Oh My Boss.

Oh My Boss.
81



Guna kembali duduk, "Marah kenapa?" Guna menoleh, meraih handphone yang ia letakkan diatas meja.


"Nggak tau. Gue jadi khawatir, selain itu dia juga terlihat menangis" -Aim.


"Lah, kenapa? Apa kalian bertengkar?" -Guna.


"Cckk, nggaklah. Tapi dia menuding soal Amira, dia mengatai Amira perempuan gatel. Apa mungkin dia menangis karena cemburu?" -Aim.


"Menangis dan cemburu?" Guna berfikir untuk membandingkan dua kalimat ini, "Apa sebesar itu rasa cemburu Kinan sampai sampai harus menangis?. Tapi ... Aku rasa bukan,"


Aim kembali menegakkan posisi duduknya, "Benarkah?"


Guna mengedik 'kan kedua belikatnya.


"Sudahlah, berhenti membahas Kinan," Guna beranjak menuju dapur "Kau ternyata benar benar bucin Im" Desisnya.


"Aku hanya ingin terus bersama dia Gun, aku menginginkan cintanya, dan aku ingin Kinan bisa nyaman denganku" perkataan Aim memaksa Guna untuk menggelengkan kepalanya.


"Bucin akut" ejek Guna sambil mengaduk kopi, "Mau ku buatin kopi?" Tanya Guna.


Aim kembali merebahkan pundaknya ke sandaran kursi, "Air hangat saja" melonggarkan dasi yang melilit dilehernya.


"Lu sakit Im?" Guna melihat Aim sangat gelisah, wajah merah menyala tapi menggigil.


"Gue cuma pusing," jelasnya. Saat bersamaan handphone Aim terdengar berdering. Guna mau pun Aim menoleh ke sumber suara, Aim berusaha meraihnya namun...


Brrraakk..


"Im" Teriak Guna panik, tanpa sadar menjatuhkan gelas kopi yang dipegangnya, Guna berlari melintas Aim yang tiba tiba terhuyung, namun beruntung tidak sampai ambruk, Aim berhasil mengendalikan diri dan menemukan pegangan.


Guna segera membopong Aim kembali ke kursi.


"Badan mu panas Im, apa yang harus gua lakukan?" Tanya Guna cemas, "Gue panggilkan Dokter Ok"


Namun Aim menggeleng.


"Gue cuma butuh istirahat"


"Tapi Im, kalau gitu gue ambilin obat" Guna bergegas mencari obat yang ia maksud, namun sayangnya obat yang Guna perlukan habis, tanpa fikir panjang Guna merampas jaket berniat membelikan obat untuk Aim.


Saat melewati tempat Aim menaruh handphonenya, Guna tidak sengaja melihat layar menyala dan terdapat panggilan atas nama Kinan.


Selepas Aim pergi, sebenarnya Kinan tidak bisa berhenti memikirkannya, bahkan Kinan sempat merasa kesal pada dirinya sendiri karena telah membiarkan Aim pergi, padahal bukan itu yang sebenarnya Kinan inginkan, lalu kini Kinan berusaha memanggil Aim untuk meminta maaf padanya, Namun Aim tak juga menerima panggilan itu.


Guna menerima panggilan tersebut, dia meminta,


"Tolong jaga Aim sebentar, aku pergi mencari obat," Guna telah memutus panggilan secara sepihak membuat Kinan bertanya tanya apa yang terjadi pada Aim.


Tanpa fikir panjang, Kinan langsung berlari keluar, menuju Unit milik Guna yang berada di lantai bawah.


Kinan langsung masuk, untung saja beberapa hari yang lalu suaminya membocorkan pin Unit Guna kepadanya.


Setelah berhasil masuk, Kinan langsung mencari keberadaan Aim, Kinan mengkhawatirkan sesuatu terjadi padanya.


"Bos. Mas Aim" panggil Kinan.


"Sayang," dengan sisa tenaga yang ada Aim berusaha menyahuti Kinan, sempat berusaha bangun namun tak kuasa.


"Bos" Kinan langsung mendatangi Aim, kepanikan terbentuk di wajah Kinan, cemas, khawatir dan merasa bersalah menggunung dihati Kinan.


Kinan panik saat melihat Aim terbaring lemah diatas sofa.


"Kamu datang Sayang" Aim berusaha tersenyum disaat Kinan hampir menangis melihat kondisinya.


"Bos, aku minta maaf, aku minta maaf," ini adalah kalimat yang sangat ingin Kinan ucapkan kepada Aim.


Namun Aim hanya mengangguk sambil tersenyum kecil, menghapus Air mata Kinan dengan jarinya, "Berhentilah menangis, aku tidak apa apa kok"


Sentuhan tangan yang Aim tinggalkan terasa sangat panas.


"Aku harus mengkopres kepalamu" Kinan beranjak menemukan alat alat yang bisa ia gunakan untuk mengompres Aim, mengabaikan tangan Aim yang berusaha menghenti'kan nya.


Beberapa saat kemudian Kinan kembali dengan membawa wadah berisi Air. Handuk kecil yang Guna lemparkan kepada Aim tadi akan Kinan robek dan ia pakai sebagai kain kompres.


Kinan bekerja sambil terus menyeka air matanya, Kinan sungguh tidak tau ini akan menimpa Aim, kalau saja bisa merasakannya lebih awal mungkin Kinan akan menahan Aim ditempatnya, bukan malah membiarkan Aim pergi, Kinan menyesal.


"Sayang," Aim berusaha meraih wajah Kinan, disaat Kinan merasa sangat marah pada dirinya sendiri.


Kinan meraih tangan Aim, "Aku minta maaf!" Ucap Kinan sambil menunduk terisak, "Maaf karena kecemburuan ku membuatmu seperti ini, aku marah dan dengan tega mengusir kamu padahal kamu sakit, aku sungguh tidak tau, aku minta maaf. Ya kamu benar, aku memang cemburu, aku jadi marah ketika kamu tidak menerima panggilan ku, aku terlalu berfikir banyak sehingga mengabaikan kamu, aku minta maaf, aku minta maaf, aku sungguh menyesal. Aku tidak bermaksud mengabaikan kamu. Aku siap melakukan apa saja asal Bos mau memaafkan aku"


Panjang lebar Kinan berbicara, Aim menanggapinya dengan senyum senang, bahkan Aim mengabaikan rasa sakit yang ada di kepalanya.


"Kemarilah!," menggerakkan jari yang syarat akan isyarat.


Kinan mencondongkan badannya sesuai permintaan Aim.


Cuup,.


Tanpa Kinan duga Aim telah melayangkan kecupan sekilas kebibir Kinan.


"Ini hukuman yang harus kamu dapatkan,"


Kinan terpaku, sesegera mungkin mengalihkan perhatiannya dari Aim.


Saat bersamaan Guna datang di situasi yang kurang tepat, dimana saat berstatus jomblo sejati harus melihat Bosnya memamerkan kemesraan tanpa sensor dihadapannya, Guna terpaksa berpaling dan pura pura tidak melihat apapun.


"Harusnya aku yang meminta maaf Nan" menggenggam kedua tangan Kinan, dan menatapnya penuh cinta, "Maaf karena aku telah membebani fikiran kamu, aku tidak bermaksud kesana, aku hanya ingin melihat kamu cemburu padaku.


Aku akui, seperti yang kamu lihat, Amira memang beberapa kali sengaja melakukan kontak fisik denganku, tetapi aku tidak pernah berfikir macam macam, lalu saat dia berkata bahwa dia lebih baik dari pada kamu disitu aku mulai sadar, ternyata ada niat tersendiri pada Amira. Saat itu juga aku langsung menghindarinya, tapi tanpa aku duga ternyata kamu lebih dulu melihat semuanya, dan membuat kamu salah paham, aku minta maaf!. Satu hal lagi, maaf untuk hari ini, karena pekerjaanku sangat banyak, maaf aku tidak sempat meluangkan waktu untuk kamu, aku tidak membalas pesan kamu dan aku juga mengabaikan panggilan kamu, kamu pasti marah'kan, silahkan marahi aku" meski lemah, Aim mencoba menjelaskan semuanya kepada Kinan.


Kinan akhirnya tersenyum lega.


"Sekarang aku sangat lemah, tidak akan bisa melakukan apa apa, kalau kamu kesal, silahkan luah'kan amarahmu kepadaku, aku bisa menahannya,"


Tapi Kinan..


Cuuuuppp..


Dengan berani mengecup bibir Aim.


"Aku terima permintaan maaf mu" diakhiri dengan tersenyum.


"Nan sekarang kamu tidak boleh melakukan itu lagi,"


"Kenapa?"


"Penyakit ku akan tertular kepadamu" -Aim.


"Kamu fikir aku peduli?" kata Kinan sambil mencondongkan kepalanya hendak mencium Aim kembali, Aim menutup matanya bersiap menerimanya.


"Hei kalian!"


Aim dan Kinan kompak menoleh pada Guna yang sedang bersandar miring pada tembok, Kinan dan Aim terkejut, tidak tau kapan Guna kembali, "Pulanglah!" titahnya dingin, "Kalian menodai rumahku, pergi pulang dan kunci kamar kalian (Bermesraan);" melemparkan plastik obat yang baru saja dibelinya kepada Aim, lalu berjalan melewati Kinan dan Aim dengan datar dan dingin.


"Apa kamu merasakan sesuatu Gun?" goda Aim, "Mungkin sudah saatnya kamu juga mencari pasangan"


Ckkk...