
Eric menahan tangan Isabel yang masih berusaha untuk memberinya pukulan.
"Berhenti, Bells ! Orang akan berpikir macam-macam tentang kita."
Ucapan Eric membuat gerakan meronta Isabel berhenti. Dia mengerjap beberapa kali sambil mencerna kalimat Eric.
Lalu dia tersadar akan sesuatu. Dia melihat ke bawah. Kedua matanya membulat sempurna.
"Kenapa tidak bilang dari tadi ?!" Pekik Isabel dengan wajah merah padam. Secepat kilat dia menyingkir.
Sungguh memalukan ! Bagaimana bisa dia duduk diatas perut Eric, sedikit merunduk karena kedua tangan yang dikunci oleh Eric ?
Eric terbahak-bahak sampai perutnya terasa kram. Sebenarnya Eric tidak mempermasalahkan hal itu. Satu keuntungan untuknya malahan.
Tapi melihat wajah merah Isabel adalah hiburan yang sangat menyenangkan untuknya.
Kalau boleh egois, biarkan saja orang berpikiran macam-macam. Justru dia sangat ingin memeluk tubuh gadis itu dengan posisi seperti tadi. Tapi, jika dia melakukannya, bisa jadi dia tidak akan pernah bertemu gadis itu lagi.
Isabel menutup wajahnya dengan telapak tangan. Malu ! Isabel sangat malu.
Eric berusaha meredam tawanya. Dia melihat Isabel mengarahkan pandangannya ke sisi lain, membelakangi Eric. Eric yakin saat ini wajah Isabel pasti sangat merah.
"Kenapa kau sembunyikan wajahmu ?" Tanya Eric masih dengan posisinya berbaring.
"Aku malu sekali." Jawab Isabel jujur. "Lihatlah orang-orang itu, pasti mereka mentertawakanku, mengira aku ini sangat agresif." Tutur Isabel dengan suara dalam.
Senyum Eric lenyap saat mendengar ucapan Isabel. Tidak menyangka Isabel akan merasa rendah diri seperti itu. Padahal menurut Eric, hal itu tidak termasuk dalam kategori agresif. Malah dia merasa tingkah Isabel sangat menggemaskan.
Bangkit dari rebahannya, Eric mengambil posisi duduk di sebelah Isabel.
"Kurasa itu hanya perasaanmu saja." Eric melipat kakinya, menumpukan tangan pada lutut. Dia menolah pada Isabel yang sedang duduk menunduk. "Lihat ! Tidak ada satupun dari mereka yang mempedulikan kita." Eric menunjuk beberapa turis di sebelah kanan.
Isabel masih diam. Dia menunduk memainkan jari-jarinya.
Eric kembali merebahkan tubuhnya, menautkan jari dan meletakkannya dibawah kepala sebagai bantal.
"Aku tidak mengira akan mengajakmu kencan seperti ini." Ucap Eric mengalihkan perhatian. Dia mengarahkan pandangannya jauh ke atas menembus langit yang berubah kelabu. Matahari sudah tenggelam. Tidak ada lagi cahaya jingga yang tersisa.
Isabel menoleh tapi tidak menanggapi.
"Hanya dalam 100 hari. Aku akhirnya mengencani gadis yang dulu sangat aku benci." Eric menghela nafas. "Apa ini sebuah karma ? Karena dulu aku terlalu membencimu ?" Eric memiringkan wajah, melihat Isabel yang ternyata juga sedang melihatnya.
Hanya butuh 100 hari aku jatuh dalam pesona anak kecil sepertimu. Menggelikan ! Batin Eric.
Isabel mendesah, lantas ikut membaringkan tubuhnya di sisi Eric. "Bisa jadi." Jawab Isabel setelah posisi rebahannya nyaman. "Aku juga tidak menyangka kita bisa seakrab ini. Padahal mulutmu itu tajamnya melebihi samurai."
Eric terkekeh. "Benarkah ?"
Keduanya diam sesaat. Suara deburan ombak menjadi backsound yang mengiringi.
"Kurasa aku sudah gila." Ucap Isabel tiba-tiba.
Eric menoleh, melepas tautan jarinya dan membiarkan tangan kanannya saja yang menumpu kepala.
"Aku mengencani kakak ipar mantan kekasihku. Apa itu tidak aneh menurutmu ?" Isabel menoleh, mempertemukan tatapannya dengan Eric.
"Itu....aneh." Eric terkekeh. Isabel cemberut, membuang pandangan keatas.
"Tapi aku bukan tipe orang yang peduli dengan keanehan." Lanjut Eric. Isabel kembali menoleh. Samar-samar Eric melihat kening Isabel berkerut. Ucapan Eric barusan membuatnya berpikir jauh.
Eric menggerakkan tangan kirinya, menyentuh telapak tangan Isabel lalu menggenggamnya.
Ulu hati Isabel berdesir. Sekujur tubuhnya terasa kaku. Lagi-lagi jantungnya menghentak rongga dada terlalu keras hingga menimbulkan rasa sesak dan sulit bernafas.
"Dan aku nyaman dengan keanehan ini." Eric menatap lekat wajah samar Isabel.
Speechless. Isabel tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Sikap dan kata-kata Eric membuat otaknya kosong. Genggaman tangan Eric yang semakin kuat menyalurkan kehangatan ke sekujur tubuh Isabel. Rasanya ini....menenangkan.
*****
Ponsel Eric berdering bertepatan dengan seorang waiter yang mengantar pesanannya.
"Aku angkat telpon dulu."
Setelah mendapat anggukan kepala dari Isabel, Eric beranjak dari kursinya. Isabel mengamati punggung Eric yang semakin menjauh dan menghilang di balik tembok.
Ya, kini mereka sedang makan malam di sebuah restauran yang letaknya tidak jauh dari pantai. Bukan restauran mewah, tapi tempat ini sangat nyaman.
Isabel melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir 10 menit dan Eric belum kembali. Isabel menyesap pelan mango thai nya yang tinggal separuh.
Kenapa Eric lama sekali ? Siapa yang menelponnya ? Apa dia lupa jika sedang makan malam dengan Isabel ?
Pikiran Isabel sudah bercabang-cabang. Rasa kesal mulai merayap dalam hatinya. Siapa yang tidak kesal ?! Saat pesanan makanan sudah datang, pasangan kencanmu tiba-tiba menghilang begitu lama karena sebuah telepon.
Atau jangan-jangan itu telepon dari kekasih Eric. Hhh.....kenapa tidak terlintas di pikiran Isabel sebelumnya ?
Wajah Eric itu tampan, dia menarik dan mapan. Pasti banyak sekali perempuan yang memujanya.
Isabel mendengus, teringat teman-temannya di Willow Spring yang begitu memuja Eric.
Memikirkan tentang kekasih Eric....membuat Isabel merasa sesak dalam dadanya. Apa ini ? Harusnya itu bukan urusan Isabel. Lagipula ini hanya kencan abal-abal. Tidak ada yang istimewa dalam kencan mereka.
Hhh....Isabel menghela nafas. Ditinggal menikah oleh kekasihnya, apa membuat Isabel sefrustasi ini hingga mengaharapkan kencan istimewa dengan pria lain ?
Isabel menundukkan wajahnya. Perlahan keningnya menyentuh meja. "Aku benar-benar sudah gila." Gumamnya.
"Kau tidak gila. Kau hanya sedang lapar."
Suara Eric mengagetkan Isabel, lalu buru-buru mengangkat kepalanya.
"Maaf menunggu lama." Eric menggeser kursi lantas duduk disana.
"Makanan kita hampir dingin." Tutur Isabel cemberut.
"Ya sudah, ayo kita makan."
Tanpa ba bi bu lagi, Eric mulai menyantap makanannya. Isabel masih terbengong.
'Maaf menunggu lama' Isbael mencibir, mengulang ucapan Eric dalam hati.
Keduanya makan dalam diam. Tidak ada yang berniat membuka obrolan. Isabel masih kesal dengan Eric yang pergi meninggalkannya terlalu lama dan hanya bilang 'maaf' tanpa penjelasan apapun.
Penjelasan ? Apa Eric harus menjelaskannya ? Memangnya untuk apa Eric menjelaskan pada Isabel ?
"Itu tadi temanku." Ucap Eric tiba-tiba. Dia membalik pisau dan garpunya. Mengelap mulut dengan serbet lalu melipat tangan diatas meja, melihat pada Isabel yang belum selesai makan.
Eric menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Merutuki mulutnya yang otomatis mengeluarkan suara mengkonfirmasi siapa penelponnya tadi. Padahal Isabel tidak bertanya.
Isabel berkedip dua kali. Tercenung mendengar ucapan Eric yang terdengar seperti penjelasan. Lalu dia mengangkat bahu dan melanjutkan makan tanpa menanggapi.
Respon yang tidak diharapkan Eric. Pria itu tidak lagi mengeluarkan suara. Menunggu Isabel selesai makan sambil terus memperhatikannya. Kecewa ? Mungkin.
Sudut bibir Eric terangkat tipis. Saat makan pun Isabel terlihat cantik meskipun cara makan gadis itu tidaklah anggun seperti putri konglomerat pada umumnya.
Kenapa Eric baru menyadarinya sekarang ?
"Kenapa melihatku seperti itu ?"
Pertanyaan Isabel merusak lamunan Eric. Membuat pria itu menghela nafas pelan.
"Ada saus di bibirmu." Eric menggerakkan tangannya mengusap sudut bibir Isabel yang terdapat noda saus.
Isabel menahan nafas saat ibu jari Eric menyentuh bibirnya. Dia menelan ludah sepelan mungkin, agar Eric tidak menyadarinya.
"Maaf." Menyadari tindakannya sedikit berlebihan, Eric segera menarik tangannya.
Isabel mengangguk canggung. Lalu dia membalik garpu dan pisaunya. Mengelap mulut dengan serbet, meskipun sudah mendapat usapan lembut dari Eric.
Eric melirik arlojinya. Baru pukul 8. Masih ada 3 jam sebelum cinderella kehabisan waktu.
"Masih ada banyak waktu. Kemana lagi kita ?" Tanya Eric.
Isabel menyipitkan mata, sedikit mengerucutkan bibir. "Sebaiknya kita pulang." Kata Isabel dengan nada pelan. Dia teringat kalau di rumahnya ada dua macan--ralat : satu macan--yang siap menerkam jika melihat Eric. Selama Jhon belum mendengar cerita dari Mike, selama itu pula dia bukan masalah serius.
Raut kecewa muncul di wajah Eric. Dia masih ingin menghabiskan banyak waktu dengan Isabel. Kapan lagi dia punya kesempatan seperti ini ? Tapi dia juga harus menghargai pilihan Isabel.
"Baiklah." Ucap Eric mengalah. Dia harus memikirkan cara untuk bisa dekat dengan gadis itu. Yang pasti bukan cara yang mudah mengingat siapa yang akan dia hadapi sebelum bisa menggapai gadisnya.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di rumah Isabel. Semoga saja macan penjaganya tidak ada dirumah.
Sesampainya di rumah, Isabel melihat mobil ayahnya sudah terparkir rapi dalam garasi. Dia menghela nafas lega karena mobil Mike belum ada di rumah. Yang berarti kakaknya itu belum pulang.
"Terima kasih untuk kencan hari ini." Isabel tersenyum manis. Membuat Eric tidak bisa memalingkan wajah untuk melihat hal lain lagi.
"Aku akan turun." Kata Isabel lagi saat tidak juga mendapat tanggapan dari Eric.
Baru setelah itu Eric gelagapan. Dia berdehem. "Tunggu." Kata Eric.
Isabel yang sudah memegang handle pintu kembali menegakkan posisi duduknya. Menatap penasaran pada Eric.
"Berikan tanganmu." Eric mengulurkan tangan kirinya, meminta tangan Isabel. Tangan kanannya merogoh saku celana mengambil sebuah benda dari sana.
Isabel mengernyit sebentar lalu menuruti perintah Eric, mengulurkan tangan kanannya.
Eric memasangkan sebuah benda yang dia ambil dari saku celananya tadi ke pergelangan tangan Isabel. Sebuah gelang black pearl. Sederhana, tapi sangat indah dan elegan.
Isabel menatap takjub pada benda di pergelangan tangannya dan Eric secara bergntian.
"Maaf. Hadiahnya tidak aku bungkus." Eric menjeda. "Dan...tidak mahal." Lanjutnya sambil menunjukkan wajah bersalah.
Isabel menutup mulutnya dengan telapak tangan. Dia menatap Eric lalu tersenyum, "Terima kasih." Pandangannya kembali pada gelang. "Ini sangat cantik."
Eric puas Isabel menyukai pemberiannya. Tidak sia-sia dia meninggalkan Isabel cukup lama saat makan malam tadi hanya untuk berlari ke parkiran mengambil benda yang dia pesan dari temannya.
"Aku senang kau menyukainya."
"Tentu aku suka." Isabel tersenyum sambil terus memandangi gelang di tangannya. Indah. Dan....entahlah, Isabel senang sekali Eric memberinya benda itu.
"Ayo, aku akan mengantarmu masuk." Ajak Eric. "Jangan lupakan kotak hitammu." Eric mengingatkan kotak hitam yang ada di dashboard. Isabel segera mengambilnya.
"Kau langsung pulang saja." Kata Isabel. Dia khawatir Eric akan mendapat masalah dari Jhon.
"Tapi itu tidak sopan." Balas Eric.
Tidak mempedulikan tatapan peringatan dari Isabel, Eric turun dari mobil, setengah berlari memutar ke sisi kanan lalu membukakan pintu untuk Isabel.
Isabel turun. Eric tersenyum. Mereka berjalan beriringan menuju pintu rumah utama.
*
*
*
*
*
*
*
tbc.
Ugh....berhasil up juga akhirnya. Maap ya yang udah nunggu lama, lagi sibuk di dunia nyata soalnya. wkwkwk (sok sibuk).
Kencan pertama masih lempeng aja ya. Pegangan tangan doang. Masih malu-malu kucing cuy !
Hayo siapa yang kecewa tidak ada adegan ciuman diantara mereka ? hahhaha
Sabar....nanti akan ada waktunya.
Semoga suka !
See you next part, Love.