
"Apa Bos juga akan memecatku?" Lirih Kinan.
Aim mendecak gundah, "Tapi Nan, kamu dan dia berbeda"
"Lalu, anggap saja kami sama"
Kinan terus menatap Aim dengan tatapan penuh permohonan... Akhirnya Aim luluh dan mau mengangguk mengiakan permintaan Kinan walau terpaksa.
"Ambil belanjaan mu, kita pergi" kata Aim akhirnya, sambil melengos meninggalkan kerumunan yang tidak berhenti berkasak kususuk tentang dirinya dan pelayan kasir juga Kinan.
"Apa itu berarti bos membebaskannya?" Kinan menatap kepergian Aim dengan tatapan senang.
"Cepat pergi atau aku tarik kembali keputusanku" Aim tanpa menoleh.
Kinan bersorak kecil.
Mengambil tas belanjaan merampas uang yang digebrakkan Aim kepada pelayan lalu pergi melewati pelayan yang masih berlutut memohon.
Saat Kinan berlari dihadapannya dia merengkuh berterimakasih.
"Bos, Bos, bos" Kinan mengejar Aim, melambaikan uang ditangannya.
Hingga sampailah di parkiran.
Aim berhenti tepat di pintu mobil, menoleh kearah Kinan yang berlari mengikutinya, Aim meringis khawatir akan kondisi kandungan Kinan, tapi enggan untuk mengingatkannya. Aim masih berusaha menyembunyikan kehamilan Kinan.
"Bisakah kau tidak berlari seperti itu?" Tekan Aim, menatapnya dengan tatapan khawatir.
Kinan hanya sunyam senyum polos, tak menggubris permintaan Aim.
"Nih," Kinan meng asongkan lembaran rupiah ditangannya membuat Aim menghentikan aktifitasnya (membuka pintu mobil).
Aim mengernyit menatap lembaran yang diberikan Kinan, "Apaan ini?" Tanpa menerimanya.
"Uangnya aku ambil. Nih, terimalah." Mencekal tangan Aim lalu menyerahkannya., "Kebanyakan"
"Siapa yang suruh? Atau uang ini tidak cukup untuk membayar sikap pelayan itu kepadamu?" Tanya Aim, tak juga mengepalkan tangannya menerima uang yang sirahkan Kinan meski Kinan memaksa.
"Sudahlah jangan memperpanjang, lagi pula ini lebih dari cukup" Kinan mengangkat tas belanjaan miliknya dengan senyum mengembang.
Dengan terpaksa Aim menerima uang dari tangan Kinan.
"Bos jangan khawatir, aku akan menggantinya kok" Kinan berbicara dengan polos lalu berbalik untuk meneruskan langkahnya.
"Kinan," panggil Aim. Aim mematung memegangi daun pintu mobil yang telah ia buka.
"Ya" Kinan berbalik sekilas.
Aim memiringkan kepalanya berisyarat agar Kinan masuk kedalam mobil.
"Ada apa?"
"Masuklah"
"Mmm..." Kinan berfikir.
"Sudah cepat masuk!" Kinan masih berfikir, kurang yakin.
"Aku antar kamu pulang" imbuh Aim saat melihat Kinan dengan keragu-raguannya.
Kinan malah menoleh kiri kanan dengan canggung khawatir ada seseorang yang memperhatikan dirinya.
Mendapati Aim memintanya masuk kedalam kendaraan miliknya, Kinan seakan diingatkan kembali pada cibiran cibiran teman sekantornya. Kinan meringis.
"Aku pulang sendiri aja Bos" kata Kinan enggan.
"Ada apa, kau keberatan?"
"Bukan begitu, aku hanya sedikit canggung," Kinan celingak celinguk memerhati sekitar.
"Canggung karena jalan bareng Bos mu gitu?" Aim tertawa samar "Ayolah! Ini bukan kencan atau sebagainya aku hanya memberimu tumpangan apa itu salah?"
Kinan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Ia sih, tapi orang orang..?"
Belum juga Kinan menghabiskan kata katanya Aim sudah menarik Kinan dan menyeretnya masuk kedalam mobil.
Kinan meronta tapi Aim tak menggubrisnya.
Setelah memastikan semuanya baik Aim melajukan kendaraanya.
Selama perjalanan, didalam mobil yang ada hanya hening, baik Aim atau Kinan tak ada yang membuka suara, hanya sesekali saling menoleh penasaran yang masih diliputi kecanggungan.
"Ee .. oh ia.. tadi kamu bilang ATM kamu bermasalah apa kamu tidak terfikir untuk mengeceknya?"
Merasa diingatkan Kinan spontan mengangguk,.
Setelah itu tak ada lagi percakapan yang terjadi, mereka masih saling diam diam melirik.
Mobil yang hampir memasuki area kos kosan sempat memutar arah untuk mencari lokasi ATM terdekat.
"Oo ia, ATM kamu emang kenapa?" Aim mulai membuka percakapan lagi.
"Nggak tau, pelayan itu bilang kartu ku tidak bisa digunakan."
"Apa sistemnya eror?" Aim bertanya pada diri sendiri.
"Apa sebelumnya kamu sudah mengecek saldo ATM kamu?" Aim sekilas menoleh.
Aim mengangguk patah.
"Harusnya ada sih, kecuali ada orang yang ngambil, tapi nggak mungkin juga"
Lima belas menit kemudian Aim menghentikan mobilnya didepan sebuah ATM, Kinan keluar dan bergegas masuk dengan tidak sabar.
Kinan mengecek berulang kali. Sisa saldo masih sama Rp55.000. Kinan mengernyit tidak percaya. Dia lalu menelpon Amora untuk menanyakan slip gaji yang dia punya. Barangkali Kinan salah.
Amora membenarkan bahwa tiga hari yang lalu padanya juga telah masuk notif transfer dari perusahaan LK.
Kinan terus mengecek sampai beberapa kali meski angknya tidak ada yang berubah.
Kinan lalu beralih mengecek M.Banking miliknya, barangkali ada notif bukti penarikan yang mungkin dilakukan Mina dalam beberapa hari ini.
Tapi bukti itu tidak ada, sehingga Kinan merasa heran.
Kinan memutuskan keluar dari ATM dengan hampa.
Aim bersender dengan tangan dilipat didada pada mobil mewah miliknya sembari menunggu Kinan.
Tidak sengaja mata Kinan terjatuh menatap Aim.
Melihat Aim seperti itu Kinan dengan mudah terkagum akan ketampanan Aim.
Tubuh tinggi semampai rambut dipoles miring kiri sedikit acak acakan bagian depan.
Celana hitam panjang rapi dipadukan dengan kemeja berwarna navy yang dilipat sembarang sampai hampir ke sikut membuat iner wajah lelaki itu semakin terpancarkan.
Saat pertama keluar dari Atm tidak sengaja mata Kinan berpapasan dengan mata Aim yang mungkin tengah memperhatikannya juga. Seketika Kinan merasa detak jantungnya mulai tak beraturan.
Sesegera mungkin Kinan mengalihkan perhatiannya ke sisi lain, khawatir dirinya akan salah tingkah didepan Bosnya itu.
Akkh sungguh naif, perasaan memang sungguh gila, mana boleh mengagumi seseorang seperti Aim. Itu, seperti ketidak mungkinan terbesar untuk memilikinya. Seorang Aim terlalu sempurna untuk bisa dimiliki seorang Kinan yang tidak punya popularitas apa apa.
Kinan menggeleng, merutuki perasaannya.
"Eiii"
Suara Aim membuat Kinan terlonjak kaget, segera mungkin membetulkan ekspresi mukanya menoleh cepat kearah Aim yang ternyata belum beralih dari memperhatikan dirinya. Kinan semakin gugup saja.
"Ada apa? Apa semuanya baik baik saja?" Aim masih pada posisinya.
"Mm, ini..." Kinan meremas kuat kartu ditangannya. Entahlah... Suara Aim benar benar membuatnya gugup. Padahal itu bukan kalimat apapun, hanya sekedar pertanyaan ringan yang bisa dilontarkan siapa saja.
Melihat Kinan hanya terpaku.
Aim berjalan ke arah Kinan.
Aim menengadahkan tangannya, "Mana kartunya, biar aku lihat"
Kinan segera memberikan kartu dengan sopan.
"Tunggu sebentar" Aim lalu masuk, terlihat dari luar Aim sedang mengetik untuk bisa mengakses ATM.
"Kinan,"
"Ya." Sahut Kinan, mencoba menyembunyikan rasa gugup dari wajahnya dihadapan Aim.
"Boleh masukan pinnya?"
Kinan mengangguk lalu ikut masuk kedalam ATM.
Kinan berdiri didepan mesin, beberapa cm darinya Aim juga berdiri dibelakangnya, ini cukup dekat bahkan sangat dekat Kinan merasa amat canggung dengan posisi ini.
Berdiri berdua didalam ATM yang ruangnya cukup sempit, Kinan mengira Aim akan keluar dari kotak berukuran kecil ini tapi ternyata tidak. Kinan meringis.
Keadaan itu sempat membuat Kinan menggantung, tidak juga mengetik keyboard dihadapannya.
"Kenapa? Apa kamu takut aku mencuri pin mu?" Aim tertawa samar.
Kinan masih belum mengetik, "Bukan begitu" Kinan mengangkat wajahnya mendongak menatap lelaki yang sedang berdiri dibelakangnya. Rencananya ingin meyakinkan Aim bahwa yang difikirkannya itu bukan demikian.
Aim merunduk'kan kepalanya "Lalu?"
Malah tidak disengaja mata keduanya bertemu.
Kinan yang hanya sebahu Aim. Saat mendongak posisinya sangat pas bertatap mata dengan Aim yang cukup lebih tinggi darinya.
Mereka berdua terlibat saling beradu mata.
Batin Kinan tak henti mengagumi wajah sempurna Bosnya.
Aim tersenyum gemas, mata hitam yang sedang mendongak itu sungguh indah.
Terbersit dalam fikiran untuk menggenggam pemilik binar bercahaya itu.
Kinan mengerejab sadar, segera mengendalikan diri agar tidak terlena dalam bayang bayang senyum manis Aim.
"Akkhhhh" Kinan dibuat salah tingkah. Segera mengetik pin lalu bergegas pergi.
Kali ini Kinan memutuskan untuk menunggu diluar.
Kinan menoleh sekilas ke Ruang ATM diamana Aim masih berdiri. Spontan jantungnya kembali derdegup kencang.
Suasana didalam tadi telah menghipnotis kewarasannya sampai sekarang.