
Satu jam kemudian, mobil yang dikendarai Shina dan Anton menepi dirumah kediaman Shina, rumah yang Dheo hadiahkan kepada Aiman dan Shina sebagai kado pernikahan.
Tak hanya mengantar, Dheo yang diam diam masih mengikuti putrinya juga melihat Shina menuntun Andi masuk kedalam rumahnya. Dheo benar benar begitu geram dan emosi melihat Shina memasukkan laki laki lain saat suaminya sedang tidak ada dirumah.
Krriiinggg.... Sura handphone yang diselipkan dibalik tuxedo berwarna navy itu mengejutkan pemiliknya membuat sang pemilik (Aiman) tergertak kembali pada kesadaran dari membayangkan wajah Kinan yang manis.
"Ayah Dheo" Gumam Aim seraya menggeser layarnya ke menu menerima lalu beranjak dari tempat ia berdiri.
Sekilas Kinan menoleh menatap sekelebat langkah yang selalu membuat hatinya terasa hangat dan aman itu.
Aim, Kinan sangat mengaguminya tapi kekagumannya itu segera membuatnya menyadari jarak panjang terbentang antara dirinya dan Aim.
"Aim!" Gemuruh emosi ngguar dibalik layar pipih yang didekatkan ketelinga lelaki yang tengah menghadap pada kaca jendela di ruangannya.
Aim baru kembali dari luar, segera meminta Guna keluar dari ruangannya.
"Ayah, ada apa? Apa ada sesuatu yang membuat ayah marah?" Tanya Aim. Aim mendengar deru nafas penuh emosi, Aim yakin mertuanya itu sedang tidak baik baik saja.
"Shina! Ayah melihat Shina masih berhubungan dengan lelaki itu, apa kamu sudah tau?" Teriak Dheo, emosi diubun ubunnya sudah membara, giginya gemerutuk tangan mencengkram stir dengan kuat.
Aim hanya diam, lamunannya berjalan ke masa dimana Shina berteriak kepadanya, "Kau! Apapun kedudukan mu, kau tidak berhak mengaturku! Salahmu sendiri menerima pernikahan terkutuk ini, kau dengar! Usaha apapun yang kamu lakukan kamu tidak akan bisa menghentikan aku, tidak bisa menghentikan kegilaan ku," telunjuk lentik Shina tak jauh jauh dari wajah Aiman membuat Aiman merasa hilang harga diri, terlebih saat itu mata telanjangnya melihat seorang lelaki bertelanjang dada berbaring diatas ranjang milik Shina (Disebuah hotel) lelaki itu menatap dan tersenyum angkuh kepadanya.
"Dengar Aiman! menikah denganmu hanyalah keinginan orang orang bodoh, tidak tau diri!, egois! mereka tidak pernah sadar semua itu membuatku terkurung didalam penjara neraka, mereka tak membiarkan aku hidup dengan orang yang aku cinta, mereka tidak peduli mesiki itu adalah kebebasan dan surga yang aku impikan, dan kau! Kau yang telah membangun neraka itu! Aku muak saat menyadari kau adalah suamiku!" Teriak Shina, Shina lalu membanting pintu tepat didepan wajah Aiman sementara Aiman terpaku tak berucap seperti saat ini.
"Aim, Aim" panggil Dheo setengah berteriak.
Aim mengerejab sadar, "Ya Ayah" segaris frustasi dan ingin menyerah terlihat dimata Aim.
"Aim, Ayah menikahkan mu dengan Shina untuk menjauhkan dia dari lelaki itu, tapi apa yang Ayah lihat sekarang? Jangan jangan kamu sudah mengetahui ini sebelumnya dan menyembunyikannya dari Ayah?" Selidik Dheo tak sabar.
"Ayah, Aim minta maaf" kata Aim lirih dengan nada menyerah.
Suara Dheo melemah, "Apa aku gagal?" Dheo langsung merasa gagal untuk menjauhkan Anton dari Shina.
"Dalam hal ini Aim lah yang gagal, aku gagal mendapatkan ruang dihati istriku, aku gagal menyentuh hatinya, amanat yang kau berikan aku gagal menepatinya. Aim minta maaf Yah, Ayah tak pernah gagal hanya aku yang terlalu payah," kata Aim lirih. Aim lalu menutup telponnya dan tidak sempat mendengar kalimat dari Dheo, "Kenapa aku selalu berfikir kalian baik baik saja Im?"
Aim memegang erat handpohennya manik mata berjalan bebas menatap kesegala arah
"Dititik inilah aku merasa harus menyerah, dua tahun cukup untuk membuka mataku, dua tahun cukup membuatku berfikir, dua tahun yang aku lewati cukup membuktikan bahwa aku telah berusaha menjadi yang terbaik untuk Shina, aku telah mengusahakan segalanya untuk dia, dua tahun yang sulit, dua tahun yang kami lewati cukup untuk membuktikan bahwa dihati kami tidak pernah ada cinta. Hidup bersama Shina yang aku lewati juga hampa dua tahun tak bisa membuat hatiku jatuh pada hatinya mungkin itu juga yang Shina rasakan sehingga sulit menerimaku, sudah saatnya aku mencari cinta yang mencintaiku. Ayah, Aim minta maaf aku tidak pernah berniat melukai kalian dengan keputusan ini"
Kalimat itu keluar dari keputusasaan Aim terhadap semua yang dituntutkan kepadanya.
Aim menunduk menyesali semua yang terjadi antara dirinya dan Shina.
Brrrraaggghhhh.. Arman menggebrak meja dengan setumpuk dokumen yang beberapa hari ini telah ia serahkan kepada Aim.
"Ada apa dengan anak itu? Kenapa kerjanya berantakan begini?" Gerutu Arman, manik matanya tidak lepas dari layar menyala dengan jari lincah yang baru berhenti mengetik keyboard dihadapannya.
Guna mengetuk pintu dengan sopan, "Bos"
Arman menoleh sekilas "Ah Guna, masuk!" Setelah dipersilahkan Guna pun segera mengikuti titah Arman, dari wajah Arman Guna melihat kekusutan yang cukup ruwet sepertinya.
"Aim masuk kerja seperti seharusnya, kenapa Bos, apa ada kesalahan?"Ucap Guna, hati-hati.
"Apa dia punya masalah?"
"Sepertinya tidak" Guna.
"Kenapa pekerjaannya berantakan begini?" Teriak Arman, "Dokumen ini harus selesai sebelum penyerahan saham dilakukan"
Tidak biasanya Arman meninggikan suara seperti kali ini Guna tampak gemetar ngeri.
Arman telah berdiri, berkacak pinggang dan berjalan mondar mandir.
"Maaf Gun, saya tidak bermaksud marah sama kamu" kata Arman saat melihat Guna terkesiap kaget dengan dengan bentakannya.
"Ia, tidak apa apa Bos, saya hanya sedikit terkejut" ucapnya sambil mengelus dada.
"Duduk sana Gun" Arman menunjuk kursi, Guna segera mengikuti langkah Arman yang menuntunnya.
Bos dan Anak Buah itu langsung membahas sesuatu hal yang penting.
.
"Nan" Amor beresedekap dimeja Kinan sambil tersenyum manja.
Kinan yang tengah merapihkan mejanya sekilas menoleh.
"Apa...? Mau bilang ada yang merhatiin lagi?" Kinan menghela lelah "Udah yah aku nggak percaya"
"Bukan ko' " Amor memanja manja'kan kata katanya kepada Kinan (merayu-rayu).
"Lalu?"
"Bukankah kita baru gajian ya? Mm cari makanan enak yu" Amor merayu dan mendayu-dayukan kata-katanya berharap Kinan akan luluh dan mau menurutinya keinginannya.
Kinan mengernyit penuh fikir "Mm makan enak ya? Boleh tuh. Kebetulan aku dari pagi emang belum makan," menyelempang tas siap untuk berangakat "Yuk! tapi kamu yang bayar ya" Kinan tersenyum penuh harap.
"Mm" Amor mengerucut kesal "Selalu deh," memutar bola matanya kesal (Becanda).
"Eiittsss, kali ini kamu jangan khawatir.. taraaaa.." Kinan menunjukan sebuah kartu yang ia rogoh dari tasnya.
Wajah Kinan berbunga saat menunjukkan itu.
Beberapa hari yang lalu Kinan memutuskan untuk mengganti pinnya, menjaga kartu dari pembobolan yang mungkin dilakukan Mina lagi.
Amor terbelalak girang, "Waah, akhirnya kamu bisa memegang benda ini" Amor meraih benda pipih yang merupakan kartu ATM itu dari tangan Kinan.
Kartu yang selama ini selalu dikuasai Mina. Amor ikut senang saat tau Kinan telah berhasil mendapatkan haknya.