
"Gun, bagai mana kabar Aim? Apa kondisinya sudah membaik?" Tanya Arman. Arman sengaja datang menemui Guna untuk menanyakan kabar soal putranya itu.
"Aim baik baik saja Pak,"
"Kau yakin Gun?. Om perlu mengirimnya perawat untuk merawat Aim, alergi anak itu cukup kritis dia memerlukan seseorang untuk melayaninya"
"Kenapa tidak meminta istrinya saja? Bukankah itu kewajibannya?" Sindir Guna.
"Kau tau sendiri 'kan bagai mana Shina, lagi pula hubungan mereka akhir akhir ini merenggang" -Arman.
Guna tersenyum sekilas bukan Shina yang Aim maksud "Dia memang tidak pernah memenuhi kewajibannya sebagai istri. Lagi pula kapan hubungan mereka membaik?" Diakhir Guna mendesis menyembunyikan ucapannya.
"Gun, suruh salah satu suster untuk melayani Aim, Om sangat khawatir, tapi tidak bisa menjenguknya"
"Tidak usah Pak, lagi pula sudah ada seseorang yang merawat Aim, Aim pun sangat suka dirawat olehnya, dan mungkin Aim akan menolak perawat yang kita kirimkan".
"Tunggu Gun, kamu bilang sudah ada yang merawat dia? Siapa? Siapa perawat yang Aim sukai? Setau ku Aim selalu menolak perawat mana pun"
"Itulah dia. Dia sendiri yang menemukan seseorang yang menurutnya tepat" -Guna.
"Tapi siapa Gun? Aku perlu datang untuk memastikan dia merawat Aim dengan benar" -Arman.
"Tidak usah pak bukankah Aim selalu yakin dengan pilihannya?, Maka biarkan saja dia" -Guna.
Arman mengangguk setuju, lalu dalam hati bertanya siapa perawat yang dimaksud Guna.
"Im, sudah saatnya kamu mendapat kan semua hak mu, rumah tanggamu adalah kebahagiaan yang pantas kamu miliki, dan sekarang semua orang berhak tau kebenarannya." batin Guna, menatap kepergian Arman dari ruangannya.
Setelah berbicara dengan Guna, Arman sempat mencari tau perawat mana yang Aim retur dan menjadikannya kepercayaan. Tetapi sampai saat ini Arman tidak menerima laporan apapun.
Karena merasa penasaran Arman lalu memutuskan untuk melihat sendiri siapa perawat yang dibilang Guna itu.
Arman tertegun beberapa saat ketika melihat pemandangan dihadapannya, Aim tengah tertawa lepas bersama seorang perempuan, dia merebahkan kepalanya dipangkuan perempuan itu, mereka saling tertawa, betapa Aim terlihat bahagia bersamanya.
Arman terus memperhatikan mereka berdua..
Selang beberapa saat setelah memastikan kondisi Aim, Arman telah memutuskan untuk pergi sebelum Aim menyadari kedatangannya.
Di dalam hati terus bertanya tanya, siapa perempuan itu.
Arman mengakui kalau selama ini Aim tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun.
"Halo Ayah? Bagai mana kodisi Aim sekarang? Apa dia baik baik saja, Ayah tenang saja sekarang juga Mama akan pulang,". Rania (Ibunda Aiman) panik dalam sambungan telpon.
"Mama tenang saja, Aim baik baik saja, mama tidak usah khawatir. Nikmati saja liburannya, Aim baik baik saja" -Arman mencoba meyakinkan.
"Benarkah? Ayah nggak bohong 'kan? Ayah tidak sedang menyembunyikan sesuatu 'kan?" Rania tidak bisa mempercayai ucapan Arman.
"Aim baik baik saja Kok Mah, apa perlu Ayah memberikan panggilan ini kepada Aim? Tapi sepertinya tidak bisa, anak itu baru saja keluar bersama temannya" jelas Arman berbohong.
Arman terpaksa melakukan itu kepada Rania, khawatir Rania akan marah ketika mengetahui ada perempuan yang saat ini bersama Aim.
"Baiklah kalau begitu, Mama tutup dulu, secepatnya Mama akan pulang, seeyou"
"Seeyou Mama, Mama tidak usah khawatir, Aim disini baik baik saja"
Panggilan diakhiri, Arman menyesal harus menyembunyikan semua itu kepada istrinya, tapi Rania pasti akan Shoock bila tau Aim sedang bersama seorang perempuan.
Arman duduk didalam mobil penuh fikir, apa yang baru dilihatnya masih mengganggu.
"Hei Mas cobalah lihat mereka! Apa kau tidak ingin melakukan hal itu kepadaku?" Tanya Kinan dengan senyum gemas yang tak luput dari wajahnya. Aim yang sedang tidur dipangkuan menoleh kearah telvisi seperti yang ditunjuk istrinya.
"Kau mau kita melakukan seperti yang mereka lakukan?" Menaikkan sebelah alisnya (menantang).
Kebetulan kali ini dalam drama sedang menayangkan adegan kissing yang mesra.
"Aku bisa melakukan lebih dari itu," meraih leher Kinan lalu mencium bibirnya.
"Mas" Kinan memukul pelan, "Hentikan melakukan itu! Aku bisa kehabisan nafas gara gara kamu" desis Kinan kesal.
"Tapi kamu suka 'kan?" Goda Aim sambil terkikik.
"Ya, tergantung dengan siapa aku melakukannya, kalau dengan orang yang aku cinta bisa saja aku menyukainya, tapi kalau dia aku benci mana rela aku melakukan itu"
Aim memelotot.
Kinan mengernyit.
"Maksud kamu?"
"Harusnya kamu langsung jawab, kamu menyukainya kalau suamimu yang melakukan itu," tekan Aim, "Bukan dengan orang yang kamu suka atau tidak" manyun seketika.
"Tapi, suami aku belum tentu aku sukai," Kinan mendelik.
Aim semakin memelotot, "Maksud kamu?" Melayangkan tatapan tak suka pada ucapan Kinan barusan.
Kinan tertawa terbahak bahak, "Baiklah, aku tarik kembali ucapan ku, kamu senang?"
"Tidak" Aim spontan menjawab.
"Kamu marah Mas?" Tanya Kinan, Aim diam. Diamnya Aim membuat Kinan takut. Kemudian mencoba melakukan segala hal untuk membujuknya, mencium kemudian menggelitikinya. Hingga akhirnya Aim pun tertawa.
Mereka berdua akhirnya saling balas dan tertawa bersama.
Itulah yang sedang membayang di mata Arman saat ini.
Arman tak bisa berhenti memikirkan hal itu, walau sesaat.
Tibalah saatnya Aim dipindahkan, lelaki manja itu tak membiarkan seorang pun menyentuhnya kecuali Kinan benar benar bukan sikap dirinya yang setiap hari ditunjukkan saat bertemu dengan banyak orang.
"Kamu, temani aku terus'kan?" Tanya Aim saat telah sampai dan masuk kedalam apartemennya.
Kinan membantu Aim mendorong kursi rodanya.
"Aku, hm. Aku perlu pergi ke kontrakan, ada beberapa baju yang perlu aku ambil, lama disini nggak mungkin 'kan kalau pakaiannya ini ini terus"
"Kamu bisa memakai pakaian aku, kamu pilih saja, semua yang aku punya kamu berhak memilikinya juga, asal kamu tetap disini," -Aim
"Sebagian pakaian kita sama, tetapi ada beberapa yang berbeda"
"Apa yang berbeda? Bukankah sama saja? Baju celana kamu bisa memilihnya didalam lemari"
"Jelas saja berbeda" Bra, itu yang Kinan maksud saat ini.
"Ada, kamu harus yakin, aku juga memilikinya"
Kinan dibuat terkikik, "Ada? atau jangan jangan kamu memakainya juga?"
Aim mengernyit sesaat perkataan itu tampaknya kurang lazim, "Tunggu, pakaian wanita" Aim memikirkan sesuatu yang Kinan bilang berbeda.
"Baju, celana" Aim menilik untuk mencari perbedaanya. "Oohhh" Aim pun tertawa saat menyadari perbedaanya, cukup jelas. Lelaki tidak menggunakan itu meski faktanya memiliki bentuk yang sama kembarnya.
Aim tertawa sekilas, "Baiklah aku mengerti sekarang. Kamu pulang biar aku antar, aku tidak bisa membiarkan kamu bepergian sendirian dengan kehamilan kamu"
"Tapi, kau" menatap Aim yang hanya bisa duduk di kursi roda dengan khawatir.
"Tidak usah takut, semua akan baik baik saja," Aim meyakinkan keragu-raguan Kinan.
"Aku takut sakit mu bertambah parah, istirahatlah! Aku akan pergi sebentar saja, aku berjanji akan segera kembali"
"Tidak, aku akan tetap mengikuti mu, itu pun kalau kamu tidak keberatan" -Aim.
"Baiklah, kita pergi sekarang,"
Kinan akhirnya memutuskan untuk membawa Aim bersamanya, lagi pula terlalu lama meninggalkan Aim akan membuat fikirannya tidak tenang.
...
"Pilih dan bawalah sebanyak mungkin, agar kamu tidak kekurangan lagi dan harus pulang lagi ke sini" perintah Aim. Sementara Kinan masih memilah pakaian yang menurutnya akan diperlukan.
"Ia baiklah"
Saat Kinan asik memilih pakaiannya fikiran Aim malah kemana-mana, kehidupan Kinan yang menyedihkan membuat hati Aim tersayat. Berawal dari hidup didalam kemewahan yang pantas, kemudian diusir dan dikucilkan, hingga akhirnya Kinan menyewa kamar lepas ini, hidup sendiri mencoba menyambung hidup tanpa ayah atau pun ibu, satu satunya keluarga yang Kinan miliki dialah yang membuang Kinan.
Menilik kehidupan Kinan yang miris, Aim terus merasa dirinya telah gagal memperjuangkan Kinan.
Sampai saat ini Aim masih kesulitan mendapat bukti ke anak kandungan Kinan dari Harimaja, sementara penyerahan saham tinggal beberapa minggu lagi, seandainya Aim gagal tentunya saham itu akan jatuh ke tangan Amira, Anak yang ditulis sebagai calon pewaris namun Aim merasa ada kejanggalan, tetapi dibalik itu beberapa hari yang lalu Amira telah menunjukkan akta kelahirannya, hal tersebut membuat Aim menyesal dan telah gagal meyakinkan Arman.