100 Days

100 Days
Part 45



"*Jordan !"


Suara yang tidak asing. Tapi bukankah mereka baru saja pergi ? Jordan membalikkan tubuhnya. Kejutan ! Isabel tersenyum sumringah sambil berlari kecil ke arah Jordan yang baru saja selesai membetulkan kran yang bocor di dapur.


Jordan mengernyit. Kenapa Isabel kembali lagi ? Lalu pandangannya jatuh pada pria yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan wajah ditekuk.


Sesuatu baru saja terjadi*.


-------------------------


"Kenapa kalian kembali lagi ?" Jordan menyambut gadis yang berlari ke arahnya dengan senyum hangat.


"Nasib baik berpihak padaku." Jawab Isabel. Saking senangnya, dia langsung memeluk Jordan.


Jordan membalas pelukan Isabel meski tadi sempat terkejut dengan aksi spontan gadis itu.


"Kau senang ?" Tanya Jordan.


Isabel melepaskan pelukannya. "Sangat." Wajah gadis itu tak lepas dari senyum bahagia.


Berbeda dengan pria yang baru saja masuk ke kamar dengan wajah seperti hulk.


Jordan membereskan peralatannya. Memasukkan alat-alat pertukangannya ke dalam box berwarna kuning. Dia meletakkan box itu di kabinet bawah pantry.


"Jadi, kenapa kalian kembali ?" Tanya Jordan sambil mencuci tangannya di wastafel.


"Jalan ditutup karena longsor." Jawab Isabel.


"Longsor ?" Jordan mengernyit. Dua kilometer sebelum masuk jalur offroad memang rawan longsor. Tapi biasanya tidak sampai menutup jalan. Karena jalan disana sengaja dibuat lebih lebar dari bagian jalan yang lain.


Isabel mengangguk. "Kita jadi ke kebun anggur kan ?!" Tanya Isabel dengan semangat.


"Maaf, Princess. Sepertinya harus ditunda. Karena jalan ditutup." Jordan membuat ekspresi wajah kecewa.


Isabel tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Ternyata untuk ke kebun anggur juga harus melewati jalan yang ditutup itu.


Jordan berjalan ke arah ruang tamu. Isabel mengikutinya di belakang.


"Sebagai gantinya, bagaimana kalau kita berburu ?" Tawar Jordan.


Berburu ? Di hutan ? Batin Isabel.


Isabel menggaruk tengkuknya. Bibirnya tersenyum kaku. "Aku belum pernah berburu sebelumnya." Suaranya terdengar ragu-ragu.


Jordan tergelak sambil menggaruk kepala belakangnya. Saat seperti itu, dia terlihat sangat---tampan.


"Mau mencoba ? Dan, kurasa ada yang sedang ingin melampiaskan kekesalan saat ini. Aku yakin kita akan mendapatkan hasil buruan yang banyak." Tutur Jordan.


Siapa maksudnya ?


"Tapi---aku takut." Jujur Isabel. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ini bisa jadi pengalaman pertamanya. Kapan lagi dia bisa ikut berburu langsung di hutan ?


Jordan tersenyum lebar, "Aku akan segera kembali." Katanya. Pria itu melangkah menuju kamar Eric. Dia tahu Eric saat ini pasti sedang sangat kesal karena tidak jadi pulang.


Berburu adalah salah satu hobi Eric. Pria itu sangat menyukai petualangan ekstrim. Jordan berharap dengan berburu Eric akan sedikit terhibur.


Dan seperti yang dikatakan Jordan, Eric bersedia ikut. Dia akan melampiaskan kekesalannya pada hewan buruan di dalam hutan.


"Pakailah ini." Jordan menyodorkan sepasang sepatu boots berwarna coklat tua. "Kurasa ukurannya pas dengan kakimu."


Isabel menerima lalu mencobanya. Dan ya, sangat pas di kakinya. Jangan bilang kalau ini boots Chloe !


Untuk berburu mereka harus berjalan kaki masuk ke dalam hutan. Dan sepatu boots akan lebih baik daripada sneakers gadis itu.


Jordan dan Eric menghampiri Isabel yang menunggu di teras. Kedua pria itu terlihat sangat keren dengan sebuah senapan menggantung di bahu mereka.


Tubuh Jordan memang tidak se-berotot Eric, tapi entah apapun yang dilakukan pria itu selalu membuat Isabel terpukau. Apalagi senyumnya. Itu jenis senyum hipnotis yang tidak akan bisa dia lewatkan.


Ketiganya berangkat dengan jeep Eric menuju hutan di bagian timur. Warga hanya diijinkan berburu di area itu demi menjaga kelestarian hutan. Mereka hanya diperbolehkan memburu kelinci dan kalkun yang memang populasinya sangat banyak di hutan itu.


Namun demikian, warga juga tidak serta merta membabi buta dalam berburu. Mereka umumnya hanya berburu untuk kesenangan. Jadi, pulang dengan membawa beberapa ekor hewan buruan saja sudah membuat mereka merasa puas.


"Jangan jauh-jauh dariku, Princess." Ucap Jordan saat mereka mulai memasuki kawasan hutan.


Isabel mengangguk patuh. Dia berjalan di belakang Jordan dengan hati-hati.


Eric berjalan agak jauh di depan. Kedua matanya awas mengamati pergerakan hewan buruan. Dia tersenyum saat melihat seekor kelinci gemuk yang sedang mengendus-endus tanah.


Eric mulai membidik sasarannya dari jarak sekitar 10 meter. Dia merapatkan sebelah matanya untuk mendapatkan fokus yang baik.


Sasaran terkunci. Eric bersiap menarik trigger. Dan-----


"Jordan lihat !" Isabel berteriak bersamaan dengan Eric yang menarik triggernya.


"What the f*ck !" Umpat Eric. Tembakannya meleset. Kelinci itu kabur karena mendengar teriakan Isabel. Dia menurunkan senapannya dengan kasar. "Jangan berisik atau aku akan menjadikanmu sasaranku !" Hardiknya.


Isabel merengut. Dia tidak tahu kalau Eric sedang membidik sasarannya. Dia hanya berniat memberi tahu Jordan jika dia melihat seekor kelinci.


"Kita cari lagi yang lain." Tutur Jordan.


Isabel tetap berjalan di belakang Jordan. Dia menjaga jarak dari Eric. Pria itu seperti seorang wanita yang sedang pms. Sangat sensitif.


"Kau sering berburu disini ?" Tanya Isabel pada Jordan.


"Tidak juga. Hanya saat keparat itu berkunjung kesini. Berburu sendirian rasanya tidak menyenangkan."


"Apa tidak ada larangan untuk berburu ? Setahuku berburu bisa merusak ekosistem hutan."


Jordan terkekeh. "Merusak, jika yang diburu adalah hewan yang dilindungi atau yang populasinya sedikit. Disini populasi kelinci dan kalkun hutan membludak. Jadi warga diperbolehkan memburu mereka. Itupun hanya di area timur hutan." Jelas Jordan.


Isabel mengangguk-anggukkan kepalanya. Tangannya sesekali memetik ranting kecil yang dia lewati dan memainkannya.


"Apa kau pernah terluka saat berburu ?"


"Belum. Tapi keparat itu pernah."Jordan menunjuk Eric yang masih mengamati hewan buruannya.


Isabel ikut melihat pada Eric.


"Dia pernah diserang **** hutan hingga rusuknya retak."


Isabel mengangkat alisnya. "Benarkah ? Sepertinya aku harus belajar dari **** hutan untuk bisa meretakkan tulangnya." Gadis itu tergelak.


"Kalau ingin mendongeng sebaiknya kalian pulang saja !" Suara ketus dari depan sana membuat kedua orang di belakang saling pandang.


Isabel cekikikan sambil membekap mulutnya. Sementara Jordan hanya bisa tertawa kecil.


"Well, Princess. Waktu untuk 'mendongeng' sudah habis. Saatnya mencari mangsa." Ucap Jordan dengan ekspresi dibuat serius.


Beberapa saat kemudian Eric berhasil mendapatkan seekor kalkun. Jordan pun sama. Ditangannya kini ada dua kalkun hasil bidikannya dan Eric.


"Cari satu lagi dan kita pulang." Ucap Jordan. Rasanya tiga hewan buruan sudah cukup untuk mereka bertiga.


Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Eric melihat seekor kelinci di dekat semak. Pria itu mulai membidik, mengunci bidikannya dan---


Dor !


Kelinci itu terkapar. Warna merah darah mengotori bulu putih kelinci itu.


"Biar aku saja." Isabel berlari kecil ingin mengambil kelinci yang baru saja ditembak Eric. Letaknya memang lumayan jauh. Begitu sampai, Isabel segera mengangkat kelinci itu dan membawanya ke tempat Eric dan Jordan menunggunya.


Baru beberapa langkah Isabel berjalan, dia mendengar geraman pelan yang membuatnya merinding dari arah belakang.


Gadis itu berhenti melangkah. Suara geraman itu terdengar semakin jelas. Pelan-pelan dia memutar tubuh ke belakang. Kedua matanya membulat ketakutan saat melihat makhluk yang berdiri tegak dibelakangnya sedang menggeram dengan tatapan membunuh. Serigala berbulu hitam legam dengan taring lancip yang terlihat jelas saat dia menggeram.


Isabel menelan ludah dengan susah payah. Tidak perlu ditanya lagi seperti apa degup jantungnya saat ini. Keringat dingin meluncur di dahi dan punggungnya. Ingin berteriak, tapi pasti hanya akan membuatnya terbunuh saat itu juga.


Sepertinya kedua pria yang bersamanya belum menyadari bahaya yang mengancam Isabel.


"Jordan.....Eric.....tolong..." Suara itu terdengar seperti gumaman yang hanya bisa didengar sendiri olehnya. Gadis itu berjalan mundur perlahan dengan kaki yang semakin lemas, gemetar hebat.


Disisi lain, Eric yang kebetulan melihat ke arah Isabel langsung bereaksi dengan mengacungkan senapannya.


"Jordan," Desisnya.


Jordan mengernyit, lantas mengarahkan pandangan ke arah yang dilihat Eric.


"Oh, shit !" Jordan ikut membidik sasaran yang sama.


"Isabel, tenang ! Jangan membuat gerakan mendadak !" Ucap Jordan dengan suara tenang yang bisa di dengar Isabel.


Isabel terus bergerak mundur. Sumpah demi apapun, dia ingin pulang kerumahnya sekarang juga.


"Sial, gadis itu menghalangi bidikanku." Umpat Eric dengan teriakan tertahan.


"Aku juga." Timpal Jordan. Karena mereka berdiri berdekatan. "Aku akan bergerak ke kanan." Lanjutnya.


Tiga langkah ke kanan dan Jordan bisa membidik srigala itu dengan bebas.


"I got it. Lindungi Isabel, aku akan menembak srigala itu." Perintah Jordan.


Eric mengangguk. Dia bergerak maju perlahan untuk memperpendek jarak dengan Isabel.


Setelah jarak Eric dirasa aman, Jordan fokus membidik. Jarinya siap menarik trigger.


"Lempar kelincinya ke kanan, Isabel !" Perintah Jordan.


Gadis itu masih gemetar. Dia tidak bisa menggunakan indra pendengarannya dengan baik.


"Aku akan melindungimu. Lempar kelincinya !" Tambah Eric.


Suara Eric yang terdengar tidak jauh dari Isabel, membuat gadis itu mengangguk. Gadis itu yakin Eric sedang mendekat ke arahnya.


Dengan tangan gemetar Isabel menggerakkan tangannya.


Lempar. Aku hanya perlu melemparnya. Batin Isabel.


Isabel memejamkan matanya. Menghirup oksigen yang terasa sangat dingin sebanyak-banyaknya.


Isabel menghitung dalam hatinya. Satu, dua, tiga---


Blast !


"Shit !" Umpat Jordan yang langsung menggeser bidikannya karena Isabel melempar kelinci itu ke depan, bukan ke kanan.


Dor !


Jordan melepaskan tembakannya.


Di satu sisi Eric bersiap menarik Isabel. Kedua matanya fokus memperhatikan gerakan Isabel.


"No, shit !" Eric pun mengumpat saat Isabel salah arah lempar. Dengan gerakan cepat Eric berlari ke arah Isabel.


Tembakan Jordan hanya mengenai kaki srigala. Srigala itu kesakitan, tapi saat melihat pergerakan cepat dari Eric, srigala itu bangkit dan melompat ke udara menyerang ke arah Isabel.


"Aargh..!!" Eric berteriak saat berusaha melindungi Isabel, taring tajam srigala itu menancap dan mengoyak lengan Eric.


"Eric !" Teriak Jordan.


Dor !


Sekali lagi Jordan melepaskan tembakannya dan kali ini tepat sasaran. Srigala itu terlempar dan langsung tidak bergerak karena tembakan Jordan tepat mengenai bagian vital srigala itu.


"Eric !" Isabel memegangi tubuh Eric yang hampir jatuh. Koyakan taring srigala itu membuat lengan Eric mengeluarkan banyak darah.


Jordan segera berlari menghampiri Eric yang meringis kesakitan. Pria itu melepas jaket, lalu melepas kaosnya. Dengan kasar dia merobek kaos itu dan segera mengikatkannya pada luka di lengan Eric dengan kuat untuk mengurangi pendarahan.


"Ayo, kita harus segera ke rumah sakit." Jordan memapah Eric.


Isabel yang masih syok dengan kejadian itu tidak bisa bergerak. Kakinya terasa lemas. Tangan dan tubuhnya gemetar.


"Sudah aman, Isabel. Ayo, Eric butuh pertolongan." Jordan berhenti sebentar dan menoleh pada Isabel yang masih berjongkok di tempatnya.


Tidak ada waktu lagi untuk meladeni ketakutan Isabel. Jika tidak segera ditangani, Eric bisa mati kehabisan darah. Karena jarak mereka dengan mobil cukup jauh. Belum lagi perjalanan ke rumah sakit.


Isabel mengatur nafasnya yang memburu. Setelah itu dia bangkit. Menguatkan kakinya untuk melangkah mengikuti Jordan dan Eric.


Isabel tidak bisa egois. Eric terluka karena melindunginya. Jadi dia harus kuat. Nyawa Eric lebih penting dari ketakutannya.


Dua puluh menit kemudian mereka sampai di mobil. Jordan mengemudikan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Eric duduk di kabin belakang dengan Isabel, agar gadis itu menjaga Eric untuk tetap sadar.


Wajah Eric sangat pucat. Meskipun lukanya sudah diikat, tapi darahnya tidak kunjung berhenti.


Isabel menyandarkan kepala Eric di dadanya. Terus mengajak bicara Eric agar pria itu tetap sadar.


"Jordan, jalannya ditutup !" Ujar Isabel.


Isabel melihat Jordan mengemudikan mobilnya ke arah jalan yang kemarin dia lewati.


"Sial !" Jordan segera menepikan mobilnya. Dia lupa kalau untuk ke rumah sakit harus melewati jalan yang ditutup itu.


Jordan mengetuk-ngetuk jarinya di kemudi dengan gelisah. Dia menggigit bibirnya sembari berpikir.


Lalu tiba-tiba Jordan memutar kemudinya. Dia berbalik arah.


"Tidak ada waktu lagi." Gumamnya.


"Buka matamu, Eric. Jangan tertidur. Ya Tuhan, tubuhmu dingin sekali." Isabel mulai panik saat Eric mulai kehilangan kesadarannya. Gadis itu mengeratkan pelukannya, berharap panas tubuhnya menyalur ke tubuh Eric.


"Bertahanlah, brother." Ucap Jordan sambil melihat pada spion.


Isabel tidak bisa menahan tangisnya lagi. Gadis itu terisak sambil memeluk kepala Eric.


"Tetap bersamaku, Eric. Buka matamu." Isabel menepuk-nepuk pipi Eric.


"Jordan, Eric pingsan." Ucap Isabel saat Eric tidak mampu lagi membuka matanya.


"Sebentar lagi sampai." Balas Jordan.


Tidak lama kemudian Jordan memarkirkan mobilnya di depan sebuah klinik. "Tunggu disini."


Pria itu segera turun dari mobil. Dia masuk ke dalam klinik. Tidak lama kemudian dia keluar bersama seorang wanita membawa sebuah kursi roda.


"Bantu aku mengangkatnya." Perintah Jordan.


Lalu tubuh Eric dibawa masuk ke klinik dengan menggunakan kursi roda itu.


Saat Isabel melangkahkan kakinya ke dalam klinik, dia cukup terkejut. Dia memperhatikan sekeliling. Langkahnya melambat saat melihat banyak kandang hewan yang kosong di bagian depan klinik. Banyak foto-foto hewan yang menempel di dinding.


"Jangan heran, Nona. Ini klinik hewan." Ucap wanita di sebelahnya.


Isabel membulatkan matanya. Klinik hewan ? Pantas saja tidak ada brankar.


"Cepat tolong dia, Nora !" Perintah Jordan dengan nada agak tinggi. Pria itu sudah panik setengah mati.


Wanita yang ternyata bernama Nora itu segera berlari kecil ke arah Jordan.


"Sebenarnya apa yang terjadi ?" Tanya wanita itu.


"Digigit srigala." Jawab Jordan.


"Srigala ? Kalian berburu ? Bantu aku menaikkan tubuhnya keatas matras."


Dengan sigap Jordan memindahkan tubuh Eric keatas matras.


"Entah darimana datangnya srigala itu. Baru kali ini aku melihat srigala di area berburu." Ucap Jordan.


"Mungkin itu hanya srigala yang tersesat dari kawanannya. Kau harus segera melaporkannya pada Dinas Kehutanann." Timpal Nora.


"Aku tidak peduli. Srigala itu hampir menewaskan adikku, Nora." Jordan ikut membantu menggunting lengan jaket dan kaos Eric.


Jordan meringis melihat luka di lengan Eric. Cukup parah.


"Kau sangat menyayanginya, Deckinson." Nora tersenyum mengerti lantas memulai pekerjaannya.


*


*


*


*


*


*


*


tbc.


Lumayan panjang ya part ini.


Kasihan ya Eric. Apa nanti Eric akan berubah menjadi werewolf ?


Kalau srigalanya ganteng kaya Eric sih pasti cewek-cewek bakal pada ngantri untuk di koyak, hahhaha (abaikan, nggak mutu banget)


See you next part, Love.