Oh My Boss.

Oh My Boss.
40



"Heii lihat" Kinan menunjuk sekor kucing yang sedang rebahan ditrotoar "Mm lucunya... "Kinan berjongkok lalau mengusap halus bulu kucing berbulu lebat tersebut.


Bulu itu hampir menutupi wajahnya membuat kucing tersebut semakin terlihat menggemaskan, Kinan tidak tahan untuk tidak memangku dan menciumnya dengan serakah. Sementara Aim berdiri memerhatinya dari jarak yang cukup dekat.


Saat sedang asik memerhati Kinan, dari arah berlawanan Aim melihat mobil melaju sementara didekat Kinan terdapat genangan air yang cukup banyak, dan Kinan tidak menyadari itu.


"Nan awas!."


Aim spontan berjongkok melindungi Kinan dengan punggungnya. Aim mengerejab sedikit tidak biasa saat Air itu membasahi punggungnya, membayangkan betapa kotornya air itu membuat Aim bergidik ngeri.


Sementara Kinan masih asyik dengan kucing di pangkuannya.


Aim termenggu beberapa saat merasakan dinginnya Air yang menyiram dan kini terasa berjatuhan dari belakang tubuhnya.


"Akhhh shhiitt" Aim mendengus pelan hampir tidak terdengar.


"Akh" Kinan pun terkena sisa cipratan, juga mendesis sambil membersihkan bajunya dari bebasahan.


Saat menoleh, Kinan melihat baju Aim lebih basah dari pada miliknya "Bos kenapa bajunya kuyup?" Kinan melihat wajah Aim tampak ditekuk dan kesal.


"Apa kerena itu?" Kinan menunjuk genangan yang airnya masih bergoyang, diseberangnya Kinan meliat sesuatu yang kurang menyenangkan Aim pasti bakal kesal bukan kepalang bila mengetahuinya.


Aim langsung mengangguk.


Sebelumnya Kinan tidak menyadari bahwa Aim menoba melindunginya.


Melihat Aim berjongkok "Apa Bos mencoba melindungiku?" tanya Kinan dengan nada terharu.


Aim mengangguk, "Lalu untuk apa aku disini? Bukankah sejak tadi sudah ku bilang aku ingin melindungi mu, dan memastikan bahwa kamu baik baik saja" Aim berkata hampir berbisik.


"Yakin melakukan itu untukku?" Kinan menunjukkan wajah harunya.


"Kamu terharu Nan?" Kinan mengangguk dan Aim langsung berbesar hati, "Ayolah ini hal kecil masih banyak lagi yang bisa ku lakukan untukmu Nan" katanya lantam.


Kinan berkata dengan lirih dan penuh penghayatan "Jangan lakukan apapun lagi. Aku khawatir nanti Bos menyesalinya ..... seperti.."


Aim cepat memotong "Nan, aku tidak pernah menyesali apapun yang sudah aku lakukan, kepada siapapun itu"


"Kepada siapapun?" Kinan turut mengulangi, untuk meyakinkan Aim.


"Dan sekarang aku harap Bos tidak menyesali apapun"


Aim mengangguk penuh keyakinan.


"Yakin tidak akan menyesal?"


Kinan membalikkan tubuh Aim untuk menunjukkan sesuatu.


Aim segera terbelalak, ada sesuatu yang mengejutkannya.


Tepat di sebrang jalan yang Kinan tunjuk terdapat meja penjual ikan.


Tak jauh dari meja terdapat tulisan "Jual ikan hidup dan ikan bersih".


Di sana juga terlihat beberapa orang berdiri mengantri dan menunggu giliran ikan beliannya dibersihkan, sementara si penjual tampak sibuk memenuhi pinta pembeli, ia tak menghiraukan penjualannya mengotori sekitar.


Air kotor bekas membersihkan ikan tersebut terlihat mengalir ke tempat tepat dimana Aim berjongkok sekarang, itu artinya air yang menyimabah dirinya tadi jelas telah bercampur segala hal yang berkaitan dengan ikan, bau amis khas ikan dan segala macam sisa kotorannya.


Aim spontan mengendus bagian yang terkena cipratan tersebut ada bau yang mulai tercipta, seketika wajah meringis dan enggan terbentuk.


Bau amis mulai menyeruak mengusik hidungnya.


"Apa masih tidak menyesal?" Kinan mencoba menahan tawanya.


"Mungkin kali ini aku harus menyesal" Kinan hendak berucap tapi Aim kembali berkata, "Tapi satu hal, aku tidak menyesal saat berhasil melindungi perempuan cantik di hadapanku ini" Kinan kembali diam, dalam hati mengulum senyum senang.


Wajahnya sontak memerah padam karena malu.


Aim pun tersenyum melihat reaksi wajah Kinan.


Aim berdiri dari berjongkoknya merentangkan tangan untuk menunjukan betapa kacaunya dia sekarang, "Sepertinya kita harus pulang saat ini juga, aku perlu bebersih, besok ada meeting dengan klien aku tidak bisa datang dengan badan bau seperti ini"


"Aku sudah bilang, Bos pasti menyesal" Kinan pun bangkit, melepaskan kucing dipangkuannya kemudian berdiri.


"Aku tidak akan menyesal sampai baju ini terlepas dari tubuhku" Aim terus merentangkan tubuhnya menolak kulit untuk saling bersentuhan.


Kinan tertawa lucu setengah mengejek melihat Aim yang kengerian dengan bau tubuhnya sendiri.


Mereka berdua kembali melanjutkan langkahnya.


"Bagai mana rasanya Bos?" Kinan menoleh ke arah Aim, menunjuk kekacauan dengan tatapan meledek ingin menertawakan.


"Semua jelas baik baik saja, hanya," Aim mengendusi bajunya yang berbau tidak sedap, "Aku merasa seperti bangun dari tumpukan ikan busuk. Mau menciumnya Nan?" Aim mendekatkan lengannya yang basah.


"Jauh'kan itu dariku!" Kinan meringis jijik.


"Baiklah aku tau ini bau dan tidak nyaman, cukup aku saja yang merasakannya"


"Siapa suruh ngikutin, dapat'kan imbalannya (Imabalan tidak menyenangkan)" -Kinan


"Tidak apa apa, toh ini sebanding dengan yang aku dapatkan" Aim memiringkan kepalanya lalu berbisik kepada Kinan, "Aku merasa kita seperti pasangan yang sedang menghabiskan waktu bersama" Kinan spontan menjauhkan kepalanya dari Aim, kalimat itu membuatnya geli.


Laki laki ini benar benar tidak bisa ditebak apa maunya. Mengikuti, berlagak khawatir, berlagak melindungi, apa dia tidak berfikir orang akan salah paham? Dan kata katanya tadi seperti seorang single saja, ayolah Bos aku bisa berharap lebih jauh karena sikapmu ini.


"Oh ia Bos," -Kinan.


"Aim"


Aim meralat panggilan Kinan.


"Bos, tadi kenapa bisa ada di supermarket? Nggak ngikuti aku'kan?" -Kinan.


"Emang kenapa kalau aku ngikuti kamu, nggak akan ada yang marah juga'kan" -Aim.


Kinan memutar bola matanya sambil meringis mendengar kalimat demi kalimat yang Aim ucapkan, tak lebih seperti mencoba mendekati dan mengharapkannya.


"Nggak ada. Cuma aku agak aneh aja, disaat seperti itu ada yang menolongku, itu hal langka"


Aim dan Kinan berjalan pelan saling berdampingan, sesekali saling menoleh saat saling menjawab pertanyaan.


"Aku yang langka'kan Nan?" -Aim.


"Bisa dibilang begitu. Tapi Bos" Kinan berhenti sejenak Aim pun ikut berhenti dan menghadap kepada Kinan yang terlihat sedang berfikir.


"Aku harap tidak ada lagi yang Bos lakukan kepadaku"


Aim tampak mengernyit, menunggu Kinan melanjutkan kata katanya.


"Aku seorang perempuan yang kental akan perasaan yang lembut tapi rentan, mudah luluh, mudah merasa nyaman, mudah menaruh simpati, dan perempuan adalah mahluk perasa yang lemah, mudah dibodohi dan mudah dimanipulasi.


Akhir akhir ini perlakuan Bos sedikit berlebihan, dan aku sendiri mulai salah paham akan sikap yang Bos tunjukkan. Bos pasti tau bahwa perempuan adalah mahluk sensitif dan mudah merasa nyaman."


"Apa yang ingin kamu sampaikan Nan?" kata Aim dengan suara dingin.


"Aku hanya tidak ingin hanyut dan terbawa oleh perasaan lebih jauh lagi, untuk itu aku minta Bos berhenti perduli dan berhenti memberiku sikap yang tentu akan membuat aku berharap dan salah paham,"


"Nan apa yang kamu katakan ini? sikap yang mana? apanya yang berlebihan?" -Aim.


"Bos, aku minta Bos berhenti melakukan apapun untukku dan berhenti berkata-kata manis bersikaplah normal layaknya Atasan dan Bawahan" -Kinan.


Aim menggeleng tidak mengerti maksud Kinan.


"Sikap yang Bos tunjukkan terlalu berlebihan, aku takut akan terjebak pada permainan perasaan. Aku takut tak bisa mengendalikan perasaanku, dan aku takut tak bisa menerima jika nanti perasaan ini harus berakhir" -Kinan.


"Nan, kamu tau? yang kamu fikirkan ini berlebihan, aku tidak melakukan apapun dan aku tidak berniat memberimu harapan, aku melakukan semua ini tulus dari hati, aku hanya ingin melindungi mu, memastikan kamu aman dan yang pasti semuanya baik baik saja. Apa itu salah?" -Aim.