Oh My Boss.

Oh My Boss.
92



"Maaf, aku tidak akan lagi memintamu tidur disaat perutmu kosong, aku tidak ingin putraku nanti terganggu dengan suara berisik perut ibunya hanya karena ayahnya meminta dilayani, baiklah kita makan sekarang," Aim mendorong kursinya kedekat meja, mengambilkan piring lalu mengisinya dengan menu yang telah Kinan siapkan untuk diberikan kepada istrinya.


"Kamu tidak boleh makan sedikit, putra ku harus sehat begitu juga dengan ibunya, dua kesayangan ku tak boleh kekurangan apa pun"


Kinan menghentikan Aim dengan mengambil piring itu dari tangan Aim, "Aku bisa sendiri, kamu tidak usah khawatir aku dan putraku pasti akan sehat, dan baik baik saja, jadilah ayah yang baik maka aku akan memastikan kami berdua sempurna." -Kinan.


"Maaf, karena aku kamu jadi melakukan banyak hal sendirian, padahal kamu sedang hamil, kalau saja kondisiku bisa lebih sehat sekarang" dalam hati Aim terus merutuki Amira, kalau saja bukan karenanya mungkin kondisinya sekarang akan baik baik saja.


"Mas, kamu jangan berkecil hati, aku baik baik saja, lagi pula melakukan ini cukup menyenangkan,." Menyendok nasi kemudian menyuapkannya kepada Aim, disaat mengunyah makanannya Aim sempat tertegun sesaat, menyadari ternyata memakan makanan dari tangan orang tercinta itu sangat nikmat rasanya, "Masakan mu enak Sayang" kalimat yang tercetus begitu saja.


"Bisa makan semeja berdua dengan suami itu impian semua perempuan, apalagi bisa melakukan semua hal yang disukai suami, aku juga ingin merasakan itu semua, jadi biarkan hari ini aku yang bekerja" ucap Kinan sambil sesekali menyuapi Aim dan melahap makanannya sendiri pada piring dan sendok yang sama.


Aim terus menatap Kinan yang duduk disampingnya penuh perasaan, "Apa aku lelaki terberuntung di dunia ini,.? Apa Aku pernah melakukan kebaikan di dunia ini? Sehingga Tuhan menghadiahi aku dengan istri seperti mu?" mencolek gemas pucuk hidung Kinan.


"Mas, jangan pernah melempari aku dengan pujian, kamu baru beberapa hari mengenalku, aku takut saat kamu tau seluruhnya aku dan kamu tau letak kekurangan aku, disaat itu kamu baru menyesal karena telah memujiku berlebihan"


Aim menggeleng tipis, "Aku tidak akan pernah menyesali apapun dari kamu, terutama tau seluruhnya tentang kamu, karena bagi ku kamu istimewa, kesabaran kamu, kesederhanaan kamu. Kamu wanita kuat Sayang, bahkan saat satu satunya keluarga yang kamu miliki meninggalkan mu, kamu tak pernah menyerah, kamu melanjutkan hidupmu dengan caramu sendiri, aku sungguh mengagumi itu"


Kinan pun tersenyum miris, "Terima kasih Mas, padahal aku tidak pernah berharap orang lain tau semua kisah yang aku punya, terlalu menyeramkan untuk diketahui banyak orang"


Aim terkikik, "Emangnya kuburan keramat horor, kamu ada ada saja"


"Ia, lagian tak ada orang yang tertarik dengan kehidupan aku. Bahkan aku sendiri pun, sekarang rasanya tak akan punya kekuatan untuk kembali ke masa itu, dimana aku harus berlari dari sekolah untuk menyiapkan makanan buat mama dan Amira, atau bahkan mengerjakan PR sambil menyetrika baju Amira dan baju Mama,. Bodohnya aku saat aku diminta memenuhi segala hal hanya demi perhatian Mama dan aku menurut begitu saja, padahal pundak ku sangat lelah dan kaki ku gemetar, tapi demi menyenangkan Mama aku terus bertahan, yang terpenting bagiku saat itu hanya agar Mama tidak marah, maka aku rela melakukan semuanya. Tapi tidak disangka saat dewasa, menentang sedikit saja aku langsung diusir, padahal sejak kecil aku telah melakukan banyak hal untuk mereka berdua. Aku menjadikan mereka rumah tapi mereka menganggap ku barang tak berguna yang bisa dibuang kapan saja" lirih Kinan.


Aim tersenyum kecil mengalirkan kekuatan "Jika mereka tak membuang mu maka sekarang aku tidak akan menemukan mu, kamu tidak perlu melakukan banyak hal untuk menarik perhatian, sekarang aku adalah rumah kamu, disini tidak akan ada yang menyakiti mu"


Kinan hanya tersenyum ketir, menaruh peralatan makan yang baru selesai ia gunakan ketempat cuci piring.


"Waktunya minum obat Mas, aku ambilkan sebentar ya" Kinan beranjak mengambil obat milik Aim.


"Kamu harus cepat sembuh" ucap Kinan saat membantu Aim menyiapkan obat.


"Aku pasti akan segera sembuh Sayang, itu semua berkat kamu"


Kinan tersenyum kecil, "Terima kasih karena telah menganggap aku berarti Mas"


"Terima kasih karena kamu telah hadir mengisi kekosongan ku" balas Aim.


Kinan mengangguk, "Kalau begitu aku antar kamu istirahat,"


"Apa itu berarti aku boleh tidur sambil memelukmu? Aku sudah lama menantikan itu," menoleh sesaat kearah Kinan yang mendorongnya dibelakangnya.


"Kalau tidak aku akan mengikuti mu kemana pun" Pintas Aim


"Ia, ia. Kamu boleh melakukan apapun kepadaku, asal kamu istirahat"


"Benarkah?" Wajah lelaki itu langsung berbinar terang.


"Ia, lakukan yang sewajarnya, dan perlakukanlah aku dengan lembut"


"Baik, aku setuju"


...


"Sayang, apa perempuan selalu suka diperlakukan lembut?" tanya Aim.


"Mm, ya. Aku suka, saat seorang perempuan masih kecil harapan itu ada pada orang tua mereka terutama seorang Ayah, bagi seorang perempuan cinta pertamanya adalah Ayah, lalu saat dewasa mereka berharap sosok Ayah yang penyayang dan penuh perhatian itu akan ia temukan lagi pada lelaki yang akan menemani sisa hidup mereka, yaitu suami. Tapi sayangnya Ayah hanya menemaniku selama lima tahun, lalu setelah itu aku mulai menempu hidup berat tanpa Ayah, hidupku jadi penuh dengan kekosongan"


"Kamu tidak usah khawatir sayang, sekarang aku yang akan mengganti semua kekosongan itu, asal kamu terus bersamaku maka kamu akan mendapat kembali semua yang hilang di hidupmu,"


"Mmm, tersanjungnya aku dengan janjimu ini Mas. Setelah hari ini aku akan menagih semua kata kata ini setiap hari. Kamu tau Mas? perempuan itu ibarat rekaman digital yang akan merekam dan menyimpan seluruh perjalanan yang mereka alami, percakapan seseorang dengan dia, sesuatu yang ia alami, perlakuan semua orang terhadapnya dan saat kamu mengatakan ini kepada perempuan maka dia akan mengingatnya sampai kapan pun, dan rekaman ini tidak bisa hilang, harusnya kamu berhati hati saat akan mengatakan demikian, karena saat kamu tidak menepati perkataan mu sebentar saja, perempuan akan menagihnya terus menerus, apa kamu sanggup?"


Aim menoleh istri yang sedang mendorong kursinya pelan, tersenyum tipis lalu berkata, "Kalau begitu aku akan berpura pura melupakan ucapan ku ini"


"Lah kenapa Mas?"


"Karena aku ingin kamu menagihnya setiap hari, aku ingin kamu mengingatkan aku setiap saat, karena aku ingin menjadi seseorang yang sempurna dimata mu, aku akan melakukan segalanya demi kita dan aku tak ingin membuat kesalahan untuk segalanya".


Kursi roda telah sampai disamping tempat tidur, Kinan berjalan kedepan Aim berjongkok untuk membantu menurunkan kaki Aim, "Kamu adalah lelaki sempurna dimata ku, kau sangat sempurna Mas, bahkan sebelumnya aku selalu berfikir tidak pantas untuk memilikimu, aku bukan siapa siapa tetapi kamu, dengan segala yang kamu punya aku selalu melihat kamu sangat sempurna, dan bisa memilikimu hanya mimpi, sekarang pun aku masih merasakan hal yang sama, untuk itu jangan bangunkan aku dan membuat semuanya hilang"


"Aku memang berniat membangunkan mu sayang, kamu segera sadar dan lihat kenyataan bahwa sekarang aku adalah milikmu, kau milikku mulai saat ini hingga seterusnya"


Aim lalu memaksa diri untuk berdiri meski kakinya gemetar merentangkan tangan lalu tersenyum sambil berkata, "Berdirilah sayang aku ingin memelukmu"


Kinan pun mendongak lalu segera bangkit dari duduknya, mengisi rentangan tangan Aim mendekap hangat tubuh Aim lalu membenamkan kerinduan yang sempat tertinggal dihatinya, tertinggal saat orang orang tersayang meninggalkannya satu persatu.


"Love you sayang" ucap Aim lalu mengecup kening Kinan cukup lama.


"Love you too Mas" balas Kinan sambil tersenyum haru.


Mereka berdua pun kembali berpelukan hingga akhirnya Aim mendorong pelan tubuh Kinan ketempat tidur..