
"Janin sudah tumbuh, meski aku tidak tau siapa ayah dari anak yang aku kandung ini tapi aku sangat menyayangi dia, biar nanti tidak akan ada yang mendampingiku aku akan berusaha melakukan yang terbaik dan menjaganya dengan sempurna"
"Maksud kamu? Maaf aku tidak bermaksud menanyai hal privasi seperti ini, tapi dengan kamu bicara kita mungkin bisa menemukan jalan keluarnya, dan mungkin kita bisa menemukan ayah dari anak yang kamu kandung ini".
Kinan tertawa samar, "Bercerita juga mungkin tidak guna tapi tidak apa-apa barangkali Bos sangat penasaran," Menoleh sambil tersenyum, bulir kesedihan tertahan di kelopak matanya.
"Ya Nan kamu tau aku sangat penasaran, aku ingin tau apa ada lelaki lain selain aku di malam itu? Apa kamu tidur dengan lelaki lain selain aku?" gumam Aim dalam hati.
Kinan kembali menertawakan nasibnya, "Malam dimana aku mabuk berat, seorang lelaki mengambil kesempatan itu dia mencampuriku dengan tak berperasaan, lalu pergi dengan tameng wajah tanpa dosa. Lelaki itu telah merenggut ke sucianku, dan sekarang aku hamil, dia bahkan tidak perduli dengan yang dia lakukan kepadaku. Aku benci lelaki itu aku benci" diakhir Kinan menangis terisak.
Aim mencoba menyelidik.
"Apa kamu pernah mencoba mengingat ingat wajah lelaki yang kamu benci itu? Barangkali ada jejak yang kita bisa telusuri"
Kinan kembali menggeleng.
"Karena sekarang aku tidak pernah mau mengingat apapun tentang dia"
"Kau membencinya Kinan?"
"Aku harus membenci dia seumur hidupku. Dia yang malakukanya disaat aku tidak sadar, dia mencuri kehormatan ku. Aku rasa dia pantas mendapatkan ini"
Aim langsung diam.
"Kinan jika kamu tau akulah lelaki yang merenggut kehormatan mu, apa kamu akan membenciku juga? Kinan jangan membenciku, aku tidak akan sanggup jika harus hidup dalam kebencian kamu. Aku ingin terus dekat dengan kamu dan anak yang kamu kandung"
Kembali berkata dalam hati.
Setelah hening beberapa saat, Aim kembali bertanya.
Aim jadi gugup, "Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
Kinan menggeleng, "Selanjutnya aku tidak tau, sekarang aku hanya ingin lepas dari pernikahan, aku tidak ingin orang lain mengambil keuntungan dari anak tidak berdosa ini"
Kiiikkkk kiiiikkk.
Amor memencet klakson dengan tidak sabar, itu karena dirinya sudah tidak bisa menahan dirinya, Amor sampe harus merebut stir lalu memencet klakson dengan gila.
"Woi berisik loe!" Bentak Surya yang kebetulan duduk disamping Guna.
"Ini anak kenapa ribut banget sih," timpal Guna.
"Nggak bisa apa, duduk manis dibelakang?" Imbuh Surya.
"Gue bakalan duduk diam kalau gue nggak kebelet" Timpal Amora tak kalah ributnya dari Guna dan Surya.
Guna memencet tombol, seketika pintu melonggar.
"Diluar" Guna menggedikkan alisnya menyuruh Amor buang air diluar saja.
Amor yang tak terima langsung menyerang Guna, menjambak rambutnya sambil berteriak, "Kau sudah gila! Maju aku bilang maju"
Guna mencoba terlepas dari jambakan Amor, "Hei hei, aku ini atasan mu, kau mau menyakiti atasanmu? Sudah siap hidup menggelendang?"
Amor tak peduli.
Keduanya malah semakin menunjukan diri.
"Sipa kau, kau bukan bos ku"Amor berteriak lagi.
Meremas dan menjambak rambut guna dari belakang.
"Hei hei kalian? Hentikan!" Surya menengahi,.
"Dasar perempuan gila! Lepaskan, lepaskan rambutku, kau berani? Aku doakan jadi perawan tua,"
"Tuhan tidak akan mendengar doa orang gila sepertimu maju dan cari toilet sekarang!"
"Lepaskan rambutku!" teriak Guna.
Karena keduanya tidak juga berhenti berkelahi, tidak saling mengalah Surya terpaksa menyalakan mesin lalu mengambil alih kemudi.
Melewati Aim yang masih berbicara dengan Kinan.
"Aku tidak mau itu terjadi Nan, aku ingin anakku, kau harus menjaganya dengan baik" ucap Aim dalam hatinya.
"Kemana kita sekarang? Aku tidak akan menurunkan kamu disini," pinta Aim. Menoleh mobil yang melaju mendahuluinya.
"Apa kita perlu mengikuti mereka?" Tanya Aim.
"Mau kemana mereka?" Timpal Kinan.
"Mencari toilet" jawab Aim, kembali menaruh handphonenya ke saku mobil.
"Aku pulang ke rumah Amor saja, aku rasa tinggal disana lebih aman"
"Kau yakin?"
"Ya setidaknya aku bisa tinggal sampai besok, aku juga bisa berangkat kerja bersama Amor"
"Baiklah"
Aim melaju menuju kediaman Amor.
Sepanjang perjalanan Aim terus berfikir. Kinan sudah mengetahui kehamilannya, apa yang Aim takutkan selama menyembunyikan kehamilan Kinan hampir terjadi, Kinan menggugurkan kandungannya.
"Bos. Bos sudah tau semuanya,, apa Bos akan memecatku? Aku bukan karyawan baik-baik" perkataan Kinan mengejutkan Aim. Mengembalikan dia dari fikiran panjangnya.
Aim tersenyum lucu, "Kalau kamu mau aku pecat, ya bakal aku pecat. Selama kinerja kamu baik aku nggak keberatan. Kenapa kamu takut kehilangan pekerjaan?" Aim sesekali menoleh.
"Aku nyaman dengan pekerjaanku yang sekarang"
"Baik baik disana Nan, aku nggak akan mecat kamu"
Kinan terlihat senang mendengar ucapan bosnya itu.
Beberapa saat kemudian Aim telah sampai di pelataran, Aim terlebih dahulu turun. Tapi Kinan tampak ragu.
Tok tok tok..
Mengetuk kaca disamping Kinan, segera Kinan menurunkannya.
"Kenapa nggak turun Nan?" tanya Aim. Merengkuh meninjau Kinan lewat kaca yang terbuka.
Kinan memindai sekeliling.
Dengan ragu berkata, "Mama Mina tau tempat ini, dia juga tau kalau Amor adalah teman baikku,"
"Benar juga" Fikir Aim.
Mina yang kalap pasti akan mencari keberadaan Kinan bahkan sampai ke ujung lubang semut sekali pun.
Bodohnya Aim tidak kepikiran sampai kesana.
Tanpa fikir panjang lagi, Aim kembali masuk kedalam mobil.
Menginjak pedal gas meluncur menuju apartemen miliknya, tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan Kinan.
Selepas memasuki Area apartemen.
Kinan tidak turun dari mobil dia masih ragu untuk turun. Kinan merasa membawanya ke unit bukan pilihan yang tepat.
"Kenapa masih diam?" tanya Aim, "Yuk turun!" pinta Aim sambil membuka sabuk yang melilit ditubuhnya, lalu berpindah melepaskan sabuk yang melindungi Kinan.
Kinan menoleh sesaat, "Apa aku harus ikut masuk?"
"Ia, setidaknya untuk malam ini, ini tempat yang aman bukan? tidak akan ada orang yang tau kamu disini. Dan aku bisa memastikan, kamu tidak akan berusaha menggugurkan kandungan mu lagi"
"Tapi.." Kinan ingin menolak tetapi Aim menariknya tanpa berniat melepaskan atau bernegosiasi.
"Sebentar lagi pagi, kita harus istirahat" katanya tanpa ingin dibantah.
Setelah sekian lama membujang sampai akhirnya menikah baru kali ini Aim membawa seorang perempuan kedalam apartemen miliknya, tidak Shina, juga tidak perempuan manapun, hanya Kinan seorang.
Begitu pentingnya Kinan untuk Aim.
"Kamu harus ingat kodenya oke," ucap Aim sambil menekan beberapa tombol ada yang ditekan berulang olehnya.
"23-02-1990. Kamu hafalkan? Kapan pun kamu mau masuk tekan saja tombol itu dan masukkan kodenya ok" Aim mendorong pintu, membimbing Kinan masuk ke ruangan.
Sementara Kinan termenggu bingung, kenapa Aim sampai memberi tahukan kode rahasia itu kepadanya