Oh My Boss.

Oh My Boss.
78



Selepas Aim kembali duduk di kursinya lagi, Kinan segera bangun dan merapihkan diri, selepas permainan panas tadi, menyuarakan ******* yang tidak bisa Kinan kendalikan, kali ini Kinan merasa tak kuasa bila harus bersitatap dengan Aim, terlalu memalukan.


"Seharusnya aku tidak perlu meragukannya" batin Kinan mencerca. Kinan lupa pada kertas yang ditunjukkan Guna terhadapnya, bukankah disitu dinyatakan telah mengonsumsi obat yang membuatnya lumpuh sementara, lalu saat mendengar ucapan Shina Kinan malah meragukan kebenaran itu.


Setelah merapihkan kancing baju, Kinan mencoba duduk kembali dengan tenang.


"Mau ngapain lagi?" Tanya Kinan ketika Aim merongkong kembali ke dekatnya.


Aim tersenyum gemas, "Aku hanya membetulkan sandaran kursi, kenapa? Kamu berfikir yang bukan bukan?" Goda Aim sambil meluruskan sandaran kursi Kinan.


Tetapi tangan Aim kembali merayap kedekat benda kembar miliknya, Kinan langsung terkesiap.


"Ini mau apa?" Tanya Kinan, dengan sigap melindungi dirinya dari sentuhan Aim.


Aim kembali tersenyum gemas, "Aku?" Aim menarik sitbell dari belakang pundak Kinan, "Cuma mau memakaikan ini" sambil menguncikkannya.


"Ahhhh fikiranku, kenapa harus kemana mana sih?" Batin Kinan menggerutu kesal, hal hal yang terjadi barusan terus menggenang di otak Kinan, mengganggu kewarasannya.


Cuuupppp...


Tiba tiba Kinan menerima kecupan hangat di bibirnya, sekilas. Karena Aim harus segera melajukan kendaraan.


Kinan tersenyum kecil, menyentuh kembali bekas kecupan Aim, kemudian menoleh ke sisi kaca menyembunyikan perasaanya sukanya dari Aim.


Walau mungkin tanpa Kinan sadari Aim mengetahui hal tersebut.


Suasana sekitar sudah mulai gelap, ditambah gemercik gerimis menambah semangat untuk tertidur, calon ibu muda itu telah terlelap dari beberapa saat yang lalu.


Saking lelapnya, Kinan bahkan tidak sadar saat Aim membopongnya keluar dari mobil hingga masuk kedalam apartemen


Gemercik air sayup sayup terdengar ditelinga Kinan, Kinan yang belum sempurna kesadarannya mencoba memerhati sekeliling, mencoba mengenali tempat dirinya berbaring sekarang.


Kinan lalu beringsut menyandarkan punggungnya yang pegal pada sandaran tempat tidur.


Selang beberapa saat, Kinan melihat Aim keluar dari dalam kamar mandi.


Tubuhnya yang tinggi atletis, dengan dibalut handuk putih sampai di pinggang, memamerkan dada bidang dan pundak yang lebar, handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah kelimis, butiran butiran air masih membasahi wajah Aim, berjalan mengalir ke area leher, jakun yang sedikit menonjol bergerak naik turun seiring aktivitas yang dilakukan Aim, siapa yang tidak akan tergoda melihat ketampanan yang dimiliki Aim, menggoda iman.


Secepat mungkin Kinan mengalihkan perhatiannya dari wajah tampan tersebut.


Tapi orang yang ingin Kinan hindari malah berjalan ke dekatnya, bau aroma sabun tercium segar oleh Kinan.


"Ma maaf, sepertinya aku salah masuk kamar" kata Kinan mencoba mengalihkan tatapan Aim yang tak mau beralih darinya.


Kinan ber-ingsut turun namun Aim menahannya, "Kamu tidak salah masuk kamar, aku yang sengaja membawa kamu kesini. Dan, ini adalah kamar kamu"


Kinan menatap sekeliling, lalu meringis, membayangkan akan tidur satu kamar dengan seorang Aim.


"Kenapa, kamu keberatan?"


"Aku mungkin akan sedikit kaku, dan perlu terbiasa. Dan apa boleh saya menginap di kontrakan selama beberapa malam?"


Kinan tak bisa lepas dari bayangan aktivitas di dalam mobil tadi, dan saat melihat Aim rasa malu tiba tiba menyergap begitu saja.


Aim tersenyum,


"Aku tau kamu tidak nyaman. Tapi kamu tidak boleh kemana mana, kamu tetap di sini. Biar aku yang pergi,"


"Kemana?" -Kinan.


"Sementara waktu, aku bisa tinggal ditempat Guna, kebetulan dia punya unit dibawah" -Aim.


"Tapi Bos?" Kinan merasa tidak enak dengan pilihannya.


"Tidak apa apa, aku ngerti" Membelai rambut Kinan dengan lembut, Kinan melirik sentuhan Aim di kepalanya "Aku akan menunggu sampai kamu terbiasa dengan kehadiran aku"


"Kamu tidak perlu minta maaf, harusnya aku yang meminta maaf. Maaf karena pernikahan ini terburu buru, mungkin waktu yang kita lewati tidak cukup untuk kamu mengenali aku. Dan maaf untuk yang aku lakukan tadi aku terlalu terburu buru ingin membuktikan kalau..."


Jeppp.


Kinan reflek menangkup bibir Aim dengan telapak tangannya, Kinan tidak ingin Aim melanjutkan kalimat yang akan membuat wajahnya panas karena malu.


"Maaf maaf" Kinan segera menarik tangannya dari mulut Aim, "Aku tidak bermaksud" ucapnya tidak enak hati.


Kinan mengutuk dirinya yang sembarangan menghentikan pembicaraan orang lain.


"Tidak apa apa, kalau begitu aku pergi ganti baju dulu,"


Aim lalu beranjak menuju lemari pakaiannya, namun saat hendak melangkah, ujung handuk yang di kenakkan tertekan tangan Kinan yang berpegang pada bibir tempat tidur, hingga handuk itu melorot menampakkan tubuh putih langsat tanpa sehelai benang pun. Kinan menjerit karena terkejut.


Aaaaaaaaa...


Sambil menutup wajahnya, tidak ingin melihat tubuh Aim.


Tetapi Aim hanya terkejut sesaat, dengan santainya mengambil handuk lalu mengenak'kannya kembali, bahkan Aim menyempatkan diri untuk menggoda Kinan,


"Seharusnya kamu tidak perlu terkejut" bisiknya ditelinga Kinan. Aim kemudian berlalu sambil tersenyum gemas,


Membayangkan wajah Kinan yang memerah karena godaannya.


Di cermin Aim melihat Kinan sedang mengipas-ipas wajahnya.


Aim kembali tersenyum gemas.


Aim telah memakai piyama tidurnya, sementara Kinan sedang membasuh muka di dalam kamar mandi.


Lelaki itu tiba tiba mengetuk pintu kamar mandi, membuat fikiran Kinan kembali kemana mana.


"Ya" sahut Kinan ragu ragu.


"Apa masih lama?"


"Sebentar lagi" teriak Kinan.


"Cepatlah! Aku ingin......"


"Ingin apa?" Batin Kinan langsung menyahuti.


"Makan malam dengan mu" imbuh Aim.


Kinan langsung lega, kesimpulan kotor yang ada di otaknya langsung sirna. Kinan tersenyum kesal pada dirinya sendiri.


"Ba baik, aku keluar sebentar lagi"


Aim tak bersuara lagi, Kinan fikir lelaki itu sudah pergi.


Tapi saat Kinan keluar dari kamar mandi, Kinan terkejut ternyata Aim sedang bersandar untuk menunggunya.


Kinan menjerit karena terkejut, mengusap dadanya beberapa kali.


"Maaf maaf, aku tidak bermaksud mengejutkanmu, aku hanya ingin menunggu mu disini" jelas Aim.


Kinan menghela nafasnya dengan kasar, "Tidak apa apa, maaf fikiran ku sedang kemana mana jadi mudah terkejut"


"Baiklah, bisa kita makan sekarang?. Kamu tenang saja aku akan pergi setelah makan malam" Aim segera menjelaskan khawatir Kinan akan merasa tidak enak dengan kehadirannya.


Kinan mengangguk, Aim lalu mempersilahkan Kinan untuk berjalan lebih dahulu.


"Ahh, aku harus bagai mana? Aku tidak mungkin terus seperti ini, aku gugup setiap kali dekat dengan dia. Bagai mana ini padahal dia suamiku tapi aku memaksa dia untuk tidur terpisah" Kinan dibuat bingung sendiri dengan keputusannya,