Oh My Boss.

Oh My Boss.
66



"Tinggal lah senyaman kamu disini, Nan"


Aim menuntun Kinan duduk dikursi.


Kinan pun duduk sambil memindai sekeliling, ini kali kedua dirinya memasuki apartemen milik Bos nya ini.


Sementara Aim masuk kedalam kamar untuk mengambil baju milik Kinan.


Digesernya lemari kayu berwarna putih tersebut, bersamaan dengan terbukanya pintu yang menampakkan baju milik Kinan senyum di wajah Aim pun menyingsing.


Senyum penuh kebahagiaan, senyum hangat yang merubah wajah menjadi berseri dan cerah.


Beberapa saat kemudian Aim kembali kehadapan Kinan.


Meng-asongkan baju ditangannya,


"Mandi lalu ganti baju. Aku akan buatin kamu makan malam, setelah mandi aku tunggu di sana" kata Aim sambil menunjuk sebuah kitchen cukup jauh dari tempatnya berdiri.


"Tapi Bos," Kinan merasa terlalu merepotkan Aim.


"Jangan menolak ok! lakukan saja yang aku perintah" Aim bergegas menuju ruang yang sempat ia tunjuk tadi.


Sempat berbalik, "Tapi maaf, disini tidak ada perlengkapan perempuan. Jadi.. kamu tidak keberatan'kan memakai peralatan mandi milikku?" Aim berkata dengan kikuk. Menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Sepertinya tidak akan sempat kalau harus membeli yang baru"


"Enggak, enggak kok" Kinan lekas menjawab.


"Baiklah, cepat mandi aku tunggu, stengah jam lagi kita makan."


Kinan menatap langkah Aim yang terus menjauhkannya.


Memindai ke sekeliling dengan perasaan yang sulit diungkapkan.


Bosnya telah memberinya waktu setengah jam, Kinan harus bergegas daripada membuat Aim menunggu dirinya.


Hanya membersihkan diri, Kinan mengganti pakaian dan segera menghampiri Aim yang masih berkutat dengan pekerjaan dapur.


Celemek menggantung di leher, spatula, sayur, daging berbaur dengan bumbu. Kinan memperhatikan pemandangan hangat yang timbul dari apa dilakukan bosnya.


Sungguh Aim berbeda dengan Aim yang ia lihat di kantor.


Kinan sampai terkesima ketika memperhatikan Aim.


"Akh, Nan sudah selesai mandi?" tanya Aim, menoleh tipis.


Kinan mengerejab sadar.


Mendapati Kinan berdiri memerhatikan dirinya, Aim tersenyum, bahagia.


Saat berhasil membawa Kinan ke Apartemen, mengizinkannya mandi (berbagi sabun), mengganti pakian dengan pakaian miliknya (Celana), itu adalah saat dimana Aim merasa bangga dan senang tidak ada duanya.


Lalu mendapati Kinan berdiri dibelakang sambil memerhatikan dirinya, Aim sungguh tidak bisa mengungkapkan kebahagiaan yang dirasa dirinya saat ini.


Aim seperti menemukan istana sepi yang perlahan berubah jadi rami.


"Ia," Berjalan kecil menuju kursi yang menghadap ketempat Aim saat ini memasak.


Dengan cekatan memasukkan masakan kedalam wadah, seperdetik kemudian makanan terhidang didepan Kinan.


Kinan tidak bisa berpaling dari gerak gerik Aim.


"Makanlah selagi hangat." Aim masih sibuk melanjutkan aktifitasnya.


Setelah dirasa cukup, Aim lalu mencuci tangan kemudian duduk berhadapan dengan Kinan. Untuk ikut makan bersamnya.


"Maaf cuma ini yang tersedia. kulkasnya kosong aku lupa membeli bahan makanan," diakhiri dengan senyum kecil.


Bukan makan Kinan malah memainkan makanannya.


"Bos, di sinia. apa tidak ada peralatan perempuan?" tanya Kinan ditengah memainkan makanannya.


"Nan. Ke ruangan besar ini tidak pernah ada perempuan masuk wajar bila tidak apa apa disini. Kenapa? tidak nyaman dengan sabun yang kamu pakai?" jelas Aim tanpa menghentikan kunyahannya.


"Bukan, bukan begitu"


Kinan menatap Aim dalam dalam.


"Bagai mana mungkin tidak pernah memasukkan perempuan bukankah Bos Aim sudah menikah? lalu apa istrinya tidak pernah dia bawa kesini? apa aku orang pertama yang dia bawa kemari?"


Tanya Kinan dalam hatinya.


Kunyahan Aim memelan saat melihat Kinan hanya melamun, "Nan,"


Suara Aim sontak mengejutkan Kinan, "Ah ya?"


"Kenapa tidak dimakan, apa makanannya tidak enak?" Aim bertanya.


Kinan langsung menyangkal, "Oh bukan bukan"


"Tidak, tidak, bukan begitu." Kinan merasa itu sungguh tidak perlu, "Hanya akhir akhir ini aku sering mau muntah saat mencium aroma bawang putih," meringis tidak enak hati.


Aim mengangguk mencerna, "Aku minta maaf, aku lupa untuk bertanya," Aim lupa bahwa saat ini Kinan sedang sensitif akan sebuah aroma yang timbul dari makanan. "Aku juga tidak bertanya kamu mau makan apa malam ini. Aku buatin yang baru" Aim hampir berdiri untuk membuatkan makanan untuk Kinan.


Kinan jadi meringis tidak enak, menahan Aim.


"Bos, aku sungguh sungguh, tidak apa apa. Duduklah! nikamati makananmu, lagi pula aku sedang tidak nafsu makan"


Aim yang sempat berhenti gegas berdiri, "Kalau begitu aku ambilkan buah, kamu janji harus makan Ok"


Kinan hanya bisa mendesah pasrah. Sikap Bosnya malam ini sangat berlebihan.


Apa ini sikap Bos Aim yang sebenarnya?


Dia sangat pengertian, dan sikapnya benar benar hangat, beruntung sekali perempuan yang jadi istri Bos Aim.


Ada rasa cemburu yang timbul ketika memikirkan perempuan yang memiliki Aim.


Aim kembali duduk, dengan sekotak buah potong ditangannya.


"Makanlah ini,"


Aim bantu membuka kotak buah tersebut, menarik kembali piring yang sebelumnya ia berikan kepada Kinan.


"Makanlah yang banyak"


Kinan menerimanya dengan senang, senang melebihi saat Aim menyodorkan makanan berbumbu bawang kepadanya.


Aim melanjutkan makan malam yang sempat terhenti.


Kinan pun asik melahap makanannya, setengah rakus.


Melihat Kinan makan dengan sukanya membuat Aim sangat senang, degup jantung yang menjadi peran kehidupan berirama kencang. Ingin sekali Aim mengatakan agar Kinan tetap disini.


Makan malam berdua, saling berhadapan sambil saling bercerita adalah hal yang Aim impikan sejak dulu, sejak berniat mencari pasangan hidup.


Perasaan yang saat ini dirasa tidak pernah ia temukan sebelumnya, tidak pernah ada kehangatan seperti yang saat ini terasa karena kehadiran Kinan.


"Oh, ia Nan. Skincare apa saja yang biasa kamu gunakan sehari hari?. Besok aku bantu belikan untuk kamu. Karena kamu sudah disini nggak mungkin'kan terus pake skincare laki laki nanti kulit kamu nggak cocok lagi"


Tanya Aim ditengah mengunyah makanannya.


Pertanyaan itu sontak mengundang tawa kecil dibibir Kinan.


"Aku disini'kan nggak lama kenapa harus beli skincare segala?"


Aim menunduk tersenyum menertawakan kekonyolannya, yang sudah memikirkan segala rupa.


"Maaf Nan." Segera mendongak.


"Tapi kamu boleh tinggal disini sesuka mu,"


Kinan tersenyum canggung terhadap sikap bosnya ini.


Kinan menunjuk kursi dibelakang yang cukup jauh dari tempanya sekarang "Aku, duduk disana ya" Meringis kemudian. Ini benar benar benar tidak nyaman, apalagi saat harus berulngkali bersitatap dengan Bosnya, yang selalu mengakhiri dengan senyum hangat.


Tanpa perintah Kinan bergegas turun dari tempat dia duduk. Aim menatap nanar langkah Kinan.


Kinan pasti tidak nyaman dengan sikapku...


Akkhh kenapa tidak terkendali begini sih?


Lalu meneruskan makannya sendiri.


"Nan," panggil Aim.


Kinan mendongak melihat kedatangan Aim dengan kotak p3k ditangannya. Sebelah tangannya memegang kotak buah yang tidak Kinan habiskan.


"Ah Bos" Kinan mengubah duduknya..


Aim duduk disebelah Kinan.


Menaruh barang bawaanya ke atas meja.


"Kamu makan tidak benar, makanlah lagi Nan, ditempat ku tidak boleh ada yang tidur dalam keadaan lapar."


Kinan tak menjawab, mengambil kotak buah tersebut dan membawanya kepangkuan.


Memakannya tanpa bantahan.


"Kemarilah!" Aim meraih kotak obat.


"Aku bantu mengobati luka kamu"