Oh My Boss.

Oh My Boss.
99



"Mas" Kinan tergopoh panik ke sumber suara.


Kinan mendatangi Aim dan melihat dia berjongkok di atas meja makan.


Dia terbelalak tetapi gemas.


"Itu, itu. Itu larinya ke sana" tunjuk Aim pada seekor tikus kecil yang sedang lari pontang-panting mencari celah untuk bersembunyi.


"Tikus?" Amira mengernyit, wajahnya mulai terlihat kurang enak.


"Ah tikus," teriak Kinan sesaat setelah melihat tikus itu berlarian kesana kemari, "Mir awas Mir" teriak Kinan. Kinan terus berteriak ketika melihat tikus berlari ke arah Amira sementara dirinya telah lebih dahulu naik ke atas kursi.


Tetapi disini Amira belum menyadari tikus itu berlari ke arahnya, Amira kelimpungan sehingga tidak fokus pada hewan merayap ke dekatnya.


Barulah saat tikus itu menyentuh kakinya Amira pun berteriak histeris, meloncat loncat dan berteriak jijik. Kinan dan Aim menjadi penonton ketakutan Amira.


"Mas lakukan sesuatu!" Pinta Kinan.


"Apa yang harus aku lakukan pada mahluk berbulu itu? Tidak kah kamu perhatikan bentuknya sangat menakutkan?" -Aim.


"Mas, kamu ini laki laki. Masa tidak ada yang bisa kamu lakukan?" -Kinan.


"Kinan, Loe aja yang usir tikus itu. Bukannya loe nggak takut hewan hewan melata kayak gitu ya? Loe kan keluarganya? Melata, menjijikan lagi" mendelik angkuh.


Disaat ketakutan pun Amira masih sempat berkata toxic.


atas kalimat yang dilontarkan Amira, Aim geram dibuatnya.


"Apa yang kamu ucapkan tadi Mir?" tanya Aim tanpa ekspresi.


"Ah yang mana?" Amira pura pura tidak mengerti dengan ucapan Aim, wajah manipulatif yang dibalut dengan senyum manis seolah tak bersalah.


"Berhenti berwajah manis di hadapanku Mir!. Aku tanya sekali lagi, apa yang kamu ucapakan tadi, Hah?" Di akhir Aim meninggikan suaranya.


Tatapan dingin pun kembali muncul, terarah kepada Amira. Aim turun dari meja dan melawan ketakutannya.


Berjalan tanpa ekspresi ke depan Amira, "Hentikan ucapan kotor mu perempuan tak tau diri. Kau!" Menunjuk wajah Amira, "Kau menghina istriku itu berarti kau sedang menghinaku juga. Hentikan penghinaan ini dan enyah lah dari tempatku!" Bentak Aim.


"Tapi Im, aku tidak pernah berfikir ke sana, aku sangat menghormatimu, aku tidak mungkin menghina kamu, kamu dengarkan aku dulu" rintih Amira memohon perhatian.


"Enyah! Dan pergi sekarang juga! Atau aku sendiri yang menyeret mu keluar?" Teriak Aim.


"Im" manipulatif.


"Berhenti bicara Amira!"


Teriakan itu membuat Amira beberapa kali tersentak. Amira fikir Aim berhati lunak yang bisa ia luluhkan dengan mudah, namun kenyataannya ia lebih menakutkan dari apa yang ia fikirkan.


Amira terpaku ditempatnya.


"Aku bilang pergi ya pergi!"


"Mas," Kinan turun untuk menenangkan Aim, mengusap pundak dan punggung tangannya dengan lembut. Kinan tidak ingin terjadi pertengkaran lebih menyeramkan antara Aim dan Amira.


Dengan wajah muram dan penuh terpaksa Amira menyambar tasnya kemudian pergi dari tempat Aim tanpa kata kata.


"Dan satu lagi"


Amira yang hampir meraih gagang pintu sempat berhenti, kemudian berbalik.


"Proposal yang kamu bawa (Tadi siang) aku tidak akan menandatanganinya, aku katakan aku menolak apapun yang kamu ajukan" berkata dengan dingin.


"Itu tidak mungkin Im, Om Arman sudah menyetujui proposal itu dan kamu tidak bisa semena-mena" bantah Amira.


"Aku hanya melakukan apa yang pantas aku lakukan" jawab Aim tanpa menoleh kepada Amira.


Aim tampak sedang mengatur nafas yang dipenuhi dengan emosi yang hampir meledak di ubun-ubunnya.


Seperginya Amira..


"Mas," Kinan menuntun Aim untuk duduk.


"Sayang" menggenggam tangan Kinan "Maaf, Mas tidak bermaksud meninggikan suara Mas seperti tadi, tapi Mas benar benar tak bisa lagi mengendalikan diri. Perempuan itu keterlaluan!" Diakhiri dengan dengusan kesal.


"Tidak Mas. Harusnya aku yang meminta maaf, aku tidak bisa mengendalikan Amira."


"Perempuan itu terlalu egois, dia fikir semua yang dia inginkan harus didapatkan? Aku muak kalau harus melihat dia besok" menghela kesal.


"Tarik nafas lagi," Kinan memberi contoh Aim mengikuti, "Tarik lagi" pinta Kinan kemudian.


"Apa sekarang emosinya mulai reda?" Tanya Kinan dengan senyumnya.


Aim berfikir sesaat lalu mengangguk.


Kinan tersenyum lagi, "Kalau begitu kamu sudah bisa putuskan 'kan, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Kinan.


"Mm maksud kamu?" Aim sempat mengernyit. Lalu Kinan menunjuk tikus yang masih kelimpungan mencari tempatnya bersembunyi.


"Iiiihhh" Aim bergidik ngeri. Kemudian mereka berdua saling menatap dan reflek mengangkat kakinya bersamaan.


Aim bergidik lagi.


"Mas. Kita nggak mungkin begini terus 'kan?" Tanya Kinan, Aim pun menggeleng.


Lalu Aim memikirkan jalan keluarnya.


Dan pada akhirnya Aim membawa Kinan menginap di sebuah hotel.


"Lalu bagai mana kalau besok tikusnya masih ada Mas?" Tanya Kinan, sebelum keluar dari kendaraan.


"Aku sudah memerintahkan Guna untuk mengatasi ini, harusnya besok mahluk astral itu sudah tidak ada lagi" mengatakan dengan yakin.


"Dasar pesuruh" ejek Kinan. Aim hanya tersenyum datar.


"Baiklah, kita keluar sekarang" ajak Aim setelah sesaat menoleh ke pergelangan tangan yang menunjukkan pukul satu lebih, Kinan pun menyetujuinya. Mereka berdua pun keluar dengan Aim yang membukakan pintu untuk Kinan.


"Kamu tidak perlu melakukan ini Mas, aku bisa sendiri"


"Tidak apa apa, aku senang melakukan ini. Baiklah mari" Aim mengasong'kan tangannya untuk Kinan pegang.


"Mm apa ini boleh aku lakukan (Menggandeng tangan Aim)?" Tanya Kinan tak yakin, merasa canggung.


"Tentu Sayang, lekas lah. Aku bahagia saat melakukan ini denganmu"


Kinan lalu menerima tangan Aim dan menggandengnya berjalan masuk kedalam hotel, mendongak sesaat tersenyum suka kemudian.


Tapi sebelum itu saat melihat hotel, Kinan sempat di kejutkan dengan penampakan hotel yang cukup familiar di ingatannya.


Kinan berhenti sesaat, "Hotel ini" ucapnya canggung.


"Ada apa Sayang?" Aim menoleh saat Kinan tiba tiba berhenti.


Kinan pun jadi gugup, hotel ini mengingatkan kembali pada kenangan pahit yang membuatnya kehilangan barang berharga yang ia jaga selama ini.


Reflek Kinan mengusap perutnya.


"Ah tidak Mas. Bolehkah kita cari hotel lain?" Tanya Kinan, ingin menghindar.


"Mohon maaf sayang tapi sopir kita baru saja pergi" Aim menoleh pergelangannya sekilas, "Waktu juga sudah larut, kalau harus mencari tempat lain, aku takut kamu tidak cukup beristirahat. Dan kebetulan jarak hotel lain cukup jauh dari sini, kamu tidak keberatan kalau kita tetap nginep di sini 'kan?"


"Mm.." Kinan terlihat cemas, "Apa mungkin aku akan bertemu dengan lelaki malam itu? Bagai mana jika dia mengenaliku sementara aku tidak tau siapa dia, dan bagai mana nanti Mas Aim kalau tiba tiba bertemu dengan lelaki yang telah menodai istrinya, apa aku akan langsung di depak?" batin Kinan, ketakutan.