargainya, tapi topik pembicaraan ini sudah sangat melenceng dari bisnis. Ini sudah masuk ranah pribadi Eric, dan kedua orang itu dengan seenak hatinya menjadikan masalah Eric sebagai lelucon.


"Easy, Brother ! Kami hanya ingin mencarikan solusi untukmu." Jordan menyela. "Ya, setidaknya memuluskan jalanmu." Tambahnya.


Eric mendengus, sambil menggeleng-gelengkan kepala. Disini yang mereka bicarakan adalah masalah perasaannya, kenapa mereka seolah memonopoli situasi ?!


"Bisa kita kembali membahas bisnis ?" Eric sudah jengah dengan dirinya yang menjadi bahan bully kedua orang itu. "And you," Tunjuk Eric pada Jordan. "Just shut your f*cking mouth !" Desis Eric. Dia tahu Jordan sudah terlalu banyak bicara pada Joe tentang dirinya. Dia tidak ingin semakin banyak orang yang mencampuri urusan pribadinya.


Jordan mengangkat kedua tangannya sambil melipat bibir. Sedangkan Joe mengangkat bahu lalu bilang, "Okay."


Tapi yang terjadi selanjutnya mereka justru hanya terdiam. Jordan sibuk mengecek pesan di ponselnya, begitu pula dengan Joe.


Eric melihat kedua orang itu secara bergantian dengan tatapan jengah. "Really ?" Katanya setelah hampir lima menit tidak ada yang membuka suara. "Tidak ada yang ingin menyampaikan sesuatu ?"


Jordan dan Joe serentak mengangkat wajah, menatap Eric yang terlihat kesal.


"Kurasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan tentang bisnis kita. Aku puas dengan kinerja kalian dan kalian sudah memberikan yang terbaik untukku. Done !" Kata Joe.


Jordan hanya bisa menahan senyum. Ternyata Joe adalah orang yang cukup asyik untuk diajak kerjasama diluar bisnis. Dia bisa jadi partner in crime yang baik untuk menjahili Eric.


"Secara teori begitu." Joe menarik bibir kebawah dengan alis terangkat. "Tapi, kurasa bercengkerama sebentar dengan kalian adalah hal yang sangat menyenangkan." Joe tersenyum penuh arti.


"Maksudmu dengan membully diriku ?" Protes Eric.


"Oh, ayolah ! Jangan bersikap menyebalkan di depan client kita. Kau bisa merusak reputasi kita, Brother." Timpal Jordan.


"Kurasa kalian yang sudah merusak reputasiku." Protes Eric lagi.


Jordan dan Joe terbahak bersama. Sepertinya mereka bisa menjadi teman akrab diluar bisnis yang mereka jalani.


Mereka mengobrol hingga lima belas menit kemudian. Setelah itu, Jordan dan Eric undur diri.


Sepanjang perjalanan ke lobi, Eric tak henti menggerutu dan mengumpat karena Jordan dengan seenaknya menceritakan hal pribadinya pada Joe.


"Aku minta maaf, okay. Joe terlalu menyenangkan untuk diajak bicara. Semuanya mengalir begitu saja." Kata Jordan. Tidak tampak raut penyesalan sedikitpun di wajahnya, karena jujur dia sangat menikmati wajah kesal Eric.


"Lain kali akan kusumpal mulutmu dengan sepatuku." Gertak Eric.


"Apa kau tahu, adik angkat Joe adalah istri Mike." Kata Jordan sambil terus berjalan menuju lobi depan.


Langkah kaki Eric terhenti sejenak, membuat Jordan ikut menghentikan langkahnya. Jordan mengernyit, "Ada apa ?"


Eric menatap datar pada Jordan, menghela nafas pelan lalu menggeleng. "Nothing." Eric melanjutkan jalannya.


Mereka menunggu petugas valet mengantar mobil mereka dalam diam. Eric sudah terlanjur malas berbicara dengan Jordan. Sedang Jordan lebih memilih membalas beberapa pesan yang masuk ke ponselnya.


Tak berapa lama kemudian, mobil mereka sudah sampai. Petugas valet memberikan kunci mobil pada Jordan lalu kembali ke tempatnya.


Berjalan memutar ke kiri, Jordan masuk ke dalam mobil. Dia menunggu Eric yang masih berdiri di tempatnya tadi sambil menerima panggilan di ponselnya.


Jordan menurunkan kaca jendela sebelah kanan, menatap Eric dengan tatapan seolah bertanya, 'Mau tetap disitu ?'


Paham dengan maksud Jordan, Eric melangkah mendekat lalu membuka pintu mobil sebelah kanan. Tapi gerakannya terhenti saat satu kakinya sudah naik ke badan mobil.


Sepertinya telepon itu cukup penting, hingga Eric tampak begitu fokus mendengarkan apa yang dibicarakan orang di seberang telepon. Perhatian Jordan pun tak lepas dari Eric.


Hingga tiba-tiba Grey melompat dari pet cargonya yang membuat Jordan dan Eric berjingkat terkejut.


"F*ck !" Umpat Jordan. Umpatan yang sama juga terlontar dari mulut Eric.


Eric menggeram marah karena ponselnya terjatuh akibat Grey yang melompat melewati dirinya keluar dari mobil.


"Apa kau tidak mengunci pet cargo itu ?" Tanya Jordan.


"Seingatku, aku menguncinya."Eric memungut ponselnya yang terjatuh di dekat kaki. "Shit !" Umpat Eric saat mendapati layar ponselnya retak.


"Kenapa dengan ponselmu ?" Tanya Jordan.


Tidak menjawab pertanyaan Jordan, Eric hanya menunjuk layar ponselnya yang sudah terdapat bercak retakan kaca di bagian ujung atas ponsel.


"Oh, look ! who the h*ll is that ?" Gumam Jordan tiba-tiba.


Eric mengernyit melihat Jordan yang tersenyum sambil menatap lurus ke depan. Pandangan Eric pun mengikuti arah pandang Jordan.


Seperti ada sengatan listrik tegangan tinggi di jantung Eric. Darahnya terpompa gila-gilaan melihat kemana arah perginya Grey. Dan hampir saja ponselnya jatuh untuk kedua kali.


Tidak mungkin. Eric mengerjapkan matanya berulang-ulang, ingin tahu apakah apa yang dia lihat itu nyata atau sekedar halusinasi akibat otaknya yang bergeser.


Tapi suara debuman pintu mobil yang tertutup menyadarkan Eric bahwa apa yang dia lihat ini nyata.


Jordan turun dari mobil dan berjalan menghampiri seorang gadis berambut pirang yang sedang tersenyum sambil memeluk Grey.


Isabel ?


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Ugh.....akhirnya ketemu juga mereka. Trus kalo udah ketemu, mau ngapain coba ?! Main kelereng kali ya, hahahaha


Oya, mohon maaf untuk yang minta up cepet. Sepertinya kalian harus kecewa deh 😢 karena kesibukanku di dunia nyata yang kadang cukup menguras tenaga dan pikiran--halah lebay--jadi aku bisanya up dikit-dikit aja, alias sak nyaitku gaess--sesempatnya aku aja--hehehe


Dan yang udah mau bersabar menunggu kelanjutan tiap episode nya aku ucapin buanyak-buanyak terima kasih, i love you all.


Mau bonus pict nggak ? aku mau kasih pict Jonathan Thompson, itu tuh sahabatnya Mike yang dulu pernah ngasih calon istrinya buat Mike. Yang udah baca Her Name Is Hannah pasti tahu, wkwkwk


Awas jatuh cinta !


See you next part, Love.