Oh My Boss.

Oh My Boss.
Bag.36



Beberapa saat kemudian. Aim pun ikut duduk disebelah Kinan. Mengembalikan ATM Kinan. Kinan menoleh untuk mengambil ATM tersebut.


"Bagaimana?" Kinan sungguh penasaran akan saldo pada kartu tersebut. Kinan kurang banyak tau selain mentransfer dan menarik.


"Kosong" jawab Aim.


Kinan membuang nafas penuh kecewa.


"Seseorang baru saja menarik uang kamu, Nan. Lima belas atau sekitar sepuluh menit sebelum kamu memeriksanya."


"Tarik? Siapa? Bukankah ATM nya ada padaku?" Kinan terlihat tidak yakin.


"Ya, ATMnya memang ada padamu tapi apa kamu pernah memberikan pin M.bankingmu pada orang lain?"


Kinan mengingat ingat, dia memang pernah memberikan pin M.banking beserta pin ATMnya kepada Mina.


Tapi seingatnya Mina sudah tidak lagi menggunakan M.banking setelah Kinan menyerahkan kartu ATM itu kepada Mina.


"Apa Mama menarik uangku lewat m.banking?" Tanya Kinan mulai terlihat tidak bergairah.


"Ya, kemungkinan besarnya begitu" Aim lalu memberikan secarik kertas berisi bukti penarikan yang mungkin telah dilakukan Mina, disitu tertera bukti 5 transaksi terakhir yang masuk/keluar.


Kinan menatap kertas itu dengan mata berkaca kaca, "Mama, kenapa harus melakukan ini pada Kinan?." Kinan beralih menatap Aim "Jadi Mama benar benar menguras habis ATMku?"


"Ya,"


"Tapi kenapa? Disini tidak tertera apapun?" Kinan menunjukan aplikasi M.banking miliknya.


"Nan," Aim mengambil handphone Kinan "Jika m.bqnkingmu tidak menunjukan apapun itu tandanya m.banking milikmu perlu login kembali, kamu perlu melakukan itu setelah kamu memasukannya di handphone yang berbeda."


Aim lalu menyecrol aplikasi tersebut lalu dengan sendirinya keluar dari akun milik Kinan.


"Lihat'kan? Dengan sendirinya akun kamu keluar" Aim menunjukan itu kepada Kinan.


"Kamu harus login kembali"


Kinan pun memasukkan akun M.banking miliknya.


Kinan mendesah kesal karena ternyata nomor yang digunakan untuk memindai akun ternyata nomor yang kini dimiliki Mina, Kinan lupa kalau sebelumnya Kinan memberikan itu.


"Akkkhh sial" Kian meremas rambutnya, merutuki semua kebodohannya.


Air mata yang menggenang disudut kelopak mata itu akhirnya jatuh, "Mama mengusir aku dari rumah tanpa uang sepeser pun?" Kinan membenamkan wajah dipangkuannya, "Akkkhhhh.," merasa frustasi.


"Bagai mana dia bisa bertahan hidup sementara dia tidak punya apa apa lagi. Tak ada se sen pun uang disaku semntara ATM juga sudah dikuras habis."


"Heiii" Aim mengusap pundak Kinan dengan tidak beraturan, "Kenapa harus menangis?"


Kinan mengangkat kepalanya sambil menyeka air mata, mengatur nafasnya lalu tertawa samar menyembunyikan kesedihannya.


"Haha.. Gila bukan? Aku diusir dari rumah, dan secara tidak langsung dipaksa hidup sendiri. Tapi Mama merampas satu satunya harta yang aku miliki, Mama mengambil semua uang yang akan aku pergunakan untuk bertahan hidup, membayar tempat berteduh dan membayar trasportasi." Kinan berpeluk lutut menekan kesedihan yang mau meledak didadanya, "Apa Mama sungguh menginginkan aku jadi gembel?" Menoleh kembali pada Aim lalu tertawa kecil.


Sementara Kinan meluahkan semua kekesalannya, "Aim hanya diam menyimak"


"Astaga,.. " Kinan berdiri dari duduknya, berulangkali terlihat menahan tangisannya "Bos, kau bawa saja belanjaan itu, aku tidak akan sanggup membayarnya"


Kinan berjalan menuruni dua anak tangga.


"Nan, kamu mau kemana?" Kata Aim setengah berteriak.


"Aku mau pulang saja, aku lelah" jawabnya lesu.


Aim tau Kinan sedang menyembunyikan kesedihannya.


Aim menoleh tas belanjaan disampingnya. Mungkin sebaiknya tadi Aim tidak memberi tahukan Kinan tentang ATM itu, kini Kinan terus bersedih karena itu.


Tapi mungkin bukan karena ATM yang kosong dikuaras habis tapi perasaan dibuang oleh ibunya sendiri.


Seandainya tau Aim mungkin memilih tidak akan menunjukan apapun.


"Ooh biar aku antar" Aim ikut turun mengikuti Kinan.


"Mm... Aku sedang malas naik mobil, Bos pulang saja, aku mau jalan kaki sambil menikmati pemandangan sore," tolak Kinan lembut.


"Lagipula siapa yang mau naik mobil. Aku sudah lama tidak jalan kaki, berjalan 10menit sepertinya tidak masalah. Lagipula pemandangan disini lumayan" Aim memutar, memerhati sekeliling.


"Bos tidak akan sanggup, kos kosan ku cukup jauh lebih baik naik mobil dan pulang" tekan Kinan.


"Sudahlah jangan mengejekku, aku tidak selemah yang kamu fikirkan. Sudah ku bilang aku mampu berjalan selama sepuluh menit" Kata Aim yakin.


"Tapi ini lebih dari sepuluh menit" jelas Kinan.


"15 menit tidak masalah"


"Lima belas menit? Masih butuh seperempatnya lagi" Sambung Kinan.


"Apakah 20menit?, tenang saja aku lelaki kuat"


"Kita masih perlu sedikit waktu untuk sampai," Kinan terus menjawab.


"25 menit?" terka Aim.


"Mm sekitar 40 menit" ucap Kinan akhirnya.


Aim mengangguk-angguk seolah tidak masalah baginya. "Itu setara dengan waktu olah ragaku setiap pagi di akhir pekan. Bagai mana berangkat sekarang?"


Tanpa bertanya Aim pun berjalan sambil menjinjing tas belanjaan menuju arah yang menurutnya menuju kos kosan Kinan.


Sementara Kinan, tanpa memberi tahu Aim dia berjalan ke arah sebaliknya.


"Kinan, kamu perlu tau, aku biasa berjalan dan mendaki gunung lewati lembah, 40 menit tentu bukan masalah, betisku betis kuda sangat kuat. Kamu pasti tidak akan percaya aku 'kan, Nan?" Karena tidak ada sahutan dan tidak terdengar hentakan Kaki Aim menoleh, lalu sadar ternyata Kinan tidak mengikutinya. Aim malah melihat Kinan berjalan menjauhinya (ke arah sebaliknya).


Aim berteriak "Hei, hei" lalu segera berbalik dan mengikuti Kinan.


"Nan kenapa tidak bilang kalau jalannya lewat sini" kata Aim setelah bersejajar dengan Kinan.


Kinan menyeka air matanya "Bos, kenapa tidak pulang saja?" Kinan berusaha menunjukkan bahwa ia tidak sedang menangis.


Aim pura pura tidak melihat saja.


"Pulang, nanti setelah mengantar kamu pulang"


Kinan menoleh sekeliling, orang orang yang ia lewati tampak memperhatikannya dengan wajah sinis. Berjalan seperti ini sebenarnya tidak menyenangkan, sungguh malas apabila harus ditatap penuh selidik oleh orang orang yang tidak sengaja dilewati.


"Bos, apa tidak risih?"


"Akh risih kenapa?" tanya Aim.


"Aku merasa kita sedang ditelnjangi mereka" Kinan berhenti sejenak dengan sudut mata menunjuk orang orang yang sedang menatapnya. Walau setelah itu mereka akan mengalihkan perhatian mereka.


"Tidak masalah" Aim berkata dengan entengnya.


"Aku rasa ini masalah. Bagai mana jika orang orang tau bahwa seorang Direktur tunggal yang dinobatkan sebagai CEO sedang berjalan ditempat seperti ini. Mereka mengambil gambar lalu menpostingnya dilaman media dan membuli mu, sungguh akan memalukan" Kinan sengaja menekan kata memalukan agar Aim ngeh dan mau berhenti mengikutinya.


"Akh sudahlah, aku tau kok sebenarnya kamu sedang menyuruhku berhenti mengikutimu'kan? ya kan?"


Kinan sempat berhenti beberapa saat menatap Aim dengan bibir mengerucut kesal.


Aim membalasnya dengan tatapan gemas.


"Sebenarnya sekarang aku sedang beruntung karena bisa berjalan berdampingan dengan seorang perempuan cantik sepertimu, menikmati pemandangan kota dan mencium aroma wangi aneka jualan yang dijajarkan pedagang kaki lima. Kamu tau? ini ketenangan yang bisa dengan mudah aku dapatkan, dan ini gratis"


"Sudah Bos, jangan bersajak lagi! hemat energimu karena perjalanan kita masih jauh" Kata Kinan mencoba mengingatkan.


Aim berjalan tergesa menyeimbangkan langkahnya dengan Kinan.


"Heii jangan terburu-buru,"


"Jangan berjalan lambat, aku tidak mau kalau sampai harus kemalaman dijalan" Kinan menambah kecepatan langkahnya. Aim coba menyusul.


Kinan semakin cepat berlari meninggalkan Aim, Aim pun semakin cepat mengejar Kinan.


Mereka berdua terlibat saling kejar.


Semua itu Kinan lakukan dengan harapan Aim akan kelelahan dan mau berhenti mengikutinya, Kinan tidak tau lagi caranya membuat lelaki itu enyah darinya. Kinan hanya ingin sendiri tapi enggan mengatakannya kepada Aim.