
"Aku tidak akan membiarkan siapapun merusak kehormatan ku" gumam Rania, merasa terancam.
....
"Oo.. Mas, apa aku boleh menggunakan handphonemu untuk melakukan panggilan?. Handphoneku tertinggal di apart jadi..."
Kinan masih merasa canggung saat harus meminta sesuatu kepada suaminya, seperti halnya meminjam handphone milik Aim.
"Oh, tentu sayang. Silahkan gunakan saja" jawab Aim, tanpa menoleh ke arah Kinan yang kali ini telah duduk di tepi tempat tidur, sementara Aim sedang merapihkan kemejanya.
Sialnya ternyata Aim lupa menutup handphonenya. Aim lupa mengembalikan/menghapus pesan yang ia terima dari Arman pagi ini.
Pesan tersebut berisi, "Ingat tiga hari yang Ayah bilang. Cepat ceraikan dia dan pulanglah" kalimat ini juga yang saat ini Kinan baca.
Alangkah terkejutnya Kinan saat tidak sengaja membaca pesan teks yang dikirim id bertulis Ayah.
Kinan berfikir Aim sengaja menyembunyikan ini dari Kinan. Ada rasa kecewa dan takut yang datang bersamaan.
Rasanya dunia Kinan seketika hancur. Sempat juga ingin membahas isi pesan ini dengan Aim.
Namun saat Kinan membaca pesan itu lebih jauh, Kinan berusaha untuk menekan keinginannya, Kinan merasa egois bila harus membahas ini dengan Aim, sementara dalam pesan Aim bersikuku ingin mempertahankan Kinan.
Pastinya saat ini Aim pun sedang merasa tertekan atas permintaan ayahnya, dan mungkin juga Aim sedang di hadpkan dengan dua pilihan besar, namun Aim juga berusaha menyembunyikan semuanya dari Kinan agar ia tidak merasa sedih.
Kinan terlihat berusaha mengatur nafasnya agar tidak marah dan tetap terlihat biasa saja di depan Aim, karena Kinan tidak ingin menambah masalah di pundak Aim. Kinan akan berusaha menunggu sampai Aim bisa mengatakan yang sebenarnya.
Terus terang ini akan menjadi beban di fikiran Kinan sepanjang hari.
"Sayang, kamu melamun?" Tanya Aim saat melihat Kinan melongo dengan tatapan lurus. Aim berjalan mendekati Kinan.
"Ah tidak, aku hanya sedang berfikir" sanggah Kinan memberi alasan.
"Berfikir? Apa yang kamu fikirkan sampai sampai kening kamu berkerut begitu" Selidik Aim, menggoda Kinan yang menggemaskan. Aim tidak menyadari pesan dari Arman telah di baca Kinan.
"Aku, memikirkan akhir nomor telpon Amor," jawab Kinan berbohong.. padahal yang ada dalam fikirannya saat ini adalah percakapan Aim dengan Ayah mertuanya dimana ada 3 hari yang menentukan keputusan Aim.
Tiga hari itu, kini Kinan menunggunya dengan rasa takut.
"Apa nomornya sudah kamu dapatkan?" Tanya Aim lagi.
"Belum Mas" padahal Kinan belum pun sempat mengetik nomor Amor yang apa saja hurupnya Kinan hapal diluar kepala.
Kinan mendongak, menatap Aim yang saat ini berdiri dihadapannya. Keresahan besar dipikul Kinan. Ini adalah awal pernikahan, tetapi tantangan telah diterima, lapang atau tidaknya menerima ini tidak bisa diucapkan dalam lisan, siapapun tentu akan menangis namun Kinan tidak ingin memperkeruh keadaan. Biarkan saja, apapun yang terjadi Kinan akan menerimanya.
Tetapi Aim sangat mengagumkan, dia masih terlihat santai didepan Kinan seolah tidak ada masalah apapun, walau pun tadi Kinan sempat melihat air muka Aim yang keruh saat menatap layar handphonenya. Kinan sempat bertanya dan inilah jawabannya.
"Ada yang ingin kamu sampaikan Mas?" Tanyanya, saat melihat Aim berdiri kaku sambil memegang dasi ditangannya. Kini mulai ada ketakutan besar pada diri Kinan saat menatap Aim, walau kenyataanya Aim selalu baik, menumpahkan rasa cinta dan perhatian padanya, namun tetap saja Kinan khawatir pernikahan mereka akan dipisahkan disaat waktu masih terhitung jari.
disini Aim pun melihat air muka Kinan yang berubah, meski mungkin Kinan mencoba mengalihkannya, namun semua ini masih terlihat jelas, senyum Aim seketika sirna saat melihat wajah murung Kinan.
"Sayang apa yang kamu fikirkan?" Tanya Aim, mengangkat dagu yang tidak biasanya menunduk, mata pun berkali kali menghindarinya, tangan cekatan mengikat tali dasi tetapi Aim tak bisa melihat wajah Kinan yang biasanya senyum berseri dihadapannya, "Jawab sayang kenapa malah diam?, aku bertanya apa ada hal yang mengganggu kamu?" Tanya Aim lagi.
Bukannya menjawab, Kinan malah menangis sesenggukan membuat Aim khawatir.
Menarik Kinan kedalam pelukan dan mendekapnya erat, "Sayang ada apa, kenapa tiba tiba menangis?" Tanya Aim. Tangisan Kinan semakin pecah.
"Sayang, kita duduk dulu ya" Aim menuntun Kinan untuk duduk di atas tempat tidur.
Aim kembali memeluk Kinan untuk menenangkannya, lalu setelah reda Kinan mulai bertanya, "Mas apa kamu akan meninggalkan ku?" Tanya Kinan terbata bata disertai tangisan.
Aim terkejut, pertanyaan ini kenapa bisa keluar dari mulut Kinan?.
Aim bertanya dalam hati mengenai penyebab Kinan bertanya seperti ini, bukankah sebelumnya masih naik baik saja.
Aim benar benar melupakan handphonenya.
Aim diam beberapa saat
"Jawab aku Mas," Kinan menangis di dada Aim, "Jawab, apa kamu akan meninggalkan aku?" Masih dengan pertanyaan yang sama, Kinan memukul-mukul dada Aim.
Tiba tiba Aim pun merasa sesak, melihat Kinan menangis Aim sungguh tidak mampu.
Disaat otaknya bertanya tanya alasan Kinan tiba tiba menangis, Aim melihat tangan Kinan menggenggam handphonenya dengan penuh emosi, kini Aim tau penyebabnya.
"Jawabannya tidak, aku tidak akan meninggalkan kamu" menangkup pipi Kinan, mencoba berbicara dari hati ke hati, Aim sedang berusaha meyakinkan Kinan bahwa dirinya tidak akan pernah meninggalkan Kinan.
"Apa kamu membaca pesan ku?"
Kinan hanya menjawab dengan anggukan yang berat.
"Sayang... Aku minta maaf, seharusnya Ayah tidak bicara seperti itu. Aku tau dia belum mengenali kamu, tetapi aku juga ingin menyalahkan dia, karena terburu buru memutuskan. Dia belum tau betapa hebatnya cinta kita untuk dia berbicara sembarangan. Aku minta maaf" Aim sungguh menyesal mengapa harus lupa menghapus pesannya dan melukai Kinan.
"Sayang, maukah kamu memberi Ayah waktu untuk lebih mengenali kamu?. Aku mencintai kamu dan aku tidak akan meninggalkan kamu, apapun yang terjadi, kamu percaya aku 'kan?. Mas mohon, kamu jangan menangis lagi ya. Mas sangat takut"
Kinan benar benar hanya bisa mengangguk, bibirnya berat untuk berkata kata.
"Aku juga minta maaf, tak seharusnya aku seperti ini. Maaf karena tidak bisa mengendalikan emosiku, sebenarnya aku hanya takut kamu pergi, aku takut kamu meninggalkan aku. Aku sebenarnya tidak ingin membahas hal ini dengan kamu, tapi aku terlalu tidak bisa mengendalikan diri, semakin melihat mu aku semakin ketakutan,"
Aim kembali memeluk Kinan, "Tidak apa apa sayang, kamu mau 'kan menemani aku untuk meyakinkan Ayah? Aku sangat mencintai kamu, dan aku ingin terus bersamamu, untuk itu aku mohon agar kamu mau membantuku meyakinkan Ayah. Kamu mau 'kan berusaha lebih keras lagi? ini demi kita sayang" bujuk Aim.
Kinan kembali mengangguk setuju.