
"Bukankah itu Isabel?" Rodney memerhatikan seorang gadis dengan gaun beige sedang berdansa dengan seorang pria yang memakai setelan jas biru tua.
Keempat sahabatnya termasuk Aiden mengikuti arah pandang Rodney.
"What the hell! Nick?" Ethan mengerutkan alisnya. Bagaimana bisa sepupunya berdansa dengan Isabel?
"Sepupumu selangkah lebih cepat darimu, Dude." Boyd menepuk bahu Ethan. Jeff terkekeh mendengarnya. Lantas Jeff mengalihkan arah pandangnya pada Aiden. Dia melihat rahang Aiden mengetat, menatap dua orang yang berdansa itu.
"Hidupnya harus terus berlanjut, Man," bisik Jeff sambil memegang tangan Aiden yang mengepal. Aiden menarik napas dalam. Dia tidak rela.
Tak lama setelah itu, mereka melihat Eric menggantikan Nick untuk berdansa dengan Isabel.
"What the hell is that?" seru Boyd. Disusul dengan umpatan dari teman-temannya yang lain kecuali Aiden.
Apa lagi ini? Mantan kekasih mempelai pria berdansa dengan dua orang yang berbeda di pesta pernikahannya. Dan salah satunya adalah kakak dari mempelai wanita. Well, great! Orang lain akan mengira Isabel terlalu cepat melupakan Aiden. Andai saja mereka tahu bagaimana menderitanya Isabel.
"Hei, Aiden! Dia sudah melupakanmu, Dude," celetuk Boyd.
"Aku setuju." Rodney mengangkat gelasnya sambil menaikkan alis. "Isabel memang sangat menarik sampai bisa menggaet dua pria tampan sekaligus. Do I have to join the club?" timpal Rodney tersenyum nakal.
Ethan tertawa. "Dia bebas, Dude."
Aiden menunduk sambil memejamkan mata. Dia tidak ingin mendengar ocehan teman-temannya yang memang selalu seperti itu. Jeff hanya bisa menepuk-nepuk bahu Aiden. Dia memang yang paling pengertian dibanding teman-temannya yang lain.
Hingga suara Ethan terdengar lagi. "Oh, No! Siapa lagi itu? Shit! Ini gila! Benar-benar gila!" Ethan menyugar rambutnya tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Tiga pria bergantian mendekati Isabel?
Aiden kembali megarahkan pandangannya ke lantai dansa. Dan di sana terlihat Jordan merengkuh pinggang Isabel ke arah pintu ballroom. Ada rasa tidak terima dalam hatinya saat Isabel bersama pria lain. Harusnya dia yang menjadi pasangan dansanya. Harusnya dia yang merengkuh pinggangnya. Harusnya dia ... Aiden menggeleng cepat. Tidak! Aiden tidak boleh memikirkan Isabel lagi. Isabel harus bahagia. Jika memang Isabel menemukan sosok yang bisa membuatnya bahagia, maka biarkanlah. Biarkan dia bersama orang yang mampu memberikannya kebahagiaan.
"Tutup mulut kalian dan nikmatilah pestanya!" Aiden menghentikan ocehan teman-temannya yang masih membicarakan Isabel dengan antusias.
Serentak mereka memandang Aiden karena nada ketus pria itu. Lalu mereka saling pandang, berbicara dengan bahasa mata.
***
Gadis itu duduk memeluk lutut diatas ranjang. Dia membenamkan wajahnya pada lutut dan hanya suara isakan pilu yang terdengar.
Jordan berdiri di ambang pintu kamar. Dia menyandarkan tubuhnya di pintu sambil terus memerhatikan gadis yang sedang larut dalam kesedihannya itu. Entah sedih karena kekasihnya yang menikah dengan gadis lain atau sedih karena bertemu kedua orang tuanya. Atau mungkin karena keduanya.
Perlahan Jordan mengayunkan langkah hingga dia sampai di tepi ranjang. Pria itu duduk di sana.
"Hei ...." Jordan mengusap lengan Isabel. Gadis itu mengangkat wajah. Air matanya yang deras menyisakan lelehan maskara berwarna hitam di sekitar matanya. Anak rambutnya menempel pada pipi yang basah. Hidungnya merah penuh dengan ingus yang membuat napasnya terasa berat. Kedua mata biru gadis itu menatap nanar pada Jordan.
"It's okay. I'm here." Jordan bergeser mendekat dan memeluk Isabel agar gadis itu merasa tenang. Dengan lembut dia mengusap kepala Isabel yang membuat gadis itu semakin terisak.
Dia sangat merindukan keluarganya, tapi melihat Jhon yang terlihat enggan untuk mendekat, membuat hatinya terasa sakit.
Bukankah dia sendiri yang meminta keluarganya untuk tidak menghiraukannya? Lantas kenapa sekarang dia harus menangis karena itu?
Tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibir Jordan. Pria itu hanya diam memberikan tempat bersandar untuk Isabel sambil terus mengusap kepala gadis itu dengan lembut. Hingga perlahan gadis itu kelelahan menangis dan terlelap dalam dekapan Jordan.
Dua hari setelah itu, Jordan memasukkan barang-barang ke dalam tas ransel hitam miliknya. Seharusnya dia kembali ke Amytville sehari setelah pernikahan Chloe. Tapi berhubung ada seorang gadis yang membutuhkan teman di sana, dia menunda kepulangannya.
"Kau mau pergi?" tanya Isabel yang berdiri di ambang slide door walk in closet.
Jordan menoleh lalu tersenyum. "Ya. Amytville sudah merindukanku," jawabnya sambil terus mengemasi barang-barang.
Isabel diam sambil memerhatikan Jordan yang sudah hampir selesai dengan kegiatannya.
Jordan menarik resleting ransel lalu menyampirkan ransel itu ke bahunya dan berjalan ke luar. "Jangan cemburu pada pekerjaanku, Cantik," kata Jordan sambil mengacak rambut Isabel. Dia terkekeh lantas melenggang begitu saja.
"Cemburu? Terlalu percaya diri bisa memperpendek umurmu, Tuan," sahut Isabel, memutar mata malas. Dia mengikuti langkah Jordan menuju ruang tamu.
Isabel tertegun dengan apa yang diucapkan Jordan. Ya, Isabel merasa apa yang diucapkan Jordan benar. Baginya keluarga adalah tempat ternyaman untuk kembali. Namun hal kecil yang terjadi beberapa waktu lalu membuatnya tak yakin jika keluarganya juga merindukan dirinya.
"Kemarilah." Jordan merentangkan kedua tangannya, meminta Isabel mendekat lalu memeluknya. "Jangan merindukanku," lanjutnya.
Isabel tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini. Dia hanya ingin menangis saat Jordan memeluknya. Mungkin rasa kehilangan yang membuatnya menangis.
Tawa kecil Jordan terdengar. "Kau menangisiku, Princess?"
Dengan kedua tangan, Isabel mengusap pipinya yang basah lalu mendorong tubuh Jordan. "Pergi saja kau!"
Bukannya marah, Jordan lebih memilih untuk tertawa keras. Dia mengikuti Isabel yang sudah merajuk dan duduk di sofa sambil melipat tangan di dada. Jordan duduk dan meletakkan ranselnya di lantai.
"Ayolah, jangan terlalu kejam padaku. Kalau kau merindukanku, kau bisa mengunjungiku kapanpun kau mau. Aku akan mengajakmu berkeliling menikmati keindahan Amytville yang luar biasa," bujuk Jordan yang dibalas dengan dengkusan kasar oleh Isabel.
Jordan melirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Aku harus pergi. Jaga diri baik-baik, Cantik. Aku akan merindukanmu." Jordan berdiri, mengacak rambut Isabel lantas memakai mantelnya.
"Pergi saja. Aku tidak akan merindukan pria menyebalkan sepertimu," kata Isabel persis seperti anak kecil yang sedang merajuk karena keinginannya tidak terpenuhi.
Jordan tersenyum kecil. Dia mengambil sesuatu dari dalam saku mantelnya. Sebuah benda mirip seperti ponsel, hanya saja itu lebih tebal dari ponsel pada umumnya. Dia memberikan itu pada Isabel.
"Aku tahu koleksi film Eric sangat membosankan. Kau bisa menonton film apapun yang kau mau dengan ini." Jordan meraih tangan Isabel dan meletakkan benda itu di tangannya. "Kau hanya perlu menekan tombol di sudut atasnya lalu ketik judul film yang kau inginkan kapanpun dan di manapun."
Isabel tampak tertarik. Dia mengamati benda itu. "Jika dayanya habis?"
Jordan tersenyum. "Tekan tombol ini." Jordan menunjuk sebuah tombol di bagian samping. "Dia akan mengisi dayanya sendiri dengan bantuan panas marahari dan cahaya di sekitarnya."
Senyum Isabel mengembang, takjub dengan kemampuan benda itu. "Kau membuatnya sendiri?"
Jordan mengangkat sebelah alisnya. "Sudah kubilang otakku cerdas," katanya dengan bangga. "Aku harus segera pergi atau aku akan tertinggal pesawat," imbuhnya. Pria itu masih harus pergi ke LA untuk urusan pekerjaan dengan Nick.
"Hati-hati," pesan Isabel. Dia sudah tidak merajuk lagi. Paling tidak dia mendapatkan mainan baru dari Jordan untuk mengusir kebosanan, karena hampir semua koleksi film Eric sudah dia tonton. Dan sebenarnya selera Eric cukup bagus.
"Ah, aku hampir lupa. Mintalah ponselmu pada Eric sebelum keparat itu lupa di mana dia menyimpannya," kata Jordan.
Wajah Isabel berubah murung. "Biarkan saja. Terlalu banyak kenangan Aiden dalam ponsel itu." Isabel memegang erat movie player pemberian Jordan.
Jordan menghela napas. "Kalau begitu hapus saja semua kenangan dalam ponsel itu," katanya sebelum membuka pintu dan hilang di balik pintu itu.
Isabel masih duduk di tempatnya. Mata birunya masih terus melihat pintu di mana sosok Jordan menghilang. Sunyi. Begitulah rasanya saat ini. Beberapa hari Jordan singgah di sana membuat suasana yang tadinya seperti makam menjadi lebih hidup karena Isabel memunyai teman bicara meskipun terkadang Jordan suka membuatnya jengah dengan segala kata-kata manisnya.
Sepertinya safe house bakal sepi lagi. Apalagi Eric juga belum kembali kesana sejak pesta pernikahan kemarin. Mungkin dia sedang menikmati tidur di kasur yang nyaman, karena sudah ada Jordan yang dengan senang hati menemani Isabel. Lagipula sepertinya Isabel juga sudah tidak membutuhkan babysitter yang harus terus mengawasi agar dia tidak melakukan hal gila.
Tapi, adanya Eric di sana pun sepertinya tidak akan mengubah suasana menjadi hangat, karena Eric bukanlah teman bicara yang asyik untuk Isabel. Jangan lupakan kalimat seperti apa yang sering diucapkan Eric pada Isabel.
Tunggu, bukankah terakhir kali mereka bertemu hubungan mereka sudah menunjukkan indikasi perdamaian? Saling melempar senyum yang tulus sepertinya bisa dijadikan pertanda baik.
Semoga saja keduanya bisa segera berdamai.
***
tbc.
Kenapa Eric belum kembali ? Apa iya dia hanya sedang merindukan kasur yang empuk dan luas ?
Hmm.....Atau jangan-jangan dia memang menghindari Isabel karena takut akan melihat senyum gadis itu ?
See you next part, love.