
Sayang..
Panggil Aim. Kinan menoleh ke sumber suara. Yang Kinan lihat adalah tubuh Aim yang basah dari sehabis mandi, terlihat hanya bagian bawah dibalut handuk berwarna putih, rambut kuyup sedikit acak acakan. Butiran air masih menggenang kecil, tampak seperti butiran butiran kristal yang berjalan menghanyutkan.
Lagi lagi wajah Kinan dibuat panas kala melihat tubuh Aim.
Secepat mungkin mengalihkan tatapannya. Kaki gemetar dan jantung berdebar kencang, luar biasa memacu aliran darah.
Kinan berusaha memaklingkan wajahnya dari tubuh Aim tapi meski sedang mencoba mengalihkan perhatian dari tubuh Aim mata lancang mencoba mengintip dari kaca besar dihadapannya, sedikit banyak merasa penasaran.
"Apa yang kamu lakukan dihadapan cermin?" Tanya Aim penasaran, karena Aim sempat melihat Kinan berbicara sendiri. Dari beberapa kalimat yang diucapkan Kinan, Aim samar samar mendengarnya.
"Ah tidak," sanggah Kinan.
"Tapi aku mendengar kamu berbicara dengan bayangan mu sendiri, apa itu tentang aku?" Tersenyum gemas, perlahan berjalan mendekat ke arah Kinan. Merentangkan tangan untuk memeluknya dari belakang.
Kinan panik saat kulit Aim mulai menyentuh tubuhnya.
"Maaf maaf, aku harus mandi" Kinan memberi alasan, dia lalu berlari menghindar, masuk kedalam kamar mandi.
"Dia menggemaskan" lirih Aim sambil menggeleng gemas.
"Awas licin" teriak Aim memperingatkan.
Kinan langsung menutup pintu dan membuang nafas yang sejak melihat dada bidang sang Aim mulai tak beraturan.
"Tuhan, kenapa aku mengacau di pagi hari? Bukankah dia hanya mau memelukku? Kenapa reaksi ku berlebihan begini?. Kekanak-kanakkan" gerutu Kinan. Memprotes apa yang dilakukannya.
"Bagai mana jika Boss tersinggung?. Ya Tuhan maafkan hamba mu, tapi aku gugup" batin Kinan.
Beberapa saat setelah Kinan membersihkan diri.
"Mas, Mas" panggil Kinan setengah berbisik.
Dari kamar mandi Kinan nongol dengan hanya kepalanya yang nampak. Terlihat Aim sedang merapihkan pakaiannya didepan cermin.
Saat Kinan memanggil, Aim langsung menoleh.
"Ya, ada apa?. Mau ngajak aku mandi sama sama?" Goda Aim lagi.
"Bukan itu, tapi... Aku lupa membawa handuk" meringis kesal akan kecerobohannya sendiri.
"Baiklah, tapi bukan di dalam kamar mandi ada handuk ya?"
"Ia. Tapi handuknya jatuh saat aku sedang mandi, lagi pula handuk di sini minimalis, bisakah aku meminjam handuk mu?" -Kinan.
"Ohh tentu." Aim bergegas memberikan handuk yang dibawakan Guna kepada Kinan. Aim mengasongkan handuk di tangannya dan diterima oleh Kinan, tetapi Aim tampak tidak berniat melepaskannya kepada Kinan, dia ingin dialah yang melakukannya (Mengusap tubuh Kinan dengan handuk di tangannya).
"Apa perlu aku yang mengusap tubuhmu sayang?" Goda Aim berbisik ditelinga Kinan.
"Tidak Mas, aku bisa sendiri" tolak Kinan lembut.
Handuk tak juga dilepaskan oleh Aim sebaliknya Kinan menarik handuk tersebut dengan sekuat tenaga.
Tetapi tatapan Aim mulai memindai, Kinan bisa merasakan sesuatu yang diinginkan lewat mata itu.
Dan benar saja, Aim tiba tiba menerobos masuk kedalam kamar mandi dan sempat membuat Kinan terkejut.
Sementara handuk yang Kinan minta masih ada ditangan Aim dan dipegang juga olehnya. Kinan geliasah, tubuh polos tanpa ditutupi sehelai benang pun dan saat ini Aim sedang menelusurinya tanpa terlewat sehelai rambut pun.
"Bolehkah aku melakukannya di sini?" Tanya Aim, berbisik dengan lembut ditelinga Kinan, bisikan yang dapat memicu gairah bercinta.
Kinan ingin menolak, tetapi tampaknya Aim sudah tidak bisa mengendalika dirinya lagi, akhirnya Kinan pasrah dan mengangguk, "Tapi kamu 'kan harus berang...." Ucapan yang ingin terlontar itu tertahan oleh bibir yang terlebih dahulu telah menempel di bibir Kinan.
"Waktu ku, cukup banyak untuk kamu" kalimat ini menjadi awal tumpahnya cairan sabun didalam kamar mandi (Umpamaan).
Dua orang bermain dengan asiknya, tak perduli sebanyak apa odol akan keluar nantinya. Gemercik Air yang sengaja dihidupkan menyamarkan suara serak yang tiba tiba menggila seiring tancapan pedal gas ditangan dan remasan rambut di kepala.
"Lepaskan Sayang, jangan ragu.. Aku mencintaimu, lepaskanlah," bisik Aim saat mendapati Kinan menahan suaranya, dia mungkin malu atau mungkin canggung.
"Disini hanya ada aku, kita harus menikmati ini, jika ingin berteriak, teriakkan nama ku" pinta Aim ditengah mencampurkan berbagai resep gelembung yang akan terus membesar dan akhirnya berakhir memecah kenikmatan.
Diakhir,..
Selepas pecahnya gelembung hormonal. Kinan duduk di pangkuan Aim, merasakan denyut nadi yang masih berdenyut melemah, tertumpahlah.
"Aku minta maaf sayang, aku melakukannya di sini. Maaf juga karena tidak bisa mengendalikan keinginanku" kata kata terucap dari bibir yang lesu.
Aim sangat ekspresif namun Kinan terkesan masih kaku, tetapi Aim sangat menikmatinya.
"Harusnya aku yang minta maaf, aku belum terbiasa melakukan ini. Aku kaku dan belum hapal hal hal yang kamu sukai, aku harap kamu memaklumi ini" -Kinan.
Aim tersenyum kecil, tak ada masalah apapun padanya, asal perempuan itu Kinan Aim menyukai semuanya.
Kinan masih duduk memeluk Aim yang tampak kelelahan, tampaknya energi Aim terkuras cukup banyak.
"Apa kita akan terus begini?" Tanya Kinan malu malu.
Dan Aim tertawa kecil, "Kamu benar, padahal pagi ini aku ada rapat penting." Mendengar itu Kinan langsung melepaskan pelukannya, beringsut turun dari pangkuan Aim, namun Aim mencegahnya.
"Aku minta maaf," pinta Kinan merasa menyesal.
"Kamu tidak perlu minta maaf, lagi pula aku yang terlalu bersemangat saat melihatmu tanpa pakaian. Kamu tenang saja semua akan baik baik saja. Disini akulah Bossnya, tidak ada yang bisa mengkritik atau memecat ku" berkata dengan sombongnya.
Kinan mendelik kagum pada sosok Aim.
Sementara Aim dan Kinan asik bercumbu di dalam kamar mandi, di nakas handphone Aim berdering berulang ulang, terdapat ID Mama di layar, serta beberapa pesan masuk yang di kirim oleh no yang sama.
Not.
Perempuan yang sebelumnya menelpon Aim adalah Rania (Ibu dari Aim). Sebelumnya Rania menelpon dengan nomor yang berbeda. Alangkah terkejutnya Rania saat terdengar seorang perempuan yang menerima panggilannya, dan Rania tau betul suara ini bukan suara Shina.
^^^Bahkan setelah itu untuk meyakinkan kecurigaannya Rania sempat melakukan panggilan kepada Shina, namun Shina mengaku sedang ada keperluan di luar dan tidak sedang bersama Aim.^^^
Fikiran Rania langsung berjalan kemana, bertanya siapa perempuan itu. Rania tau betul siapa Aim. Dia adalah sosok yang tidak mudah dekat dengan perempuan apalagi sampai membiarkan dia menyentuh barang barang miliknya, jika ada perempuan yang dibolehkan Aim menyentuh kehidupannya, itu berarti dia adalah yang Aim inginkan dan perempuan berarti untuknya.
"Siapa perempuan itu?. Apa mungkin Aim menyelingkuhi Shina?. Siapa dia, apa mungkin Aim memiliki sekrtaris perempuan? tapi Siapa, kenapa aku tidak diberi tau?"
Sejak saat itu fikiran Rania mulai bertanya tanya tak karuan.
...