
"Ayah, aku nyerah" Aim berjalan bersampingan dengan Ayahnya menyodorkan map yang kemarin diserahkan, entah apa yang terjadi padanya akhir akhir ini hingga hilang semangat begini diberi tugas kecil saja tidak selesai, jangankan selesai mendapat celah kesalahnnya pun tidak.
Arman menghentikan langkahnya menghadap kepada Aim, "Kenapa Im? Ayah perhatikan kamu seperti ini, ada apa? Apa kamu sakit?" Selidiknya.
Tidak biasanya Aim murung seperti ini, Arman berfikir mungkin tugas yang diberikannya terlalu berat Arman berfikir mungkin Aim keberatan untuk menyelesaikan masalah keluarga.
Arman menunjuk map yang disodorkan Aim "Ayah perlu bertanya, kenapa kamu menyerah secepat ini?"
Aim menghela bingung, "Aim tidak bisa memberi penjelasan Yah, saat ini otak Aim beku, bolak balik Aim mencoba tapi hasil akhirnya tetap sama." Aim menghadap kearah Arman yang lebih dulu menghadap kearahnya.
Saat bersamaan tidak sengaja Aim melihat sekelebat bayangan yang tidak asing Aim mendelik memperjelas penglihatannya lalu mengucek sebelah matanya barangkali keliru.
"Kamu mungkin perlu istirahat Im, ayah beri kamu sedikit waktu, pulanglah dan istirahat! Masalah perushaan biar ayah bicarakan dengan Guna, biar nanti Guna yang menjelaskan tugas mu dalam beberapa hari kedepan" Aim mengabaikan pembicaraan Ayah Arman matanya dan otaknya terfokus pada sebuah kubikel dibelakang Sang Ayah.
Aim bahkan sampe tidak berkedip melongo kaku seperti orang melihat jin gentayangan disiang hari.
Masih dalam perhatian Aim perempuan itu beranjak membawa setumpuk berkas Aim berkeputusan bahwa dia adalah kariawan perusahaannya.
"Kenapa aku baru sadar kalau Kinan bekerja disini" ucap Aim setengah berbisik.
Aim bergerak untuk mengikuti kemana perginya perempuan yang Aim yakini adalah Kinan namun Sang Ayah menahan, "Mau kemana Im?"
Aim terpaksa berhenti "Aim ada keperluan Yah" menoleh sesaat untuk berbicara dengan Ayahnya.
Saat kembali Aim pelingak pelinguk mencari kemana perginya perempuan yang sudah lama dicarinya.
"Im, Im, Aiman!" Ayah Arman sedikit membentak Aim karena berbicara tidak mengindahkan ucapannya, Arman menggeleng kesal.
"Euukkhh, maaf maaf" Aim mengerejab sadar, meringis menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Batinnya telah menyadari kegilaannya kepada Kinan, Kinan selalu berada di fikirannya sehingga melihatnya saja sudah seperti melihat setumpuk berlian dipadang pasir, membahagiakan dan menggiurkan.
"Kucari jauh jauh disini rupanya" gumamnya penuh semangat.
"Bagai mana? Apa kamu mau menyerahkan mapnya?" Tanya Arman mengingatkann Aim.
"Oh, ini?" Aim membuka dan meniliknya kembali, "Ini" tanpa berfikir lagi Aim menyerahkannya.
"Im...." Arman hendak mengambil map.
"Akan Aim Coba sekali lagi" ucapnya sambil melengos pergi.
Tersisa tangan Arman yang mengambang di udara, Arman berkerut melihat tingkah Aim yang aneh.
"Berubah fikiran dalam sekejap?" Arman mengernyit "Apa mungkin Qorinnya sudah kembali?" Arman menggeleng lalu beranjak heran.
Lega sudah fikiran Aim.
Dengan melihat Kinan perasaan gundah dan resah yang terakhir ini mengganggunya sepertinya mulai hilang, dunia langsung terasa luas.
Dipandang lagi perempuan cantik yang lihai mengganggu kewarasannya.
"Im" Arman memukul Aim menggunakan map yang dipegangnya, Arman mendapati Aim sedang terlihat kurang beres, bahkan Arman berfikir anak semata wayangnya ini sedang kurang waras mengingat akhir akhir ini Aim kedapatan linglung, dan banyak melamun.
"Ayah tunggu diruangan" Arman tidak sengaja melewati Aiman yang sedang berdiri memerhatikan sesuatu tanpa berkedip.
Seolah lupa pada permintaan Ayah Arman Aim malah bergegas untuk mendatangi Kinan, tapi sebuah notif sempat menghentikan langkahnya.
"Happy Aniv Im" sebuah pesan tertulis dikirim bersama sebuah gambar yang kala itu terlihat masih loading... Aim tersenyum miring fikirannya bertanya, 'Tumben wanita gila ini mengirimkan katakata manis tidak biasanya, apa dia kesamber?' Aim tersenyum payau.
hari ini adalah tepat 1 tahun usia pernikahan Aim dan Shina.
Menerima ucapan itu bukanya merasa senang Aim malah merasa Aneh akan kalimat yang dikirim Shina pasalnya selama setahun menikah tak pernah Aim mendengar Shina berkata manis begini biar sekalipun
Seketika bibir Aim mengatup pertanyaannya terjawab ketika photo telah terbuka.
Dalam diam Aim melontarkan sumpah serapah, "Dasar sinting!" hampir saja Aim membanting handphonenya reflek.
Shina memamerkan lelaki lain diatas ranjang tanpa sehelai benang pun sebagai kado peringatan satu tahun pernikahan.
Marah ini bukanlah rasa cemburu seorang lelaki pada pasangannya, hanya rasa diinjak injak dan rasa tidak dihormati sebagai pasangan yang sah menurut agama dan hukum.
Bagai mana tidak marah dihari ulang tahun pernikahannya Aim bukan menerima ucapan manis, atau kata kata romanti tapi malah menerima sebuah photo tidak senonoh yang sengaja dikirim Shina kepadanya, entah itu untuk memancing rasa cemburu Aim atau memancing kemarahan Aim agar berujung perceraian.
Tak habis habisnya Shina mencari celah untuk bercerai dengan Aim, namun Aim masih mencoba menahan diri, Aim terus berpegang teguh pada prinsipnya 'Tidak ingin merenggangkan persahabatan dua keluarga'
Pernikahan diatas perjodohan begitulah pernikahannya dengan Shina, meski begitu Aim selalu berusaha mengikat hatinya dengan Shina, mensejajarkan dirinya dengan Shina, menekan egonya demi bisa mempertahankan pernikahan, meski terus diinjak, meski terus dikhianati meski terus tidak dianggap.
Pernah jadi pegangan, saat mencoba memperjuangkan pernikahan dan cinta Shina Aim percaya 'Perjodohan hanya sebuah skenario tuhan dalam menyatukan hubungan mereka' namun kenyataannya ini hanya sekenario yang tidak akan menemukan titik happy ending.
Meski dalam penikahan ini Aim selalu berharap akan bertemu bahagia seperti yang lainnya, namun pada akhirnya sampai di setahun ini Aim masih merasa kesulitan untuk menyatukan dirinya dengan Shina.
Padahal Aim sangat percaya pada pepatah yang mengatakan 'cinta akan datang karena terbiasa' namun sampai detik ini sampai Aim merasa lelah ternyata cinta itu tak akan pernah ada.
Setelah sekian lama bersama Aim melihat hatinya dan hati Shina seperti sebuah garis lurus yang bertolakan, semakin mereka maju semakin jauh mereka saling meninggalkan. Sampai dititik bertahan ini ternyata cinta juga tak juga datang dihatinya.
Aim berjalan tergesa menuju ruangan Arman, "Ayah aku ingin menceraikan Shina, sekarang juga!" kata Aim terus terang tak ingin memperjuangkan lagi
"Alasan apalagi yang ingin kamu sampaikan Im?" Arman mendesah lelah. Sekilas menoleh lalu kembali meneliti filenya.
Ini bukan kali pertama Aiman mengatakan ingin bercerai dari Shina sudah berulang kali, namun bagi Arman alasan Aim sering tidak masuk akal.
"Ayah lihat sendiri!" Aiman menunjukan photo yang baru saja dikirimkan Shina.
Arman tampak terkejut tapi hanya sebentar.
"Tingkah seorang istri tergantung pada perlakuan suaminya Im, mungkin kamu tidak pernah memperlakukan Shina dengan baik sehingga Shina mencari persinggahan. Im ayah tau kalian menikah karena perjodohan tapi Ayah mohon cobalah beri Shina sedikit perhatian, dengan memberinya perhatian Ayah yakin Shina akan luluh dan berubah".
"Tapi sampai kapan Yah? Apa Ayah pikir Aim tidak pernah mencoba itu? Setahun ini Aim sudah melakukan yang terbaik yang Aim fikir bisa membuat Shina berbaik hati dan berubah, perhatian, perlakuan baik bahkan Aim mencoba mencintai Shina namun apa hasilnya?.....