Oh My Boss.

Oh My Boss.
41



"Itu jelas salah" Kinan berkata setengah terisak, " Bos tidak bisa melakukan itu pada seorang perempuan, mahluk yang bisa dengan cepat merasa nyaman, luluh dan berakhir pada harapan perasaan yang lebih jauh lagi, dan tanpa Bos sadari sikap yang Bos tunjukan mencetuskan perasaan itu, disini" Kinan menunjuk hatinya. "Berhentilah membuatku salah paham" -Kinan.


"Aku tidak mengerti maksudmu Nan" -Aim.


"Aku minta! bos berhentilah bersikap berlebihan, aku perempuan sensitif tapi tidak ingin terperangkap pada perasaan yang tidak mungkin akan aku miliki" -Kinan.


"Aku tidak mengerti maksudmu Nan." -Aim.


"Bos tidak akan mengerti karena Bos tidak merasakan apapun" -Kinan.


Aim mematung mencerna kalimat demi kalimat yang Kinan ucapkan.


"Berhenti mengikuti ku"


Kinan lalu berjak pergi meninggalkan Aim dengan tergesa, berharap Aim tidak menyusulnya lagi.


.


Sebelum semua ini terjadi, tepat saat Aim digadang gadang akan bergabung dengan perusahaan, tepat saat posternya mulai dipampang di setiap sudut kantor ternyata saat itu Kinan mulai sering memuji Aim dalam diam.


Kinan selalu berharap pada waktu dan memohon pada keajaiban agar menyusun'kan skenario untuk dirinya dan Aim bisa bersama.


Kinan sangat mengagumi Aim, mengagumi dia lebih dari segalanya, meski dia sendiri tidak pernah tau bagai mana rupa dan kehidupan Aim yang sebenarnya. Karena memang tidak pernah bertemu.


Tapi Aim sangat rupawan, senyumnya yang manis berhasil menggores rasa dan menimbulkan perasaan suka dan ilusi yang berlebihan.


Keajaiban akhirnya menuntun Aim kepada Kinan, mengijinkan dia dekat seperti doa doa yang Kinan gumam'kan tatkala setiap saat teringat wajah Aim.


Namun perasaan itu bukan datang diwaktu yang tepat, Kinan pun mulai sadar posisi saat mengetahui Aim telah menikahi seorang perempuan yang bernama Shina.


Kinan sempat menganggapnya kabar angin, namun Kinan telah meyakinkan sendiri kabar tersebut dan ternyata kabar itu benar adanya, Aim memang sudah menikah.


Kehadiran Shina di acara penjamuan yang dilakukan beberapa minggu yang lalu membuat Kinan sadar diri, Kinan perlahan membuang perasaannya kepada Aim.


Tapi sekarang, saat Kinan mulai berhenti berharap, Aim malah datang dengan sejuta perhatian dan sikap yang mampu membuatnya merasa yakin, Kinan pun hampir hanyut, tapi segera sadar akan kenyataan yang ada, Aim lelaki beristri.


Kinan tak ingin kembali pada kehidupan percintaan yang akan hancur akhirnya, seperti percintaannya dengan Dirga.


Lima menit setelah kepergian Kinan.


Aim masih mematung ditempatnya, mencerna semua yang telah Kinan ucapkan, Salah paham, luluh, dan harapan'


Semua itu membuat Aim sadar bhwa tanpa kendali telah menunjukkan perasaannya kepada Kinan, sementara Kinan dan semua orang tau dirinya tidak sendiri lagi. Aim harus sadari itu, wajar jika Kinan harus menjaga jarak.


Aim paham, Kinan berfikir dirinya sedang mempermainkan perasaan, Aim sadar sikap dan perhatiannya akhir akhir ini berlebihan sehingga membuat Kinan tidak nyaman.


Tapi Kinan juga telah salah paham menafsirkan sikap dan perhatian yang dia berikan.


Beberapa saat kemudian Aim mulai sadar, dirinya ternyata berdiri mematung sendirian.


Untuk mengikuti Kinan langkahnya tertinggal cukup jauh. Aim akhirnya memutuskan untuk menelpon Guna, akan meminta dia menjemputnya.


Panggilan sempat terhubung, namun sebelum Guna menerima telponnya panggilan malah terputus. Saat melihat ke layar terdapat tulisan "Goodbye" waah matilah itu handphone.


Aim mendengus dibuatnya.


Handphone yang telah habis baterai tersebut Aim masukkan kedalam saku, saat bersamaan di dalam saku tidak sengaja mendapati benda tidak biasa.


Aim meraba lalu menariknya keluar, benda tersebut ternyata obat milik Kinan yang belum sempat ia berikan. Aim juga sadar tas belanjaan Kinan ternyata masih ada padanya.


Aim berfikir apa perlu mengantarnya atau tidak, Aim menimbang sesaat.


.


Kinan berjalan gontai, tidak percaya akan apa yang baru di katakannya kepada Aim.


Kalimat penuh naif, Kinan sendiri tidak tau kenapa bisa mengatakan ini secara terang terangan kepada Aim.


Bahkan dia hampir berurai air mata saat mencoba menjelaskan isi hatinya.


Whay? Aim bukan siapa siapa, Kinan sekarang baru berfikir untuk apa mengatakan itu dihadapan Aim, bukankah akan lebih baik jika dia pura pura tidak peka pada sikap Aim? bukan malah memarahinya karena memberi perhatian berlebihan? Oh kenapa...? apa karena terlalu mengharapkan sosok seperti Aim? dan mulai merasa kehilangan saat sadar yang diharapkan telah memiliki orang lain. Hmm,, entahlah terkadang perasaan sulit untuk ditebak.


...*Menemukan seseorang yang dianggap sempurna oleh hati....


Setiap saat mengharapkan dan memimpikan dia. Memeluknya erat, mendekapnya hangat, menggenggam jemari dan melangkah beriringan.


Namun kenyataan tidak selalu berjalan sesuai keinginan.


Untuk apa bersandar pada takdir, jika takdir saja salah menempatkan waktu.


Waktu tidak bisa diulang dan perasaan bisa pergi dan datang secara tiba tiba.


Saat raga telah dimiliki orang lain, untuk apa mengharapkan hati.


Karena cinta memerlukan wujud yang bisa disentuh, bukan ilusi yang bisa memudar kapan saja.


...


Digeser dan digeser kembali layar handphone yang sedang menayangkan dirinya. Kinan tersenyum saat teringat hal hal yang berkaitan dengan perjalanan dirinya ini.


Tok Tok Tok...


Kinan mendengar daun pintunya diketuk beberapa kali.


Kinan mengernyit sesaat, "Sudah larut begini siapa yang datang bertamu?" Ucapnya pelan, waspada.


Kinan bangkit dari tempat tidurnya, berjalan kedepan untuk melihat siapa yang bertamu malam malam.


"Bos" Kinan berkata hampir berbisik sesaat setelah menyeret gorden dan melihat Aim berdiri didepan pintu.


Kinan berbalik hampir meninggalkan pintu, enggan membukakannya untuk Aim.


Saat ini Kinan sedang tidak ingin bertemu dengan lelaki itu, Kinan khawatir tidak bisa mengontrol perasaannya dan akan berakhir pada salah memahami sikap Aim.


.


Tapi pintu kembali diketuk, Kinan tidak tega untuk tidak membukanya, apalagi selarut ini cuaca pasti akan sangat dingin.


Cklekkk.


Dengan berat Kinan membuka pintu.


Membukanya sedikit sekedar memunculkan kepalanya.


"Bos"


Aim menatap Kinan dengan khawatir, takut Kinan tidak akan menerimanya.


"Aku minta maaf Nan, aku tidak bermaksud melakukan itu kepadamu, aku reflek, aku tidak bisa mengontrol diri. Kamu berhak marah"


Kinan mengangkat tangannya seketika Aim diam.


"Apa yang aku katakan tadi, lupakan saja. Lagi pula aku yang terlalu bicara sembarangan, aku tidak berhak mengatakan apapun, tapi mulutku terlalu lancang" -Kinan.


"Tidak Nan, kamu berhak melakukan apapun kamu berhak mengungkapkan isi hati kamu, aku yang terlalu berlebihan, aku yang membuatmu tidak nyaman, aku minta maaf, aku minta maaf, aku mohon kamu jangan tersinggung, aku sungguh tidak bermaksud apa apa. Aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi" -Aim.


Tidak bermaksud apa apa?


Hmm seperti sebilah pisau yang tak terlihat, Kinan tidak mengharapkan kalimat itu.


Kinan menggeleng dan mengangguk dalam diri menahan rasa yang tak bisa diucapkan.


Kinan mencoba bersikap biasa saja.


"Ya, aku juga minta maaf! tadi aku terlalu banyak bicara, maaf karena telah merasa risih dengan sikap Bos yang berlebihan" -Kinan.


"Kamu tidak marah'kan Nan? kamu baik baik saja'kan Nan" Aim terus berkata.


Saat ini Aim sangat khawatir apa yang dilakukannya akan menjauhkan Kinan darinya.