
Kinan makan dengan canggung, hatinya saat ini begitu bergejolak antara bangga, bahagia, bersatu menjadi pemikiran yang sulit dipercaya, Kinan bahkan tidak bisa meyakini bahwa ini benar benar nyata.
Makan malam pun berakhir. Aim mau pun Kinan saling bantu untuk membereskan bekas mereka makan.
"Istirahatlah Nan" pinta Aim sambil menggosok (mencuci) piring bekasnya makan.
Kinan meringis, Bagai mana dia bisa istirahat dengan tenang sementara Aim masih disini.
"Aku akan istirahat setelah memastikan Bos pergi" Kinan berat untuk mengatakan ini, namun dia hanya ingin agar Aim memberinya waktu.
Padahal Aim sengaja melakukan segala hal, memperlambat pekerjaannya demi bisa terus bersama Kinan.
"Baiklah, kalau itu yang kamu mau" Menoleh pergelangan tangannya, "Aku akan pergi sekarang juga" Aim tampak kesal dengan pernyataan Kinan barusan.
Setelah mengelap tangannya, Aim pun bergegas keluar, sempat berbalik beberapa saat, "Selamat beristirahat, semoga tidurmu nyenyak" rona wajah Aim kurang bersahabat, Kinan sampai merasa tidak enak hati.
"Bo.. Bos" Panggil Kinan, Aim hampir meraih gagang pintu pun berbalik sejenak.
"Saya minta maaf, saya tidak seharusnya melakukan ini, tapi ..."
"Tidak apa apa, aku mengerti, Nan. Kamu tidak perlu merasa bersalah, karena aku atau pun kamu tidak akan bisa langsung menerima orang lain yang datang tiba tiba"
"Tapi Bos" Kinan meringis tidak enak.
"Kemarilah" Aim mengisyaratkan jemarinya meminta Kinan untuk mendekat.
Kinan pun menurutinya, melangakh dengan ragu ragu.
Cuppp..
"Semoga ini bisa mengurangi rasa bersalah mu" ucap Aim selepas memberikan kecupan di kening Kinan.
Kinan gugup, tersenyum kaku.
"Aku pergi sekarang, jaga dirimu baik baik" -Aim..
Selepas kepergian Aim, Kinan mematung dalam beberapa detik untuk menatap daun pintu yang menelan Aim.
Sebenarnya Kinan tidak ingin melakukannya tetapi Kinan tidak ingin merasa tertekan oleh hubungan tiba tiba ini, banyak hal yang Kinan khawatirkan dalam pernikahan ini.
Seminggu berlalu pernikahan itu, Kinan dan Aim masih belum tinggal satu kamar. Mereka akan bersama hanya ketika didalam mobil.
Aim menyaratkan Kinan agar tetap pulang pergi kerja bersamanya.
Sebenarnya terkadang Aim tidak bisa mengendalikan dirinya, namun Aim selalu berusaha mengendalikan dirinya, hanya karena tidak ingin Kinan tertekan.
..
Setelah beberapa minggu pulang pergi bersama, hari ini Kinan merasa ada yang berbeda dari sikap Aim, sepanjang perjalanan Aim hanya diam. Menjawab pun hanya seperlunya.
Kinan sempat dibuat bingung akan sikap dingin suaminya hari ini.
Dengan berbagai pertanyaan yang masih mengganggu dibenaknya, Kinan melihat pemandangan yang kurang menyenangkan.
Amira terlihat begitu akrab dengan Aim, hal tersebut membuat Kinan terbakar cemburu, terlebih saat ini Aim banyak mengabaikan panggilannya.
Entah kenapa, dimata Kinan, Amira terlihat berusaha keras menggoda Aim.
Kinan benci melihat Amira sengaja mencari perhatian, mendekat bahkan sengaja melakukan kontak fisik dengan Aim.
"Perempuan itu, Bos kenapa kamu membiarkannya? Apa kau senang? Apa perempuan itu membuatmu berdebar? Cih.." Kinan mencabik dalam batin.
Mood Kinan benar benar terganggu akan hal tersebut.
Kinan sangat kesal, kekesalan itu ia bawa sampai kedalam rumah. Kinan tak berhenti melontarkan sumpah serapah, bahkan kali ini saat mengingat kejadian di kantor Kinan mulai menitikan Air mata.
"Kenapa masih belum membaca pesan ku si? Apa aku tidak berarti lagi untuknya?" Kinan bertanya pada layar yang telah berulang ulang Kinan tatap, berharap Aim akan segera membaca pesan atau melneponnya.
"Ciiihh.. lagi pula apa yang aku harapkan? Harusnya aku sadar kalau aku dinikahi hanya atas dasar kasihan, harusnya aku tidak berharap lebih" Kinan semakin terisak dibuatnya.
Tak berselang lama, Kinan mendengar seseorang membuka pintu, Kinan tau itu Aim. Itu sebabnya Kinan segera berbaring di sofa, pura pura tidur.
Melihat Kinan berbaring di sofa, membelakanginya, Aim memutuskan untuk mendatangi Kinan, hendak mengajaknya untuk makan malam bersama.
"Sayang," Membelai kepala Kinan dengan lembut.
Kinan merasa sangat benci pada panggilan yang baru saja diucapkan Aim.
"Kinan, sayang, harusnya kamu tidak boleh tidur seperti ini, punggung kamu akan sakit, dan kamu tidak boleh menekan perutmu seperti ini" saat Aim mencoba membenahi posisi tidur Kinan, Aim sadar ternyata istrinya ini tidak sedang tertidur.
"Sayang, kamu pura pura tidur?" Aim membalikkan badan Kinan. "Loh, kamu menangis?" Aim terkejut saat melihat mata Kinan basah.
Dengan cepat Kinan menghapus air matanya, dan segera memberi alasan kalau dirinya tidak sedang menangis.
"Katakan! Apa yang membuatmu tidak nyaman? Beri aku alasan kenapa kamu menangis!"
Aim terus mendesak, namun Kinan masih tidak memberi jawaban.
"Apa orang orang kantor menyulitkan kamu?" Tanya Aim, Kinan menggeleng.
"Atau kamu kangen rumah? Kita bisa pergi, aku antar kamu sekarang juga"
Namun Kinan masih menggeleng, dan memalingkan wajahnya.
"Tatap mata aku sekarang" mengarahkan wajah Kinan dan menatapnya dalam dalam, "Apa karena aku?" Kali ini Kinan tidak menggeleng lagi, "Kamu pulang dengan terburu buru tanpa menunggu aku. Katakan apa kesalahanku, dan bagai mana kamu ingin merubahnya"
"Bolehkah aku bertanya?" -Kinan.
"Silahkan!" Aim melepaskan tangkupannya dari pipi Kinan.
"Apa pernikahan kita sungguh sungguh? Apa aku bisa menjaminkan pernikahan ini? Atau, pernikahan ini..."
Aim memotong, "Kenapa pertanyaan mu sangat aneh Nan? Apa kamu merasa aku sedang mempermainkan pernikahan? Apa kamu tidak mendengar waktu itu aku telah bersumpah diatas nama tuhanmu? Bukankah kamu yang meminta waktu, maka dari itu aku berikan, aku hanya ingin agar kamu perlahan terbiasa dengan kehadiranku, aku tidak ingin memaksakan situasi, tapi kamu malah meragukan aku, salahku dimana?"
Kinan beringsut duduk, "Ia aku memang meminta waktu, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya dekat dengan perempuan lain, kalau benar aku adalah istri kamu, kamu tidak seharusnya mengabaikan panggilan aku, mengabaikan pesan dariku, apa berdekatan dengan perempuan lain yang membuatmu lupa siapa dirimu? Kamu nyaman dengan dia dan kamu lupa aku, heh?," Kinan naik darah rupanya.
"Tunggu!" Aim kembali memotong, tiba tiba seutas tawa terbit dibibir Aim, "Kamu berkata seperti ini," Aim mendekatkan wajahnya ke wajah Kinan, Kinan sontak memundurkan wajahnya, "Apa kamu sedang mencemburui aku sayang?" Tanya Aim sambil tersenyum gemas.
Kinan gelagapan, mendorong tubuh Aim untuk menjauhkannya, "Jangan asal menebak, lagi pula aku tidak pernah mencemburui siapapun"
Aim menggeser posisi duduknya, "Baguslah kalau begitu, aku senang saat kamu baik baik saja. Kamu juga tau sendiri kalau staf staf perusahaan itu perempuannya cantik cantik, mereka seringkali hilir mudik masuk kedalam ruangan suami ganteng mu ini," Aim berkata dengan penuh percaya diri, "Aku tenang karena kamu tidak akan salah paham dengan mereka"
Padahal Aim sengaja menggoda Kinan.
Kinan berdecak, "Cih, sombongnya nggak di kondisikan. Ia aku tau, mereka itu emang cantik cantik cantik, pergi dan layani mereka dengan baik, perhatiin mereka, kejar dan dekati semua perempuan yang menurut kamu menarik, sekalian kamu gait juga Amira, pepet terus perempuan gatel itu, aku tau kamu suka diperlakukan lebih oleh dia 'kan? Kamu nyaman'kan?" Kinan mengucapkan kalimat terakhir sambil menjengkat pergi dari hadapan Aim. Aim hanya tersenyum kecil mendengarkan gerutuan istri cantiknya.
Aim menebak Kinan sedang cemburu terhadapnya, melihat itu Aim sungguh senang.
"Kemarilah!" Aim mencekal Kinan lalu menariknya keatas pangkuan.
"Lepaskan!" Kinan yang sedang kesal meronta, mencoba melepaskan diri dari Aim, namun Aim menahannya. Memeluknya dengan erat.
"Mengenai Amira, kamu memang perlu mendengar sesuatu. Dia menggodaku, dan aku..."