
Kinan menyenggol, "Mor udah Mor, orang lain memperhatikan kita" bisik Kinan, ia risih karena orang orang memandang dan berkasak kusuk tidak nyaman.
"Sebentar lagi gue bakal jadi pemilik 25%saham perusahaan ini, otomatis gue bakal jadi pemilik perusahaan ini. Dan wajar dong gue disini" Amora berlagak dengan sombong.
Kinan sempat mengernyit saat mendengar 25% saham yang dimilikinya diperusahaan ini.
25%?? Kaya dong dia.. tapi saham dari mana? Kenapa gue baru denger?
Batin Kinan bertanya tanya, pasalnya selama ini mereka tidak pernah terdengar memiliki saham ini membahas pun tidak pernah.
"Gue bakal jadi orang kaya," Amira berbisik pamer kepada Kinan. "Oo ia apa kabar kamu orang susah" Amira menunjuk Kinan lalu tertawa lantang.
"Baru bakal saja sombongnya minta ampun" Amora memutar kesal bola matanya.
"Hiissss," Amira mendesis dan mengepal emosi..... "Saat itu sudah terjadi orang pertama yang gue depak adalah loe!" Amira menunjuk Kinan lalu menunjuk Amora, "Dan loe" tambahnya.
"Gue sumpahin loe gagal jadi orang kaya" Amora semakin murka mendengar kesombongan Amira.
"Apa loe bilang?" Amira memelotot sambil berteriak tak terima dia langsung menjambak Amora yang masih terduduk dikursinya, Amora sontak berdiri untuk mengurangi tekanan yang diberikan Amira,
"Dasar kariawan tidak tau diri" pekik Amira. Amora tak tinggal diam dia keluar dari kubikel lalu balas menjambak Amira, akhirnya keduanya terlibat saling pukul dan saling jambak.
Kinan pun keluar mencoba melerai namun kesulitan.
"Mor udah Mor" Kinan menarik Amora, lalu menarik Amira mencoba melerainya.
"Mira udah jangan gini malu dilihat orang" Kinan bergidik bingung harus menghentikan siapa.
Lalu salah satu karyawan melaporkan perkelahian kepada atasan mereka, Guna.
Seseorang berbisik dengan buru buru kepada Guna mengatakan kalau dibawah sedang ada perkelahian, Guna yang kebetulan sedang bersama Aim menemani tamu.
Aim menatap tanya kepada Guna, Guna lalu berbisik kepada Aim menyampaikan yang terjadi.
"Kamu turun lihat!" Titah Aim, Guna mengangguk, Aim kembali kepada Mina, "Maaf ada sedikit masalah." kata Aim kepada Mina dia lalu kembali duduk berhadapan dengan Mina setelah sempat berdiri untuk mendengar bisiskan dari Guna.
Sementara itu, Mina ibu Amira terlihat resah karena Amira tak juga kembali, muncul curiga dalam benaknya bahwa yang membuat masalah itu Amira.
Tadi saat Amira sedang menunggu kedatangan Aim sempat minta izin untuk berkeliling, Mina tau Kinan bekerja disini mungkin Amira sengaja mencari masalah dengan Kinan.
Seorang pegawai datang membawa Guna sementara yang lain berjejer menonton perkelahian Amora dan Amira, disana Kinan juga masih mencoba melerai.
"Hei hentikan!" Teriak Guna tegas.
Amora segera melepaskan remasannya dirambut Amira..
"Apa yang kalian lakukan!? Sungguh kekanak-kanakan!" Bentak Guna Tegas.
Amora menepis jambakan Amira dari rambutnya, "Dia yang mulai duluan" bela Amora menunjuk dengan benci kearah Amira.
"Tapi dia yang sengaja memancing emosi!" Balas Amira menunjuk lentik tak mau kalah.
"Itu karena loe nyinggung Kinan" teriak Amora.
"Nyinggung? Siapa yang nyinggung, orangnya aja yang baperan" Amira mendelik
"Jelas jelas loe sengaja berteriak untuk mempermalukan Kinan didepan orang banyak,kan ?!" Bentak Amora berpi api Amora mendengus tak tahan ingin menerjang mulut Amira namun Kinan memeganginya dan berusaha menenangkan Amora.
"Siapa yang mempermalukan siapa? Orang dia sendiri yang mempermalukan diri sendiri, dasar beban keluarga!" Amira mengarahkan kalimat itu kepada Kinan.
Tak terima Kinan diolok olok Amora menerjang Amira dengan Kuat sampai sampai Amira tertatih kebelakang, Amira yang tak terima segera mengambil ancang ancang untuk membalas Amora, dan....
Dukkkk... Amira melayangkan tendangan tapi Amora menghindar dan malah mengenai perut Kinan.
Aakkkkkkhhhh..
"Kinan......" Teriak Amora.
Kinan terhuyung kebelakang sambil meringis kesakitan memegangi perutnya. Aiman yang baru datang bersama Mina langsung berlari mendatangi Kinan dengan panik dan cemas, "Apa yang kau lakukan?!" Bentak Aim kepada Amira, Amira termenggu ketakutan mendapat bentakan dari Aim.
Walau ketampanannya tidak luntur, tapi saat marah Aim sangat menyeramkan.
Sementara itu Kinan menjerit kesakitan, tangannya bergetar dan mengeluarkan keringat dingin, melihat Kinan kesakitan Aiman semakin panik ingin sekali dia memarahi dan membalas Amira namun saat ini kondisi Kinan lebih penting untuknya.
Aim lalu menggendong Kinan membawanya kedalam ruangannya, "Gun telpon Surya suruh dia datang kesini sekarang juga!" Aim tergopoh membawa Kinan keruangannya merebahkan Kinan dikursi. Kinan meringis menahan rasa sakit diperutnya.
"Kamu tahan ya, Aku yakin kamu kuat, jangan memangis" Ucap Aim lembut mencoba menenangkan, walalu sebenarnya dirinya sendiri sangat panik, Kinan mengangguk sekilas.
Diusapnya perut Kinan, "Kamu harus kuat" kata Aim dengan mata berkaca kaca seolah tak terima jika terjadi sesuatu pada janin Kinan.
Aim mendengus murka dia tak terima Amira berperilaku kasar dikantornya terlebih kepada Kariawan, jika terjadi sesuatu pada janin Kinan Aim bersumpah akan memenjarakan Amira.
Kinan terus menekan perutnya dan menggeliat kesakitan, melihat itu Aim semakin panik "Kamu tidak boleh kenapa kenapa Kinan" Diusap lagi perut Kinan penuh khawatir dengan harapan tidak akan terjadi apa apa pada janinnya.
"Surya kamu dimana?" Aim terdengar tidak sabar.
"Aku dilobi" suara Surya terdengar terengah-engah mungkin karena terburu-buru.
Tadi Guna sudah menelpon dan mengatakan Kinan kecelakaan. Surya tau kehamilan Kinan itu sebabnya dia bergegas.
Beberapa saat kemudian Aim pergi menjemput Surya di pintu masuk menuntun setengah menyeretnya kedekat Kinan.
Surya segera mengecek kondisi janin Kinan, lalu memberi suntikan penenang, dan penghilang nyeri.
"Apa yang kau suntikkan itu?" Aim menunjuk obat yang disuntikkan kepada Kinan.
"Bukan apa apa obat ini hanya boleh diketahui oleh Dokter saja" jawab Surya asal.
"Jadi maksudmu aku tidak berhak tau? bagai mana kalau obat ini berbahaya untuk Kinan?" Surya langsung menatap Aim dengan tatapan tajam. Aim membekap mulut lancangnya karena telah menuduh Surya yang tidak tidak.
"Ya. Ya.. Dokter lebih tau segalanya."
Setelah diperiksa dan diberi obat Kinan lalu tertidur, dikesempatan ini Aim mengajak Surya untuk bicara.
Sementara Guna dia mendapat tugas tambahan membereskan Amora dan Amira.
"Bagai mana keadaannya? Bagai mana ibu dan Anaknya" Tanya Aim selalu tak sabar.
"Keadaan Kinan dan janinnya baik baik saja Im, " Ucap Surya dia memutar bola matanya malas dengan pertanyaan Aim yang bertubi tubi.
Aim menghela lega, "Kamu yakin?"
Surya mendelik kesal karena Aim masih tak percaya pada ucapannya. "Kalau nanti terjadi sesuatu kamu telpon saja aku, harusnya tidak terjadi apa apa."
"Apa anak dalam rahim Kinan masih bisa tumbuh?"
Surya benar benar dibuat jengkel dengan pertanyaan Aim yang terkesan tidak puas pada penjelasannya , "Nggak!" Surya menjawab asal.
Aiman langsung diam dan melotot tak percaya.
"Janinnya baik baik saja Im," Surya mengeratkan giginya karena gemas sekaligus kesal, "Lagian kamu kenapa sih? Kenapa harus seperhatian itu sama kandungan Kinan? Emang dia anak kamu apa? Heran deh, pertanyaan kamu nuntut dikasih kepalan mentah, heehhh" desis Surya. Surya melayangkan obat yang diambinya dari dalam kantong yang ia bawa dari rumah sakit, bercanda.
"Ia dia memang anakku Surya,"
Surya menoleh dan menatap kaget, tapi tak percaya kepada ucapan Aim. Menganggap ucapan Aim sebagai lelucon
Kutipan Novel You Are My Life.
Kamu tahan ya! aku yakin kamu kuat, jangan menangis.