Oh My Boss.

Oh My Boss.
Bag.23



"Sesuatu apa?" Amora ikut berteriak.


"Apa nggak apa apa aku pergi tanpa pamit sama pemilik apartemen?" tanya Kinan setengah berteriak. "Aku khwatir nanti dia nyariin aku" imbuh Kinan.


Meski berbohong, tapi tidak sepenuhnya, dalam hati Kinan memang sedikit merasa tidak tau diri karena telah pergi tanpa pamit apalagi berterima kasih kepada orang yang telah menolongnya dari terkaman Dirga dan memberinya tumpangan.


Sebenarnya Kinan sangat ingin berterima kasih tapi Kinan sedang terburu² sementara Kinan tidak sampai hati untuk membangunkannya.


"Aku sangat ingin berterim kasih tapi mungkin bukan hari ini, aku mohon pertemukan kami sekali lagi" Kinan berdoa dalam hati, kini Kinan hanya bisa berharap suatu saat bisa dipertemukan kembali dengan Aiman.


"Bos Bos" Guna menggoyang goyangkan tubuh Aim yang masih tertelungkup ditempatnya, "Bangun Bos Pak Arman menelpon" Kata Guna sambil menyerahkan telpon genggamnya.


Aim menyipitkan matanya dengan kesadaran yang belum terkumpul meraih benda pipih yang diasongkan Guna.


"Halo" Aim berkata dengan malas. "Nggak ada suaranya Gun" Aim mengembalikan telpon Guna dan kembali menelungkup.


Guna mengecek penggilan, ternyata masih terhubung, lalu Guna kembali menyerahkannya kepada Aim.


"Halo Ayah"


"Suaranya jauh Gun" Aim sekilas menoleh, Guna menyernyit heran.


"Kebalik bos" Guna membetulkan posisi handphonenya ketelinga Aim


"Dimana kamu Im?" tanya Pak Arman.


"Apartemen" jawab Aim singkat.


"Kenapa masih di apartemen Im? Kenapa nggak ngantor?"


"Masih ngantuk yah, lagian masih pagi juga."


"Pagi bagai mana? Cepat melek! lihat jam dihandphonemu!" Bentak Arman kesal.


Aim terkejut mendengar teriakan Ayahnya, saat melihat ke layar Aim terbelalak karena waktu menunjukan pukul 10 pagi. "Haaaahhh" mata Aim membulat sempurna. Aim melempar telpon lalu bergegas ke kamar mandi dengan panggilan yang masih menyambung, "Seseorang menunggumu di kantor Im" namun Aim tidak mendegarkan, saat hampir sampai dipintu Aim berbalik karena merasa menyadari sesuatu "Gun Kinan kemana?" Aim bertanya dengan panik berjalan kesekeliling apartemen mencari keberadaan Kinan.


"Kinan?" Guna menyernyit merasa tidak tau. Aim bergegas mencari barangkali Kinan ada dibalkon.


"Bos" Guna berjalan mengikuti langkah Aim, Guna pun baru sadar kalau semalam Aim membawa pulang Kinan dan pagi ini sudah menghilang.


"Nggak ada" Aim telah mengecek seluruh ruangan. Aim mengacak rambutnya panik bertolak pinggang mengusap wajahnya lagi dengan cemas.


Guna tertegun melihat gerak gerik Aim yang tak biasa, sepuluh tahun lebih hidup bersama Aim, Guna tidak pernah melihat Aim seresah ini karena seorang perempuan. Masih dalam perhatian Guna, Aim menyambar jas dan kunci mobilnya berjalan cepat menuju lift dan segera keparkiran.


"Im" Guna menahan pintu mobil , Aim terlihat tidak senang Guna menghentiknnya.


"Biar gue kemudikan" Guna tau Aim seorang yang over... selalu bertindak gegabah saat panik, Guna khawatir Aim tak bisa mengontrol emosinya hingga terjadi sesuatu kepadanya.


"Kemana lagi Im?" Tanya Guna, mereka berdua baru keluar dari pekarangan kos kosan Kinan, setelah diecek ternyata tempat itu kosong Kinan tidak berada di tempat, salah seorang penyewa juga menjelaskan kalau sedari Kemarin Kinan tidak kembali


Aim semakin panik, wajah kusutnya semakin terlihat, membuktikan betapa hati Aim sedang tidak tenang karena mengkhawatirkan Kinan.


Aim masih memikirkan kejadian semalam, itu sebabnya Aim sangat panik takut Kinan melakukan sesuatu karena Depresi.


"Kita cari dikediaman ibunya" pikir Guna, Kinan mungkin kembali kekediaman lamanya.


"Kosong Gun" ucap Aim setelah mengecek kediaman Mina, rumah itu bahkan terlihat sepi dengan gerbang yang digembok dari luar, Guna ikut mengecek dia juga berteriak 'permisi' berharap ada sahutan dari dalam, namun nyatanya nihil.


Aim semakin terlihat panik dia bingung harus mencari Kinan kemana, kehamilan Kinan dan kondisi kejiwaan yang membuat Aim sangat mengkhawatirkannya.


"Im," guna menatap Aim dengan sejuta pertanyaan.


Aim sedang duduk dibelakang sambil mengurut kepalanya yang pusing hanya sekilas menoleh.


Guna belum melajukan mobil yang dikemudikannya. Setelah pencarian yang melelahkan Aim dan Guna memutuskan untuk istirahat sebentar "Loe, kenapa? apa harus begitu mengkhawatirkan Kinan?" Mendengar pertanyaan itu Aim langsung menatap intens.


"Gue cuma khawatir dengan keadaanya doang,"


"Khawatir bagai mana?, Gue rasa dia baik baik saja." Guna masih penasaran dan berusaha mencari celah agar bisa menelusuri fikiran Aim.


"Baik bagai mana? Apa loe lupa tadi malam Kinan pingsan? Dia baru mengalami hal berat, gue nggak bisa biarin dia pergi sendirian" Aim berkata sedikit membentak seolah tak bisa terima orang lain mengatakan Kinan baik baik saja sementara dia tau kondisi Kinan sedang memprihatinkan.


"Ia, ia gue tau. Biasa aja kali, im. Loe kenapa sih? Jadi sensi begini overprotektif tau nggak?. Gue perhatikan kayaknya loe begitu mengkhawatirkan Kinan, memangnya Kinan kenapa? Dia keluar dari apartemen berarti dia harusnya baik baik saja'kan? Dari tadi pagi loe terlihat aneh Im gue nggak pernah liat loe sepanik ini karena perempuan."


"Gu-Gue"


Aim sendiri merasa bingung dengan pola fikirnya yang kurang waras, setelah bertemu Kinan segala sesuatu yang berkaitan dengan Kinan selalu membuatnya Khawatir dan tidak bisa tenang. Sungguh gila.


"Kenapa? Loe seperti ini apa karena Kinan berarti buat loe?" Aim hanya diam ....... "Ayolah dia perempuan yang baru loe kenal, loe nggak perlu berlebihan. Kita juga baru kenal dia akhir akhir ini, nggak ada ikatan apa apa, kalau pun terjadi sesuatu masih ada keluarga dia yang wajib ngelindungi dia, dan satu hal kalau Kinan kenapa napa kita juga nggak akan disalahkan"


Aim diam tak memberi jawaban dia bingung apa harus memberi tau Guna atau tidak tentang kehamilan Kinan.


Aim ingin mengatakan dia mengkhawatirkan kehamilannya, janin yang Kinan kandung.


Tapi Aim merasa tidak mungkin untuk mengatakan itu.


"Gue sendiri nggak tau Gun, gue nggak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya, gue selalu ngawatirin dia, tiba tiba panik, tiba tiba cemas dan bertanya tanya apa dia baik baik saja, apa dia sudah makan apa dia tidur dengan baik? Gue selalu kepikiran dia, andai dia bisa terus didekat gue mungkin Gue bisa tenang"


Guna tertawa kecil "Loe, gue rasa loe jatuh cinta sama Kinan Im"


"Jatuh cinta?" Aim mendelik, "Emang loe tau jatuh cinta itu seperti apa?" Ledeknya.


"Ya gue emang nggak terlalu tau, tapi sebagai lelaki dewasa gue cukup pandai melihat mana perasaan cinta..."


Aim segera memotong, "Ini mungki perasaan yang timbul karena kasihan Gun, melihat keadaannya seperti ini gue merasa miris, mungkin hati gue sedang tergerak untuk melindungi dia"...


"Melindungi? kasihan? cemas? berharap selalu dekat.. Apalagi yang kurang? semuanya sudah jelas bukan? yang loe lakukan ini timbulnya dari perasaan, dari hati... Masih ingin nyangkal? ya sudah.. Orang udik mana paham jatuh cinta" Di akhir Guna tertawa samar..


"Gun"


Aim menatap Guna dengan kesal.


Kutipan novel You Are My Life.


"Masih ingin nyangkal? orang Udik mana paham jatuh cinta"